
Aku, Ilyas, Clara, Yasya, dan Naila bersiap untuk berangkat, kami berangkat menggunakan mobil milik Ilyas. Selama perjalanan seperti biasa kegaduhan terjadi antara Ilyas, Naila, dan Clara sepertinya mereka tidak bisa untuk diajak berdamai satu dengan yang lain.
"Syaa?, kira-kira kita sampai disana malam ya?" tanya Clara kepada Yasya.
"Hmm...!!!" jawab Yasya dengan singkat.
"Dih, kok gitu doang jawabnya? kalau jawab itu iya apa nggak terus dikasih penjelasan biar jelas, bukannya malah di jawab 'hmm...' doang Sya!" grutu Clara dengan memajukan bibir tipisnya kedepan.
"Kasihan nihh...ya, yang gak ditanggepin ngomongnya! Aduh...aduh...aduh..., anak orang kasihan cup...cup....cuppp!!! ejek Ilyas yang akan mengawali kegaduhan lagi.
" Diam kamu! Gak usah mancing-mancing yaaa!!!" seru Clara
"Yaelahh...Ra, siapa juga yang mancing-mancing kamu unfaedah banget tau! Mendingan mancing ikan di kolam yang udah pasti dapatnya daripada mancing-mancing kamu yang udah gak pasti dapat, mulutnya kayak ember bocor lagi." ejek Ilyas kembali.
"Terserah, bodoamat!!!" seru Clara yang sudah tak mengubrisnya lagi.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya kami meninggalkan kota yang sudah tampak jauh dibelakang, kami mulai memasuki kawasan hutan yang hampir seluruhnya tertutupi oleh kabut namun masih dapat dilewati oleh kendaraan. Hutan ini jarang ada penerangan bahkan hampir tidak ada, sekalipun ada pasti hanya ada beberapa dan itu pun jarak penerangannya jauh-jauh. Hanya ada cahaya bulan remang-remang yang menembus masuk kedalam hutan melalui cela didedaunan yang menerangi jalan-jalan yang gelap.
Kami mulai memasuki bagian dalam hutan, ketika mobil kami berjalan beberapa meter aku merasakan ada hawa yang tidak nyaman disekitar mobil, seperti ada yang ikut serta dengan kami. Entah teman-temanku merasakannya juga atau hanya aku saja yang merasakan hawa ini.
"Eittttt...!!!" seru Yasya dengan heran.
"Ada apa Sya?" tanya Ilyas kepada Yasya.
"Mmm..., kalian ngerasa ada yang aneh sama mobil ini gak? Kok aku ngerasa mobil ini kayak berat banget gitu, kayak ada yang lain selain kita berlima!!!" cetus Yasya dengan nanda heran.
"Wah...wahh..., jangan bercanda dong Sya ini kita lagi ditengah hutan nih, jangan mikir yang enggak-enggak dong!" seru Ilyas dengan perasaan sedikit takut.
"Maksud kamu apa Sya, ada yang lain selain kita?" jawab Naila dengan bola matanya yang berputar-putar melihat sekeliling hutan berharap menemukan apa yang dimaksud oleh Yasya.
"Aku sih fine fine aja menurutku, emang ada apa Sya? tanya Clara yang heran dengan kalimat yang diucapkan oleh Yasya.
"Emang kalian gak ada yang ngerasa ada yang beda sama mobil kita gitu? Ann..., kamu pasti ngerasain apa yang aku rasa saat ini soalnya kamu aku perhatiin dari tadi diam terus gak kayak yang lain lain terus wajah kamu juga beda An?" sontak Yasya yang membuat aku sadar dari lamunanku.
"Aku rasa kamu benar An hawa ini memang bersumber dari atas atap mobil kita." tambah Yasya.
"Yaudah daripada penasaran ayo kita cek dulu aja, kan...." belum selesai Ilyas berbicara namun sudah ku potong.
"JANGANN...!!! Kita tetap berada didalam mobil ok!" pintaku kepada teman-temanku.
"Aku rasa Ani benar juga, kita jangan ada yang keluar dari mobil karena kita tidak tau apa yang menunggu kita diluar sana jika kita keluar. Sebaiknya tetap berada didalam mobil saja!" tambah Yasya.
