
Kuro tidak sadar bahwa dia sudah menjadi target kebencian seseorang. Namun dia juga sadar dengan Tōmei Haki-nya dia bisa merasakan langkah kaki seseorang datang.
Dias melangkah dengan cara mendominasi diikuti beberapa anak buahnya dibelakang. Dia membanting meja disisi Maria menampilkan sekantong koin emas yang banyak.
"Nona, berikan aku anggur dan makanan terbaik di Bar ini." Dias berkata dengan senyum liar sambil melihat belahan dada Maria.
Meski Maria juga tahu bahwa orang yang datang tampak kasar, dia masih melakukan tugasnya dan mengambil sekantung uang itu.
Setelah Maria pergi ke belakang untuk menyiapkan makanan di dapur kepada para Chef yang bertugas. Dia kembali ke depan untuk menjadi Bartender lagi secara profesional.
Saat Maria pergi ke belakang. Dias mengambil kursi yang tadi digunakan Maria dan duduk di samping Kuro. Kuro masih tanpa ekspresi dan menikmati bir secara perlahan.
Mata Dias beralih ke Adelyn dan dia menjilat bibirnya, sebelum jatuh pada Kuro. Dia dengan arogan berbicara. "Aku Dias ketua dari kelompok petualang “Hammer Dog”, aku memperhatikan bahwa kamu sepertinya orang Shinto dengan cara berpakaian kamu, ditambah kamu seperti seorang Ahli Pedang yang kuat dengan Katana di pinggang kamu..."
Kuro melirik dan tersenyum. "Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku tidak bisa mengklaim bahwa aku orang yang kuat. Masih ada ahli pedang di luar sana yang lebih kuat dariku." ucap Kuro sopan.
Dias hanya mengejek dalam hati dan tersenyum palsu. "Kebetulan, aku juga mengenal seseorang pengguna pedang dan banyak berdebat dengannya. Sebagai petarung sejati, kamu pasti tidak akan keberatan berdebat denganku, kan?"
Kuro dalam hati mendesah. Dia menggeleng kepalanya. "Maafkan aku, namun aku tidak ingin berdebat. Aku hanya ingin duduk dan menikmati bir ini dengan tenang."
Mendengar penolakan Kuro, Dias tampak tidak senang.
Seorang anak buah Dias berteriak. "Ketua telah memujimu dan ingin menggunakan perdebatan untuk memberikan ilmu yang akan bermanfaat bagimu! Namun kamu menolak! Apakah kamu memandang rendah ketua!"
Dias juga merasa bahwa senyum Kuro itu mengandung penghinaan bagi dirinya. Dia merasa marah namun menahannya.
"Apakah kamu takut?" tanya Dias dengan wajah penghinaan. Itu kemudian disambut tawa bagi anak buah Dias.
Adelyn dan Maria yang mendengar dari samping tidak bisa berhenti terkejut dan tertawa terbahak-bahak. Dias yang melihat itu tersenyum. "Benarkan nona, pria ini hanya seorang pengecut yang bahkan tidak berani menggunakan perdebatan sebagai latihan. Pria ini sangat lucu!" Dias tertawa liar menunjukkan kesombongan.
Adelyn dan Maria saling memandang lagi dan tidak bisa memegang perut tertawa lagi. Bahkan dibeberapa titik, itu membuat Adelyn memuntahkan birnya karena sangat lucu.
"Bwahaha! Kuro berapa banyak orang di dunia ini yang berani menghinamu bahwa kamu pria pengecut. Aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa orang ini memiliki keberanian."
Dias merasa sesuatu ada yang salah dan menatap Adelyn dengan pandangan menyipit. "Nona, apakah kamu menghinaku? Apakah pria bernama Kuro ini benar-benar sesuatu?"
Dias dengan marah mengambil gelas di depannya dan memukul Kuro tepat di bagian kepala hingga membuat gelas itu terpecah.
Kacha!
Maria"...!"
Adelyn "...!"
Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Dias akan melakukan perbuatan itu. Mereka bahkan lambat dalam merespon. Anak buah Dias juga mengeluarkan senjata dan mengarahkannya pada Kuro.
Suasana tiba-tiba berubah drastis dan mencekam. Para pelanggan yang sebelumnya di Bar juga panik. Lagipula orang-orang mendengar bahwa Dias dan kelompok Hammer Dog adalah kelompok terkenal.
Sebagian dari mereka langsung lari dari Bar karena tidak mau ikut campur dalam keributan. Namun juga ada beberapa orang yang tertarik menonton pertunjukan.
Kuro yang menjadi pusat perhatian masih diam dan tidak bergeming. Dia menatap Dias. "Maaf atas kelancanganku karena menolak perdebatan sebelumnya. Namun tolong jangan membuat keributan di sini, itu akan menakut-nakuti para pelanggan."
