Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Teka-teki belantara


Kami terus berjalan menyusuri hutan yang semakin dalam, semakin kami masuk kedalam hutan maka semakin aneh. Teka-teki hutan ini satu persatu mulai muncul memecah isi kepala kami.


"Kita sudah terlalu jauh dari bibir hutan ini, dan semakin banyak juga teka-teki yang kita temui." ucap Ilyas.


"Kamu benar Yas, lalu apa yang harus kita lakukan saat ini? Kembali atau tetap melanjutkan perjalanan?" tanya Yasya.


"Memecahkan teka-teki ini? Yh yang kita lakukan adalah memecahkan teka-teki ini dan mencari Clara dan Naila." ucapku.


"Apa tidak terlalu bahaya nantinya? Kalian lihat sendirikan tadi." ucap Ilyas kembali mengingat tulisan yang terukir di pohon.


Kami terdiam dan mulai mengingat kejadian itu.


"Mungkin itu hanya orang iseng." ucap Yasya.


("Meskipun aku berkata jika itu hanya keisengan orang lain, tapi firasatku selalu mengatakan jika itu bukan keisengan orang lain.") batin Yasya ragu.


Kami kembali terdiam memikirkan semua ucapan yang keluar dari kami. Hingga akhirnya...


"Huftt." ucapku menghembuskan napas dengan kasar.


"Baiklah kita akan tetap melanjutkannya." ucapku membuat mereka tersentak kaget.


"An!!!" ucap mereka serentak.


"Hngg??" ucapku.


"Tap...." ucap mereka terpotong.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menerima dan menanggung segala resikonya nanti." ucapku memotong.


("Aku yakin jika Ani benar-benar akan bertanggung jawab, tetapi kenapa aku tidak yakin jika Ani mampu menanggung resikonya.") batin mereka.


("Firasatku selalu berkata jika kamu atau mungkin kita akan berpisah.") batin mereka sedih.


"Ekhemm." ucapku menyadarkan lamunan mereka.


"Eh..." ucapnya kembali serentak.


"Hah..., kalian kenapa?" ucapku bertanya.


"Oh, tid....dak a...da." ucap mereka gugup.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku berjanji untuk menjaga kalian apapun yang terjadi. Sudah ayo jalan lagi, jangan melamun disitu terus kesambet ntar." ucapku sembari melangkahkan kaki berjalan kembali.


Kami terus memasuki hutan, hari mulai gelap tapi kami enggan untuk kembali. Jadi kami bertekad untuk tetap melanjutkan perjalanan.


Sesampainya ditengah hutan atau bisa dibilang perut hutan, kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami sudah berjalan di hutan selama empat jam lamanya.


"Kita istirahat dulu disini!" ucapku memerintah.


"Hm." ucap mereka serentak.


Sesekali kami bersenda gurau untuk menghilangkan letih meskipun hanya sedikit, setidaknya kami bahagia meski didalam keadaan susah sekalipun.


"Andai Naila dan Clara disini pasti itu akan seru." ucap Ilyas tersenyum kecut.


"Yah kamu benar, tetapi kita tidak akan pernah memasuki hutan belantara ini." ucap Yasya.


"Karena Naila dan Clara adalah alasan kita mengapa memasuki hutan belantara ini." ucapku sembari menatap langit yang mulai gelap.


"Hah, kalian benar." ucap Ilyas.


"Aku rindu berdebat dengan mereka, aku rindu godaan mereka, aku rindu kecerewetan mereka, aku rindu tingkah konyol mereka, aku rindu semua hal tentang mereka." ucap Ilyas mengingat masa-masa ketika bersama Naila dan Clara.


"Sudahlah Yas, jangan sedih dong." ucap Yasya sembari menepuk punggung Ilyas.


"Secepatnya kita akan menemukan mereka, jadi sabar yah. Kita tidak boleh menyerah, kita harus tetap berusaha dan semangat." ucapku menghibur Ilyas.


"Sebuah pepatah pernah berkata seperti ini...." ucap Yasya terpotong.


"Berusahalah selagi bisa, bertahanlah selagi mampu, dan menyeralah jika memang sudah lelah karena hasil yang baik ditemukan pada usaha dan kegigihan yang menarik." ucapku memotong.


"Pada intinya kita harus tetap semangat dan berusaha sebaik mungkin." ucapku dan Yasya bersamaan.


"Kalian benar...." ucap Ilyas terhenti sejenak.


"Sesuatu yang mahal tidak akan mudah untuk didapatkan jika tidak didasari dengan usaha yang besar." sambung Ilyas yang mulai tenang.


Aku dan Yasya tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ilyas. Tetapi batinan kami tak sama dengan ucapan dan senyuman yang tampak. Gambaran dari dalam hati lebih menguatkan kami dibandingkan dengan ucapan yang semata-mata seperti menguatkan namun nyatanya tidak.


("Maaf, maaf jika ucapanku tidak berbanding dengan khayalanmu. MAAF!") batinku dan Yasya serentak yang seakan-akan satu pemikiran.


("Aku tahu apa yang kalian pikirkan saat ini, maaf membuat kalian susah selama ini.") batin Ilyas sedih.