Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Pengkhianatan Mega


Tak mau upaya mendekati Rere gagal, Azka jadi semakin sering menghubungi Rere untuk membahas program donasi sosialnya. Rere selalu berupaya melibatkan Bima dalam urusan itu, namun Azka menolak.


" Re, dana ini adalah murni donasi untuk pekerja perempuan dan aku ingin kamu, yang notabene tokoh perempuan yang dekat dengan mereka, yang mengelolah dana itu. Aku tidak ingin pemerintah desa terlibat." Tegas Azka


" Tapi, Ka, alangkah baiknya bila niat baik kamu itu diselaraskan dengan program pemerintah. Akan saling membantu dan menguntungkan. Simbiosis mutualisme, Ka" Rere berusaha memberi pengertian


" Ngga." Tolak Azka.


" Aku tidak ingin suamimu ikut mengambil keuntungan. Aku hanya ingin donasi ini tepat sasaran. Dan citra baik peternakanku bisa kembali diagungkan." Imbuh Azka.


Rere memahami maksud dan tujuan Azka. Ia hanya perlu bersikap profesional dalam hal ini. Ia yakin bisa tetap menjaga marwahnya sebagai istri dan tetap bisa membantu perempuan lain dengan donasi dari Azka. Rere memutuskan untuk menerima tawaran Azka.


Ia mengajukan proposal tentang program-program pemberdayaan dan edukasi yang akan dibuat untuk para perempuan, terutama yang bekerja di peternakan Azka. Rere juga sudah membuat simulasi anggaran yang dibutuhkan serta timeline realisasi program. Sangat detail dan terperinci. Azka yang merasa sangat puas dengan kinerja Rere, mulai menggelontorkan dana secara bertahap.


Kerjasama antara Azka dan Rere dimulai.


Mereka jadi semakin sibuk dan lebih sering bertemu. Azka senang kini bisa lebih dekat dengan Rere. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bisa mendapatkan Rere sepenuhnga.


Mega yang mengetahui persis motif suaminya, merasa tak terima. Mega tak rela Rere merebut Azka darinya, seperti Bima dulu. Mega ingin menghancurkan kerjasama mereka. Mega mencari cara untuk menghentikan suaminya. Ia tahu persis siapa orang yang bisa membantunya.


***


Siang itu suasana rumah terasa sepi seperti biasa. Sejak menikah, Azka dan Mega memilih untuk tinggal dirumah kakek Azka, Pak Satrio Wardoyo. Selain karena lebih dekat dengan area peternakan, rumah itu terlalu besar untuk ditinggali Pak Satrio seorang diri.


Dulu, setelah istrinya meninggal, Pak Satrio ditemani Rani Wardoyo, putri bungsunya yang tinggal di rumah itu beserta Doni, suaminya dan dua orang anaknya. Tapi karena peternakan justru diserahkan pada Azka setelah Azka menikah, bukan pada Doni, suaminya, Rani murka dan memilih pindah ke rumahnya sendiri dan meninggalkan Pak Satrio. Sejak saat itu, Azka dan Mega diminta pindah untuk menemani kakeknya itu.


Mega menemui Pak Satrio yang tengah beristirahat di kamarnya. Ia menceritakan perihal Azka yang telah banyak menghamburkan uang untuk membantu Bima menyejahterakan warga desa. Mega sengaja memprovokasi pria tua itu. Mega terus menceritakan betapa Azka tidak menghargainya sebagai sesepuh di keluarga Wardoyo.


" Kakek harus segera menghentikan Azka, sebelum semua kekayaan kita pindah ke tangan Bima dan warga desa." Bujuk Mega


" Azka tidak tahu betapa jerih payah kakek mengumpulkan pundi-pundi uang itu. Dengan gampangnya ia membagi-bagikannya pada orang yang bahkan tidak kita kenal." Imbuh Mega lagi.


Azka yang tengah dimabuk asmara dengan Rere, sama sekali tak menggubris peringatan kakeknya. Ia tetap melanjutkan program kerjasamanya dengan Rere dan dengan lebih hati-hati mengambil dana peternakannya agar tidak diketahui sang kakek.


Mega merasa tidak puas dengan tindakan kakeknya. Ia terus membujuk Pak Satrio untuk menghentikan kedekatan Azka dengan Rere. Mega jadi semakin sering mendekati kakeknya untuk mendapatkan keinginannya.


Sampai suatu ketika, seperti biasa, mega mendatangi kakeknya yang tengah santai di kamarnya. Lagi-lagi Mega merengek terkait Azka dan Rere. Entah setan apa yang merasuki Pak Satrio, ia mulai mengelus dan menjamah tubuh Mega.


Awalnya hanya memegang tangan, lalu merambat ke lengan, leher rambut, wajah lalu dada Mega. Dengan sigap Mega menghentikan tangan Pak Satrio.


" Kakek mau apa?" Tanya mega ragu


" Ayolah Mega, kamu pasti tahu apa yang Kakek mau." Ucap Pak Satrio penuh nafsu


" Kakek, aku ini Mega, cucumu."


" Selama ini aku hanya bisa melihatmu memuaska Azka, tapi mulai sekarang, aku juga ingin merasakannya dengan tubuhku sendiri."


Mega tercekat, ia baru menyadari bahwa selama ini kakeknya sering melihatnya bercumbu dengan Azka.


" Aku akan memenuhi semua keinginanmu, Mega. Semua!" Lanjut Pak Satrio, "Asal kau juga bisa memuaskanku seperti kau memuaskan Azka." Kakek tua itu tersenyum.


Mega berfikir keras, ' hanya pria tua lumpuh, paling belum semenit juga sudah KO'


Mega menerima tawaran Pak Satrio. Ia menyerahkan dirinya untuk disentuh dan disetubuhi kakek suaminya. Ternyata tidak cukup sekali itu, Pak Satrio jadi semakin tergila-gila dengan Mega. Mereka melakukan perbuatan zina itu berkali-kali. Sebagai imbalannya mega menerima banyak uang dari Pak Satrio dan seluruh sumber dana yang bisa dipakai Azka untuk memuluskan kerjasamanya bersama Rere, ditutup.


Azka murka mendengar keputusan sang kakek. Ia tidak terima dengan keputusan kakeknya yang menutup seluruh sumber dana yang dikelolahnya. Ia bertengkar hebat dengan kakeknya. Ketika hendak pergi, tanpa sengaja Azka menepis tangan sang kakek yang berusaha mencegahnya. Nahas, karena tak mampu mengimbangi gerakan tangan Azka, tubuh sang kakek oleng lalu jatuh berguling di tangga yang kemudian mengakibatkan kelumpuhan pada kaki sang kakek.


Menyesali perbuatannya pada sang kakek, Azka memutuskan untuk menghentikan proyek CSRnya bersama Rere dan fokus pada kesembuhan sang kakek. Dan sampai saat itupun Azka sama sekali tidak mengetahui hubungan terlarang sang kakek dan istrinya, Mega.