Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Jembatan Bambu #3


Ditengah perjalanan kami terus memperhatikan tingkah Yasya dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya, kenapa dia seperti sedang ketakutan.


"Sya!!!" panggil Ilyas yang mengejutkan Yasya.


"Kamu kenapa, kok kayak orang ketakutan?" sambung Ilyas yang berusaha memecahkan rasa penasarannya terhadap sikap Yasya.


Namun tidak ada respon apapun dari Yasya, tetapi malah sebaliknya ia lagi-lagi terdiam dengan keringat yang masih bercucuran hal itu terus membuat kami bingung ada apa sebenarnya bahkan Yasya sedikit pun tidak mau buka mulut dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


"Dia kenapa yah, dari tadi nggak mau bicara bahkan dia seperti orang yang ketakutan?" cetus Naila tiba-tiba.


"Iya yah kenapa dia?" balas Clara.


"An, coba kamu tanya Yasya ada apa dengannya! Lagian juga kalau kamu yang tanya biasanya dijawab sama Yasya!" perintah Ilyas kepadaku.


"Mmm, iya aku coba yah!" jawabku.


"Sya!!!" panggilku dengan suara lirih dan berhati-hati agar tidak mengejutkan Yasya dan kembali membuat ia ketakutan.


"Sya!!!" sambungku kembali memanggil Yasya sambil menepuk pelan bahunya.


Usahaku ternyata tidak sia-sia karena Yasya mau meresponku.


"Ann!!" balasnya lirih.


"Iya kenapa Sya?" jawabku


"A...Aku..." tutur Yasya yang terbata-bata.


"Iya kamu kenapa Sya?" balasku dengan sabar.


"A...Aku..." jawab Yasya yang kembali terbata-bata.


"Iya pelan-pelan aja Sya, aku dengerin kamu kok!" balasku dengan senyum.


Didalam pembicaranku dengan Yasya ternyata ada orang yang sempat bergosip, yah siapa lagi jika bukan Naila dan Clara.


"Waw, ternyata benar yang dikatakan Ilyas barusan kalau Ani yang bertanya Yasya akan berusaha menjawabnya." gosip Clara.


"Ya Tuhan anugerah apa ini, sepertinya ada yang tidak kita ketahui tentang mereka berdua pasti!" seru Naila yang langsung merespon Clara dengan cepat.


"Apa jangan-jangan mereka itu....!" cetus Clara yang tidak dilanjutkan.


"Omygottt, wahhh Ra kamu kalah saing sama Ani?" oceh Naila yang mulai menjadi kompor seperti biasa.


"Paan sih kamu gak jelas." balas Clara dengan raut wajah yang memerah.


"Ehemm, ada yang panas nih heheh." sambung Naila kembali menjadi kompor.


"Nggak usah sok tau deh, siapa juga yang panas!" kesal Clara dengan raut wajah yang masih memerah.


"Kalau cemburu ya bilang cemburu nggak usah ditutupin lagian juga wajah kamu akan semakin merah loh kalau terus bohong." goda Naila.


Dan seperti itu mereka akan bergosip sampai pada akhirnya mereka sendiri yang ribut karena hal-hal yang tidak penting.


Jawabanku membuat Yasya tersenyum dan mulai menarik napas untuk mengaturnya.


"An? kamu ingatkan waktu aku menabrak sesuatu?" tanya Yasya.


"Ehem kenapa?" balasku yang memang masih mengingat kejadian itu.


"Waktu itu aku pamit keluar untuk memastikan apa yang aku tabrakkan?" jelas Yasya yang mulai menceritakan kejadian waktu itu.


"Iyah terus kenapa Sya?" tanyaku dengan lirih.


"Yah mungkin kamu melihat aku dari dalam mobil ketika aku marah An. Dan kamu akan berfikir jika aku tidak waraskan karena berbicara sendiri?" tanya Yasya yang sepertinya sudah tau sikapku waktu itu.


"Aku waktu itu memang memperhatikan tingkah kamu, namun aku tidak pernah berfikir jika kamu tidak waras didalam kepalaku hanya ada pertanyaan-pertanyaan tentang kamu saja." jelasku dengan jujur.


"Memangnya kamu berbicara dengan siapa?" sambungku kembali.


Yasya kembali menarik napasnya untuk memulai menceritakan kejadian apa yang barusan terjadi hingga membuatnya bukam sejak tadi.


"Saat itu aku tidak berbicara sendiri tapi aku sedang berbicara dengan suara perempuan misterius." jelas Yasya.


"Tapi kenapa sejak tadi kami hanya melihat kamu berbicara sendiri Sya?" tanya Ilyas tiba-tiba yang ternyata sejak tadi mendengarkan obrolan kami.


