
Keesokan paginya, Jesriel datang menemui Stella.
"Selamat pagi, muridku yang cantik!"
Ketika Jesriel melihat Stella keluar dari kamarnya, dia segera menyapa sambil tersenyum lebar.
"Apakah semalam tidurmu nyenyak?" tanyanya, berbasa-basi.
"Selamat pagi juga, Guru," balas Stella sambil berjalan menghampiri Jesriel. "Ya, aku tidur nyenyak."
Setelah itu, Stella mengajak Jesriel sarapan pagi bersamanya, tetapi Jesriel menolak dan mengatakan bahwa dia sudah sarapan di rumahnya. Alhasil, Stella sarapan pagi seorang diri di ruang makannya, ditemani Suzy yang berdiri di sampingnya, sedangkan Jesriel menunggunya di tempat pelatihan pedang.
Setelah selesai sarapan, Stella bangkit dari tempatnya. Tatapannya mengarah pada Suzy, kemudian dia berpesan pada pelayan pribadinya itu.
"Kalau Xylia dan Zhio datang lagi, katakan pada mereka bahwa aku sedang tidak ingin diganggu."
"Baik, Tuan Putri," balas Suzy sambil mengangguk, lalu dia berpikir sambil berucap, "Tuan Putri, jika Pangeran Dhemiel yang datang, apa yang harus saya lakukan?"
"Katakan padanya kalau aku sudah mati," jawab Stella tanpa berpikir panjang.
Mendengar jawaban Stella, Suzy terkaget, kemudian tersenyum canggung.
"A-ah .... Ba-bagaimana mungkin saya mengatakan itu...?"
Suzy tergagap. Jika sang pangeran datang, maka tidak mungkin jika dia harus mengatakan seperti yang dikatakan Stella. Bisa jadi kepalanya langsung terpisah dari tubuhnya saat itu juga.
"Kalau begitu, katakan padanya kalau aku sedang sibuk."
Setelah berkata demikian, Stella melangkah pergi menuju tempat pelatihan pedang, meninggalkan Suzy yang sedang termenung.
Sesampainya di sana, Jesriel segera menghampirinya. Raut wajahnya masih cerah seperti biasanya.
"Aku punya kabar baik!" ucap Jesriel dengan nada bersemangat.
Stella, yang hendak mengambil pedang yang biasa dipakainya ketika latihan, seketika menatap Jesriel.
"Ada apa, Guru?"
"Jadi begini, senjata yang kau pesan di toko Tuan Rielle waktu itu sudah siap. Sebentar lagi, Tuan Rielle akan mengirimkan senjata pesananmu kemari," jawab Jesriel, mengejutkan Stella.
"Benarkah?"
"Ya!" jawab Jesriel dengan seruan. "Dengan begitu, kau bisa mencobanya langsung. Oh, atau haruskah kita mengadakan duel?"
"Duel?"
"Ya. Duel ini untuk menguji senjata barumu. Aku dan kau akan bertarung."
Kata "bertarung" membuat sudut bibir Stella naik, menampakkan senyum miring. Setelah cukup lama berada di dunia buku dongeng ini, Stella tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat atau menguras tenaga, terutama bertarung dengan seseorang. Oleh karena itu, ketika mendengar tantangan dari Jesriel, Stella merasa bahwa inilah saatnya dia menguji bakat berpedangnya.
"Baiklah. Ayo kita bertarung setelah senjataku datang," balas Stella, menyetujui tantangan Jesriel.
Mendengar balasan muridnya, Jesriel tersenyum.
"Hehe. Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik," katanya dengan riang.
Terselip nada kepuasan di dalam kalimatnya.
Setelah itu, Stella melakukan pemanasan sebelum melakukan latihan berpedangnya. Sekitar lima belas menit kemudian, seorang pelayan wanita mendatanginya. Rambutnya berwarna merah gelap dengan mata berwarna hitam. Dia adalah Bonnie, salah satu pelayan yang dekat dengan Suzy. Menurut penjelasan Suzy, Bonnie adalah seorang pelayan yang juga berasal dari Istana Everlexa, tempat di mana Suzy dan Bonnie bekerja sebelum dipindahtugaskan ke Istana Everstell.
Awalnya, hanya Suzy yang berasal dari istana sang ratu, sedangkan para pelayan dan pengawal lainnya adalah orang-orang baru yang direkrut oleh kepala pelayan Istana Evercius.
Namun, baru-baru ini, Bonnie, yang diketahui menghilang bersama Alexa ketika wanita itu melahirkan, tiba-tiba muncul dan meminta diperkerjakan di Istana Everstell. Tidak ada yang tahu mengapa dia memilih bekerja di Istana Everstell.
Ketika Bonnie meminta diperkerjakan di Istana Everstell, Stella merasa curiga dengan niat gadis itu. Tetapi tidak lama kemudian, dia mengetahui alasan mengapa Bonnie ingin bekerja di istananya.
Itu karena sang ratu memintanya kembali ke Kerajaan Evergard dan menjaga anak perempuan satu-satunya ketika dia tidak ada di sisi anak itu.
Itu adalah permintaan terakhir Alexa sebelum orang-orang misterius dan tidak dikenal menyerang Istana Everlexa ketika sang raja sedang pergi berperang.
...―――...
"Maaf mengganggu waktu latihan Anda, Tuan Putri," ucap Bonnie dengan nada bersalah, dia menundukkan kepalanya.
"Katakan," balas Stella dengan singkat, berusaha mengacuhkan Bonnie seperti dia mengacuhkan keluarganya.
Namun sejujurnya, ada banyak pertanyaan di benak Stella untuk diajukan pada Bonnie, mengingat bahwa wanita itu pernah melayani ibunya di dunia ini. Selain itu, Stella ingin mengonfirmasikan sesuatu, apakah ibunya di dunia ini sudah tiada atau tidak.
"Begini, Tuan Putri. Seorang pria datang ke Istana Everstell, katanya dia datang karena mengantarkan pesanan Tuan Putri," jawab Bonnie, setelah itu menatap Stella dengan pandangan khawatir. "Apakah Tuan Putri memesan sesuatu?"
Dia khawatir jika orang itu berniat melukai Stella.
"Oh, itu pasti Paman Rielle," gumam Stella, kemudian memberi perintah pada Bonnie. "Biarkan orang itu masuk. Dia adalah tamuku."
"Syukurlah kalau begitu."
Ada ekspresi lega di wajah Bonnie, dia mengembuskan napas pendek.
Setelah itu, Bonnie membungkuk dan pergi menjalankan perintah Stella. Namun, Stella menghentikannya.
"Bonnie."
Bonnie berbalik.
"Ya, Tuan Putri?" balasnya, bingung.
"Tidak usah meminta Paman Rielle menunggu di ruang tamu. Ajak dia ke sini."
"Oh...."
Bonnie tampak berpikir, apakah dia harus membiarkan orang asing itu datang ke tempat latihan berpedang tuannya atau tidak. Tetapi kemudian, ketika dia melihat Jesriel berada di sekitar tuannya, Bonnie menjadi lega.
Dia pun membalas sambil mengangguk ringan, "Baik, Tuan Putri."
Lalu Bonnie berlalu pergi. Tak lama setelah kepergian Bonnie, seorang pria paruh baya datang sambil membawa sesuatu yang ditutupi kain di tangannya. Rambut dan matanya yang berwarna cokelat membuat Stella langsung menebak siapa yang datang. Dia adalah Rielle, pemilik toko senjata yang didatanginya ketika ke ibukota bersama Jesriel.
"Selamat pagi, Tuan Putri."
