Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Jembatan Bambu


"Masih lama ya sampainya?" tanya Clara.


"Nggak kok bentar lagi kita sampai, diujung sana nanti sudah ada rumah penduduk yah mungkin jarak antara rumah ke rumah tidak sedekat dan sepadat di kota." jelas Yasya.


"Beneran kamu Sya, kita bentar lagi sampai?" tanya kembali Naila untuk memastikan dengan benar.


"Waw, amazing akhirnya kita keluar juga dari hutan serem ini!" seru Ilyas.


"Hmmm, iya" singkat Yasya.


Kami mulai memasuki area rumah penduduk namun masih sangat jarang rumah mereka berdampingan hampir semua rumah dari rumah penduduk berjarak dengan semak belukar dan kurangnya penerangan.


"Kenapa sepi yh, pada kemana penduduknya?" tanya Naila yang penasaran.


"Yah mungkin udah pada tidur kali!" sahut Clara.


"Rumah teman ayah kamu masih jauh dari sini ya Sya?" ucapku mencoba bertanya kepada Yasya.


"Lumayan sih." singkat Yasya.


"Kenapa An, kamu capek?" sambung Yasya kembali.


"Mmm..., enggak kok cuman mau nanya aja." jelasku.


"Oh, kalau capek istirahat aja oke!" tutur Yasya.


"Hmm." jawabku dingin.


"Pelan-pelan aja jalannya Sya, kasihan mereka. Lagian juga jalanannya gak rata Sya." jelas Ilyas.


"Iya ini udah pelan kok!" jawab Yasya.


Tiba-tiba dari arah belakang mobil seperti ada seseorang yang memperhatikan mobil kami.


"Yas, kamu ngerasa gak kalau orang yang berdiri di belakang mobil kita itu dari tadi memperhatikan mobil kita?" tanya Yasya.


"Hahh..., mana Sya?" tanya Ilyas.


"Tu, coba kamu liat dikaca spion mobil!" perintah Yasya.


Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Yasya jika ada seseorang yang berdiri disana memperhatikan kita.


"Tu orang kenapa yah lihatin kita gitu?" tanya Ilyas yang penasaran.


"Ya udah nggak usah terlalu dibikin pusing mungkin dia salah seorang penduduk sini juga yang mungkin kebetulan melihat kita melintas." sahut Naila tiba-tiba.


"Iya mungkin yang dikatakan sama Naila ada benarnya juga." tambah Yasya.


'Dokk....dokkk....dokk....'


Tiba-tiba didepan pintu mobil muncul seorang laki-laki paruh baya yang mengetuk-ngetuk kaca mobil dan ditangannya terdapat kapak. Sontak kami semua terkejut.


"Bagaimana ini, kita buka gak kaca mobilnya? aku takut!" seru Naila.


'Dokk....dokkk...dokk...'


Kaca mobil yang terus menerus diketuk berkali-kali tanpa henti.


"Yaudah kalian tenang dulu biar aku yang buka!" ucap Yasya dengan tenang.


"Woww, kamu jangan main-main dong Sya! Kamu gak lihat kalau bapak-bapak itu bawa kapak?" cegah Ilyas.


"Iyah Sya kamu jangan sembrono!" seruku kepada Yasya.


'Dokkk....dokkk....dokk...' kaca mobil yang kembali diketuk.


"Udah kalian tenang aja oke, semua fine-fine aja kok." ucap Yasya mencoba meyakinkan kami.


Akhirnya Yasya memberanikan diri untuk membuka kaca mobil itu.


"Sugeng dalu cah bagus, badhe tindak pundhi sampeyan?" tanya laki-laki paruh baya tersebut dengan logat jawanya.


("Selamat malam anak ganteng, mau pergi kemana kamu?")


"Sugeng dalu pak, kaulo badhe tindak dateng griyanipun Pak Gik, wonten napa nggih?" balas Yasya dengan logat jawanya juga.


("Selamat malam pak, saya mau pergi ke rumah Pak Gik, ada apa ya?")


"Owalah ngaten to, sampeyan nak Yasya nggeh?" tanya laki-laki paruh baya itu kembali.


("Oh gitu ya, kamu nak Yasya ya?")


"Nggih pak, kados pundhi njeh?" tutur Yasya dengan sangat hati-hati.


("Iya pak, bagaimana ya?")


"Mboten napa-napa le, yowes monggo dilanjut! Ngapunten sampun ngageti sampeyan le." tutur laki-laki paruh baya itu.


("Tidak apa-apa nak, ya udah silahkan dilanjut! Maaf udah mengagetkan kamu nak.")


"Nggih mboten dados punapa-napa pak, monggo pak!" tutur Yasya kembali membalasnya.


("Iya tidak masalah pak, mari pak!")


Yasya kembali menutup kaca mobil dan melanjutkan perjalanannya.


"Belajar dari mana kamu Sya, kok bisa?" tanya Naila penasaran.


"Ada deh, tidak diizinkan untuk kepo." balas Yasya.


"Halah bilang aja pelit, huh!" grutu Naila.


"Tanya apa tadi Sya bapak itu?" tanya Ilyas.


"Ohh, tadi cuman tanya kita mau pergi kemana." jelas Yasya.


"Terus kenapa tadi pakai acara bawa kapak Sya?" tanyaku.


"Yah mungkin beliau habis pulang dari kebun, makanya bawa kapak segala." jelas Yasya kembali.


