
Goro bisa merasakan perubahan signifikan pada Gin, bahkan dirinya tidak bisa bergidik ketika melihat Gin, entah kenapa dia seperti bisa melihat monster menakutkan di belakang aura hitam milik Gin.
Gin tetap diam dan berjalan ke arah Marsha. Ia melihat gadis yang menangis sambil meringkuk seperti telah kehilangan segalanya. Perasaan Gin saat ini kosong tapi entah kenapa tubuhnya seperti bergerak sendiri seperti kerasukan. Ia dengan lembut memeluk Marsha seperti menenangkan gadis itu.
Gin bisa merasakan bahwa tubuh gadis itu benar-benar dingin, tidak tahu apakah itu keringat dingin atau hal biologis seperti perubahan tubuh yang terjadi akibat kesedihan terlalu ekstrim, itu benar-benar seperti sebalok es.
Marsha entah kenapa bisa merasakan kehangatan yang dirasakan saat tubuhnya di peluk. Dekapan itu hangat sekali, seperti memberikan selimut di saat musim hujan.
Marsha yang menangis melihat orang yang memeluk. Gin, bocah yang lebih muda darinya. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan, tapi ia lebih memilih untuk menyandarkan kepalanya sambil mengeluarkan seluruh kesedihan dalam tangisan dan dekapan Gin.
Entah kenapa dia bisa merasakan sandaran teduh pada Gin yang membuat dirinya nyaman, meski bodoh untuk mengatakan, tapi dia sangat menyukai perasaan saat dipeluk dalam dekapan Gin.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, akhirnya Marsha bisa tenang dan hanya sedikit berkedut. Gin kemudian melepaskan pelukannya dan mengelus kepala Marsha sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, kamu sangat kuat ... Biarkan aku mengurus sisanya."
Setelah bangkit, Gin kemudian berbalik.
Saat ia berbalik penindasan yang sebelumnya cukup lemah, sekarang menjadi lebih intens. Wajah Gin yang sebelumnya tersenyum berubah 180 derajat menjadi dingin, hampa, dan acuh.
Meski ekspresi Gin terlihat membosankan, tapi itu membawa kesombongan seperti seorang raja. Mata yang semula biru safir indah telah berubah warna menjadi kuning dengan pola hitam horizontal seperti mata setan.
Mata Jahat!
Mata keburukkan yang pernah ada!
Hanya satu sosok yang memiliki jenis mata ini, dan Gin adalah penerusnya yang mewarisi mata ini.
Saat itu muncul, itu seperti membuat roh jiwa orang yang melihatnya gemetar seperti ingin keluar, orang-orang yang melihatnya tanpa pengecualian seperti terpaku dan tubuhnya bergidik seperti melihat hantu.
Sebenarnya Evil Eyes memiliki kemampuan untuk memengaruhi bahkan mengendalikan mental seseorang tapi Gin belum bisa mengaksesnya, tapi karena dia mendapatkan kebangkitan Shihai Haki, ia secara kebetulan bisa meminjam sebentar karena “power” energi yang dihasilkan dari kebangkitan cukup untuk membuat Evil Eyes satu tingkat lebih kuat.
Bisa dikatakan bahwa saat ini Gin tengah menggunakan Evil Eyes level 2 meski hanya sebentar.
Entah itu Goro, Robert atau orang-orang lain yang langsung menatap mata Gin jiwanya seperti tersedot keluar. Perasaan itu sangat tidak nyaman.
Selain itu, Gin juga mengalami fase “Flow” secara bersamaan di mana mentalnya sangat fokus dan bisa mengeluarkan potensi tubuh 1.000%. Saat ini Gin hampir tak terkalahkan!
Gin berjalan perlahan mengambil sebuah pedang di tanah entah milik siapa dan secara cepat tidak terpikirkan, ia memotong kepala salah satu anak buah Goro.
SLASH!
Ayunan tidak cepat atau lambat, tapi itu menghasilkan potongan yang sangat rapi. Darah terciprat ke wajah Gin tapi ia mengabaikan.
Goro yang sebelumnya terpaku diam akhirnya sadar kembali, dan dengan marah menyuruh anak buahnya menyerang Gin.
Akhirnya setelah teriakan Goro, puluhan anak buah Goro mulai menyerang satu per satu.
Indera persepsi Gin jauh lebih luas dari sebelumnya, ditambah dia memiliki akses domain spesial dari Shihai Haki yang memungkinkan dia dalam bidangnya hampir tak terkalahkan. Meskipun jaraknya saat ini masih dangkal yaitu sekitar 5 meter, tapi itu sudah cukup bagi Gin.
Meski pikiran Gin saat ini kosong tapi itu lebih jelas dari sebelumnya. Setiap pelajaran dari buku dan pelatihan ayahnya seperti terpatri dalam benaknya yang membuat Gin menangkap sesuatu.
Gin seperti bisa membuat kreasi pedangnya sendiri dan itu akan sangat cocok dengan gaya pedangnya. Jika gaya ayahnya jujur dan sederhana, gaya Gin lebih menipu, licik, dan banyak kreasi lebih ke gerakan yang cantik.
Gin yang mendapatkan pencerahan memberikan gaya pedang itu nama “Dancing Sword”. Nama yang cukup sederhana tapi Gin menyadari bahwa potensi gaya pedang ini akan lebih luas dan banyak cabang yang lahir darinya.
