
" Menikahlah denganku!"
Perkataan itu masih terngiang-ngiang di telinga Rere. Ia benar-benar tidak menyangka dengan kejadian hari ini. Iya sih, harus diaku Rere bahwa Bima banyak berubah dari Bima urakan yang dikenalnya sewaktu masih SMP dulu. Ia jauh lebih tinggi, gagah dan berwibawa. Wajahnya juga jauh lebih mempesona. Wajar saja kalau ia sempat tak mengenalinya waktu pertama tiba di Simpang Bengkok. Tapi untuk menikahi pria yang baru saja ditemuinya kembali untuk menyelesaikan masalah dengan keluarga Wardoyo rasanya terlalu berlebihan.
' Oke, katakanlah memang benar sebaiknya Bima punya pendamping saat menjadi Lurah, tapi kenapa harus aku? masih banyak kok cewek lain yang juga bermasalah sama Subandi. ' batinnya menimbang segala kemungkinan
' Apa mungkin karena aku anak Ayah, perangkat desa, yang punya reputasi cukup bagus di masyarakat? ato karena aku tak terlalu dekat dengan keluarga Wardoyo? atau karena aku dianggap cerdas? atau karena aku cantik? atau? atau?'
Rere mulai frustasi. Ia benar-benar tidak tau apa sebenarnya niat dan tujuan Bima mengajaknya menikah. Apakah hanya dimanfaatkan untuk memuluskan jalannya menjadi lurah? Atau memang benar bahwa ia ingin Rere mendukungnya membantu lebih banyak warga.
Kring...
Ponsel Rere berdering. Kali ini nama Akmal benar-benar muncul di layarnya. Ia sangat bersemangat, namun mengingat apa yang terakhir kali Akmal lakukan padanya membuatnya agak malas mengangkat telpon.
" Halo" Rere berusaha menjaga suaranya tetap datar
" Sayang, aku kangen banget sama kamu. Kamu kok lama sekali seh pulang kampungnya?" cerocosnya seolah tak terjadi apa-apa
Rere terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa
" Sayang, kamu kok diam aja sih? Kamu masih marah sama aku soal Mayang?" tebak Akmal, " iya deeeh,,, aku minta maaf banget sama kamu. aku janji ngga akan ngulangin lagi" imbuhnya
" Mal, kamu pikir aku balita kemarin sore yang mau aja kamu gombali pake janji palsu model begituan?"
Sadar rayuannya tidak mempan, Akmal mencoba jurus lain, " Aku akan berhenti dari partai. Aku akan tinggalin Mayang. Kamu lebih pantas dan dibutuhkan disana." Akmal yakin Rere akan termakan bujuknya kali ini
tidak ada jawaban.
Rere masih menimbang, ragu.
Akmal tak mau menyerah, "minggu depan ada musyawarah Dewan Perwakilan Cabang (DPC), Pak Bagas pasti akan sangat membutuhkan bantuanmu"
Rere melihat kalender dan benar hari Muscab sudah dekat. Ia sudah mempersiapkan banyak hal jauh-jauh hari terkait agenda itu.
" Sayang.."
suara Akmal membuyarkan lamunan Rere
" Entar deh aku kabarin." Rere menutup telponnya.
Sekarang Rere semakin bimbang, jika ia kembali ke Jakarta dan ikut Bagas menghadiri Muscab, popularitasnya akan meningkat dan peluangnya terjun di pemilihan legeslatif akan terbuka lebar. Namun, entah mengapa ia merasa berat meninggalkan Bima yang telah melamarnya kemarin. Tiket menuju Jakarta besok sore juga sudah ada ditangannya. Tapi ia masih ragu.
***
Rere memutuskan keluar rumah untuk menghirup udara segar. Ia berharap dengan begitu ia bisa berfikir jernih dan memantapkan pilihannya.
" Eh, Bapak masih disini tho," tanya Rere ketika melihat Bapaknya masih duduk diteras sambil membaca beberapa berkas.
