Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Rumah Terpencil


Setelah beberapa menit kemudian kami sampai disuatu tempat dimana disana hanya terdapat satu rumah yang dikelilingi pohon besar. Yah itu rumah teman ayah Yasya yang dimaksud Yasya, rumah itu sedikit menjauh dari tempat tinggal penduduk lainnya dan itu termasuk rumah yang hampir keseluruhannya dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon besar bisa dibilang itu tempat terpencil.


Kami akhirnya turun dari mobil dan berhenti sejenak didepan mobil sembari memperhatikan rumah tersebut dengan bingung.


"Sya, kamu yakin ini rumahnya?" tanya Clara.


"Emm" jawab Yasya.


"Tapi kok serem sih tempatnya, mungkin kamu salah kali Sya?" tanya Clara kembali.


"Iya dah tu ini tempatnyakan tempat terpencil mana jauh dari penduduk lain lagi." oceh Ilyas.


"Mmm..., lagian juga ini rumah kayak rumah yang sudah lama tak berpenghuni Sya, kamu bener ini rumahnya?" tanyaku yang juga penasaran.


"Emm iya bener kok ini rumahnya, lagian emang tempatnya kayak gini dan teman ayah orangnya memang tertutup juga jarang bahkan hampir tidak pernah berintraksi dengan penduduk sekitar jadi orang lain akan mengira jika rumah ini sudah tak berpenghuni." jelas Yasya.


"Oh gitu, emang teman ayah kamu disini tinggal dengan siapa Sya?" sahut Naila yang tiba-tiba ikut berbicara.


"Ia tinggal sendirian disini." tegas Yasya.


"Lalu dimana istri dan juga anaknya?" tanya kembali Naila.


"Mmm istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit sedangkan anaknya mereka tinggal diluar kota dan bekerja disana jadi tidak pernah berkunjung kesini." jelas Yasya kembali.


"Oh gitu kasihan juga yah gak ada yang ngurus beliau dan tempat tinggalnya." cetus Naila.


"La emang situ mau ngurusin apa?, kalau mau sih gak papa." sontak Clara.


"Paan sih kan cuman nanya doang joules banget deh." kesal Naila.


"Udah-udah kenapa malah jadi ribut sih?, gak cape apa ribut terus dari tadi kita yang dari tadi denger kalian ribut aja cape huh." seruku.


"Tau tuh kan Clara duluan yang memancing perdebatan." balas Naila sedikit kesal.


"Yain deh daripada nggak selesai-selesai." jawab Clara.


"Woy udah kenapa berisik kalian tuh dari tadi, jadi ini kapan mau masuknya kakiku dah pegel sama semutan nih berdiri terus mana banyak banget nyamuknya lagi." grutu Ilyas.


"Yaelah kamu mah lebah tingkat dewa gitu aja ngegrutu huh." sahut Clara.


"Lebay woy bukan lebah bambang." balas Ilyas.


"Enak aja kalau ngomong orang ganteng gini juga dibilang kang cilok heh situ rabun mbak?" balas Ilyas.


"Dih narsis amat jadi orang." jawab Clara.


"Biarin iri bilang bawahan!" tungkas Ilyas.


"Iri!! sama kamu kek nggak ada yang lain aja dih." jawab Clara.


"Halah iri tanda tak mampu bu bos." tegas Ilyas.


"Nyenyenye." jawab Clara.


"Nah gitu tuh kalau perempuan kalah debat jurus andalannya keluar (nyenyenye) itu ngomong apa ngedumel mbak?" balas Ilyas.


"Bodo." jawab Clara.


"Dih ngambek mbaknya." balas Ilyas.


"Ehemm udah debatnya? pusing aku dengerin kalian nggak selesai-selesai." tungkasku.


"Ini jadi mau masuk nggak?" jawabku kesal.


"Yah udah ayo masuk." tegas Yasya dan berjalan duluan.


"Syukurin Ani marah tu hahaha bye." goda Naila sembari menyusul Yasya dan aku.


"Tau tuh anak siapa lagi marah-marah terus cepet tua baru tau rasa." guman Ilyas.


"YAS AKU MASIH DENGER YAH!!!" sahut ku dengan teriak karena sudah agak jauh.


"Buset tuh anak tajem amat telinganya dulu emaknya ngidam apa coba." jawab Ilyas dengan merendahkan nada suaranya agar tidak didengar.


"Wah enak yah ngomong gitu aku aduin baru tau rasa kamu hahaha" tegas Clara sambil berjalan menyusul mereka.


"Yah...yah dasar kang ngadu, eh tapi kalau dia sampai ngadu beneran bisa gawat aku." guman Ilyas.


"HEYY CLARA PRAMESTY ANGGARA AWAS AJA KALAU KAMU NGADU BENERAN!!!" teriak Ilyas sembari berjalan dengan cepat menyusul mereka.