
Kami pingsan ditempat yang berbeda setelah keluar dari portal tersebut. Disebuah gubuk kecil dan reyot terlihat seorang laki-laki yang tengah pingsan dengan bambu kuning sebagai penyangga kepalanya. Ia mulai tersadar dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memperjelas pandangannya saat ini. Ia mulai perlahan melihat sekelilingnya, berusaha untuk mengingat sesuatu hal yang telah terjadi sebelumnya.
"Shttttt!!!" ucapnya sembari memegang kepalanya yang sakit.
"Dimana aku?" ucapnya sembari bangkit dan melihat sekelilingnya kembali.
Ia mulai perlahan-lahan mengingat kejadian yang ia alami, dan ia tersadar akan sahabat-sahabatnya yang sudah tidak berada didekatnya lagi. Ia mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan untuk mencari keberadaan sahabat-sahabatnya.
Disisi lain didekat sungai terlihat seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan sebelumnya yang juga tersadar dari pingsan. Ia sedang duduk di bebatuan yang ada di sekitar sungai, ia mulai melihat sekeliling dengan pandangan yang masih samar-samar untuk melihat saat ini. Ia berusaha untuk mengerjap-ngerjapkan matanya agar memperjelas pandangannya saat ini. Sedikit demi sedikit pandangannya kini mulai terlihat jelas, ia mula melihat yang ada disekelilingnya kembali untuk mengenali tempat dimana sekarang ia berada.
Di sebuah rumah kecil dengan penerangan yang seadanya, aku terbaring diatas rakitan-rakitan bambu yang disusun secara rapi. Aku mulai membuka mata perlahan dan melihat jika aku sedang berada di sebuah rumah yang sederhana namun berada didalam hutan tempatnya.
"Oh, dah bangun nduk?" ucap tiba-tiba seorang wanita paruh baya.
Aku hanya melihatnya dengan tatapan bingung dan enggan untuk menjawabnya.
"Iki dimaem disek, iki teh e supaya anget!" ucapnya dengan bahasa Jawa.
"...." aku hanya menatap apa yang dilakukan wanita itu tanpa menjawabnya.
Setelah mendengar ucapan wanita itu aku sedikit tenang. Aku mulai mengamati apa yang ada disekitar rumah, setiap sudut rumah tidak terlewatkan oleh pandanganku.
("Bagaimana bisa ditengah hutan seperti ini bisa ada rumah?") batinku bertanya.
"Papan panggonku iki pancen neng kene." ucapnya seakan tahu apa isi kepalaku.
Aku hanya mendengar ucapannya saja tanpa menjawab sepatah katapun. Aku mulai bangun dan duduk bersandar dengan dinding bambu yang sepertinya masih sangat kokoh dan terlihat seperti dirawat dengan baik.
Sementara disisi lain hutan seorang laki-laki tengah berjalan linglung mencari keberadaan sahabat-sahabatnya yang sampai saat ini belum ia temukan.
"ANI, ILYAS!!!!" teriak Yasya memanggil nama kedua sahabatnya.
Yah itu adalah Yasya yang terus-menerus meneriaki nama sahabatnya. Ia berjalan dengan gontai, karena tubuhnya masih lemah untuk dibuat berjalan. Napas yang tersengal-sengal membuatnya sulit untuk mengatur napas dengan tubuh yang lemah saat ini.
Baru beberapa menit ia berjalan, kakinya kini sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, ia sudah terlalu lelah. Tanpa berpikir panjang Yasya pun mencari tempat untuk beristirahat disekitarnya yang sekiranya nyaman untuk disinggahi, sembari sedikit demi sedikit memulihkan tubuhnya dan menghilangkan rasa lelah meskipun hanya sedikit.
Ia mulai berjalan kearah bebatuan yang berada tidak jauh dari tempat ia berada saat ini. Ia perlahan duduk diatas bebatuan yang ada dengan meluruskan kakinya yang lemas. Diambilnya sehelai daun kering yang agak lebar dan besar yang jatuh dari atas pohon yang berada didekatnya yang digunakan sebagai kipas.