Perjalanan terus dilanjutkan, kami terus saling bercerita satu dengan yang lain. Hingga kami mulai melintasi jembatan dari bambu yang dibawahnya terdapat jurang dan sungai yang mengalir sangat deras. Dan disekitar area jembatan tersebut banyak sekali ditumbuhi bambu-bambu sehingga membuat kesan jembatan yang gelap dan menyeramkan. Hanya ada satu penerangan remang-remang diujung jembatan itu.


"Ini beneran kita akan lewat jembatan ini?" tanya Ilyas.


"Iya, hanya ini satu-satunya jalur untuk ke rumah teman ayah dan tidak ada jalan lain selain ini!" seru Yasya.


"Tapi ini jembatannya nyeremin banget Sya!" tutur Clara.


"Udah nggak apa-apa Ra, daripada kita harus pulang lagi kan tanggung. Lebih baik kita berdoa dulu biar tidak akan terjadi apa-apa saat kita melewati jembatan ini!" tegasku kepada Clara.


"Iyah benar apa yang dibilang sama Ani Ra, lebih baik kita berdoa minta keselamatan ya!" sambung Yasya.


"Iya aku juga setuju sama Ani." sahut Naila dan Ilyas serentak secara bersamaan.


Kami pun mulai melewati jembatan itu. Ketika mulai melangkah ke jembatan kami mulai merasakan hawa dingin yang menusuk masuk kedalam kulit. Bau aneh mulai bermunculan ketika kami sampai dipertengahan jembatan.


"Asss...., bau apa ini aneh banget!" seru Ilyas dengan keras.


"Iyah bau apa ini kenapa menyengat sekali, perasaan tadi nggak ada bau apa-apa. Apa mungkin karena ada hewan yang mati dan udah jadi bangkai ditengah jembatan bambu ini, makanya baunya menyengat sekali." tambah Clara sambil menutup hidungnya dengan lengannya karena bau yang amat sangat menyengat.


"Udah...udah..., jangan pada berisik tahan aja dulu mungkin bentar lagi juga hilang baunya!" nasehatku dengan terus berfikir positif.


"Tapi An..., baunya nggak enak banget perutku mulai mual An!" seru Naila yang memegang perutnya dan membekap mulutnya dengan jemari tangannya yang terasa mual sekali.


Disamping itu Yasya seperti melihat seklebat bayangan hitam, tinggi, besar yang melintas didepan mobil yang ia kendarai.


"Ahhh...., apa itu?!" seru Yasya dengan lantang sambil mengeryitkan dahinya dan melebarkan pandangannya untuk memperjelas apa yang sedang ia lihat barusan.


"Kenapa Sya, ada apa?" tanyaku dengan rasa penasaran.


"Ada yang lewat!" seru Yasya yang masih dengan teliti menyapu keseluruh sudut arah.


"Maksud kamu?" sahut Clara yang tidak mengerti maksud dari perkataan Yasya barusan.


"Siapa yang lewat Sya?" tanyaku kembali untuk memperjelas kalimat yang diucapkan olehnya.


"Seperti ada seklebat bayangan hitam tinggi besar yang tengah melintas didepan mobil kita tadi." tutur Yasya spontan yang tidak mau terbelit-belit lagi.


"Apaaa....!!!" sontak kami berempat secara bersamaan karena kalimat yang keluar dari mulut Yasya barusan.


"Iya." jawab Yasya dengan singkat.


"Kamu jangan ngada-ngada deh Sya, ini itu udah malam Sya jangan sembarangan kalau bicara, mungkin juga kamu salah lihat!" peringat Clara.


"Jangan bohong Sya, nggak lucu tau Sya!" tambah Ilyas.


"Aku nggak ngada-ngada dan aku juga nggak bohong apalagi salah lihat mataku ini juga masih sehat. Buat apa aku bohongin kalian, apa gunanya? Nggak ada kan!" seru Yasya yang berusaha menjelaskan.


"Udah...udah... jangan ribut inget ini udah malam dan ini bukan ditempat kita jadi tolong jaga perilaku dan sopan santun kalian, kalian nggak maukan sesuatu hal yang buruk terjadi sama kalian?" tegurku dengan tegas.


"Iya maaf An, kami cuman panik dan khawatir dengan apa yang dikatakan oleh Yasya barusan." tutur Clara mewakili Naila dan Ilyas meminta maaf.


"Hmm, iya sekarang bisakan kalian tanya Yasya secara baik-baik?" tanyaku kepada mereka bertiga.


"Makasih pengertiannya An." ucap Yasya.


"Iyah." balasku.


"Mmm...Sya?" panggil Clara.


"Hmm...yah, ada apa Ra?" jawab Yasya.


"Mmm...itu yang tadi kamu bilang beneran?" tanya Clara dengan suara lirih.


"Iyah bener, cuman aku belum tau pasti apa yang barusan aku lihat tadi." tutur Yasya menjelaskan.


"Ehh..., kalian ngerasa nggak kalau sosok bayangan hitam yang dilihat Yasya tadi muncul secara bersamaan dengan bau seperti bangkai yang sangat menyengat tadi?" tanyaku memastikan.


"Apa?" sahut Naila, dan Clara dengan lirih.


"Aku rasa Ani ada benarnya juga." tutur Ilyas yang membenarkan pernyataanku.


"Iyah aku juga sependapat dengan mu, karena ketika bau bangkai datang baunya sangat menyengat kemudian tidak menunggu waktu lama sosok bayangan hitam itu muncul dan melintas didepan mobil kita!" tutur Yasya.


"Masuk akal juga." tambah Clara.


"Jika seperti itu berarti sosok bayangan hitam itu adalah...!" tutur Naila yang tidak dilanjutkan.


"Maksud kamu!!" serentak Ilyas, Yasya, Clara dan aku secara bersamaan.