Sistem Bakat Tak Terbatas

Sistem Bakat Tak Terbatas
Bab 23 - Invasi Beast


(NB: Bab telah direvisi (l))


Beberapa menit yang lalu.


"Hei, mengapa orang-orang disini sepi sekali?" Gin berkeliling di dalam bengkel yang luas dan menggaruk kepalanya.


Marsha juga bingung kenapa bengkel bisa sepi, dia melihat sekeliling untuk mencari orang untuk ditanya.


"Ah, paman ... Apakah kamu tahu dimana orang-orang disini pergi?" tanya Marsha pada seseorang pria lewat.


Orang itu tampaknya seorang pelanggan dari bengkel dan berkata, "Aku tidak tahu tujuannya, tapi sepertinya mereka pergi ke bukit di sana." ucapnya sambil menunjuk kejauhan.


Marsha"...!"


Marsha terkejut dan sekaligus takut.


"Mereka! Mereka pergi ke panti asuhan?"


Kuro melihat kepanikan Marsha dan tidak bisa bertanya, "Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengkhawatirkan?"


Marsha dengan panik berkata. "Tentu saja ada! Kelompok Goro pergi ke panti asuhan untuk membuat masalah!"


Adelyn yang tidak tahu keseriusan masalah berkata, "Oh, kalau begitu, ayo pergi kesana ... "


"Iya iya ayo!"


Namun saat mereka hendak pergi, sebuah suara terdengar dikejauhan.


"Menjauh! Menjauh! Para beast menyerang kota!"


Adelyn dan Kuro saling melirik karena mereka tahu dengan indera presepsi mereka, mereka mampu melihat sesuatu hal buruk terjadi di luar kota.


"Aneh, jumlah beast terasa sangat banyak!" Adelyn dengan indera sihir miliknya mampu memperkirakan jumlah beast yang berlari menyerang kota.


"Benar, itu seperti unit yang dipimpin oleh Beast King ... "Kuro secara alami juga tahu dengan Tōmei Haki bahwa beast menyerang bukan karena kegilaan semata.


"Jika para beast itu menyerang kota, mungkin kota kecil ini tidak bisa menahan serangan." kata Adelyn.


"Aku pikir begitu, apakah kamu mau menghentikannya?" tanya Kuro.


Adelyn hanya diam melihat kejauhan, "Itu tidak masalah, selama itu bukan Beast King tingkat empat."


Kuro tersenyum dan menoleh ke arah Gin. "Shiro, di luar kota ada masalah yang lebih besar. Kamu dan Marsha bisa pergi dulu ke bukit. Aku dan Adelyn akan pergi mengurus sesuatu."


Marsha yang mendengar itu terkejut.


"Tapi ... "


Kuro menggelengkan kepalanya, "Marsha jika beast memasuki kota, itu bukan hanya keluarga kamu yang terancam, tapi seluruh penduduk juga akan terkena imbasnya."


Gin yang menyadari keseriusan masalah mengangguk.


"Marsha, ayo pergi dulu. Lagipula aku juga ingin mengambil uangku kembali. "


Marsha tidak bisa membantah dan hanya mengangguk berlari mengikuti Gin dibelakang.


Sementara itu, Kuro dan Adelyn juga pergi ke atas tembok kota untuk melihat situasi.


Kuro"..."


Adelyn "..."


"1.050 ... 1.060 ...1.100 ... Hei, bukankah jumlah ini terlalu berlebihan untuk menyerang kota kecil?" Adelyn tidak bisa berhenti mengerjap saat melihat jumlah beast yang seperti lautan di kejauhan.


Para beast berbentuk seperti serigala humanoid yang tampak mengerikan, rata-rata ukurannya sekitar tinggi dua kali manusia, dan yang lebih menakutkan. Di belakang pasukan beast ada tiga serigala yang tampaknya lebih kuat dari sekawanannya.


Itu setingkat dengan Beast King.


"Dari jumlah Mana, dua adalah Beast King tingkat 10 dan satu di tingkat 9! Ya ampun, bukankah kekuatan ini terlalu berlebihan?" Adelyn tidak bisa mengerutkan alisnya.


Kuro juga sedikit memikirkan situasi ini bertanya apa sebenarnya yang terjadi?


"Yah, bagaimana pun kita harus menghindari para beast memasuki kota." ucap Kuro mengeluarkan pedang katana dari pinggangnya.


Adelyn yang mendengar itu terdiam.


"Aku tidak seperti kamu Kuro, tapi kita tidak akan bisa menumpas semuanya tanpa satu orang lagi yang setingkat denganku saat ini." Adelyn mendesah, meski namanya terkenal di dunia dengan gelar yang bisa menakuti banyak orang. Tapi dia juga bukan maha kuasa.


Setelah Adelyn mengatakan itu, tiba-tiba siluet muncul dengan gaya yang anggun.