Rielle menyapa Stella dengan sopan, dia membungkuk, sedangkan Stella bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa orang itu bisa mengetahui bahwa dia adalah seorang putri.
"Saya baru tahu kalau Anda adalah tuan putri negeri ini. Maafkan kelancangan saya sebelumnya," lanjutnya dengan senyuman.
Stella menatapnya, kemudian menggeleng.
"Tidak apa-apa. Itu salahku karena tidak memperkenalkan diri dengan benar," ucapnya dengan sopan.
Ketika Rielle menunjukkan kesopanannya, entah mengapa Stella menjadi canggung, mengingat bahwa sebelumnya dia dan Rielle berbicara dengan santai. Kemudian, pandangan Stella mengarah pada sesuatu yang ada dibawa Rielle.
"Apakah itu adalah senjata yang kupesan?"
"Oh?"
Rielle mengikuti arah pandang Stella, kemudian dia mengangguk dan tersenyum.
"Ya, ini adalah senjata yang Tuan Putri pesan. Silakan dilihat dan dicoba," katanya dengan ramah.
Setelah itu, Rielle membuka kain yang menutupi senjata itu, hingga tampaklah sebuah pedang dengan bilah panjang yang ramping. Di bagian gagang pedang itu ada sebuah pita berwarna biru disertai dengan ornamen seperti es, di situ juga ada sebuah ornamen kepala tengkorak berukuran kecil yang melekat di sana. Pedang itu tampak indah dengan warna hitam dan biru yang dipadukan menjadi satu. Stella bahkan tidak bisa berkata-kata ketika melihat senjatanya sendiri.
"Astaga...!"
Terdengar seruan dari arah belakang Stella. Rielle maupun Stella serentak menoleh ke asal suara, mendapati Jesriel menatap senjata yang dipesan Stella dengan wajah terkejut sekaligus berseri-seri.
"Pedang itu cantik sekali! Sangat sesuai dengan Tuan Putri yang merupakan seorang putri kerajaan. Kerja yang bagus, Tuan Rielle!"
Rielle semakin tersenyum lebar ketika mendengar pujian yang dilontarkan Jesriel.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Jesriel."
Setelah itu, Stella mengambil pedang yang ada di tangan Rielle, kemudian mencobanya.
'Wow, pedang ini sangat ringan,' batin Stella sambil mengayunkan pedangnya beberapa kali, setelah itu dia tersenyum puas. 'Dengan adanya pedang ini, rencana keduaku selesai.'
"Bagaimana?"
Rielle bertanya pada Stella, membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Apakah senjatanya sesuai dengan keinginan Anda?"
"Ya, aku sangat suka pedang ini!"
Stella menjawab sambil tersenyum gembira. Rielle dan Jesriel yang melihat senyuman itu seketika terdiam, terpesona.
"Kalau begitu, Guru, ayo kita adakan duel!"
"Oh? Ap-apa?"
Jesriel tersadar ketika mendengar Stella memanggilnya. Dia pun menatap Stella sesaat, kemudian tersadar.
"Oh, benar! Ya, ya, ayo kita adakan duel!"
Setelah itu, duel antara Stella dan Jesriel pun terjadi, sedangkan Rielle menyaksikan keduanya berduel sekaligus menjadi juri.
――――――――――――――
hari ini hari senin, kan? masih jadwal ROTPP update dong~ aku up skrng karena aku gk tahu apa senin depan kuotaku masih ada atau gk :D
oh ya, makasih untuk semua dukungannya💖💖💖 berkat kalian, aku bisa nyelesain bab 35 dan 36, walaupun skrng aku belom bisa buat bab 37 gara2 sakit, hiks🤒🤧 semoga cepet sembuh, deh, soalnya aku lelah banget gk bisa tidur gegara flu dan batuk😷 (untungnya gk demam/hehe)
dah cuma mau blng gitu aja. jngn lupa like, komen, dan vote ya!!😆💓
TBC! 🤒