
Kami melanjutkan perjalanan setelah beberapa lama beristirahat. Hari sudah gelap dan kami masih melanjutkan perjalanan menyusuri hutan belantara.
"Hnggg?" ucap Yasya sembari melihat kesuatu tempat.
"Apa?" ucapku serentak dengan Ilyas.
"Kenapa?" ucap Ilyas serentak denganku.
"Coba kalian perhatikan itu!" ucap Yasya sembari menunjukkan sebuah batu yang dilihatnya.
"Batu??" ucap Ilyas.
"Hm." ucap Yasya singkat.
"Kenapa dengan batu itu?" ucapku angkat bicara.
"Jika kalian perhatikan batu itu ada yang aneh." ucap Yasya.
Aku dan Ilyas mulai memperhatikan batu itu dengan seksama.
"Hm, sepertinya begitu." ucapku.
Kami segera berjalan menuju tempat dimana batu itu berada. Sesampainya didepan batu itu, kami mengernyitkan dahi. Karena tidak hanya satu batu disana melainkan empat batu yang masing-masing berbeda ukuran dan terdapat tulisan disetiap batu.
"JIWA YANG TULUS?" ucap Ilyas membaca salah satu tulisan yang ada pada batu itu.
"HATI YANG BERPRASANGKA??" ucap Yasya yang juga membaca salah satu batu.
"KEYAKINAN KUAT??" ucapku yang juga membaca salah satu batu.
"ADA JIKA DIRASA BUKAN DILIHAT
BERBICARA TANPA KESALAHAN
HANYA DIRI YANG MAMPU MEMAHAMI." ucap kami serentak.
"Apa maksud semua ini?" ucap Yasya.
"Sebuah teka-teki?" ucap Ilyas.
"Apa makna dari semua ini?" ucapku.
Kami kembali bergulat dengan pikiran kami masing-masing berusaha memahami apa yang kami lihat saat ini.
"Apakah ini sebuah game? Or jebakan?" tanya Ilyas kepada dirinya sendiri.
"Kenapa semakin memasuki hutan ini, semakin banyak pertanyaan yang timbul?" ucap Yasya kepada dirinya sendiri.
"Siapa yang melakukan semua ini? Apa manusia atau mungkin bukan? Untuk apa melakukan hal seperti ini? Apa ini ditujukan kepada kami?" ucapku dengan segala pertanyaan yang ada dikepala.
Kami terus bergulat dengan pikiran kami hingga Yasya memudarkan lamunan kami.
"Jiwa yang tulus, Hati yang berprasangka, Keyakinan kuat, Ada jika dirasa bukan dilihat, Berbicara tanpa kesalahan, Hanya diri yang mampu memahami. Apa maksud dari teka-teki ini?" ucap Yasya.
"Kita harus mencoba memecahkan teka-teki ini, dan aku yakin dibalik teka-teki ini pasti ada sesuatu." ucapku.
Mendengar ucapan Ilyas aku kembali terdiam dan berpikir langkah awal apa yang harus aku lakukan untuk memecahkan semua ini.
"Kita ikuti petunjuk berikutnya, pasti akan ada petunjuk-petunjuk yang lain namun ditempat yang berbeda!" ucap Yasya secara tiba-tiba.
"Benar juga, tidak mungkin jika tidak ada petunjuk lain untuk mencari jawaban dari teka-teki ini." ucapku angkat bicara kembali.
"Lalu kemana kita akan mulai mencari petunjuk berikutnya?" ucap Ilyas.
"Tunggu sebentar, pasti ada jalan menuju petunjuk berikutnya." ucapku.
"Sekarang kita hanya perlu memilih salah satu jalan diantaranya." ucapku kembali sembari menunjuk kearah tiga jalan yang berbeda.
"Tidak mungkinkan jika kita harus berpencar?" ucap Ilyas.
"Tidak, kita tidak akan berpencar takutnya kita akan tersesat. Kita sudah berjanji untuk saling menjaga satu sama lain." ucap Yasya mengingatkan.
("Jalan mana yang harus aku lalui untuk mendapatkan sebuah petunjuk?") batinku.
"Lalu bagaimana kita memilih jalan diantaranya, sementara disana ada tiga jalan yang berbeda?" ucap Ilyas kembali.
Tiba-tiba pandangan mata Yasya menangkap sesuatu. Ia mulai berjalan menuju tempat yang ia tuju.
"Yasya mau kemana?" ucapku kepada Ilyas.
"Entah, dia hanya diam dan berjalan begitu saja." ucap Ilyas.
"Kita ikuti dia, jangan sampai Yasya kenapa-kenapa!" ucapku.
Aku dan Ilyas mulai mengikuti kemana Yasya pergi. Dan Yasya berhenti disebuah batu yang dimana dikelilingi pohon-pohon berukuran kecil yang tumbuh disekitarnya.
"HATI?" ucap Yasya membaca tulisan yang ada di batu.
Aku dan Ilyas mulai menghampiri Yasya dan melihat apa yang sedang ia lakukan.
"Sya?" panggilku.
"Kenapa pergi sendiri?" ucap Ilyas.
Yasya hanya mendengarkan pertanyaan kami tanpa menjawab ataupun melihat kearah kami. Ia hanya terfokus pada sebuah batu yang ia temukan.
"Coba kalian lihat aku menemukan tulisan lagi di batu itu." ucap Yasya menunjuk batu yang ia maksud.
"Hati?" ucapku dan Ilyas membaca tulisan di batu bersamaan.
"Hm." ucap Yasya.
"Mungkin ini petunjuk berikutnya." ucap Ilyas tiba-tiba.
"Maksud kamu?" ucap Yasya menaikkan satu alisnya.
"Mmm...." ucap Ilyas berpikir.
"Mungkin ini adalah...." ucap Ilyas terpotong.