Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Nostalgia Masa SMP


Siang itu, Rere bersama dua orang anggota PKK desa menghadiri seminar pemberdayaan wanita di kecamatan. Kebetulan Azka juga hadir sebagai salah satu pembicara dari pihak pengusaha ternak yang juga mempekerjakan banyak kaum wanita.


Sebelum meninggalkan acara, Azka menyempatkan diri menemui Rere. " Selamat siang, Bu Lurah," sapanya


Rere yang tidak menyangka sapaan Azka segera menyahut, " Eh, iya, siang Pak Azka."


" Ngga usah pake Pak lah. Kan kita seumuran, " Azka berusaha akrab


" Maaf, tapi kan kita lagi di dalam forum. Jadi saya harap Pak Azka bisa maklum." tegas Rere


Azka tersenyum mendengar perkataan Rere. " Oke, kalau begitu apa saya bisa bicara dengan Bu Lurah di luar forum? Karena ada hal penting yang ingin saya bahas dengan Bu Lurah."


" Soal apa?" tanya Rere cepat


" Soal nasib para pekerja wanita di tempat saya, Bu." jawab Azka sok formal.


Sebagai istri lurah, ia tidak punya alasan untuk menolak topik umum sepeti itu, apalagi menyangkut warganya.


" Baik pak, nanti saya akan menemui anda di luar."


***


" Oke pak, bisa langsung ke intinya saja? saya sudah ditunggu ibu-ibu yang lain" kata Rere begitu duduk di salah satu kursi di kantin kantor kecamatan.


Azka yang sudah lama menunggunya berdecek, "ckck sibuk banget ya Bu?" katanya sedikit meledek


" Maaf, bukan begitu pak, tapi saya ndak enak sama ibu-ibu yang lain kalau terlalu lama." kilah Rere


" Pertama kita sudah di luar forum, jadi bisa kan panggil Azka aja? kedua, kalau ibu-ibu itu buru-buru pulang, ya sudah suruh aja mereka pulang duluan. Kamu kan bisa pulang bareng aku, Re."


Belum sempat Rere menjawab, seorang petugas kecamatan menghampiri Rere, " Maaf bu, Pak Camat pengen ketemu ibu."


" Tuh, kan, apa aku bilang. Suruh aja ibu-ibu itu pulang lebih dulu. Kasihan kan mereka menunggu lama?" Azka tampak sumbar karena ia tahu kali ini Rere tak akan bisa menolak tumpangannya.


Rere yang masih sebal segera meninggalkan Azka, menghampiri ibu-ibu yang menunggunya sebentar, lalu memasuki ruangan Pak Camat.


Hampir satu jam kemudian, Rere keluar dari ruangan Pak Camat sambil membawa sebuah amplop berisi dokumen di tangannya.


Dilihatnya Azka tengah merokok, masih ditempat yang sama ketika ia tinggalkan tadi.


Rere segera menghampirinya, " Loh, kamu masih disini? Kirain dah pulang."


" Kan aku dah bilang mau kasih kamu tumpangan pulang, " sesekali menghisap rokoknya. " Kan aku juga belum sempat ngobrol sama kamu tadi." lanjut Azka.


Rere duduk di sebrang Azka, " oke, sekarang kamu mau ngobrol soal apa?"


" Soal kita, " goda Azka. Ia mematikan rokonya, "Kamu mau pesen makan dulu?" lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan.


Rere menggeleng.


" Kalau gitu kita ngobrol sambil jalan." Azka beranjak dari duduknya, mengemasi rokok dan ponselnya lalu mengajak Rere menuju mobilnya.


***


Disepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Azka hanya menyampaikan niatnya untuk meminta bantuan Rere mengelolah semacam dana CSR untuk menyejahterakan para pekerjanya. Dan Rere menyambut baik niat Azka itu.


" Nanti aku akan membicarakannya dengan Mas Bima, supaya bisa lebih bermanfaat dan tepat sasaran." kata Rere menutup obralan CSR mereka.


Dan entah mengapa, itu cukup membuah Azka kesal dan enggan untuk meneruskan pembicaraan dengan Rere.