" Iya nduk, masih sore juga.." timpal Pak Burha tanpa menoleh
Pak Burhan tampak tak terpengaruh dengan pertanyaan Rere, tetap dengan aktivitasnya beliau menjawab, "Sudahlah nduk, ndak usah dipikirkan. Wong harta ndak dibawa mati kok. Bapak sudah dengar cerita pas kamu di balai desa. Tapi Bapak harap kamu tidak lagi terlibat dalam masalah itu." Pak Burhan mengamati wajah Rere, " Bagi Bapak, kamu lebih penting." Pria itu tersenyum lembut.
" nggih pak." jawab Rere,
" oh iya pak, apa bapak tahu rumah di jalan mawar 10?
" Tahu, kenapa tho?"
" Itu dulu kan rumah angker ya pak? kata teman-teman itu rumah nenek-nenek yang bunuh diri disitu."
Bapak sontak tertawa mendengar cerita Rere. " Oalah nduk, kamu tu kok ya percaya sama cerita seperti itu."
" Jadi itu ngga bener pak?"
" yo ndak lah nduk. Rumah itu memang punya nenek-nenek. Itu neneknya Bima. Tapi beliau orang baik dan meninggalnya ndak di rumah itu. Beliau meninggal karena sakit di rumah sakit."
" ooooh.." Rere jadi ikut tertawa malu mendengar cerita Bapak. " Tapi sekarang rumahnya bagus ya pak?"
" Iya beberapa tahun lalu direnovasi total sama Bima, kata Pak Danar mau ditempati Bima kalau sudah nikah." Pak Burhan meletakkan berkas yang dibacanya lalu larut dalam ceritanya
" Itu Bima sendiri yang mendesain bangunan dan interiornya. Taman juga dia sendiri yang buat. Dan kamu tahu nduk? Itu bibit mangga yang ditanam disana, semua nyangkok mangga Bapak di kebun." Pak Burhan terkekeh sendiri
" Padahal loh nduk banyak banget pohon mangga yang jauh lebih bagus dan manis dari punya Bapak, tapi dia tetep ngotot bahwa dia sukanya pohon mangga Bapak. Aneh tho?" Bapak melanjutkan ceritanya, Bunga yang disana juga bibitnya ambil di tamanmu yang dekat lumbung. Semua dia ambil dari sana. Padahal Bu Asri yang punya taman bagus di dekat pasar sudah nawarin dia untuk ambil semua bunganya yang Bima suka. Tapi dia ngga mau. Padahal bunganya bu Asri terkenal bagus dan mahal-mahal tapi dia nolak. Malah ngambilin bibit bunga di kebunmu yang sudah ngga kerawat." kenang Bapak.
Ibu yang sedari tadi sepertinya sedang menguping dari dalam rumah, tiba-tiba saja muncul dan menyambung obrolan mereka
" Bima itu juga pernah nyari kamu ke Jakarta kan? Ketemu ndak nduk?" tanya ibu
" Apa? nyari aku? ke jakarta?" Rere sama sekali tak percaya.
" iyo nduk. katanya dia pas lagi ada acara di jakarta, jadi mau sekalian ketemu kamu. wong ibu juga nitipin dendeng ragi kesukaanmu kok." Tegas ibu
'dendeng ragi?!' Rere menutup mulutnya. kaget
Ia ingat betul bahwa hari itu Akmal sedang berada di kontrakan yang ditinggalinya bersama mei, sahabatnya. Mereka sedang merayakan ulang tahun Mei. Tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Akmal yang kebetulan di ruang tamu membuka pintu lalu tak lama kemudian kembali dengan sekotak dendeng ragi yang katanya dari tetangga sebelah untuk mei yang sedang ulang tahun.
" Terus Bima bilang apa bu?" tanya Rere penasaran.
" Katanya dia ngga berhasil nemuin kontrakanmu. Dan dendengnya habis dia makan selama di perjalanan." ibu terkekeh mengenang ceritanya. " Memang beneran ndak ketemu tho nduk?" tanya ibu lagi.
'Akmal benar-benar keterlaluan.' Pikir Rere
" Oh iya nduk," sambung ibu, " besok kamu jadi balik ke Jakarta?"
Hening
Rere tersenyum, lalu masuk ke kamarnya.