Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Dendam


Isu pelecehan seksual yang dialami Bima seakan hilang diterpa angin. Semua permasalahan sudah terpecahkan dengan gamblang dan dapat mengembalikan nama baik Bima tanpa menjatuhkan Azka. Sungguh skenario yang elegan dari seorang Rere dalam mengalahkan upaya Azka dan ayahnya untuk menjatuhkan Bima.


Hari pemungutan suara tiba, warga sangat antusias mendatangi bilik suara yang telah disediakan. Bima dan Rere mengabaikan santernya isu serangan fajar yang dilakukan kubu Azka. Mereka memilih untuk fokus pada prosesi pemungutan suara.


Tengah hari proses pemungutan suara ditutup dan mulai dilakukan hitung cepat atau quick count serentak di beberapa TPS. Hasilnya Bima unggul atas rivalnya, Azka Wardoyo.


Bima dan Rere sangat bahagia tanpa menyadari akan ada lebih banyak rintangan yang akan mereka hadapi.


***


Prosesi serah terima jabatan berlangsung lancar. Bimantara Sadewo resmi menjadi lurah baru Desa Randu Ginting menggantikan Subandi Wardoyo, ayah Azka Wardoyo.


Dengan dukungan penuh dari istrinya, Rere, Bima sangat bersemangat menjalankan tugas barunya. Tak butuh waktu lama untuk Bima memulai program kerja baru yang telah ia dan timnya rancang sebelumnya. Diawali dengan pembangunan waduk untuk melancarkan pengairan sawah warga, perbaikan gedung-gedung sekolah yang mulai usang, hingga rencana pembangunan jalan baru yang lebih lebar dan bisa memperpendek jarak tempuh dari Randu Ginting ke Simpang Bengkok. Dengan begitu warga akan menjadi lebih mudah dan cepat membawa hasil panennya ke kabupaten dengan mobil.


Meskipun demikian, Bima tak pernah melupakan tujuan utama keberadaannya sebagai Kepala Desa. Seno sudah cukup banyak mengumpulkan informasi dari teman dan kerabat Pak Danar ketika masih menjabat dulu. Namun, tak satupun dari mereka yang menunjukkan adanya rekayasa atas kecelakaan yang dialami Pak Danar.


" Kamu yakin sudah menanyai semuanya?" ulang Bima ketika Seno melaporkan hasil penyelidikan awalnya.


" Sudah Mas Bos. Bahkan Pak Minto dan Pak Didik yang dulu takut berbicara, sekarang sudah mulai berani buka suara. Tapi keterangan mereka sama sekali tidak membantu." jelas Seno lagi.


Bima tampak berpikir. Ibunya benar-benar yakin bahwa para perangkat desa saat itu diam-diam membicarakan perihal adanya rekayasa atas musibah itu. Tapi dimana dia akan menemukan petunjuk dan titik terang. Semua jalan seolah sudah diblokir rapi.


***


" Pastikan tidak ada orang lain lagi yang tahu soal ini. Kalau tidak, kita semua bisa dianggap terlibat." timpal salah seorang lainnya


" Apa kamu yakin semua sudah dirapikan?" tanya seorang lainnya entah kepada siapa


" Cukup! Ingat bahwa ini semua adalah musibah biasa yang bisa menimpa siapa saja. Camkan itu!"


bentak seseorang lagi


" Siap." jawab beberapa orang bersamaan.


Bu Rima berniat mengintip siapa pemilik suara di dalam ruangan itu, tapi gagal. Pintu tertutup rapat dan dijaga oleh seseorang dari luar. Bu rima hanya bisa mendengarkan potongan percakapan itu dari balik tembok. Tidak banyak lagi informasi yang bisa ia dengar karena si penjaga pintu rupanya mulai menyadari kehadirannya. Bu Rima memutuskan untuk segera pergi sebelum ketahuan menguping.


Meskipun tak terdengar jelas, namun Bu Rima yakin bahwa pria yang membentak dan memberi perintah tadi adalah Pak Satrio, mantan lurah yang berhasil dikalahkan Pak Damar dalam pemilihan kepala desa. Ia sadar betul bahwa tak akan ada yang percaya andai ia mengatakan apa yang baru saja didengarnya kepada orang lain. Kalaupun ada yang percaya, ia yakin bahwa tidak akan ada yang berani membantunya melawan Pak Satrio. Yang ia butuhkan hanyalah bukti dan itu tidak akan bisa ia temukan dengan mudah saat itu.


Bu Rima memendam dendamnya dalam-dalam, berharap suatu hari nanti putranya bisa mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan pada ayahnya. Ia memutuskan untuk mundur selangkah, mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan Bima untuk bisa membalaskan dendamnya nanti.


***