"Jadi gini waktu itu suara misterius itu tiba-tiba muncul dan ia berkata jika dia adalah sosok yang aku tabrak." tutur Yasya.


"Suara misterius itu awalnya membuatku kesal karena hanya suara saja yang dapat aku dengar sedangkan tidak ada wujudnya." tutur Yasya.


"Ketika aku benar-benar sudah kesal tiba-tiba dia berkata jika dia ada dibawah mobil, dan aku mencoba memastikan namun tidak ada siapa pun dibawah mobil. Dan ketika aku ingin kembali ke mobil tiba-tiba suara itu berseru jika dia ada dibawah mobil disamping roda kiri mobil." jelas Yasya dengan detail.


"Terus Sya siapa dia?" potong Naila.


"Dan saat aku melihat tempat yang dimaksud oleh suara misterius ternyata..." suara Yasya yang tiba-tiba terputus.


"Ternyata apa Sya?" tanya Clara.


"Sya kok diem malahan?" lanjut Naila yang penasaran.


Tiba-tiba keringat dingin mengguyur tubuh Yasya kembali, Yasya yang mengingat kejadian saat itu kembali merasa ketakutan. Aku tau apa yang sedang dirasakan oleh Yasya saat ini.


"Sya??" panggilku dengan lirih.


"Kamu tidak apa-apakan? tenang aja kamukan sudah disini, disini sudah ada kita jadi kamu tenang yah kamu nggak usah takut lagi yah." tuturku disertai senyuman yang mencoba menenangkan Yasya.


Ternyata Ilyas sejak tadi memperhatikanku tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, aku sedikit risih dengan tingkah Ilyas saat ini.


Naila dan Clara ternyata menyadari juga jika Ilyas terus menatapku tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ehemm..." dehem Clara yang ternyata tidak menyadarkan Ilyas yang terus menatapku sembari tersenyum kepadaku.


Clara tidak sengaja melirik Naila, ketika Clara menatap Naila ia langsung memahaminya jika dia sedang cemburu karena wajahnya ditekuk dan memerah.


"Woyyy...!!" teriak Clara sembari menepuk bahu Ilyas.


"Apaan sih Ra ngagetin mulu!" lantang Ilyas yang terkejut.


"Siapa suruh ngeliatin Ani nggak selesai-selesai, naksirrr...ya? A...aa...cie Ilyas diam-diam nyimpen perasaan!" goda Clara yang sambil melirik Naila dan ternyata berhasil membuat Naila memerah karena kesal.


"Paan sih Ra nggak jelas kamu!" jawab Ilyas dengan senyum-senyum malu.


"Aaa...ketauankan kalau suka sama Ani." goda Clara kembali dan kembali membuat Naila kesal dan mengepalkan tangan.


"Taulah Ra terserah kamu aja." jawab Ilyas yang disambung dengan senyum-senyum malu.


"Udah-udah kalian ini kenapa sih, fokus sama Yasya dulu jangan bercanda." tegurku karena melihat sikap Naila yang mulai tidak senang.


"Tu dengerin Ra fokus sama Yasya dulu." tutur Ilyas yang mengikuti ucapanku.


"Yeeee..., kamu juga kali siapa suruh ngeliatin Ani sampai segitunya!" seru Clara.


"Udah-udah diam dulu kalian jangan ribut!" seruku kembali.


"Tu dengerin Ra diem dulu!" tutur Ilyas kembali.


"Kamu juga Yas, jangan mancing-mancing terus." tuturku.


"Iya An maaf ya, maafin babang Yayas ya." tutur Ilyas yang tanpa sadar membuat Naila marah.


Aku tidak lagi membalas perkataan Ilyas karena aku melihat Naila yang sudah mulai marah aku tidak mau membuat Naila benci denganku.


Akhirnya Yasya sudah tenang kembali dan melanjutkan ceritanya.


"Sya kamu sudah baikkan sekarang?" tanyaku kepada Yasya.


"Udah aku udah lebih tenang kok, makasih ya An udah mau nenangin aku tadi." ucap Yasya disertai senyuman.


"Iya sama-sama." balasku.


kemudian Yasya kembali menceritakan semuanya tanpa kami minta.


"Ketika aku mengikuti apa yang diucapkan oleh suara misterius itu ternyata suara misterius itu bukan sosok manusia." jelas Yasya.


"Haa...!!!" ucap Clara yang terkejut.


"Terus apa Sya kalau bukan manusia?" sahut Ilyas.


"Melainkan kepala seorang perempuan dengan bola mata yang hampir terlepas yang meminta tolong mencarikan tubuhnya." tutur Yasya.


"Apa!!!" serentak kami berempat kompak.