Mereka melintasi SMP tempat mereka sekolah dulu. Azka mengajak Rere mampir ke salah satu warung es dawet langganan mereka dulu. Mereka ngobrol banyak soal masa lalu mereka.


Dulu mereka adalah teman sekelas waktu SMP. Azka termasuk anak yang baik dan sopan. Meskipun tubuhnya kurus dan kulitnya gelap, wajah Azka terlihat cukup tampan. Dan yang paling Rere suka dari Azka adalah bakatnya dalam berbagai cabang olahraga, terutama sepak bola. Azka tampak sangat keren saat bermain bola, bak Maradona ia berlari gesit menggiring bola sambil menghindari serangan lawan. Tehnik permainannya sangat rapi dan menarik, tak heran ia sering membawa timnya menang dalam banyak pertandingan bola, baik tingkat desa maupun kabupaten.


Meskipun Rere menyukai Azka, toh mereka dulu tidak pernah akrab. Karena Pak Burhan selalu mewanti-wanti Rere untuk tidak berteman dekat dengan Azka.


Terlepas dari itu, Rere tidak pernah lupa saat Azka menolongnya ketika dirundung gerombolan cewek kakak kelas yang ngefans banget sama Bima. Sebenarnya sampai sekarangpun Rere masih ngga paham kenapa cewek-cewek itu merundungnya. Padahal ia yakin tidak pernah keganjenan sama Bima. Bahkan bisa dibilang mereka hanya sebatas kenal nama, tidak pernah bersama apalagi dekat.


" Kamu inget ngga Re, waktu kamu dikunciin di kamar mandi sama gengnya Mbak Restu?" tanya Azka tiba-tiba, seolah-olah tau isi pikiran Rere


Rere hanya mengangguk


" Waktu itu Pak Sarip yang pegang kunci sudah pulang, jadi aku harus kerumahnya dulu untuk ngambil kunci kamar mandi. Lugu banget yah? Coba aja sekarang, pasti dah langsung ku dobrak aja tu pintu. Ngapain juga jauh-jauh ke rumah Pak Sarip." Azka mengenang kisah heroiknya.


Rere tertawa, " Ya mana kuat kamu dobrak pintu? orang dulu badan kamu kurus banget."


Mereka tertawa bersama


" Btw, makasih ya Ka, waktu itu aku ngga sempet bilang saking malunya." tukas Rere


" Malu? emang kenapa mesti malu, Re?" tanya Azka tak mengerti


" Malulah, kan aku ketahuan habis nangis, hehe."


Mereka larut dalam nostalgia masa SMP.


***


Setelah Rere keluar dari kamar mandi waktu itu, Azka membuntuti Rere dari jauh, sampai Rere masuk ke dalam rumahnya dengan selamat. Sejak kecil Azka memang sudah menyukai Rere, tapi ia tak punya keberanian untuk mengatakannya, bahkan hingga ia dewasa.


Sementara itu, Azka merasa tidak terima atas perlakuan Restu, kakak kelas yang mengunci Rere di kamar mandi sekolah. Ia merasa perlu membuat perhitungan.


Keesokan harinya, Azka menemui Restu dan menanyakan alasannya memerlakukan Rere seperti itu. Restu menjelaskan bahwa ia melihat Rere menyerahkan sesuatu kepada Bima. Setelah diam-diam mengambilnya dari tas Bima, Restu tahu bahwa itu adalah surat cinta. Restu yang memang sudah lama tergila-gila dengan Bima merasa marah dan berusaha membalas perbuatan Rere.


Azka yang mendengar penjelasan Restu jadi ikut meradang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis pujaan yang dianggapnya begitu santun dan pendiam ternyata hanyalah gadis gampangan karena bisa dengan mudah menyatakan cintanya lebih dulu pada kakak kelas.


Karena itulah, saat melihat Rere di warung Bik Sumi, Azka sumbar pada teman-temannya bahwa ia akan bisa dengan mudah mendapatkan gadis gampangan model Rere. Yang pada akhirnya justru membuatnya terjengkang setelah menerima bogem mentah dari Bima. Ia pun pulang dengan wajah babak belur setelah adu hantam dengan Bima.


Tanpa mereka tahu bahwa mereka berkelahi hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil.