
Di dalam ruang batin Gin.
Hanya ada kehampaan ditempat ini, gelap gulita, sunyi senyap, seperti luasnya alam semesta.
Namun tubuh(jiwa) Gin dapat terlihat dengan normal seolah tidak ada hubungannya dengan kegelapan itu sendiri. Ia meringkuk dengan kedua lengannya memeluk lututnya, matanya terpejam seperti telah tidur selama berabad-abad.
Gin saat ini tidak sadarkan diri hanya beberapa jam jika dihitung di dunia luar, tapi dalam ruang batin Gin, waktu seolah berjalan sangat cepat dan tahun-tahun yang panjang seperti telah dilewati.
Ketika keadaan kosong itu berlangsung lama, jiwa Gin yang terombang-ambing menemukan sebuah tempat di kegelapan ini.
Jika bisa dibilang, tempat itu adalah sebuah pulau yang mengambang, tidak terlalu besar atau kecil, dan setidaknya cukup untuk dibangun rumah mewah besar di atas lahan tanahnya.
Jiwa Gin yang t3l4nj4ng terdampar pada daratan pulau itu dengan lembut, jiwa jatuh tanpa meninggalkan suara.
Akhirnya setelah beberapa saat terkapar di tanah, mata Gin membuka secara perlahan melihat tempat sekeliling.
"Dimana ini?..." lirihnya kebingungan.
Lalu setelah itu, ia mencoba memeriksa sekeliling, mengitari daerah ini untuk mengetahui apa tempat ini.
Tempat ini seperti dataran tanah biasa, hanya saja warnanya cukup gelap seperti tanah yang tidak layak. Akan tetapi ada juga beberapa rerumputan liar yang tumbuh disini secara acak dan tidak terawat.
Yah, siapa juga yang mau mengurus tempat ini.
Gin yang telah mencari beberapa saat akhirnya menemukan sebuah pintu. Pintu itu tidak terlalu besar atau kecil, setidaknya dia bisa memasukinya dengan mudah. Warnanya seperti kayu yang lapuk seolah bisa rusak kapan saja. Saat melihat pintu itu, ia seperti mengingat pintu kemana saja milik robot rubah biru dari masa depan di sebuah anime.
Mengabaikan pikiran kacau itu, Gin membuka pintu itu dan memasukinya. Tidak seperti yang dia harapkan, tampaknya pintu itu sangat kokoh meski terlihat rusak. Saat Gin masuk melangkah, dia seolah telah pergi ke tempat lain.
"Ini..."
Wajah Gin tampak terkejut karena melihat tempat ini sekali lagi. Ini mungkin menjadi tempat yang paling berkesan dalam dirinya.
Ruangan seluas 4x4 meter dengan tembok dan lantai yang terasa hangat. Ada jendela yang cukup lebar namun ia hanya menutupinya dengan gorden membuat ruangan itu selalu gelap.
Berbagai kantong plastik hitam menumpuk di sudut ruangan yang itu menunjukkan banyak sampah yang tidak sempat dia buang.
Satu ranjang yang hanya cukup untuk satu orang, satu meja lebar dengan di atasnya ada komputer yang masih menyala. Ada juga perabotan lain seperti lemari, kursi yang tidak di sebutkan.
Gin sangat mengingat dengan jelas tempat ini.
Ya.
Ini adalah kamarnya di kehidupan sebelumnya.
Namun perhatian Gin terfokus pada satu titik, dan itu mengarah pada pria yang tengah bermain game online di komputer tempat duduk kesayangannya.
Mata Gin membelak karena pria yang dilihat adalah dirinya di masa lalu. Tubuh gumpal berminyak seperti baso dan kumis yang tidak pernah dicukur, mengenakan kacamata dan pakaian tidur yang tidak pernah dicuci. Seorang yang telah gagal dalam kehidupan dan menjadi NEET yang anti sosial.
Gin hanya bisa berdiri diam menatap dirinya di masa lalu itu sambil bertanya-tanya; apakah ini dirinya saat itu? Benar-benar berbeda jauh dengan sosok Gin yang saat ini.
Dirinya di masa lalu masih bermain game dengan mata yang tidak pernah berkedip pada layar komputer, kadang ia akan tertawa dan terkadang ia akan mengutuk seperti orang gila dengan ketikan pedas di mesin keyboard.
Setelah puas dalam mengutuk, dirinya di masa lalu akhirnya mengambil kotak tisu dan membuka sebuah website anime khusus dewasa, membuka kancing celananya dan melakukan kegiatan memuaskan diri.
"..."
Akhirnya saat itu Gin bertindak.
"Hei." pekik Gin.
Akhirnya saat itu, dirinya di masa lalu melihat ke arah Gin.
Gin agak canggung karena bisa berbicara langsung pada dirinya sendiri. Tempat ini sangat aneh karena bisa memunculkan dirinya di masa lalu. Banyak pertanyaan muncul di benaknya dan dia bertanya-tanya bagaimana ini bisa terjadi?
"Itu mudah karena aku sengaja melakukannya." kata dirinya di masa lalu dengan pose yang membosankan.
"... Kamu?" Gin jelas kaget dan tidak percaya, dia benar-benar tidak mengerti situasi kali ini.
Dirinya di masa lalu seolah menghela nafas melihat bodohnya Gin saat ini, memang bagaimana pun, entah perubahan apa yang terjadi pada Gin, dirinya masih sangatlah bodoh.
Gin menggertakkan giginya karena bisa merasakan ejekan dalam ekspresi dirinya di masa lalu dan bertanya, "Siapa kamu sebenarnya?"
Dirinya di masa lalu menjawab dengan bangga, "Aku adalah The Most Ancient Evil."
Mata Gin membelak dan mencoba mencari tahu apakah pertanyaan itu hanya sebuah kebohongan belaka, namun ia sama sekali tidak bisa menilai dari raut wajahnya.
"Benarkah? Aku tidak percaya tanpa kamu membuktikan sesuatu?" seru Gin dengan mendengus.
Dirinya di masa lalu menggaruk kepalanya seolah mencoba berpikir, akhirnya dia membuat pose menepuk tangan seperti mendapat ide.
"Aha." Dengan itu ia mengusapkan wajahnya dan terjadi sesuatu yang ajaib.
"..."
Dirinya di masa lalu yang mengaku sebagai The Most Ancient Evil tiba-tiba berubah wujud penampilannya menjadi Gin kecil, menjadi Rose G. Ginshiro yang telah bereinkarnasi.
"Mn, bagaimana? Hebatkan aku?" ucapnya dengan wajah bangga agak menjengkelkan.
Gin terdiam dan menatapnya lurus, akhirnya setelah beberapa saat ia menghela nafas, dia berkata, "Baiklah, aku mempercayai mu. Lagipula siapa di dunia ini yang tahu seluk beluk ku selain dirimu."
The Most Ancient Evil mengangguk setelah mendapatkan kepercayaan Gin, ia seolah berpose seperti anak kecil dengan bermain-main saat duduk di kursi kesayangan Gin.
Gin tetap diam melihat itu. Ia sebenarnya sangat ingin tahu siapa sebenarnya identitas The Most Ancient Evil ini. Apakah itu ekstitensi yang lain, atau itu masih ada sangkut pautnya dengan dirinya di masa lalu.
Melihat pandangan konteplasi Gin, The Most Ancient Evil berkata, "Hei, hei aku adalah ekstitensi tertinggi yang tidak ada hubungannya dengan kamu. Aku sengaja melakukan ini untuk bermain-main itu saja, kamu tidak perlu memikirkan itu."
'Sial dia bisa membaca pikiran ku!' keluh Gin.
"Tentu saja aku bisa membaca pikiranmu! Hehe ..." tawa menggelikan terdengar dari mulutnya.
Gin kesal dan berkata, "Bisakah kamu tidak meniru wujudku! Kenapa kamu tidak menunjukkan wujudmu sebenarnya saja?"
The Most Ancient Evil menggaruk dagunya dan berkata, "Yah itu terserah aku dong ... Kenapa kamu sangat repot-repot seperti ibu-ibu?"
Gin terdiam mendengar balasan The Most Ancient Evil, entah kenapa dia tidak takut pada sosok dewa di depannya, justru dia sangat kesal hingga benar-benar ingin memukulnya, tapi itu mustahil karena di depannya adalah dewa.
"Oh oke oke, aku akan berubah wujud, begitu saja marah, huft ~" dengus The Most Ancient Evil sambil mengusap wajahnya.
Seperti Gin lupa bahwa sosok di depannya bisa membaca pikirannya, satu kesalahan mungkin dia bisa saja mati, lagipula The Most Ancient Evil adalah orang yang memberikan kehidupan baru pada dirinya, seharusnya dia berterima kasih.
"Oh, maafkan aku."
The Most Ancient Evil yang telah berubah wujud membalas, "Santai saja, aku bukan orang yang suka marah-marah kok."
Suara The Most Ancient Evil tampak tidak asing di telinga Gin. Karena suara itu seperti mengandung pesona godaan yang membuat jiwa laki-laki bergetar.
Ternyata The Most Ancient Evil berubah wujud menjadi...
Maria.
"..."