
Mega menemui Pak Satrio di halaman belakang rumahnya. Ia menyodorkan kertas yang dibawanya kepada Pak Satrio. Pria tua yang duduk di kursi roda itu mendelik
" Apa kau gila?! Mana mungkin aku menyerahkan tanah itu padamu?!" Pak Satrio membuang surat yang menyatakan bahwa Pak Satrio akan menyerahkan tanah hutan jati seluas 10 hektar kepada Mega sebagai hibah.
Mega meletakkan tangannya di dada Pak Satrio, memutar lalu sedikit jongkok di samping Pak Satrio,
" Jadi kakek lebih memilih tanah itu daripada ini?"
Mega menunjukkan selembar kertas lain kepada Pak Satrio. Surat Perjanjian Tukar Guling Lahan.
" Dasar pelac*r! wanita jal*ng!" hardik Pak Satrio
Mega yang mendengarnya, tertawa makin kencang.
" Kakek pikir aku bodoh?! Mau saja nurutin nafsunya kakek tanpa dapat apa-apa?"
" Dasar *******! Sampah! aku sudah memberikan banyak uang padamu dan kau bilang tak mendapatkan apa-apa?"
Masih tertawa sinis, " apa kau pikir itu cukup untuk memuaskan nafsu pria kisut sepertimu?! Mana ada pelac*r yang mau bermain dengan tua bangka keriput sepertimu? Hah?!!", Mega makin menjadi, "kalau kau begitu mencintai hartamu kenapa kau tak o**ni saja dengan hartamu itu, hah?!!"
Mega meninggalkan lelaki tua itu dan membawa surat perjanjian tukar guling lahan yang asli. Beberapa hari lalu, Mega menemukan surat itu ditumpukan kertas milik almarhum kakeknya.
Pak Satrio yang tidak terima dengan perlakuan Mega, berusaha bangkit dari kursi rodanya. Namun, nahas, karena ia justru jatuh tersungkur tertindih kursi roda dan kepalanya menimpa batu. Darah mulai mengalir deras dari kepala pria tua itu.
Mega yang menyaksikan kejadian itu dan melihat pria itu tak tertelungkup tak bergerak segera melarikan diri, bersembunyi.
Pak Satrio segera dilarikan ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tak tertolong. Azka sangat terpukul dengan kepergian kakeknya.
***
Rere berniat pergi melayat ke rumah Azka. Bagaimanapun juga mereka dulu berteman, ia ingin memberikan dukungan moral pada teman lamanya itu. Tak lama kemudian Bima datang menjemputnya.
" Jenazah sudah dimakamkan. Ayo kalau kamu mau takziah." ajak Bima setelah sebelumnya ikut mengantar jenazah ke pemakaman.
Masih banyak pelayat di rumah Azka ketika mereka tiba. Rere menyalami dan memeluk Mega, lalu ditemani Bima, menemui Azka.
" Kami turut berduka cita ya, Ka. Semoga kamu dan keluarga tabah melalui cobaan ini." ucap Rere penuh simpati.
" terima kasih," jawab Azka singkat. Ia lalu beranjak meninggalkan mereka menemui tamu yang lain.
Bima juga membaur dengan tamu lain, sementara Rere menemukan Mega yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Bima. Rere tahu betul bahwa Mega sudah lama menyukai Bima. Namun, ia tak menyangka bahwa sampai sekarangpun Mega masih memendam perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
Mega mengambil beberapa minuman dan snack lalu menyodorkannya di hadapan Bima. Ia juga ikut bergabung dengan obrolan Bima bersama tamu lain. Sesekali Mega masih mencuri pandang kepada Bima, mencari kesempatan untuk mendapat perhatian Bima. Saat Bima hendak keluar, Mega dengan berani mengekor bima sampai ke halaman. Rere sempat melihat mereka berbicara berdua, namun tak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan.
Tak lama kemudian, Mega tampak pingsan di pelukan Bima. Orang-orang berhamburan menolong Mega, namun Azka justru diam saja. Ia hanya mengamati istrinya dari jauh. Bima dibantu beberapa orang berusaha membopong Mega ke kamar. Entah kenapa Rere merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu
' Apakah mungkin ia cemburu? Padahal Bima hanya sekedar membantu. Atau apakah ia layak untuk cemburu? Padahal ia baru saja dekat dan mengenal kembali Bima. Tapi apakah benar Bima tidak pernah mencintai Mega? Ataukah Bima hanya berusaha menahan perasaannya karena Mega sudah menikah dengan Azka?' semua pikiran berkecamuk di benaknya. Hingga ia tidak menyadari kehadiran Bima yang sudah ada di sampingnya.