Sistem Bakat Tak Terbatas

Sistem Bakat Tak Terbatas
Bab 56 - Hinokami Bergerak


––Sudut Pandang Pihak ketiga––


Di luar kubah emas, nampak pertempuran yang sengit antara Kiryuu dan Wolfgang. Keduanya bertarung dengan trik yang berbeda-beda sesuai gaya tarung mereka sendiri.


Wolfgang menggunakan beast yang dia kendalikan untuk mengganggu pergerakan Kiryuu karena dia akan menderita kerugian jika bertarung jarak dekat dengan Kiryuu. Meski begitu, dia juga cukup mampu dalam bela diri dan memanfaatkan Mana-nya untuk memperkuat serangan.


Dia bukan pengguna Haki, tapi dia telah memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran dengan pengguna Haki, jadi setidaknya dia tahu kebiasaan dan langkah bertarung seorang pengguna Haki.


Kiryuu adalah pengguna Haki, meski tidak memiliki Shihai Haki, tapi bidang Tomei dan Choetsu miliknya tidak bisa diremehkan.


Sebagai ahli pedang Kiryuu telah mengasah ketrampilan pedangnya sejak kecil, dia terbilang berbakat karena telah mencapai ahli pedang tingkat master saat ini. Kemampuan pedangnya setidaknya memiliki selisih kecil dari Seiryu saat ini.


Ding! Dong! Dong!


Kiryuu terus menyerang dengan menebaskan pedangnya, menampilkan teknik pedang pernapasan angin khas keluarganya, dia tampak seolah berubah menjadi jenderal agung yang hebat.


Banyak beast terpotong-potong oleh tebasan angin miliknya, seolah-olah ia menjadikan beast hanya daging cincang.


Tapi ia juga banyak kesulitan karena Wolfgang sering kali mengganggu di sela-sela menyerang dengan licik menggunakan sihir. Apalagi, ada juga Beast King yang memberikan ancaman padanya.


Jika diasumsikan, sebenarnya Kiryuu tidak sanggup bertarung melawan Wolfgang. Itu jelas karena hanya dengan Beast King tingkat 10, itu bisa sepadan dengan kekuatan Kiryuu. Ditambah lagi ada ribuan beast yang mengusiknya, itu sungguh situasi yang sulit baginya.


Akan tetapi Kiryuu juga tidak kehilangan trik, dia sangat pandai dalam menghindar dan melarikan diri, mengincar beast yang lebih rendah terlebih dahulu mengambil banyak kepala dari mereka.


Pertarungan terus berlanjut, satu orang melawan ribuan beast dengan berbagai tingkatan. Itu sungguh pemandangan yang langka.


Sementara itu, di atas Skyship, seorang wanita berwajah oriental dengan pakaian kimono yang cukup terbuka melihat pertarungan di bawah.


Wanita itu tampak masih muda seperti 20 tahunan namun usianya sebenarnya telah diatas 40. Ia wanita yang cantik dan menawan dengan pesona dewasa pada dirinya. Ia juga memiliki lekukan tubuh yang indah, namun masih kalah dari Maria.


Meskipun ia terlihat seperti wanita yang lemah dan rentan yang harus dijaga seperti seorang permaisuri, namun dia sebenarnya adalah seorang ahli level Raja.


Ia adalah salah satu dari empat Raja di bawah Kaisar Angin.


Memiliki julukan 'Lady Moon Shogun', Mikadzuki Munechika.


Di sekelilingnya ada juga awak kapal yang melihat pertarungan di bawah, namun mereka sepertinya tidak berniat membantu karena sudah diperintahkan untuk tidak mengambil tindakan.


Orang-orang ini semuanya dari Klan Shinto, itu jelas karena rata-rata mayoritas orang yang bergabung dalam The Rising Sun Empire mereka mengabdikan dirinya pada pemimpin klan, Nobunaga Futen.


Chika menghisap cerutunya sambil melihat pertarungan, merasa bosan, ia melihat ke samping.


Disana dia bisa melihat sosok berjubah dengan topeng — Hinokami.


Tidak tahu mengenai identitas sosok itu, bahkan gendernya sulit diidentifikasi. Suaranya juga sangat aneh seolah ada banyak suara, jadi karena itu orang-orang sulit menilainya.


Chika pernah mendengar bahwa ada 7 pilar yang ada dalam organisasi Amatsukami, itu semua diambil berdasarkan elemen yang ada di dunia.


Hinokami adalah pengguna berelemen api, yang itu berarti dia menjadi pilar api dari Amatsukami.


Sebelumnya saat hendak pergi ke pulau ini, Hinokami menyegat Skyship dan meminta tumpangan. Karena tujuan mereka sama jadi dia ikut menumpang.


