
"Permisi, assalamualaikum paman?" ucapku.
"Kok sepi tidak ada orang yah?" sambungku kembali.
"Sabar mungkin kali lagi sibuk didalam jadi tidak dengar." jawab Yasya.
"Hm." ucapku.
Aku dan Yasya sembari menunggu pemilik rumahnya datang kami melihat-lihat barang antik dan koleksi lainnya yang terpajang luas hampir disemua ruang tamu.
"Waww bagus juga koleksinya." gumamku yang masih bisa didengar oleh Yasya.
"Hmm sepertinya tidak ada yang berubah semua masih terlihat sama dengan yang dulu." sahut Yasya sembari melihat-lihat lukisan disetiap sudut ruangan.
"Eh tapi yang lain kemana kok aku tidak lihat?" tanyaku.
"Lah iya benar kemana yah mereka!" jawab Yasya yang baru sadar jika teman mereka tidak bersamanya.
"Kan tadi mereka masuk duluan, apa mungkin mereka sedang melihat-lihat juga tapi diruangan lain." sambung Yasya kembali.
"Mmm mungkin" balasku.
Kami terus berjalan sembari menatap seluruh koleksi yang ada disana, dan ada salah satu lukisan yang terpajang di dinding yang membuat aku tertarik untuk melihat lebih dekat.
"Lukisan ini.... aku seperti pernah melihat lukisan ini, tapi dimana?" gumamku.
"Mmm sepertinya itu lukisan yang selalu berada dalam mimpiku." gumamku kembali.
"Kenapa hanya dengan melihat saja rasanya lukisan ini seperti hidup." batinku.
"Aneh... apa mungkin cuman perasaanku saja, tapi aura didalam lukisan ini sangat kuat apa mungkin ini bukan lukisan biasa." batinku.
"Apa!!! kenapa lukisan ini seperti sedang menatapku dan mengawasiku?" batinku.
"Apa mung" batinku yang terpotong oleh suara seseorang.
"An ngapain melamun disini hm?" tanya Yasya yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Mmm itu anu mmm lupakanlah oh ya kenapa Sya memanggilku?" tanyaku yang mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu yang lain sudah kumpul disana yuk." jawab Yasya.
"Eh..." belum sempat aku berbicara Yasya langsung menarik tanganku.
Disaat aku berjalan mengikuti Yasya aku sempat melihat kearah lukisan tadi dan yang membuat ku terkejut adalah ketika lukisan itu tersenyum dengan mengedipkan satu matanya. Dan disitu aku seperti ada diantara rasa takut karena melihat lukisan itu yang ternyata memang hidup dan bingung karena lukisan itu tersenyum bahkan mengedipkan satu matanya membuatku bergidik ngeri apalagi setelah itu tiba-tiba saja lukisan tersebut menghilang entah kemana.
Karena terkejut dan takut dengan apa yang baru saja aku lihat, aku langsung memalingkan wajah dan terus berjalan menunduk mengikuti Yasya tanpa memperhatikan apapun disekitar lagi.
"An kamu kenapa?" suara Yasya yang memanggilku karena terkejut melihat aku yang tiba-tiba memegang lengan tangannya dengan sangat erat.
"Hey...are you okay?" sambung Yasya kembali.
"Ha...!" sontakku yang terkejut tiba-tiba.
"Ah yah, I am fine ." jawabku dengan posisi masih sama memeluk lengan Yasya dengan erat dan berjalan menunduk.
"Really, why is the way down?" tanya Yasya seperti mengintrogasi.
"Are you sick An?" tanya Yasya kembali sambil menempelkan telapak tangannya pada dahiku.
"Yes, it is okay." jawabku dengan masih tertunduk.
"I'm not sick. Come on, hurry up!" ucapku dengan menarik tangan Yasya agar lebih cepat.
"Wow... yes but slowly An!" jawab Yasya.
"Witsss kalian kemana sih kok lama banget?" tanya Naila yang sudah menunggu dari tadi.
"Tau nih nunggu kalian lama banget sampai jamuran aku huh!" grutu Clara.
"Iya maaf tadi nyari Ani dulu baru kesini." tungkas Yasya dengan jujur.
"Oh terus ini kenapa Ani nunduk terus dari tadi nggak pegel apa?" tanya Naila.
"Terus ini kenapa juga Ani meluk lengan kamu erat banget jangan bilang kalau kalian baru jadian?" sambung Ilyas.
"Aku nggak tau dari tadi Ani jalan nunduk terus aku tanya kenapa dia jawabnya nggak apa-apa." jelas Yasya.
"Enak aja kalau ngomong kamu, Ani emang dari tadi gitu jalan nunduk, meluk lengan aku pas aku tanya dia sakit dia jawab nggak, aku juga sempat periksa dahinya juga nggak panas tuh." jelas Yasya kembali.
"Aneh." gumam Naila dan Clara bersamaan.
"An kamu nggak apa-apakan?" tanya Ilyas memastikan.
"I...iya aku nggak apa-apa kok." jawabku dengan sedikit gugup.
"La terus jalan nunduk gitu kenapa An?" tanya Ilyas kembali namun sekarang sedikit lembut.
"Mmmm..." balasku.
"Kenapa ha? bilang aja nggak apa-apa kok!" ucap Ilyas dengan lembut.
"Dih ternyata seorang Ilyas bisa lembut juga sama perempuan." bisik Naila kepada Clara.
"Iya aku juga baru lihat pertama ini meskipun dia playboy cap kaki seribu tapi dia nggak pernah sampai segitunya tuh." balas Clara bisik.
"Apa mungkin dia beneran SUKA sama Ani yah?" bisik Naila kepada Clara dengan sedikit menekan kata suka.
"Apa kamu CEMBURU?" bisik Clara kepada Naila dengan menekan kata cemburu juga.
'Deg'
Naila sedikit tidak suka dengan Clara yang menekan kata cemburu kepadanya.
"Tidak, dan tidak akan pernah!!!" bisik Naila kepada Clara dengan tegas.
"Oh ok aku kunci perkataanmu itu NAILA RAHMAWATI!!!" bisik Clara kepada Naila dengan sedikit nada mengoda.
"Kenapa aku nyesek yah bicara begitu dengan Clara!" batin Naila.
"Aku nggak apa-apa kok Yas." jawabku dengan posisi masih menunduk.
"Hey coba lihat aku sekarang kalau kamu memang tidak apa-apa!" seru Ilyas.
Ketika ingin mendongakkan kepala kearah Ilyas tepat disudut belakang Ilyas sosok perempuan yang berada dalam lukisan itu berdiri dan kembali tersenyum kearahku berbeda dengan sekarang ia berwujud dalam bentuk manusia yang sedang berdiri bukan berwujud dalam bentuk lukisan lagi.
Sontak aku langsung membalikkan badan dan memeluk tubuh Yasya dengan menenggelamkan wajahku pada dada bidang Yasya. Semua yang ada disitu dibuat kaget dengan sikapku dan mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi kepadaku.
Ditambah Ilyas yang melihat aku memeluk Yasya sangat erat dan ketakutan sedikit kesal namun juga khawatir dengan keadaanku begitu juga dengan Clara yang melihatku memeluk Yasya dengan erat.
Yasya yang terkejut dengan apa yang aku lakukan hanya bisa berdiam diri karena masih terkejut. Tapi tanpa sadar Yasya membalas pelukkanku.
"Kamu kenapa An?" tanya Yasya dengan lirih.
"Hey cerita dong sama kita kamu kenapa?" tanya Yasya kembali lirih.
"Udah jangan takut kan kita ada disini." ucap Yasya yang berusaha membuatku tenang sembari menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.