Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Azka : Kekalahan adalah Awal


Meskipun gagal menjadi kepala desa, pengaruh Azka masih cukup besar di Randu Ginting. Ayahnya masih menjadi tuan tanah dan ia menjadi juragan ternak yang diwariskan kakeknya. Ia mempengaruhi warga yang bekerja di peternakannya untuk menentang semua program dan kebijakan Bima, si lurah baru. Ia masih tidak bisa menerima kekalahannya. Ia ingin Bima hancur karena berusaha merebut apa yang seharusnya jadi miliknya.


Memenuhi target 100 hari kerjanya, Bima fokus membenahi sistem pertanian yang menjadi tumpuan mayoritas warga di desanya. Selama ini, keluarga Wardoyo menguasai bagian-bagian vital sistem pertanian disana. Mulai dari alat-alat pertanian seperti mesin bajak, rotavator, mesin panen sampai dengan sistem pengairan atau pengaturan waduk bahkan alur dan prioritas penjualan hasil pertanianpun berada di bawah kendali keluarga Wardoyo.


Petani kecil lain hanya bisa pasrah menggarap lahannya secara tradisional, menunggu giliran mendapat pupuk dan air dari sisa lahan milik keluarga Wardoyo dan menjual hasil panennya dengan harga murah kepada mereka juga. Sangat merepotkan bagi warga untuk menjual secara langsung ke kecamatan atau kabupaten karena selain keterbatasan akses kendaraan pengangkut, jumlah hasil panen mereka juga terbilang terlalu minim untuk di jual ke tempat yang lebih jauh. Keluarga Wardoyolah yang menampung hasil panen mereka lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi di pasar-pasar kecamatan atau kabupaten.


Seperti itulah sistem pertanian yang terbentuk di bawah kepemimpinan Subani Wardoyo. Banyak petani kecil mengeluh tentang kesulitan yang mereka alami, tapi bukannya mendapat perhatian dan bantuan, mereka justru dipersulit aksesnya karena dianggap menyimpang dari aturan pemerintah.


Oleh karena itu, dalam kampanye politiknya, Bima menjanjikan terciptanya pemerintahan desa yang baru yang pro terhadap kepentingan rakyat kecil, terutama kaum tani. Sebagai langkah pertama yang akan diambilnya dalam menjalankan 100 hari pertama pemerintahan, Bima akan membuka akses terhadap alat-alat pertanian yang akan di datangkannya dari desa tetangga dan juga pupuk serta irigasi.


Tak hanya enggan bekerjasama dengan Bima, Azka juga membantu ayahnya memprovokasi warga untuk menolak penggunaan alat berat dengan alasan biaya yang lebih tinggi dan kekhawatiran bahwa alat-alat itu akan menggantikan tenaga manusia dan menghilangkan sumber penghasilan para buruh tani.


Polah tingkah Subani dan Azka membuat Bima geram. Namun ia sadar tidak boleh terpancing lebih dalam. Bima dengan sabar menghadapi protes dari warga. Ia melakukan banyak pendekatan untuk memberi pemahaman pada warga atas kebijakan yang diambilnya. Setiap malam Bima sering mendatangi perkumpulan warga dan mengikuti berbagai kegiatan warga untuk lebih dekat dan melihat dengan langsung kendala yang dialami warga. Ia memilih cara persuasif yang lebih manusiawi dalam menghadapi perlawanan Azka dan Pak Subani, ayahnya.


Sementara itu, meskipun sejauh ini berbagai upaya yang dilakukaknya untuk menentang Bima belum membuahkan hasil, Azka tetap yakin bahwa ia akan mampu mengalahkan Bima. Ia harus bisa mengambil yang paling berharga dari Bima saat ini, yaitu Rere, istri Bima yang juga adalah wanita idamannya sejak kecil. 'Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlanpaui.' pikir Azka.


Iapun mulai menyusun rencana jahatnya untuk mendapatkan Rere.