Chika pernah menanyakan maksud tujuan Hinokami datang ke pulau ini, dan dia hanya menjawab bahwa ini adalah sebuah takdir.


Hinokami juga mengatakan bahwa dia datang ke pulau ini untuk memastikan sesuatu. Chika tidak tahu apa itu dan dia tidak berani bertanya lebih jauh, lagipula Hinokami memiliki level Kaisar, jika dia terlalu penasaran, ujung-ujungnya tidak akan baik.


Saat itu Chika melihat pertempuran lagi, ia menghela nafas karena kondisi Kiryuu tidak cukup baik karena terlihat tertekan.


"Apakah kita harus membantunya, Lady?" tanya salah satu pria besar dengan wajah polos yang merupakan salah satu awak kapal.


Setelah diam sejenak, Chika berkata, "Baiklah, kalian bantu Kiryuu. Pria itu terlalu sombong seperti ayahnya yang tidak tahu batasannya sendiri."


"Siap!"


Namun saat itu Hinokami yang diam saja bergerak.


Chika sedikit terkejut sebentar sebelum mengembalikan wajahnya dan berkata, "Apakah itu tidak masalah bagimu?"


"Ini mudah saja." jawabnya membosankan.


Chika tidak tahu apa niat tersembunyi dari Hinokami, tapi jika dia mau membantu Kiryuu, bagus lah kalau begitu. Para awak kapalnya juga tidak perlu bersusah payah untuk bertarung.


Hinokami berdiri di atas pagar pembatas Skyship, dia seolah melihat ke bawah dengan merendahkan.


Tiba-tiba muncul dua energi void dari sisi bagian kanan dan kiri pundaknya. Energi itu memancarkan aura kuat dengan Mana yang padat, kilau petir jingga muncul seperti api. Orang-orang akan kebingungan melihat itu karena mereka akan berpikir apakah itu api atau petir.


Dua buah energi void itu kemudian bergabung menjadi satu, menjadikan sihir itu lebih kuat lagi, detik kemudian itu mengambang ke langit seperti mengumpulkan energi.


Pada dasarnya trik itu sangat kuat dan tidak bisa diremehkan. Kemudian, Hinokami merentangkan kedua tangannya sambil mengucapkan skill-nya.


"Void Magic: Heavenly Thunder Flame!"


Sihir tercipta dan petir merah menyambar dari bola kosong, ukuran petir itu cukup besar dan saat meledak, itu membawa gemuruh menggetarkan langit dan bumi.


Seolah ruang sobek saat petir itu bergerak, dan dengan kecepatan luar biasa, itu menyambar daerah yang dikerumuni banyak beast.


Boom!


Puluhan beast tidak sempat beraksi, dan berubah menjadi abu gosong tanpa meninggalkan daging dan darahnya, hanya tulang putih yang tersisa saat terkena serangan.


Tidak berhenti disana saja, petir terus menyambar dan itu muncul berkali-kali.


Boom! Boom! Boom!


Satu sambaran menewaskan puluhan beast dengan mudah. Bahkan Beast King juga tidak luput dari sihir itu dan hanya menjadi daging lunak.


Ini melebihi sihir kelas atas!


Setidaknya ini sihir kelas suci!


Growl! Growl! Growl!


Banyak beast mulai ketakutan, tapi mereka tidak bisa melarikan diri, itu karena tubuhnya dikendalikan oleh Wolfgang.


Hanya dalam sekejap, ribuan beast yang ganas itu, setengah dari mereka telah mati, bahkan tampaknya Hinokami tidak berhenti dan ingin benar-benar melenyapkan seluruh beast itu.


Wolfgang yang melihat itu semua terkejut. Bagaimana tidak, situasi sebelumnya menguntungkan dirinya dengan ribuan pasukan beast yang dia miliki.


Namun kemudian itu berbalik 180 derajat saat tiba-tiba muncul petir merah yang menghancurkan pasukan beastnya.


Itu seakan-akan ada dewa yang murka yang menghukumnya dengan petir surgawi.


Wolfgang tidak bisa membantu tapi memuntahkan darah seperti tidak mengharapkan situasi menjadi seperti ini.


Luka dalam yang dia alami karena serangan balasan akibat kontrak beast yang mati terlalu banyak membuatnya kesakitan, ini sepertinya sangat lama untuk pulih.


Wolfgang tidak bisa berteriak dalam hati karena marah seraya ingin mengutuk orang yang menyerangnya.


Ia kemudian melihat ke arah Skyship di atas dan dari matanya dia tahu siapa sosok yang memberikan serangan barusan.


Mulutnya berkedut dan punggungnya berkeringat dingin.


"Itu dia!?"


Wolfgang mengenali petir api ini, hanya satu orang yang memilikinya di dunia.


Hinokami dari Amatsukami.