"Yaudah kalau kalian gak berani biar aku yang keluar buat mastiin, siapa tau itu cuman perasaan kalian aja!" tutur Clara.
"Aku ikut siapa tau itu orang, jadi kita bisa tanya jalur cepat lewat sini dimana biar kita nggak kelamaan berada ditengah hutan ini." cetus Naila.
Namun belum sempat Clara membuka pintu mobil, sontak aku menarik tangan Clara dari pintu mobil.
"Jangan...!! Jangan keluar dia bukan manusia!" ucapku sontak yang membuat Clara, Naila dan Ilyas terkejut.
"Maksud kamu apa An?" tanya Yasya kepadaku dengan rasa penasaran.
"Dia bukan manusia, dia makhluk tak kasat mata namun saat ini dia ingin menunjukan wujudnya kepada kalian bukan hanya aku saja tapi kita semua, dengan menganggu kita dengan berada diatas atap mobil kita untuk memancing kita untuk keluar dari mobil. Dia jahat, dia ingin membuat kita celaka. Jadi jangan ada yang keluar dari dalam mobil, tetap berada didalam mobil, anggap saja tidak terjadi apapun saat ini dan tetap jalankan mobil jangan sampai berhenti jika mobilnya berhenti maka dia yang akan mendatangi kita sekarang!" pintaku yang dijawab hanya dengan anggukan tanpa sepatah katapun oleh mereka.
Baru saja aku selesai berbicara tiba-tiba terdengar gedoran yang sangat keras yang berasal dari atas atap mobil. Sontak kami pun terkejut dan ketakutan karena atap mobil yang terus-menerus digedor tanpa henti bahkan semakin kuat dan keras gedoran dari atas atap mobil.
"Ann..., kita harus bagaimana sekarang?" suara Yasya yang bergetar dan panik dengan keadaan saat ini.
"Tetap jalankan mobil jangan berhenti sampai keadaan benar-benar aman dan makhluk itu pergi dari atap mobil kita paham!!" perintahku dengan tegas.
Yasya pun terus menjalankan mobil dan alih-alih ia menambah kecepatan laju mobil. Ilyas yang duduk disamping Yasya pun kaku tak bergerak sama sekali keringat yang mengalir deras dari pelipisnya hingga tubuhnya yang tak henti-henti karena ketakutan yang ia rasakan. Sedangkan Clara dan Naila mereka saling berpelukan dan saling berpegangan tangan untuk menghilangkan rasa takut mereka, namun itu tidak berhasil mereka malah semakin ketakutan karena atap mobil yang terus digedor semakin kuat. Aku berusaha sebisaku untuk berdoa meminta keselamatan untuk kami, mulutku terus berkomat-kamit melantunkan doa-doa yang aku bisa karena jauh dari perkiraan mereka aku pun juga sama halnya dengan mereka merasa ketakutan karena kemungkinan makhluk itu sudah memperhatikanku sejak awal memasuki kawasan hutan mungkin dia tau jika mata batinku terbuka karena menurut situs yang pernah aku baca, seseorang yang memiliki mata batin terbuka akan dapat dengan mudah dilihat oleh makhluk lain karena akan ada cahaya berwarna ungu yang bercampur dengan warna putih cahaya dan itu hanya bisa dilihat oleh makhluk lain.
Sekitar 20 menitan kami dikelilingi perasaan ketakutan akhirnya makhluk itu pergi karena hawa yang saat ini aku rasakan sepertinya sudah kembali normal seperti semula. Yasya yang sejak tadi mengendarai mobil dengan rasa panik dan ketakutan akhirnya bisa santay sejenak dengan mengurangi kecepatan pada mobil. Sedangkan Ilyas, Clara dan Naila berusaha mengatur napas mereka yang tak beraturan. Dan ada perasaan sedikit lega dariku karena sesuatu yang buruk tidak terjadi kepada kami, mungkin benar apa yang dikatakan oleh ayah Yasya waktu itu bahwa kekuatan iman seseoranglah yang paling utama dalam menghadapi sesuatu masalah yang datangnya tak terduga. Dan bagaimanapun juga cara untuk menghalau sesuatu yang buruk dari manapun hanyalah dari doa-doa yang baik.