
Tubuh Gin tidak bisa bergerak, itu seperti setiap otot dalam tubuhmu mati dan kamu hanya bisa terkapar tidak berdaya.
Goro yang telah mengalahkan Gin tidak berhenti disitu saja. Setelah dia banyak bertarung dengan Robert, ia pada akhirnya memenangkan pertarungan dengan mutlak.
Akibat pertarungan itu pula, tangan kiri Robert putus karena serangan membabi buta Goro, dan itu sangat melemahkan kemampuan fisiknya.
Banyak prajurit yang juga terbunuh oleh anak buah Goro, meski kedua belah pihak juga menderita cukup korban, tapi pihak Robert lah yang jelas lebih banyak.
Goro tertawa terbahak-bahak saat pertarungan telah dia menangkan. Ia melihat ke arah panti asuhan dimana itu ada beberapa orang yang berdiri gugup.
Seorang kakek yang sudah sangat tua berdiri menatap ke arah Goro seolah memiliki mata putus asa. Itu adalah kakek Marsha.
Di samping kakek, ada juga Marsha, biarawati, dan anak-anak panti asuhan. Mereka ketakutan karena melihat Goro yang kejam.
Bagi anak-anak yang masih kecil melihat pemandangan berdarah itu, tentunya itu menjadi sebuah hal yang buruk di masa depan.
Goro melihat ke arah kakek itu berkata, "Pak tua! Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir kali, kamu tidak terlalu setua ini, Hahaha! Waktu benar-benar berjalan cepat."
Kakek Marsha yang sudah memiliki tubuh rapuh gemetar, dia menatap Goro dengan wajah marah. "Goro! Kamu seperti iblis! Apakah kamu tidak puas dengan mengambil aset properti bengkel milikku! Kenapa kamu masih membuat masalah dengan keluargaku!?"
Goro mendengus oleh teriakan kakek Marsha dan berkata, "Apakah aku memerlukan alasan untuk menjadi kaya? Aku bisa bertindak sesuka hati demi keuntungan yang aku dapatkan! Dan kamu, hanya salah satu domba gemuk yang telah aku makan!"
Marsha yang mendengar perkataan Goro tidak bisa menahan mata benci, dengan mata merah berair ia berkata, "Goro! Kamu sudah sangat keterlaluan! Kamu sudah mengambil harta keluarga kami, tapi kamu juga alasan mengapa orang tua aku meninggal."
Mendengar keluhan Marsha, Goro seperti sedikit mengingat masa lalu dan tertawa senang.
"Hahaha! Jadi kamu sudah tahu bahwa aku adalah penyebab kematian kedua orang tuamu. Ya, aku lah alasan kenapa orang tuamu mati! Apakah kamu tahu penderitaan yang mereka rasakan sebelum mati?"
Kakek Marsha yang tahu kejadian menatap Goro dengan mata galak. Dia tahu tentang kejadian itu, dan itu adalah luka lama yang tak akan pernah hilang. Secara alami dia tidak ingin Marsha mengetahui tentang kejadian keji itu.
"Goro! Berhenti jangan bicara! Jangan pernah lagi kamu mengungkit masa lalu itu!" Kakek Marsha tampak gemetar dengan tubuhnya sempoyongan saat berbicara. Jika tidak ditahan Marsha dan biarawati, mungkin itu sudah akan jatuh.
Goro terkekeh kejam seolah melihat itu sesuatu yang lucu. Ia melihat Marsha dan seperti melihat kesenangan lainnya.
"Marsha, apakah kamu ingin tahu tentang kebenaran sebenarnya?"
Marsha meneguhkan hati meremas jarinya dengan erat. Meski dia hanya diam, tapi dalam hatinya dia juga ingin tahu tentang hal sebenarnya.
Goro sambil menginjak perut Robert yang tidak berdaya berbicara.
"Ini hal yang sangat panjang, tapi aku yakin kalian pasti akan menyukainya! Hahaha!" Menarik nafas dia bercita. "Saat itu, saat kedatanganku ke kota ini, misi pertamaku adalah mengambil bengkel, tentunya itu tidak semudah dengan perampokan.
Aku memberikan proyek skala besar pada ayah idiot mu dengan membuat “Kapal Terbang” dan memberikan jumlah uang yang besar, karena itu dipesan oleh orang yang memiliki identitas luar biasa. Karena ayah kamu menganggap dirinya jenius, dia mengambil jebakan itu.
Meski begitu, ayahmu juga seorang mekanik handal, ia hampir menyelesaikan 90% dari kapal itu, namun aku tidak tinggal diam, sebelum malam uji coba, aku menyuruh beberapa orang untuk merubah mekanisme kapal.
