Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety Seven (97)


Stella mengamati pedang itu dalam-dalam. Jari-jari kecilnya mengelus bilah pedang itu perlahan.


'Bagaimana awal aku mengingatnya, ya?'


Jawaban atas pertanyaan itu mungkin karena mimpi yang mendatanginya semalam. Setelah bangun, ia nyaris tidak mengingat mimpi apa itu dan hampir benar-benar melupakannya. Namun perasaan tercabik-cabik yang ia rasakan setelah bangun membuatnya tidak bisa melupakan mimpi itu begitu saja. Ditambah setelah itu kepalanya berdenyut sakit, mendatangkan sepintas memori asing.


'Sihir penyimpanan.'


Tiba-tiba saja potongan mantra sihir yang belum pernah dipelajari Stella terlintas di pikirannya. Stella yang harus memastikan mantra apa itu segera mempraktikkannya dan ia menemukan beberapa benda di dalam sihir penyimpanannya. Di situ ada sebuah jubah hitam dan pedang.


"Hah? Pedang? Sejak kapan aku punya pedang? Memangnya aku pernah belajar pedang?"


Kira-kira begitulah rentetan pertanyan yang diajukan Stella pada dirinya sendiri tadi. Bingung, itulah yang ia rasakan.


Stella memang pura-pura tidak mau belajar berpedang tapi memahami dengan baik teknik-teknik menyerang dan menusuk. Hanya saja ia tidak ingin terlihat menonjol dengan menyaingi kemampuan berpedang Dhemiel. Karena nantinya akan susah untuk mempertahankan topeng cerianya.


'Soalnya kalau aku sudah fokus pada sesuatu, ekspresiku bisa saja sesuai dengan apa yang aku pikirkan.'


Selain itu, ayahnya, penguasa Evergard, tampak begitu senang saat mengetahui bahwa Stella tidak ingin belajar berpedang, seolah-olah menantikan jawaban seperti ini.


Bisa disimpulkan bahwa itu karena ayahnya tidak ingin ia mengingat kenangan masa lalunya yang terlupakan.


Namun kini, melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Stella memiliki pedang yang disimpan di sihir penyimpanan membuatnya yakin bahwa dulunya ia pandai menggunakan pedang.


'Tapi masa hanya karena aku memegang pedang, ingatanku bisa kembali seutuhnya?' batin Stella saat itu, menganggap remeh mengapa ayahnya sangat senang karena ia tidak belajar berpedang.


Awalnya ia berpikir seperti itu. Tapi pada saat tangannya menyentuh pedangnya, perasaan gembira mengalir masuk dan menyelimuti hatinya. Rasanya tenang dan damai. Pikirannya seketika menjadi jernih.


'Apa sebegitu senangnya aku pada pedang?'


Mungkin seperti inilah dirinya dulu, sama-sama menyukai pedang dan sihir. Dan kemudian, di saat mata merahnya menelisik pedang indah itu, tertangkap sebuah kalimat pada bilahnya, bertuliskan nama seseorang. Samar-samar ia mengingatnya. Lantas kenangan bersama beberapa orang masuk ke kepalanya.


"Stella! Meskipun dia mantan tunanganmu, aku harap kau tidak datang ke pernikahan si b*r*ngs*k itu! Oke?!"


"Kita bolos kelas, yuk! Biarkan saja Kak Larson dan Kak Eliza yang belajar. Toh, kita tidak akan mewarisi takhta."


"Dosen Stella! Hari ini Andre membual kalau dia akan menikahi Anda, loh!"


"Queen Ellia, ada klien yang ingin bertemu secara pribadi denganmu. Katanya misi ini berkaitan dengan para ******* yang mengacaukan pesta pertunangan Pangeran Mahkota dua hari yang lalu."


Orang-orang yang khawatir dan tersenyum padanya, latar tempat yang asing namun indah, serta suasana di setiap kenangan itu yang terasa sangat nyata mengusik pikiran Stella. Ia tidak begitu ingat detailnya, tapi nama "Stella Elliathania Elliot Evergard" membuatnya mengingat satu hal.


Bahwa jiwanya berasal dari dunia lain.


Dan saat ini ia hidup di tubuh orang lain.


Juga fakta bahwa tidak ada yang tahu hal ini selain dirinya.


"Hmm."


Pandangan Stella turun, menatap pedang yang ada di tangannya, lalu ia menyimpan kembali pedang itu di sihir penyimpanannya.


Ia pun beranjak turun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju sebuah cermin. Pantulan cermin itu menampilkan seorang gadis muda yang cantik seperti boneka, memiliki rambut pirang emas dan mata merah delima yang indah.


"Thev."


Pooff!


