Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Popularitas


Keesokan harinya, Pak Bani yang merasa kesal karena gagal menghancurkan pesta Bima, berencana melabrak langsung Pak Burhan. karena sebagai bawahan, Pak Burhan dianggap tidak sopan telah mengabaikan atasan.


Namun, begitu sampai di balai desa, anek kue, makanan dan minuman sudah terhidang rapi di meja tamu. Bima dan Rere yang siang itu kompak mengenakan batik maroon dengan motif emas, tengah berdiri, berjajar rapi diujung meja, siap menyambut kedatangan Pak Lurah.


Setelah saling berjabat tangan, dengan luwes Rere menyambut Pak Lurah Bani, " monggo pak, selamat datang." membimbing pak lurah duduk di kursi yang telah disiapkan. " ini semua kami siapkan khusus, untuk pak lurah dan pejabat lainnya. mohon maaf, kami sengaja tidak mengundang bapak dan ibu sekalian ke kediaman kami semalam, karena itu adalah pesta rakyat jelata. Tidak banyak hidangan dan mati lampu pula, " Rere memberi penekanan di akhir kalimatnya.


Bima segera mengambil alih pembicaraan dan acara ramah tamah dengan segenap perangkat desa. Pak Burhan yang turut menyaksikan peristiwa itu merasa lega sekaligus bangga pada putri semata wayangnya itu. Begitupun dengan warga yang lalu lalang dan kebetulan melihat.


Cerita keramahan dan kesahajaan pasangan baru itu kian santer terdengar. Hampir semua penduduk desa membicarakannya. Bak drama korea romantis yang menghipnotis seluruh penggemarnya, warga mulai mengelu-elukan kekompakan dan keserasian pasangan happening itu.


Popularitas Bima kian meningkat. Tak hanya berhenti disitu, Rere banyak terlibat langsung dalam proses kampanye, melakukan sosialisasi, edukasi dan pendekatan kepada warga melalui banyak kegiatan sosial kasyarakatan.


Berbanding terbalik dengan gaya kampanye Azka yang banyak menghamburkan uang, Tim Bima lebih memilih pendekatan personal, terjun langsung, dan blusukan. Selain menghemat anggaran kampanye, nyatanya kegiatan tersebut lebih efektif untuk mendekatkan mereka dengan masyarakat atau calon pemilih.


Tak hanya penduduk dewasa, Rere juga sangat jeli membidik remaja calon pemilih pemula. Ia sering mendatangi SMA-SMA untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Rere tahu betul bahwa calon pemilih pumula ini memiliki potensi besar untuk dipengaruhi dan diarahkan preferensi pilihan politiknya. Tentu ini akan sangat menguntungkan bila berhasil dikuasai saat pemilihan suara berlangsung.


Suatu hari Rere, sebagai salah satu tokoh wanita yang kebetulan sedang populer, diundang ke sebuah acara edukasi pra nikah yang diikuti siswa siswi kelas 3 SMA sekecamatan di aula salah satu gedung sekolah. Acara itu dihadiri lebih dari 400 orang siswa yang tak sedikit juga berasal dari Desa Randu Ginting.


Acara berjalan lancar dan seru. Rere banyak memberikan materi dan pembekalan. Ia juga banyak menjawab pertanyaan yang diajukan siswa kepadanya.


Salah satu pertanyaan yang paling menggelitik adalah, " kenapa bu rere buru-buru nikah dengan Pak Bima, padahal baru ketemu? Apa takut keburu Pak Bima diangkat jadi lurah single?"


Seisi ruangan tertawa, Rere berusaha tetap santai menjawab, " karena kami ingin menghindari dosa."


Seisi ruangan mulai tenang, " Sebagai orang dewasa yang berpendidikan dan berakhlak, kami memilih untuk pacaran setelah menikah. Lebih enak dan dijamin halal." banyak siswa menyoraki


" Untuk apa lama-lama pacaran kalau ujungnya ngga nikah juga, atau malah memperbanyak dosa." Rere menutup pernyataannya dengan penuh penekanan.


Seisi ruangan riuh memberikan tepuk tangan, sementara Mega tampak tidak nyaman dengan kalimat-kalimat Rere yang terkesan menyudutkannya.


Popularitas Rere dan Bima kian bertambah.