Kuro masih tampak tenang dan sabar dalam menghadapi masalah ini. Maria yang melihat bir membasahi wajah Kuro kemudian mengelap dan membersihkannya dengan lembut.
Maria berbicara. "Tuan, aku tidak akan mengajukan kompensasi karena menghancurkan gelas dan membuat pelangganku kabur. Namun tolong jangan membuat keributan atau aku hanya bisa mengusir anda." ucapnya menatap Dias.
Dias merasa jelek dan memandang Maria dengan tajam. Dias kemudian meraih tangan yang mengelap Kuro dengan cara kasar.
Maria terkejut. "Tuan, tolong lepaskan!"
Dias tidak menghiraukan ucapan Maria dan menjilat bibirnya menatap Maria penuh nafsu.
Maria memberontak dan menggunakan kekuatannya untuk lepas. Merasakan bahwa tenaga Maria kuat dan cengkeramannya hendak lepas. Dias kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menampar Maria.
Namun sebelum tangannya sampai, itu ditahan Kuro.
Pak!
Tangan Kuro meraih tangan Dias. Dias terkejut dan meraung. "Bajingan! Apakah kamu mau melawanku!?"
Namun secara tidak sadar. Cengkraman Kuro sangat kuat hingga membuat Dias sedikit meringis.
Mata Kuro masih tampak tenang tapi itu seperti memberikan aura penindasan yang tajam.
"Kamu bisa menghinaku, memukulku, bahkan meludahiku aku tidak akan menolak. Namun tidak untuk teman-temanku!" Kuro sedikit menggunakan kekuatannya untuk sedikit demi sedikit memberikan tekanan pada cengkeramannya.
Dias merasa bahwa tulang tangannya seperti mau retak. Dia dengan cepat melepas tangan Maria dan menampar tangan yang dicengkeram Kuro.
Mata Kuro menatap Dias dan menggunakan sedikit Shihai Haki.
Dias bisa merasakan aura tertindas yang sangat mengerikan memengaruhi mentalnya. Dia seperti melihat monster sesungguhnya saat bertatapan dengan Kuro. Itu aura absolut yang membuat Dias secara naluri ketakutan.
Wajahnya berkeringat dan tidak bisa menggigil ketakutan. Saat ini, dia bisa merasakan celah kesenjangan kekuatan yang begitu besar.
Semut!
Dias bisa merasakan bahwa dirinya tampak kecil di depan Kuro. Bahkan mungkin dirinya bagaikan semut yang rapuh di hadapan ahli sejati seperti Kuro.
Maria dan Adelyn tahu bahwa Kuro menggunakan Shihai Haki dan mereka memperhatikan bahwa kontrolnya terhadap Haki sangat tinggi.
"Dia benar-benar semakin kuat!" gumam Adelyn.
Perlu diketahui bahwa Shihai Haki jika tidak memiliki kontrol yang baik, itu juga akan memengaruhi orang-orang disekitarnya. Namun Kuro berbeda karena dia sudah bisa mengendalikan Haki hingga titik kontrol penuh. Dia bisa mengarahkan Shihai Haki-nya pada satu titik, dan itu adalah pencapaian luar biasa!
Pada titik ini, Kuro akhirnya melepaskan tangannya pada Dias.
"Pergilah."
Hanya satu kata, tapi Dias bisa merasakan kebebasan dari kata itu. Dia benar-benar ingin meninggalkan tempat ini dan Kuro, setidaknya terbebas dari rasa penindasan ini.
Dias masih ketakutan tapi dia menggunakan kesempatan ini untuk pergi.
"Kita pergi."
Anak buah Dias tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya bisa melihat bos mereka dicengkeram oleh Kuro sambil saling bertatapan. Setelah itu bos mereka tampak ketakutan sambil menggigil.
Mereka tidak tahu dan bertanya-tanya apakah bos mereka takut kepada Kuro? Lagipula itu hanya dicengkeram, mengapa bos mereka sangat takut dan berbalik pergi?
Dan pertanyaan-pertanyaan ini akan diajukan setelag Dias pergi dari Bar.
Setelah masalah teratasi. Kuro menatap Maria bertanya. "Apakah kamu tidak apa-apa?"
Maria tersenyum. "Tidak apa-apa, Kuro-san tidak perlu mencemaskan aku. Tapi aku sedikit tertarik dengan pria itu dan akan mengambil matanya."
Adelyn menghela nafas dalam hati.
"Sungguh pria yang malang."
Dias tidak tahu bahwa dibalik sosok Maria yang menggoda terdapat kekejaman bagaikan iblis sejati. Maria tidak akan segan menyiksa mangsanya dan akan bermain-main hingga hanya bisa berharap untuk mati.
(A/N: Kemarin tidak update! Ada tamu sanak saudara di rumah dan aku menemaninya makan dan minum. bab selanjutnya masih dalam proses!)