Dan sudah kalian ketahui bahwa kapal yang dibuat ayahmu yang membawa “orang elite” itu gagal bekerja dengan baik dan membuatnya terluka.
Meski pria itu agak marah dan tidak senang, tapi ia tidak melampiaskan dengan membunuh orang, yah... Meskipun bisa saja dia bebas membunuh orang mengingat identitasnya yang luar biasa.
Tapi karena kejadian itu, membuat banyak orang bahkan seluruh Kota Aresia membenci ayahmu karena saat itu adalah kesempatan emas untuk memajukan Kota Aresia. Namun karena kegagalan ayahmu, kesempatan itu hilang.
Saat itu aku juga mengambil kesempatan untuk mengambil seluruh aset yang dimiliki kakekmu pada bengkel, mengingat jumlah uang biaya proyek sebelumnya.
Dan saat kejadian inilah yang menyenangkan. Dengan utang yang luar biasa, aku memaksa ibumu untuk tidur denganku dengan cara paksaan! Hahaha! Apakah kamu tahu betapa luar biasanya ibumu di ranjang? Dia sangat cantik dan memiliki tubuh menggoda.
Tidak terbayang bahwa aku bisa berselingkuh dengan seorang biarawati! Bahkan dia sangat luar biasa mau berkorban menggunakan tubuhnya untuk utang suaminya!
Namun sayangnya ibumu hanya bisa bertahan 2 tahun sebelum mati karena penyakit, dan ayahmu juga mati karena depresi dan banyak tekanan.
Tapi, apakah kamu tahu hal yang sangat lucu?
Ayahmu tahu bahwa aku tidur dengan ibumu! Tapi dia tidak berani untuk menghentikan karena dia pria yang pengecut! Bahkan saat ibumu mengerang dengan keras, ayahmu hanya berpura-pura tidur sambil menangis! Hahaha!"
Tertawa terbahak-bahak Goro menjilati lidahnya, "Ah, aku sangat mencintai tubuh ibumu, kau tahu, tidak terbayangkan bahwa di kota kecil seperti ini akan ada sosok yang begitu indah dan nikmat."
Marsha setelah mendengar itu semua terdiam, hatinya tiba-tiba merasa sakit dan meneteskan air mata. Rasa sesak dalam dadanya tak tertahan dan pengap, tubuhnya tak kuasa menahan dan jatuh duduk di tanah.
'Ayah, ibu~'
"Waaaa~” Marsha menangis.
Bagi anak 10 tahun sepertinya, itu benar-benar pukulan yang sangat menyakitkan. Dia bisa merasakan penderitaan yang diderita ayah dan ibunya di masa lalu.
Marsha mengingat senyum ayah dan ibunya di masa lalu yang indah bahagia, tapi sekarang itu pecah dalam pikiran seperti retakan kaca. Hanya tangisan cengeng seorang anak tak berdaya pada sosok Marsha saat ini.
Marsha saat ini merasa sedih, marah, takut, bingung, dan hampa. Semua bercampur menjadi sebuah tangisan.
Kakek Marsha yang melihat cucunya juga tidak bisa menahan air mata.
Jika saja dia dahulu melarang putranya untuk mengambil proyek itu, maka mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi, ia juga merasa salah dan sakit secara bersamaan yang membuatnya tidak berdaya.
Goro hanya memandang itu semua dengan pandangan senang. Ia seolah-olah menikmati saat-saat seseorang merasakan penderitaan, itu seperti memberikan perasaan menyenangkan bagi Goro semata.
Namun saat itu, sebuah suara membosankan terdengar ditelinga penuh hampa.
"Binatang ... "
"Tidak, itu lebih sampah dari binatang."
Suara itu tenang seperti air mengalir, tapi itu seperti membawa rasa dominasi ekstrim yang menggugah orang yang mendengarnya.
Goro melihat asal suara dan tidak bisa terkejut.
"Bocah perak! B–bagaimana kamu bisa bangun!"
Gin mengabaikan Goro dan hanya berdiri diam dengan kepala menunduk. Gin seperti mengabaikan seluruh luka patah dalam tulangnya tapi aura hitam yang tercipta dari sekujur tubuhnya memberikan penindasan yang luar biasa.
Shihai Haki yang terbangkit!
Gin seorang anak yang akan berusia 6 tahun telah membangkitkan Haki pertamanya. Namun tidak Haki awal seperti Tōmei atau Chōetsu, ia langsung melangkah dalam bidang Shihai Haki.
Dan saat ini, seorang bocah bakat yang melebihi monster telah bangkit!