Sistem Bakat Tak Terbatas

Sistem Bakat Tak Terbatas
Bab 48 - Kubah Emas Terbuka


Demon Gin tidak bisa tetap tenang, dihadapkan dua orang di depannya dia sedikit gelisah. Dengan indera prespektif yang dia miliki, kekuatan mereka tidak rendah.


Apalagi pria yang tampak tua itu, ia sangat berhati-hati.


"Siapa orang ini?" Mata Newyear menatap dengan pertanyaan.


Blade juga melihat Demon Gin dengan menyipit berbicara, "Orang ini memiliki tingkat Raja. Aku tidak tahu siapa dia, tapi datang kesini pasti tidak dengan tanpa niat."


"Aku juga berpikir begitu ... Apakah orang ini salah satu anak buah Kaisar Angin untuk mencari Seiryu?"


"Kaisar Angin ..." Blade menggelengkan kepalanya. "Orang bringas itu tidak akan memikirkan anaknya bahkan sekalipun untuk mencari."


"Kenapa begitu?"


Blade terkekeh, "Karena dia percaya dengan kekuatan anaknya."


"..."


"Ngomong-ngomong, abaikan pembicaraan saat ini, pria di depan tampaknya berbahaya, aku bisa merasakan aura jahat darinya." Kata Blade melihat Demon Gin.


Saat mengatakan itu, Blade melihat Demon Gin melaju cepat ke arahnya dengan jejak permusuhan, niat membunuh tampak intens dan dia seolah adalah monster.


Ding!


Pedang itu mampu ditolak dengan mudah oleh Blade, ia kemudian memutar kakinya mengirimkan teknik tendangan.


"Thunder Kick!"


"Oniyaku!"


Demon Gin juga melihat serangan itu, dengan segera ia juga meluncurkan teknik serangan kakinya.


Boom!


Dua gelombang bertabrakan menimbulkan bunyi keras. Blade terkejut melihat tekniknya bisa dilawan, Thunder Kick merupakan teknik kaki tendangan yang membuat gelombang yang menyerang musuh, meski tidak sekuat teknik pedang tapi itu masih kuat karena membawa Choetsu bisa menghancurkan bangunan.


Sekaligus, ia juga terkejut bahwa tekniknya tampaknya juga dipatahkan dalam teknik kaki lawan juga.


Demon Gin yang telah mundur menjaga jarak menggeram, ini bukan kabar baik bagi dia, musuh yang dia lawan terlalu kuat.


Namun saat dia mencoba memikirkan cara untuk kabur, sebuah pasir hitam melilit kaki kanannya.


"Jenis Magnet ya ..." Demon Gin cukup waspada dan melihat ke arah Newyear. Pria itu hanya menyeringai sebelum membuat gerakan seolah tangan menggenggam.


"Pengerasan Choetsu Magnet!" Saat mengatakan kata-kata ini.


Pasir besi yang melilit Demon Gin tiba-tiba menjadi keras yang membuat ia meringis kesakitan, tidak berhenti di sana, pasir besi yang melilit seolah berubah bentuk menjadi bulat seperti bola, yang itu menjadikannya sangat berat.


"Tidak bagus!?"


Tapi sudah terlambat.


Tubuh Demon Gin tidak kuasa menahan berat bola besi dan jatuh ke tanah dengan cepat. Bunyi ledakan terjadi akibat terjunnya Demon Gin ke bawah, asap debu mengepul sangat banyak.


Setelah hening cukup lama, dua orang Blade dan Newyear mengerutkan keningnya, dengan presepsi dari Tomei Haki, mereka tiba-tiba tidak merasakan seseorang di dalam debu itu.


Hanya ada satu jawaban, yaitu Demon Gin melarikan diri.


"Orang itu tampaknya telah terluka sebelumnya, pertarungan tadi ia tidak dalam kondisi bagus." Newyear mengeluarkan cerutu dan merokok.


Blade mengangguk dan berbicara, "Aku tidak tahu siapa pemuda tadi sebelumnya, tapi ia memiliki aura jahat, apakah ini orang-orang iblis." Saat mengatakan kata-kata ini, Blade mengerutkan kening.


"Orang iblis, tampaknya rumor itu benar bahwa pasukan iblis akan segera datang. Mereka mungkin membuat invasi kecil-kecilan dengan memengaruhi manusia, mengurangi kekuatan kita." Ucap Newyear dengan datar.


"Aku tidak bisa menyangkal itu. Itulah alasan mengapa Keluarga G dengan mati-matian ingin menangkap Ava kembali."


"Apakah untuk membuat pemanggilan Pahlawan Suci?"


"Ya."


"Apakah Ras Iblis benar-benar kuat?" tanya Newyear tidak percaya.


Blade diam lama dan berbicara, "Jika mereka tidak kuat, maka tidak akan pernah terjadi yang namanya ‘The Great War’ 790 tahun yang lalu yang hampir menewaskan setengah populasi manusia. The Boundless Ocean masih menjadi buktinya nyata dimana mungkin sisa peperangan masih ada di sana, itulah kenapa laut itu selain menjadi laut kematian, juga laut yang penuh harta."


Mengatakan itu Blade bergegas sambil mengejar Demon Gin. Newyear yang melihat itu juga pergi dengan pasir besi di bawah kakinya.