Panggilan mendadak itu memunculkan asap hitam kebiru-biruan di samping Stella. Seekor naga kecil berwarna hitam mengepakkan sayapnya di samping sang putri.


"Akhirnya kau ingat namaku," ucap naga kecil itu senang. "Apa sekarang kau juga sudah ingat siapa aku?"


"Sedikit. Aku ingin kau memberitahuku apa yang sudah terjadi selama ini."


...―――...


"Selamat pagi, Stella."


Dhemiel menyapanya ketika ia memasuki ruang makan. Anak laki-laki itu tersenyum cerah. Stella balas tersenyum dan duduk di kursinya.


"Selamat pagi juga, Kak."


Tepat setelah itu, deretan pelayan masuk sambil membawa hidangan makanan, dimulai dari appetizer, main course, sampai dessert. Mereka mulai menyajikan makanan hingga meja panjang itu penuh dengan piring-piring makanan lezat.


Stella mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi yang biasanya menjadi tempat duduk ayahnya. Kursi itu kosong bahkan sampai semua hidangan makanan sudah disajikan, padahal biasanya ayahnya selalu datang lebih dulu sebelum ia dan Dhemiel.


"Di mana Ayah?" tanya Stella dan Dhemiel bersamaan.


Kepala pelayan Istana Evercius, Arnold, menjawab dengan sopan, "Yang Mulia Raja tidak bisa menghadiri sarapan bersama hari ini. Beliau ada pertemuan penting dengan Master Menara Sihir."


"Master Menara Sihir...," gumam Stella sambil mengangguk. "Kalau begitu, Ayah sekarang bertemu dengan Hilon?"


"Benar, Tuan Putri."


'Hilon, ya.'


Hilon adalah pemilik Menara Sihir sekaligus guru sihir Azalea. Kakek berambut putih itu sudah pernah ditemui Stella beberapa kali. Dia ramah dan menyenangkan, hanya saja dia terlalu terobsesi dengan mana sihir Stella. Pernah suatu ketika ia meminta sehelai rambut Stella secara terang-terangan, itu pun di depan Raja Shavir.


Alhasil salah satu bangunan di Menara Sihir runtuh dan saat ini sedang direnovasi. Yah, Stella juga senang dengan tindakan ayahnya. Jujur saja ia sangat muak saat kakek penyihir itu membuntutinya selama beberapa hari hanya untuk mendapatkan sehelai rambutnya.


'Kalau Ayah berurusan dengan Hilon, berarti terjadi sesuatu di Penjara Sihir. Apa mungkin...?'


Stella menepis pikiran buruknya secepat kilat. Ia mulai sarapan sambil terus mengkhawatirkan hal buruk itu.


'Bisa gawat kalau orang itu kabur dari Penjara Sihir.'


...―――...


"Jadi, dia kabur, ya."


Raja Shavir berucap dingin, mengerutkan alisnya. Kedua tangannya yang di atas meja mengepal erat. Sepasang mata ungunya berkilat marah.


"Sialan," umpatnya kesal.


Hilon berkeringat ketika menyaksikan amarah sang raja. Ia segera berlutut dengan satu kaki. "Saya minta maaf, Yang Mulia," ujarnya penuh penyesalan. "Saya tidak bisa mengawasinya dengan ketat. Saya bersalah. Tolong hukum saya."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Hilon berdiri dan tersenyum lega, sementara Raja Shavir memijit pelipisnya. Kekesalan menggerogoti hatinya.


Beberapa saat lalu ia mendapat kabar bahwa pria baj*ngan yang melukai putrinya tiga tahun lalu menghancurkan Penjara Sihir dan menghilang. Tepat pada saat itu yang bertugas mengawasi adalah penyihir senior dan bukannya Master Menara Sihir.


Tak disangka bahwa segel sihir milik Raja Evergard ke-1 dihancurkan berkeping-keping. Hal itu sama saja dengan menyiratkan bahwa pria itu sangat kuat sehingga tidak bisa ditemukan di mana pun meskipun dicari ke seluruh penjuru negeri.


'Awas saja kalau baj*ngan itu berulah lagi dan melukai anak-anakku,' batin Raja Shavir berapi-api.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu yang terdengar membuyarkan pikiran pria berambut hitam itu. Ia menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Hilon.


"Masuk."


Klek.


Pintu terbuka dan menampilkan seorang anak perempuan berambut pirang di ambang pintu. Gaun merah muda yang membalut tubuhnya membuatnya tampak seperti peri bunga.


"Ayah!" panggil Stella sambil tersenyum cerah. Ia lantas berlari ke arah Raja Shavir dan melompat ke pelukan pria itu. "Aku kangen Ayah!"


