
Di pagi hari yang sejuk, matahari mulai menampakkan diri melalui celah-celah. Disudut ruang tamu, tengah berdiri seorang laki-laki menghadap ke jendela.
"Sya, ngapain disini hm?" tanyaku.
"Eh, udah bangun ya! nggak ngapa-ngapain cuman liat suasana disini kalau pagi hari sejuk."
"Iya, sejuk. Mmm...oh ya, yang lain kemana? Belum bangun yh?" ucapku.
"Kayaknya masih pada tidur." balasnya sembari menghadap ke jendela.
Suasana kembali hening tidak ada yang membuka pembicaraan lagi, kami saling menghadap ke jendela yang ada. Hingga beberapa saat kemudian.
"An, mau jalan-jalan gak? Mumpung masih pagi, yang lain juga belum pada bangun." tanya Yasya.
"Mmm...., iya boleh." balasku.
Ditengah perjalanan kami terus mengobrol, hingga satu hal.
"An, kapan pulang kita?" tanya Yasya.
"Mmm...., kenapa? Kamu nggak betah disini ya?"
"Bukannya gitu An, yh gimana y. Kitakan kesini cuman karena satu tujuan, bukan karena yang lainnya. Takutnya kamu lupa tujuan kita kesini apa!" ucapnya.
"Sya, aku nggak lupa sama tujuan kita kesini, tapi aku nunggu waktu yang pas aja." ucapku.
"Tapi janji yh? Setelah tujuan kita selesai, langsung pulang yah An?" tanya Yasya.
"Iya, aku janji setelah selesai nanti kita langsung pulang, kalau kamu memang nggak betah disini." ucapku kembali.
"An, aku bukannya nggak betah, tapi firasatku nggak enak tentang kita. Aku takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk dengan kita." jelasnya.
"Sya, mungkin kamu kecapean saja jadi mikir yang nggak-nggak." balasku menasehati.
"Mmm..., mungkin iya kali ya An?" ucapnya.
"Makannya nanti langsung istirahat yang cukup, dan nggak usah mikir yang nggak-nggak ya!" seruku yang hanya dibalas dengan anggukan.
("An, firasatku nggak pernah salah asal kamu tahu. Dan firasatku mengatakan jika akan terjadi hal yang buruk dan yang lebih buruknya lagi itu kamu.") batin Yasya.
"An, kalau suatu saat nanti aku pergi kamu sedih nggak?" tanya Yasya.
"Mmm..., nggakkan aku cuman tanya An!" jelasnya.
("Entah An, aku merasa jika kita akan berpisah lama.") batin Yasya kembali.
"Owh, iya." ucapku.
("Sya, kenapa aku merasa kamu bicara seperti itu, seperti memang akan terjadi sesuatu dan itu yang menyebabkan kita akan berpisah!") batinku.
"Iya udah ayo jalan lagi, takutnya nanti yang lain mencari kita Sya!" ucapku.
"Iya An." balasnya singkat.
Kami terus mengobrol hingga tak terasa kita sudah berada didepan rumah lagi.
"Ehemm, yang baru pulang dari berduaan!" seru Ilyas.
"Iya nih mana nggak ngajak kita lagi!" grutu Clara.
"Heh, namanya juga berduaan yang pasti cuman berdualah, kalau rame-rame itu namanya kerja kelompok." ucap Rendra.
"Haahahaaa, nggak lucu bye!" balas Clara.
"Dih, kenapa tu anak? Stress kali yh huuu!" ucap Rendra.
"Biasa anak kecil nggak diajak pergi ya marah sendiri." ucap Naila.
"Hahahhhahhh, bisa aja kamu Nai!" balas Rendra.
"Dah ayo masuk, makan dulu kalian udah kita siapin tadi!" seru Ilyas.
"Iya, makasih Yas!" ucapku.
"Hm." jawabnya singkat.
Kami semua masuk dan sarapan bersama dengan candaan-candaan dari Ilyas dan keributan yang dibuat oleh Clara dan Ilyas di meja makan.
Seseorang laki-laki memakai jubah hitam yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
...'Sesuatu akan segera datang dan menghantam kalian'...