Lagipula di masa depan pasti akan ada banyak varian gerakan yang membuat gaya pedang ini lebih banyak dan jauh lebih mematikan.
Mengambil kuda-kuda unik Gin melakukan putaran tubuh seperti tarian sambil menepis pedang musuh. Sungguh aneh bahwa gaya pedang yang tampak banyak memiliki celah serangan tampak memiliki pertahanan rapat jika Gin menggunakannya.
Meski Gin dikeroyok banyak orang, ia seperti sangat lihai dalam menghindar yang seperti gerakan orang menari, pedangnya terus meluncur sambil memotong entah lengan atau bagian tubuh musuhnya.
Setiap serangan hanya satu sayatan dan itu membuat setiap tubuh musuh terpotong. Gin tidak ragu, ia sangat lihai dengan tubuh kecilnya bergerak bebas ke musuh menebas kemana-mana.
7 orang...
10 orang...
22 orang...
Semuanya telah terjatuh menjadi mayat yang masih hangat dengan darah menggenang. Banyak anak buah Goro yang belum menyerang ketakutan dan bergidik dari jauh. Mereka melihat Gin seperti malaikat kematian kecil yang bisa membunuh tanpa berkedip.
Darah membasuh sekujur tubuh Gin tapi itu bukan darahnya, Gin bahkan tidak repot-repot membersihkan dirinya dan hanya terus menari seolah ini panggungnya.
Goro juga melihat keseriusan masalah yang diakibatkan dari Gin, dan mendapati bahwa hatinya berdarah marah karena melihat banyak anak buahnya yang mati.
Ia mengambil tongkatnya dan bergerak ke arah Gin dengan cepat. "Sudah sampai disini bocah perak! Aku akan membunuhmu!"
Gin menangkis dengan kuda-kuda udara tongkat Goro dan dengan putaran tubuh yang fleksibel kakinya menendang pipi Goro yang membuat beberapa giginya rontok.
BAAKK!
"Kamu adalah hidangan terakhir." Hanya kata-kata kosong itu yang terlontar dari mulut Gin dan ia bergerak ke sisi lain.
"Aaaakkhh! Kakiku!"
"Tidak! Hentikan iblis kecil ini!"
"Akhh! Leherku terasa panas! Ap—"
"Sial! Ini omong kosong!"
"Tolong! S–selamatkan aku! Aku hanya—"
SLASH! SLASH! SLASH! 99×
Gerakan Gin semakin lama semakin cepat, tidak ada yang bisa lepas dan lari dari pembantaian. Bau anyir yang menggenang terbawa angin hingga bisa dicium sampai di kota, banyak orang bertanya-tanya bau itu, tapi banyak orang beranggapan bahwa itu bau darah Beast karena saat ini juga terjadi pembantaian pada para Beast oleh Kuro.
Goro hanya jatuh dengan kaki gemetar ketakutan sambil mengencingi celananya. Tidak ada lagi kesombongan darinya, hanya rasa takut yang menggerogoti hatinya melihat sosok Gin yang seperti malaikat ajalnya.
Gin diam-diam setelah membunuh anak buah Goro mengawasi Goro di kejauhan. Matanya kosong sangat dalam, sedalam kegelapan itu sendiri. Ia bergerak perlahan seolah tubuhnya tertatih-tatih.
Pedang yang dibawanya terus meneteskan darah dengan tempo yang sama dengan langkah kaki Gin.
"Tidak! Tidak! Jangan mendekat! Aku akan memberi banyak uang! Jangan bunuh aku!"
Goro ketakutan ketika Gin terus mendekat dan ia mencoba merangkak menjauh. Tidak tahu apakah karena dia terlaku takut, hingga membuat kakinya lumpuh, tapi tentunya itu tidak akan bisa lepas dari Gin.
Gin dengan pedangnya tidak akan mau membunuh Goro dengan mudah, lagipula setiap perbuatan yang telah ia lakukan saat ini lebih buruk dari sampah. Gin ingin melihat Goro tersiksa dan membuatnya mati dalam keadaan seburuk-buruknya.
Gin mulai memotong kaki Goro perlahan-lahan yang terus membuatnya berteriak kesakitan.
"Tidak! Tidak! Tidak!"
Gin melakukan proses ini selama 1 jam dan hampir memotong setiap tubuh Goro. Meski Goro sudah tidak berdaya tapi ia masih hidup. Matanya berkunang-kunang dan buram seperti gelap.
Hanya badan dan kepalanya yang masih utuh saat ini. Itu sungguh pemandangan yang berdarah.
Gin kemudian mendekatkan wajahnya pada Goro dan berkata, "Ingat ini, ini adalah wajah orang yang membunuhmu pada kehidupan ini, jika suatu kali kamu melihat wajah ini di suatu tempat, maka ingatan kamu saat ini saat tersiksa akan muncul dan terus membekas dalam jiwamu dan tidak akan pernah hilang selama-lamanya."
"Aargh—"
Goro yang jiwanya seperti dikutuk akhirnya mati dengan hembusan nafas yang kasar.
Ding...
[“The Most Ancient Evil” senang oleh pemandangan ini sambil bertepuk tangan. Beliau memberikan hadiah paket misteri sebagai suguhan yang bagus ]
"..."