Sambil terbang di udara, Blade berbicara, "Kita harus melenyapkan orang itu, menjadi hal tabu bagi manusia untuk memiliki hubungan dengan iblis, apalagi memiliki kemampuannya juga. Harus segera di lenyapkan sebelum hal-hal diluar kendali." Ucapnya dengan mendesah.


Melihat langit dia berkata lagi. "Dunia akan semakin kacau. Kemunculan ras Iblis akan menjadi pertanda dunia akan segera berubah. Portal lalu lintas dimensi ‘Heaven Gate’ juga telah lama usang, kemungkinan, 9 Ras Hebat lainnya akan bisa masuk ke dunia manusia menambah kekacauan. Para Ahli Kaisar juga tidak akan duduk diam di sarangnya lagi, bahkan mungkin para Dewa akan mengirimkan orang mereka untuk turun menebar agamanya sendiri."


Newyear yang mendengar bergidik, namun ia juga sekaligus gembira.


"Hhnhnhn! Aku benar-benar t3r4ngs4ng oleh perkataanmu. Aku tidak sabar melihat meriahnya dunia di masa depan." Tawa Newyear tampak gila.


Blade tahu kebiasaan pria itu dan mengabaikan.


"Pokoknya, ayo kita bunuh pria iblis itu."


"Tidak masalah."


Di pinggiran segel kubah emas.


Ava masih melakukan hal yang sama menguraikan segel. Sudah 2 jam ia melakukannya dan bisa merasakan peningkatan bahwa ia bisa membuat celah.


Di sekelilingnya, ada Maria, Adelyn dan beberapa orang lainnya.


Saat ini Clause telah membawa semua orang kesini menggunakan Kapal Terbang. Marsha dan Ana telah terbangun namun masih beristirahat di dek kapal.


Tiba-tiba, Ava yang merentangkan tangannya ke depan berteriak rendah.


"Buka."


Retak.


Dengan teriakan itu, dinding emas transparan di depan Ava tampak bergetar dan membuat belokan aneh yang kemudian memutar membuka celah di dinding.


Lubang membesar dengan arahan Ava dan itu cukup untuk membuat kapal keluar.


Heavenly Golden Dome Seal terbuka!


"Cepat! Bawa kapal dan orang-orang keluar!" Teriak Ava.


Clause tidak tinggal lama dan terbang untuk mendarat di kemudi kapal untuk menggerakkannya.


Setelah kapal keluar, Ava masih berdiri di sana karena perlu menjaga celah agar tidak menutup.


"Ava, Kuro belum kembali, apakah kita akan mencarinya dulu?" Tanya Maria.


"Tunggu dulu, sebentar lagi dia dan Shiro akan datang." Ucap Ava melihat kebelakang, namun pandangan juga tidak yakin.


Saat itu, sosok tiba-tiba datang dengan cepat.


Maria, Adelyn, dan Ava telah lama waspada dan menatap orang yang datang.


Pria itu memakai topi koboi. Dia Ethan Texas.


"Uh, t-tunggu, aku di sini bukan dengan niat jahat, aku hanya ingin keluar dari kubah sialan ini, sudah beberapa jam mencoba tapi aku tidak bisa. Jadi aku bergerak mengelilingi kubah mencoba mencari apakah ada celah untuk aku bisa keluar." Tuturnya dengan wajah kaku.


Ketiga wanita saling memandang mencari pendapat. Namun mereka tetap diam dan tidak membiarkan Ethan lewat.


Pria koboi itu kaku dan mencoba menjelaskan sekali lagi bahwa tidak datang dengan niat buruk, namun apapun alasan itu, tidak digubris oleh ketiga wanita.


Saat Ethan masih menjelaskan dengan bodoh, muncul sosok lain.


Pakaian hitam ketat dengan tubuh meliuk-liuk seperti ular, itu ninja kunoichi Rihana.


Saat Rihana datang dia mendarat di sisi agak jauh Ethan. Dia kemudian tanpa menatap Ethan berbicara.


"Apakah aku bisa keluar."


Maria menggelengkan kepalanya, "Tidak."


Mendapat penolakan itu, Rihana langsung diam dan mengangguk, tidak seperti Ethan yang terus mengoceh, Rihana tetap tenang dan berdiri diam seolah menjadi batu.


"Oh! Rihana––" Namun saat Ethan ingin mengeluh pada Rihana.


Woach!


Sebuah kunai melesat melewati pipi Ethan yang itu membuat luka kecil diwajahnya.


"Jangan bicara padaku." Jawaban Rihana tampak dingin dan itu membuat Ethan menelan ludah.


Ava"..."


Adelyn"..."


Maria"..."


Situasi benar-benar aneh dan canggung.


Tapi kecanggungan itu tidak berselang lama karena sosok lain juga datang.


"Oh!" Saat melihat orang itu Ethan tidak bisa kaget. Karena orang itu adalah River.


"Bwahaha! Kamu tampak buruk River! Bagaimana keadaanmu bisa seperti ini?"


River yang memiliki wajah pucat dengan pakaian berantakan, hanya mendengus dengan kesal.


Melihat orang itu River dalam keadaan buruk, Ava dan lainnya juga tidak bisa bertanya, siapa yang bisa membuat pria itu dalam keadaan begini.


River mengabaikan ejekan Ethan dan menatap Ava dengan kontemplasi.


"Kamu memiliki anak yang beruntung ..."


Ava"..."