Terjebak Cinta Mas Lurah

Terjebak Cinta Mas Lurah
Jebakan Tikus Kampung


Mega yang tengah meradang, mengadukan semua tindakan Rere selama seminar tadi siang kepada suaminya. Azka tersulut amarah merasa harga dirinya sebagai suamin telah diinjak-injak oleh Rere. Ia berencana membuat perhitungan dengan rival politiknya itu. Ia segera memanggil Mamat, orang kepercayaannya.


***


Hari itu Randu Ginting dihebohkan oleh berita burung soal tindak asusila yang dilakukan Bima, calon lurah. Tersebar foto Bima tengah membuka hijab seorang gadis dan foto lain yang menunjukkan bahwa Bima menyeret wanita itu masuk ke sebuah ruangan. Ditambah lagi, gosipnya, wanita yang ada di foto itu menangis sambil memberikan kesaksian yang menyudutkan Bima dihadapan Pak Lurah Subani.


Bima dan Rere yang awalnya kaget mendengar berita itu, segera bisa menguasai keadaan. Bima yang merasa difitnah berniat menemui Pak Subani dan mengungkapkan kebenaran di balik foto-foto itu, namun Rere melarang.


" Percuma mas, mereka sedang menjadikanmu kambing hitam atas drama yang mereka karang."


" Tapi dek, "


" Aku percaya mas ngga salah," potong Rere cepat, " dan kurasa untuk saat ini, itu cukup."


Bima masih tidak bisa terima dengan ketidakadilan yang dialaminya. Selama ini ia dikenal sebagai salah satu pemuda alim dan santun. Tapi semua tiba-tiba berbalik menghujatnya layaknya penjahat, hanya karena foto yang direkayasa untuk menyudutkannya. Meskipun begitu, ia menuruti permintaan istrinya, ia yakin mereka akan menemukan solusi lain yang lebih baik untuk membalikkan keadaan.


Bu Rima yang mendengar isu miring tentang putranya sangat syok, hingga membuat penyakit jantungnya kambuh dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit di kabupaten. Ditengah hantaman isu dan kondisi mertuanya yang belum membaik Rere terus memikirkan kemungkinan dan jalan keluar yang harus dibuatnya.


Ia mengamati detail dalam foto tersebut. Sekilas memang tampak bahwa Bima tengah menggandeng tangan perempuan itu memasuki sebuah ruangan. Namun dari keterangan yang disampaikan suaminya, justru sebaliknya, Bima hendak memasuki ruangan meninggalkan perempuan yang tidak dikenalnya tapi terus menggodanya itu, namun perempuan itu yang berusaha menahannya.


Sedangkan pada foto yang satu lagi terlihat Bima tengah memegang bagian hijab di bawah dagu perempuan itu, seperti hendak melepas penitinya. Namun menurut penuturan Bima justru sebaliknya, perempuan itu terus saja merengek memaksa Bima memasangkan hijabnya yang sedang terlepas dan berantakan. Bima sudah menolak namun perempuan itu terus saja memaksa. Bima yang tidak menyadari adanya rekayasa, akhirnya terpaksa memenuhi permintaan perempuan itu karena malas ribut.


Saat diintrogasi perempuan itu mengaku sebagai salah seorang guru di Madrasah Aliyah yang dikunjungi Bima waktu itu. Namun setelah ngobrol panjang lebar, Bima tiba-tiba mendekat dan mencoba membuka hijabnya. Karena memberontak Bima dituduh malah memaksanya masuk ke sebuah ruangan di sekolah itu untuk berbuat tidak senonoh kepadanya. Meskipun ia mengaku bahwa Bima tidak sempat melakukan niatnya, tapi ia merasa dipermalukan dan menuntut permintaan maaf Bima melalui Pak Lurah Subani.


Rere mengamati foto itu berkali-kali. Berharap menemukan jalan keluar tapi gagal. Ia tak mau manyerah, sembari menunggui mertuanya yang tengah dirawat di rumah sakit, ia terus berfikir sambil mengamati foto-foto itu.


' wait!' Rere mengamati lebih detail, lalu tersenyum.


***


Dua hari kemudian, Bu Rima sudah diijinkan pulang meski kondisinya belum pulih seutuhnya. Rere dan Bima memutuskan untuk tinggal di rumah Bu Rima sampai kondisi beliau membaik.


Setelah keluar dari kamar ibunya, Bima mendapati Rere tengah tersenyum ketika membaca pesan di ponselnya.


" Kamu kenapa senyum-senyum gitu?!" tanya Bima tiba-tiba


" Oh ini wa dari Seno." Rere menunjukkan ponselnya, " sepertinya kita harus segera pergi."


Mereka saling pandang, tersenyum, lalu bergegas pergi setelah berpamitan pada bu rima.


***


Mereka tampak lega sepanjang perjalanan pulang ke rumah Bu Rima. Sepertinya apa yang telah mereka rencanakan berjalan lancar. Mereka telah menentukan hari pembalasan.