Itu Maria.


Adelyn dan Kuro melihat itu tersenyum. "Yah, kalau ada Maria disini, maka itu akan cepat selesai... "


Ketiganya tertawa terbahak-bahak seperti tidak takut akan situasi. Berbeda dengan trio itu, banyak orang di Kota Aresia takut setengah mati dan ingin cepat-cepat meninggalkan kota.


Para petualangan yang sudah ditugaskan untuk berburu juga tidak bisa berkeringat dingin sambil menelan ludahnya karena melihat jumlah beast yang menyerang.


Jika kumpulan itu hanya setingkat beast Rank-E maka itu akan cukup mudah diselesaikan. Tapi sekawanan ini bukan hanya beast Rank-E saja, tapi bahkan campuran dari peringkat A, B, C, dan D. Bahkan ada yang setingkat Beast King.


Para petualangan ini tentunya tahu batas kemampuan mereka sendiri. Banyak dari mereka hanya petualangan Rank-C dan Rank-B, menghadapi para beast saat ini hanya seperti memberikan nyawa kalian sendiri.


Dalam situasi kali ini, pilihan terbaik tentu saja adalah melarikan diri.


Namun saat para petualangan yang gemetar di depan gerbang melihat ribuan beast datang. Mereka juga bisa melihat tiga sosok berjubah di kejauhan yang berhadapan langsung dengan para beast.


Para petualangan ini tidak bisa membantu tapi menatap tiga sosok itu dengan aneh.


"Hei! Apakah mereka bodoh?"


"Mereka gila! Apakah mereka akan menghadapi ribuan beast itu?"


"Otak mereka mungkin sudah rusak!"


Para petualangan ini tentunya menganggap bahwa tiga sosok itu bodoh karena tidak bisa melihat kekuatan dari para beast. Mereka mengejek dan mengolok-olok karena membuang nyawa mereka dengan mudah.


Secara alami, mereka juga ingin melihat pemandangan dimana ketiga sosok itu mati dimakan para beast.


Tapi tentu saja masih ada orang-orang yang peduli meneriaki.


"Kalian! Kembalilah! Di sana berbahaya!"


"Itu benar! Bahkan para petualangan peringkat S tidak bisa menghadapi situasi saat ini!"


"Ayo kita pergi dari kota ini selagi ada waktu!"


Mengabaikan teriakan para petualangan dikejauhan. Kuro yang saat ini memakai jubah hitam tidak bisa memainkannya.


"Kenapa kita harus memakai jubah?" tanya Kuro pada Maria di sampingnya.


Maria hanya memandang para beast di kejauhan yang menghancurkan hutan-hutan berkata, "Jangan bertanya, aku tidak mau wajahku dikenal dan menarik perhatian keluarga ku."


Kuro yang tahu identitas Maria tertawa. Adelyn juga hanya terkikik namun senyum itu dengan cepat pudar.


Kuro melihat kebelakang ke para petualangan yang meneriakinya dan tidak bisa menggaruk kepalanya.


"Apakah kita harus kembali? Orang-orang disana menyuruh kita untuk mundur."


"..."


"Lupakan, lihat ke depan. Para beast sudah mulai dekat. " ucap Adelyn.


Saat ini jarak antara ketiganya dan para beast sekitar 600 meter, dan para beast juga memperhatikan ketiganya sambil meraung.


Kuro akhirnya berubah serius dengan auranya yang menajam. Dia tidak menggunakan Shihai Haki karena itu akan menakut-nakuti para beast dan melarikan diri, itu akan sulit jika berhamburan dan Kuro ingin menumpas semuanya.


Bilah katana hitam Kuro tampak memberikan rasa berdarah yang menakutkan saat dikeluarkan. Kuro melihat momentum dan menarik nafas dalam-dalam untuk menggunakan teknik pernapasan.


Itu bukan teknik terkuat Kuro tapi itu masihlah teknik yang sangat fatal jika Kuro menggunakannya.


Teknik Pernapasan Udara!


Kuro menghirup udara secara konstan yang membuat jantung dan paru-paru bekerja lima kali lebih cepat. Tubuhnya dengan panik mengeluarkan uap panas bahkan saat dia bernafas itu seperti membuat gambar uap yang unik.


Kuro mencengkeram gagang katana dipinggang dengan kuda-kuda setengah badan.


Saat momentum tercapai, dia mulai menebas.


"Kaze Kokyū: Kawa O Wakeru (Pernapasan Angin: Membagi Sungai)!"


Energi pedang angin berbentuk gelombang membawa dampak yang luar biasa. Itu membelah hampir 100 beast secara bersamaan secara horizontal. Darah terciprat tanpa belas kasihan yang membuat pemandangan itu luar biasa.


"Kieck! Kieck! Kieck!"


Para petualangan "...!"