Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Cuek


Siang hari yang cerah terlihat empat orang yang sedang duduk bersantai di teras dengan kursi anyam dari bambu dan rotan.


"Enak yh disini sejuk, nggak terlalu panas juga nggak seperti di kota panas." tutur Ilyas.


"Iya, mana disini nyaman banget lagi walaupun tinggal di rumah yang sederhana tapi jika dengan suasana seperti ini aku juga mau kalau menetap disini." sambung Nayla yang entah muncul dari mana.


"Allahuma lakasumtu, bikin kaget aja kamu Naiಥ‿ಥ!" ucap Clara.


"Maaf." ucap Naila singkat.


("Naila kok tumben jawab pertanyaan sesingkat itu, apa ada sesuatu?") batin Yasya yang menyadari akan hal itu.


("Naila kok tumben hemat suara, apa dia sakit?") batinku.


("Sesingkat itukah dia balas pertanyaanku? ada apa dengannya?") batin Clara.


"Tumben amat itu suara irit? atau gimana?" tanya Ilyas.


"Nai, kamu nggak sakitkan?" ucap Clara lembut.


("Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi aku merasa kita nggak akan pernah bisa bersama lagi. Maaf jika Nai menyembunyikannya dari kalian, Nai nggak mau buat kalian khawatir dan membatalkan tujuan utama kita.") batin Naila sembari menatap kami dengan senyum kecut.


"Heh...!" Naila menghela nafas dengan kasar.


("Sepertinya kamu sedang ada masalah Nai.") batinku.


("Ada yang kamu sembunyikan dari kami, aku tahu dari sikap dan mata kamu Nai. Masalah apa yang kamu sembunyikan dari kami Nai?") batin Yasya.


"Ehem...." dehem Ilyas mencairkan suasana.


Sejak Naila membuang napas dengan kasar, kami mulai bergulat dengan pikiran dan batin kami yang selalu menyelidik mencari tau masalahnya.


Jadi tidak ada yang berbicara satupun, kami melamun memandang Naila seperti sedang menunggu sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Yakk..., apa yang kamu pikirkan ha? Gila kali masa orang seperti aku mikir kayak gitu, kayak nggak ada kerjaan aja." ucap Clara yang berusaha mencairkan suasana juga.


Kami terus saling bercanda, tertawa, mengejekn satu sama lain, ribut hal sepele tapi itu setidaknya membuat kami bahagia, meskipun aku yang sesekali melihat Naila yang kembali dengan senyum kecut melihat kami tertawa bahagia.


("Maaf, maafin Nai ya semua kalau aku pernah buat salah sama kalian! Mungkin aku bakalan rindu dengan semua waktu yang telah kita lewati dengan bahagia.") batin Naila yang mulai meneteskan air mata.


Clara yang melihat akan hal itu langsung menghampiri Naila.


"Nai, kamu kenapa kok nangis hm?" ucap Clara lembut.


"Ak...ku nggak papa Ra, aku bahagia aja punya sahabat seperti kalian yang terlihat bahagia dalam keadaan apapun!") ucap Naila sembari meneteskan air matanya kembali.


Mendengar ucapan Naila, kami semua mulai menghampiri Clara dan Naila.


"Nai, kamu kok nangis, kenapa hm?" ucap Yasya.


"Eh, eng...gak kok. Aku cuman keinget waktu-waktu yang telah kita lewati bersama dengan candaan-candaan kebahagiaan." ucap Naila sembari menghapus air matanya.


"Jika suatu hari nanti aku pergi dari kalian, kalian jangan marah yah?" ucap Naila.


"Hey, kamu bicara apa hm? Kita nggak akan ada yang pergi ok, so we'll stay together as it is now ok, and no one will leave!" ucap Yasya lembut.


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Yasya, Naila mulai memandangi wajah kami satu-persatu dan meneteskan air mata kembali lagi.


"Makasih buat semuanya, canda, tawa, kebahagiaan yang selama ini aku dapat."


"Kalian keluarga kedua aku, setelah ayah dan ibuku. Kalian tempat ternyaman dan terbaik yang pernah ada dalam hidupku!" sambung Naila yang terus menangis terharu.


"Mmmm......, sini semua peluk!" ucap Clara sembari merentangkan kedua tangannya.


Kami berpelukan bersama seperti tidak ingin kehilangan salah satu diantaranya. Tapi itu tidak terjadi justru sebaliknya.