Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Bertemu


Setelah beberapa hari kami berjalan untuk saling mencari. Disuatu tempat yang gelap diinti hutan belantara....


"Inti dari mata batin sudah hampir kita kuasai dan kendalikan." (*****).


"Titik inti mata batin terakhir akan muncul tanpa diminta!" ucap (*****).


"Setelah semua tercapai, lihatlah apa yang akan terjadi!!!" smrik (*****).


"Welcome to ******." tersenyum devil.


Disisi lain hutan terdapat seorang laki-laki yang berjalan sambil terengah-engah. Badannya sudah lemah dia tidak dapat menemukan makanan yang dapat ia makan untuk saat ini. Meskipun begitu ia tetap semangat melanjutkan perjalanannya.


"Huffhhh...."


"Kemana aku harus mencari mereka?" ucap seseorang tersebut.


"Nggak, aku nggak boleh menyerah. Aku sudah berjanji akan menjaga mereka dengan keadaan dan kondisi seperti apapun juga itu." ucapnya mengingat janji yang pernah ia katakan.


Sampai disebuah pertigaan jalan di hutan, ia berhenti sejenak bukan karena lelah tetapi ia sedang berpikir kearah mana ia harus pergi. Ia berpikir sembari menundukkan kepalanya sejenak. Setelah beberapa menit ia berpikir, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menuju ke sini dari arah kanan. Ia bingung harus bersembunyi atau diam ditempat menunggu orang yang akan datang kearahnya.


'Sreekkkkk.....srreeekkk.....'


Suara langkah kaki yang terdengar seperti diseret semakin terdengar jelas dari tempat ia berdiri.


Dari arah kanan tiba-tiba muncul bayangan hitam yang terlihat sangat jelas berjalan dengan menyeret kakinya. Tak lama kemudian munculah seorang laki-laki dengan pakaian yang kotor dan kaki yang terluka serta tubuh yang berantakan menghampirinya.


"Yasya!!!" teriak Ilyas dipertigaan hutan.


Yah, laki-laki itu adalah Yasya yang berjalan sempoyongan karena kakinya terluka. Yasya kemudian mendongak keatas dan mencari asal sumber suara tersebut. Dan dilihatlah seseorang yang ia kenali berdiri dipertigaan hutan, ia tersenyum kepadanya dan dengan susah payah ia berjalan dengan kakinya yang diseret kearah seseorang tersebut.


"Sya kamu nggak papa?" ucap Ilyas setelah Yasya sampai dihadapannya.


"Aku nggak papa kok, kamu sendiri nggak papakan?" ucap Yasya kepada Ilyas.


"Aku nggak papa cuman belum makan aja." ucap Ilyas jujur.


Beberapa menit setelah mereka berbicara, Ilyas baru mengingat kembali bahwa kaki Yasya tadi sepertinya terluka hingga ia harus menyeret kakinya untuk berjalan.


"Hm." ucapnya singkat.


"Ck, aku tanya serius Sya!" ucap Ilyas.


"Hm, aku juga serius. Lagian juga hanya luka kecil aja kok." ucapnya.


"Mana coba lihat!" ucap Ilyas sembari melipat celana yang menutupi luka Yasya.


Yasya yang sudah tidak dapat menahan rasa sakit yang ada di kakinya hanya bisa pasrah saat Ilyas memeriksa luka dikakinya.


"Kayak gini kamu bilang luka kecil Sya?" ucap Ilyas kesal.


"Hm, memang luka kecil kan!" ucap Yasya santai.


"Iya, ini luka kecil banget malah sampai-sampai parah gini yang punya luka tetap santai bukan maen yh." ucap Ilyas greget.


"Hooh." ucap Yasya santai kembali.


'Bukk...'


Ilyas memukul mulut Yasya yang sendari tadi selalu menjawab jika ia sedang berbicara serius dengannya.


"....." Yasya yang hanya melihat wajah Ilyas dengan raut wajah tanpa ekspresi dan sulit untuk diartikan.


"Apa lihat-lihat sampai kayak gitu, nggak terima ha?" ucap Ilyas berbalik melotot kearah Yasya.


Lagi-lagi hanya wajah tanpa ekspresi dan sulit untuk diartikan yang ia tunjukkan kepada Ilyas.


"Dahlah males aku lihat wajahmu yang tanpa ekspresi apapun seperti itu" ucap Ilyas.


"Sini aku obati dulu lukanya supaya tidak tambah parah dan menghilangkan sedikit rasa nyeri." ucap Ilyas kembali sembari menarik kaki Yasya kembali.


Yasya hanya memutar bola mata malas dan hanya pasrah dengan apa yang Ilyas lakukan kepadanya. Yasya hanya melihat apa yang dilakukan oleh Ilyas sendari tadi, dan sesekali ia menatap Ilyas lekat-lekat. Tetapi didalam hati Yasya sangat senang sekaligus terharu, ia beruntung bisa mendapatkan sahabat seperti Ilyas yang selalu menghawatirkan mereka ketika terjadi sesuatu yang mengakibatkan mereka terluka meskipun itu hanya luka kecil sekalipun ia tetap akan khawatir.