Terjebak Akibat MATA BATIN

Terjebak Akibat MATA BATIN
Semak belukar


"Siapa disana?" seru Clara sembari mengarahkan senter ketempat suara tadi berasal.


"Kalian dengar suara tadi nggak?" tanya Clara sembari membalikkan badan ke teman-temannya.


Ketika Clara membalikkan badannya teman-temannya sudah tidak ditempat.


"An...?, Yas...?, Sya...?, kalian dimana?" ucap Clara.


Namun tidak ada respon sama sekali dari teman-temannya.


"Jangan bercanda deh, nggak lucu! Hey, aku serius." ucap Clara sembari mencari-cari kesegala arah.


Disisi lain kami tidak menyadari ada yang kurang dari kami. Kami terus berjalan mencari Naila hingga.


"Eh, istirahat dulu aku capek!" seru Ilyas.


"Hm, ya udah iya mau istirahat dimana?" tanyaku.


Ilyas langsung melihat kesegala arah untuk mencari tempat yang nyaman untuk istirahat sebentar. Matanya terus mencari tempat yang ia sukai.


"Eh, itu ada pohon lumayan besar, istirahat disana aja oke?" tanya Ilyas sembari menunjuk pohon besar yang ia maksudkan.


"Terserah." ucapku.


"Sya, kamu gimana mau nggak?" tanya Ilyas.


"Hm." ucap Yasya singkat.


"Oke, ayo." ucap Ilyas sembari berjalan memimpin barisan.


Kami beristirahat di pohon besar itu untuk menghilangkan rasa lelah saat ini. Yasya dan aku duduk diatas bongkahan kayu yang sudah dipotong, sedangkan Ilyas bersandar dibawah pohon itu.


"Kita sudah jauh dari pintu masuk hutan ini, dan Naila juga belum bisa kita temukan. Huh!" ucapku hampir menyerah.


"Sabar An, pasti Naila ketemu kok. Jangan nyerah ya, kita harus semangat dan berusaha oke!!" ucap Yasya menasehati.


"Hm, iya makasih Sya." ucapku.


"Hm." ucap singkat Yasya.


Suasana menjadi hening dan tidak ada pembicaraan dari kami, hingga Ilyas kembali membuka pembicaraan.


"Aku heran, kenapa bisa Naila hilang gitu! Padahalkan dia juga nggak pernah keluar sendiri dan dia terakhir kali pergi ke halaman belakang. Dan dari situ juga tempat menghilangnya Naila." ucap Ilyas penasaran.


"Iya aku juga tau, aku juga sering ke halaman belakang. Disana pemandiannya indah banget yah, ditambah dengan danau hitam yang menghiasinya." ucapku.


Yasya dan Ilyas saling pandang, mereka bingung dengan apa yang aku bicarakan tadi.


"Danau?" ucap Ilyas bingung.


"Kalian nggak tau jika ada danau di halaman belakang?" tanyaku pada mereka.


"Nggak, dan terakhir aku sama Yasya pernah ke halaman belakang, tetapi tidak ada danau yang kamu maksud. Aku hanya melihat semak belukar yang tumbuh liar dan sebuah gubuk yang reyot mungkin jika kita pegang saja sudah roboh." jelas Ilyas.


"Tapi memang ada danau disana, mungkin kamu salah lihat. Dan lagi gubuk yang aku lihat juga masih kokoh." ucapku.


Yasya dan Ilyas kembali terkejut dengan apa yang aku katakan, mereka seperti tidak mempercayainya.


"An, disana nggak ada apa-apa. Yang dikatakan oleh Ilyas itu benar An!" ucap Yasya menimpali.


"Kalian nggak percaya sama aku?" ucapku.


"An, bukannya kita nggak percaya sama apa yang kamu katakan, tapi kita lihat sendiri jika disana tidak ada danau ataupun gubuk yang kokoh." ucap Yasya.


"Tap...pi, itu semua memang benar aku nggak bohong Sya. Dan aku juga pernah bertemu dengan anak laki-laki di dekat danau itu." ucapku.


Yasya dan Ilyas kembali terkejut dengan apa yang aku katakan, mereka saling pandang kembali.


"Maksud kamu apa, An?" ucap Ilyas.


"Iya, aku sempat bertemu dengan anak laki-laki di danau itu." jawabku.


Mereka semakin bingung dengan apa yang aku katakan.


"Laki-laki?, kapan kamu bertemu dengan orang itu, An?" ucap Ilyas.


"Waktu pertama kali aku datang kesini, mmm....kalau nggak salah waktu itu Yasya juga memanggilku untuk masuk ke rumah." jelasku.


"Benar itu, Sya?" tanya Ilyas penasaran.


"Kalau untuk itu memang benar aku memanggil Ani masuk, karena diluar sangat dingin takutnya sakit. Tapi aku tidak melihat laki-laki yang dimaksud Ani. Aku hanya melihat dia yang berdiri sendiri menghadap ke semak belukar." jelas Yasya.


"Terus laki-laki yang dimaksud Ani siapa? Mmm...., An kalau boleh tahu nih ya, memang nama laki-laki itu siapa?" ucap Ilyas.


"Bentar aku ingat-ingat dulu." ucapku sembari mengingat nama anak laki-laki itu.


Setelah beberapa menit kemudian aku mulai mengingat nama laki-laki yang pernah bertemu di danau itu.


"Ah aku ingat, jika tidak salah namanya itu Dhanu ah iya, Kasela Christian Dhanu Pramudza." seruku.


"deg."


"deg."


Ilyas dan Yasya yang mendengar nama itupun terkejut dan kembali saling pandang.


"Dia." ucap Yasya lirih.