
Kami terus berargumen satu sama lain dengan pendirian masing-masing, hingga kami mengalah dan mulai memahami apapun yang terjadi saat ini.
'Hening!!! '
Suasana beberapa waktu kini mulai canggung, tidak ada yang berbicara lagi diantara kami. Kami tenggelam dalam jalan pikiran masing-masing, hingga termenung mulai berpikir sesuatu yang kami rasa kurang.
"Ekhem..." dehem Ilyas.
"Hnggg?" ucap aku dan Yasya bersamaan.
"Seperti ada yang kurang sejak tadi, tapi apa?" ucap Ilyas.
"Aku juga merasa begitu, aku pikir hanya aku yang merasakannya." ucapku jujur.
Disisi lain, ditengah hutan yang diselimuti kabut tebal seseorang terus berteriak memanggil nama teman-temannya.
"An, Sya, Yas kalian dimana?" ucapnya.
"Jangan main-main ditempat seperti ini nggak lucu yh!" serunya.
Ia mulai kelelahan sendari tadi berteriak dan berjalan mencari teman-temannya yang tak kunjung ia temukan. Ia melihat batu yang datar seperti sebuah kursi diujung pohon besar.
"Hm...!" ucapnya.
Ia tak menyadari batu apa yang ia duduki saat ini. Karena terlalu lelah berjalan akhirnya ia terlelap diatas batu tersebut.
Disisi lain kami mulai menyadari sesuatu yang sendari tadi menjadi pikiran.
"CLARA!!!!" seru kami bersamaan dan saling memandang satu sama lain.
"Clara dimana?" tanya Yasya.
"Tadi ada sama aku, dia dibelakang aku tadi." ucap Ilyas yang mengingat jika Clara yang berada dibelakangnya tadi.
"Duhh..., kabutnya semakin tebal. Jika kita mencari Clara untuk akan semakin sulit ditambah sebentar lagi hari mulai gelap." ucapku.
Kami yang hanya berbekal penerangan dari sebuah senter mulai mencari keberadaan Clara.
"Ra, kamu dimana?" teriak Yasya memanggil.
"Clara dengar suara kita?" teriak Ilyas.
"Clara!!!" teriakku.
Ketika kami sedang berjalan mencari Clara, tiba-tiba senter mati secara mendadak dan itu bersamaan.
"Argghhh...., kenapa harus sekarang sih!" ucap Ilyas emosi.
"Ayolah jangan mati sekarang, Clara belum ketemu!" ucapku sembari menepuk-nepukkan senter dengan tangan kiri.
"Nggak tahu juga, jangan sampai ada yang misah oke!" seru Ilyas.
"Tapi perasaanku nggak enak, semoga semua baik-baik saja." ucapku.
Ditengah hutan, Clara mulai terbangun. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ughh...., dimana aku?" ucapnya
"Ah, ternyata aku ketiduran disini." sambungnya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang akan menuju kearahnya. Ia berpikir bahwa itu adalah teman-temannya sehingga ia tidak perlu bersembunyi.
Ketika suara langkah kaki mulai mendekat ia baru sadar jika suara langkah kaki itu terdengar seperti diseret, ia mulai panik dan berusaha untuk bersembunyi tapi terlambat. Sebuah tali tiba-tiba menjulur ke lehernya yang membuat Clara terseret dan tergantung tepatnya diatas batu datar yang ia singgahi sebelumnya. Darah tiba-tiba mengalir dari leher Clara yang kemudian menetes diatas batu itu, tetesan-tetesan darah Clara yang menetes di batu itu seperti membentuk huruf C disertai lambang bintang ditengahnya.
Clara tewas dengan tubuh tergantung dan bersimbah darah. Suara langkah kaki yang diseret sudah tidak terdengar lagi bersamaan dengan tewasnya Clara.
Tiba-tiba senter kembali menyala lagi dan kami sedikit lega. Kami kembali meneruskan perjalanan mencari Clara. Sudah hampir setengah jam lebih kami tidak menemukan Clara dan tidak ada tanda-tanda terakhir kali Clara berada. Hari sudah mulai gelap Naila belum juga ditemukan dan sekarang Clara juga menghilang.
"Hah..., bagaimana sekarang? Hari semakin gelap Naila dan Clara belum juga kita temukan." ucap Ilyas.
"Iyah, kabut disini juga semakin menebal. Jika kita tetap melanjutkan pencarian ini akan semakin sulit dan tidak menutup kemungkinan jika kita akan tersesat." tambah Yasya.
"Tapi Naila dan Clara belum kita temukan Sya?" ucapku.
"Iya aku tahu, tapi jika kita tetap melanjutkannya kita juga akan tersesat dan ada kemungkinan jika kita juga hilang An. Tolong pahami situasi saat ini yh, jangan mengedepankan egomu. Ini demi keselamatan kita dan kamu oke!" ucap Yasya menasehati.
"Sampai kapan kita menemukan Naila dan Clara Sya, Yas?" ucapku.
"Aku nggak mau kehilangan mereka!" sambungku lirih.
"Hah." Ilyas dan Yasya yang membuang napas kasar.
"Ani, gini yh kita hentikan pencariannya untuk sementara waktu sampai keadaan atau kabut ini menghilang, setelah itu kita lanjutkan mencari Naila dan Clara oke!" ucap Ilyas.
"Kamu nggak boleh membahayakan keselamatan kamu sendiri, An! Ingat disini masih banyak orang yang sayang dan membutuhkan kamu, jadi jangan pernah berpikir sempit yang nantinya akan membuat mereka kecewa sama kamu yh! Kita akan selalu ada dan bersama kamu terus, jadi jangan pernah merasa sendiri yh! Keselamatan kamu itu perioritas kami, jadi jangan pernah melakukan apapun itu sendiri jika disini masih ada kami!" ucap Yasya yang kembali menasehati.
Aku menatap mereka satu persatu, aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka aku janji, aku akan menjaga kalian apapun resikonya.
"Makasih!" ucapku lirih dengan air mata yang mulai menetes.
"Kenapa malah nangis hm?" tanya Yasya.
"Udah jangan nangis, kita nggak akan ninggalin kamu kok." ucap Ilyas.
"Udah jangan nangis lagi yh, nanti nggak cantik lagi dong!" hibur Yasya sembari menyeka air mataku.
Aku hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah katapun.