
Rere masih mondar-mandir di kamarnya sembari memegang tiket kereta apinya. jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Pikirannya terus berpindah dari Akmal, ke Muscab, ke Bima, cerita bapak, cerita bik sumi, ucapak tak sopan Azka, Bima lagi dan terus berputar-putar.
' Stop! aku ngga bisa diem aja. Azka sudah keterlaluan! aku juga harus memberinya pelajaran.' Rere tersenyum, lalu keluar dari kamar menemui ibunya.
****
" Kamu yakin nduk? ibu seneng dengernya." wajah ibu tampak sumringah, ia berkali-kali memeluk putri sematawayangnya itu.
" tapi bu, Rere belum bilang sama bapak."
" Bapak juga pasti seneng nduk."
Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara motor parkir di halaman depan rumah mereka. Itu jelas bukan suara motor Bapak.
" Biar Rere saja yang lihat ke depan bu"
Ibu mengangguk sambil membawa piring-piring kotor dari meja makan ke dapur.
" Bima," Rere melihat bima dibalik pintu
Bima segera menarik pergelangan tangan Rere menuju ke halaman, sedikit menjauh dari rumah Rere.
" Re, jadi beneran kamu mau balik ke Jakarta malam ini?"
" Tau darimana?" selidik rere
" Ngga penting aku tahu darimana, yang penting sekarang bener apa ngga?!"
" Tadinya sih iya,...."
belum selesai dengan kalimatnya, Bima sudah langsung menyambar, " Re, kamu tega banget sih. Kamu satu-satunya harapanku. Tinggal sebentar lagi aku bisa memperbaiki semuanya. Kenapa kamu malah pergi sih? Aku butuh kamu, Re. Plis, jangan pergi." Bima memohon tak berdaya
" oke, kalau kamu ngga mau nikah sama aku gak papa, tapi..."
Kali ini Rere yang memotong kalimat Bima, " iya ngga papa dong, kan kamu juga sudah punya calon. Calon istri, " rere memberi penekanan, " yang sudah kamu buatkan rumah di jalan mawar 10." Rere mulai gemetar menahan isak. " Kamu pikir aku ini apa? cewek bodoh yang bisa kamu manfaatkan semaunya lalu dicampakkan sesukanya? iya??!" tanya Rere emosi
Bima yang mendengar ucapan Rere hanya bisa melongo, " maksud kamu apa sih, Re?"
" Udah ngga usah pura-pura bodoh, aku dah tahu semuanya." kalimat rere terbata di tengah tangisnya yang mulai pecah.
" Re, dengar dulu penjelasanku. Aku belum punya calon istri. Dan rumah itu aku bangun untuk calon istriku kelak, karena sampai kemarin aku masih belum menemukannya." Bima berhenti sejenak, menarik nafas, " tapi hari ini aku sudah menemukan dan aku ngga mau kehilangan lagi, untuk itu aku mencegahmu pergi."
" Plis, jangan pergi, Re!"
" Siapa juga yang mau pergi,"
" tadi kamu bilang..."
" tadinya emang mau pergi, tapi sekarang udah ngga."
Bima yang baru bisa mencerna perkataan Rere tampak sangat bahagia, refleks ia memeluk Rere, erar.
" Loh ada apa ini?" Bapak yang baru tiba memasuki halaman kaget dengan pemandangan di depannya.
***
Pak Burhan, Rere dan Bima sudah duduk bersama di ruang tamu. Ibu yang sudah membawakan tiga cangkir minuman ikut bergabung.
" Ada apa sih pak?" tanya ibu penasaran
Pak Burhan masih mematung.
Bima memberanikan diri memecah suasana, "Begini bu, saya berniat melamar Rere"
Ibu yang tampak kaget menoleh ke arah Bapak, lalu Rere. " nduk.."
" Mas Bima melamar saya, bu." jawab Rere yang masih menunduk menatap lantai.
" Pak.. " ibu mencari tahu jawaban Bapak yang masih diam menatap keluar rumah.
" Nak Bima, beri Bapak waktu." pinta Pak Burhan singkat
Bima mengangguk takzim, " nggih pak. kalau begitu saya permisi dulu."
Bima bangkit mencium tangan Pak Burhan dan istrinya lalu pergi.
Bapak masuk ke kamarnya lalu mandi dan sholat.
***