Melihat putrinya bergelayut manja padanya, Raja Shavir tersenyum tipis. Ia memangku Stella dan bertanya, "Ada apa? Biasanya di jam segini kau dan Dhemiel bermain di taman."


"Ini karena Ayah tidak datang buat sarapan bersama!" jawab Stella sambil cemberut. "Aku dan Kakak jadi makan berdua saja. Stella sedih."


"Maaf. Hari ini tidak bisa," ucap Raja Shavir sambil menghela napas, merasa bersalah. Tatapannya menjadi lunak. "Tapi kita bisa makan malam bersama."


"Terus kalau makan siang?"


"Tidak bisa juga. Hari ini ada rapat dengan para bangsawan."


Mata merah Stella memicing curiga. "Ayah benar-benar ada rapat penting dengan mereka atau rapat penting dengan para pelayanku?" tebaknya yang mirip tuduhan.


Raja Shavir tersentak. "Mana mungkin," elaknya dengan alami. "Memang kenapa aku harus rapat dengan para pelayan putriku?"


"Apa lagi kalau bukan tentang ulang tahunku. Ya, 'kan?"


"...."


Pria itu tidak bisa berkata-kata karena yang diucapkan putrinya adalah kebenaran. Ia menghela napas pasrah. Kepekaan putrinya memang patut diacungi jempol.


"Ya. Itu benar."


"Aku sudah bilang tidak perlu pesta ulang tahun yang mewah. Biasa-biasa saja juga tidak masalah," ujar Stella seperti orang dewasa.


Namun Raja Shavir menolak dan menanggapi dengan serius, "Tidak bisa. Tahun lalu kita 'kan sudah mengadakan pesta ulang tahun tertutup. Tahun ini harus terbuka."


"Sebenarnya yang ulang tahun Ayah atau aku, sih... kenapa pendapatku tidak didengar, ya?"


"Kau. Tapi biarkan aku pamer pada raja-raja lain."


"Pamer anak kok bangga."


"Kau tidak tahu saja kalau ayah-ayah menyebalkan dari kerajaan lain itu memamerkan anak-anak atau menantu mereka pada ayahmu ini."


"Dan kenapa Ayah malah terpengaruh sama mereka?"


"Soalnya mereka bilang tidak ada yang bisa menandingi kecantikan dan keimutan putri mereka. Mereka juga bilang kalau putra mereka pintar, berbakat, dan sangat tampan. Padahal 'kan tidak ada yang bisa menandingi Dhemiel dan Stella-ku. Aku tidak terima. Ini penghinaan," jelas Raja Shavir panjang lebar.


"Wah... ternyata Ayah bisa cerewet juga."


"Itu pujian atau bukan?"


'Eng, anu, apa fungsi saya di sini?' batin Hilon miris, seketika menjadi debu.


Selagi pasangan ayah dan anak itu berdebat hal tidak berguna, suara pintu diketuk terdengar dan langkah kaki beberapa orang memasuki kantor sang raja.


Buk!


Perhatian Raja Shavir dan Stella mengarah ke sumber suara, begitu juga dengan Hilon. Betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang pria berambut merah gelap tergeletak di lantai dengan rantai sihir yang mengikat tubuhnya.


"Lihat orang ini, putraku. Aku menangkapnya bersama Leonard." Suara seorang pria tua yang akrab memasuki indera pendengar Raja Shavir. Tawa renyah keluar dari mulutnya. "Jadi orang ini yang sudah melukai cucu-cucu kesayanganku?"


"...."


"...."


"Hei. Apa-apaan reaksi kalian," gerutu Zayden kesal.


"Orang ini dengan mudahnya menghancurkan Penjara Sihir dan segel sihir Raja Evergard ke-1...," gumam Hilon kosong. Ia menatap takjub ke arah Zayden. "Dan Yang Mulia Raja terdahulu dengan mudahnya menangkapnya?"


'Tahu begitu ngapain aku harus diam di sini dan membatalkan sarapan pagi bersama anak-anakku,' batin Raja Shavir sebal.


―――――――――――――――


*Appetizer: hidangan pembuka.


*Main course: hidangan utama.


*Dessert: hidangan penutup.


welcome to holiday, yeay~~~ ✧◝(⁰▿⁰)◜✧


udah bagi raport? aku udah sabtu lalu dan sekarang lagi libur. semangat buat yg bagi raport di bulan januari~


maaf ceritanya bikin bosen, makasih buat yg masih simpan di favorit, makasih buat yg masih baca, makasih buat yg masih vote, makasih buat yg masih komen, dan makasih banget buat yg masih nungguin update.


big love to you my readers♥️♥️


3 chapter lagi menuju 100 chapter (ꈍᴗꈍ)


TBC!