Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Bangunan di inti hutan


Setelah kami berjalan sangat jauh dari hutan mereka tiba di sebuah tempat dimana tempat itu terletak ditengah hutan yang jauh lebih gelap dan berkabut. Kami mulai menginjakkan kaki ke daerah tersebut seraya melihat apa yang ada didalam hutan yang lebih gelap ini. Kami terus berjalan memasuki hutan yang lebih gelap, ketika kami sampai di inti hutan. Kami heran sekaligus terkejut pasalnya diinti hutan yang gelap terdapat sebuah bangunan yang menyerupai rumah atau sebuah bangunan yang sangat besar dan terawat. Meskipun bangunan tersebut terlihat seperti terawat, namun tidak menutup kemungkinan jika dilihat dari kejauhan bangunan tersebut terlihat menyeramkan dengan semak belukar yang mengelilingi halaman rumah tersebut. Bangunan dengan warna hitam yang dipadukan dengan warna abu-abu membuat kesan gelap dan menyeramkan. Dibagian bangunan tertinggi jika dilihat lebih dekat ternyata mempunyai simbol bintang berwarna silver. Hal itu yang membuat kami heran dan penasaran, jika dilihat dengan seksama simbol bintang silver yang ada pada bangunan tersebut sangat mirip dengan simbol bintang yang kami temukan di hutan sebelum. Karena penasaran dengan hal itu, maka kami putuskan untuk masuk kedalam bangunan tersebut. Semakin kami mendekat ke bangunan tersebut simbol bintang silver pada bangunan tersebut bercahaya, seperti mengetahui kedatangan dan keberadaan kami saat ini.


"Kalian yakin ingin masuk?" ucap Yasya ketika telah sampai di depan pintu bangunan.


"Sepertinya begitu, kenapa memang?" ucapku bertanya.


"Kamu nggak mau masuk?" sambung Ilyas.


"Bukan begitu, hanya saja perasaanku tidak enak." ucap Yasya menjelaskan.


"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa." ucapku meyakinkan.


"Lagian kita hanya akan melihat dan mencari petunjuk tentang hilangnya Clara dan Naila. Kita tidak akan macam-macam disini percayalah." sambungku kembali.


"Sudahlah ayo cepat kita masuk." ucap Ilyas sembari berjalan mendekati gagang pintu.


'Krekkkk,......krekkkk…….'


Ilyas yang kemudian membuka pintu tersebut, suara pintu tua tersebut terdengar menyeramkan. Ilyas yang telah membuka pintu tersebut kemudian dia memasukkan kepala untuk melihat didalam bangunan tersebut. Setelah ia pikir tidak apa-apa, kemudian ia kembali membuka pintu agar sedikit lebar. Kami masuk dengan tetap waspada dan hati-hati jika terjadi sesuatu nanti. Pandangan kami kemudian menyapu seluruh isi ruangan tersebut hingga ke sudut-sudut ruang alih-alih menemukan pemiliknya. Namun tidak ada yang kami temukan, hanya bangunan yang kosong dan sebuah piano serta kotak musik yang telah usang dan tertutup oleh debu.


"Tidak ada siapa-siapa disini, hanya ada ini." ucap Ilyas sembari menunjuk piano dan kotak musik yang terletak tidak jauh dari tempat kami saat ini.


"Tapi, jika memang benar bangunan ini tak berpemilik lantas mengapa dari luar bangunan ini terlihat seperti terawat?" ucap Yasya heran.


"Itu yang aku herankan sekarang." timpal Ilyas.


"Hanya ada piano dan kotak musik tidak ada perabotan lain seperti halnya rumah pada umumnya." Ucapku.


"Ternyata luarnya saja yang terawat, dalamnya terbengkalai. Bukankah terbalik itu biasanya jika rumah orang pada umumnya luarnya terbengkalai, tapi didalamnya sangat terawat bukan?" ucap Ilyas.


"Kamu benar Yas, seperti ada yang aneh dengan bangunan ini." ucapku dengan tatapan intens.


"Apa mungkin ada sesuatu yang tersembunyi disini?" ucap Yasya curiga.


"Entahlah, mungkin ada dan mungkin tidak ada." ucapku kepada Yasya.


"Jika dipikir-pikir nih, kan nggak mungkin ini piano bisa ada disini kalau tidak ada yang membawanya kesini." ucap Ilyas menurut logikanya.


"Iya juga ya. Cuman masalahnya gini, ngapain bawa piano di hutan seperti ini. Memang ada kendaraan yang bisa angkut piano sampai kesini?" ucapku menambahkan.


"Nah itu tu." ucap Ilyas membenarkannya.