Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Sungai


Ketika Yasya dan Ilyas sedang berjalan melewati sungai dilihatlah seorang perempuan yang sedang istirahat di bebatuan tanpa pikir panjang mereka langsung menghampiri perempuan itu.


"Permisi." ucap Yasya.


Saat perempuan itu menoleh,


"Ani!!!" ucap Ilyas.


"Kalian!" ucapku yang terkejut dengan kehadiran mereka, meskipun sebelumnya aku telah mencarinya tak disangka kami malah bertemu di sungai.


"Akhirnya kita bertemu juga, aku dan Yasya telah lama mencarimu." ucap Ilyas.


"Aku juga sudah lama mencari kalian tapi tidak ketemu, dan sekarang kita bertemu di sungai tanpa disengaja. Sungguh hal penting yang harus disyukuri." ucapku.


"Ya, kamu benar." ucap Ilyas.


Ketika aku sedang berbicara dengan Ilyas mataku tidak sengaja melihat kebawah dan melihat kaki Yasya yang terluka.


"SYA!!!" ucapku terkejut.


"Ah, ada apa?" ucap Yasya yang ikut terkejut.


"Kaki kamu terluka?" ucapku.


"Hm." balas Yasya.


"Kok bisa?" tanyaku penasaran.


"Ceritanya panjang." jawab Yasya singkat.


"Tapi itu lukanya parah, Sya!" ucapku khawatir.


"Cuman luka kecil kok, lagian tadi juga udah diobati sama Ilyas." ucap Yasya menjelaskan.


"Benar itu, Yas?" tanyaku kepada Ilyas.


"Yah, itu benar. Tadinya dia kepala batu nggak mau diobatin dan bilangnya juga luka kecil doang." ucap Ilyas mengadu.


"Ck. Dasar pengadu!" ucap Yasya sinis.


"Dih, biarin salah sendiri kepala batu." balas Ilyas tak kalah sinis.


"Sudah, sudah jangan ribut. Mukanya jelek semua kalau gitu." ucapku melerai.


"Mumpung kita masih di sungai, mending luka kamu dibersihin sekalian aja Sya, supaya nggak infeksi." ucapku.


"Iya benar tuh kata Ani." sambung Ilyas.


"Giliran Ani yang nyuruh langsung gercep, tadi aja sok-sokan kepala batu dasar pilih kasih." cibir Ilyas.


"Dasar mulut perempuan." ucap Yasya sembari membersihkan lukanya.


Ilyas dan Yasya terus beradu mulut dengan berbagai macam ekspresi dan argumen yang mereka keluarkan. Aku hanya duduk diatas batu dan melihat pertunjukan mereka dan sesekali tersenyum melihat tingkah laku mereka. Setelah selesai membersihkan luka Yasya, mereka masih tetap dengan aktivitasnya yaitu beradu mulut.


"Sudah diam, jangan berisik!" leraiku kembali.


"Apakah kalian tidak capek beradu argumen dan mulut sejak tadi hm?" ucapku.


"Nggak!" ucap mereka serentak kompak.


"Wow, santai jangan keroyokan bisakan? Kan nggak elit kalau satu lawan dua." ucapku.


"Hm." ucap mereka kembali serentak kompak.


"Dih, kompak terus. Hati-hati lho, entar jodoh syukur." ucapku mengejek.


"Dia?" ucap Ilyas.


"Sama..." ucap Yasya.


"Aku?" ucap Ilyas.


"Nggak ya, kami masih waras." ucap mereka.


"Gitu aja kok pakai sambung kata." ucapku.


"Biarin!" ucap mereka serentak.


"Dah...dah...diem capek aku." ucapku.


Akhirnya kami diam sejenak dan hanya duduk-duduk di bebatuan yang ada disekitar sungai. Kami melihat-lihat suasana di sekitar sungai sangat damai, sejuk, hanya ada suara gemericik air sungai yang mengalir deras. Angin sepoi-sepoi menyertai derasnya air sungai menambah kesempurnaan alam yang damai.


"Clara sekarang lagi apa yah?" ucap Ilyas.


"Naila sekarang lagi apa yah?" ucap Yasya.


"Kangen yah? Aku juga, sudah lama kita tidak bertemu bahkan sampai sekarang kita belum tau keberadaan mereka saat ini." ucapku.


"Sudahlah jangan terlalu pesimis, nanti kita cari lagi jangan mudah menyerah. SEMANGAT!!!" ucap Ilyas menyemangati.


"Yah, kamu benar. Kita harus semangat." ucapku.


"Nah gitukan cantik!" ucap Yasya dan Ilyas serentak.