
Stella tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Lilith di tempat ekstrem seperti ini. Tapi kenapa Lilith juga bisa ada di sini? Apakah dia masih berada di wilayah Evergard?
"Apa yang Tuan Putri lakukan di sini? Tidak, sebelum itu, kenapa Tuan Putri bisa ada di sini?"
"Ceritanya panjang," jawab Stella, lalu menunjuk pintu yang ada di belakangnya. "Aku datang lewat pintu itu."
"Tidak mungkin...."
Lilith memiliki ekspresi tercengang di wajahnya. Ia bergumam dengan wajah terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apakah Tuan Putri tahu ada di mana kita sekarang?"
"Aku tidak tahu."
Stella menggeleng. Dia baru saja tiba di sini, Barbiel juga tidak memberitahunya apa pun tentang tempat ini. Tapi melihat ekspresi serius di wajah Lilith yang selalu ceria, Stella bisa menebak bahwa ini adalah tempat rahasia yang diketahui oleh orang-orang tertentu, dan tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang.
'Ini membuatku penasaran. Tempat apakah ini?'
Segera, kata-kata yang datang dari mulut Lilith membuat Stella seperti tersambar petir.
"Sekarang kita ada di Pegunungan Aros, yang terletak di wilayah Kerajaan Sora."
Pegunungan Aros.
Nama itu terdengar akrab di telinga Stella. Ingatan saat dia membaca buku sihir tebal yang dibeli Dhemiel untuknya datang di pikirannya, di situlah nama "Pegunungan Aros" disebut.
'Itu artinya, aku bisa...!'
Pipi Stella bersemu begitu pikiran mengenai dia yang bisa membatalkan sihir mengubah warna mata dan rambut yang tertanam di tubuhnya muncul di benaknya. Jika dia berhasil mengembalikan penampilan aslinya, maka dia tidak perlu menggunakan batu kristal merah yang diberikan Rielle padanya.
Namun masalahnya, situasi itu juga akan membuat musuhnya bertambah menjadi berkali-kali lipat lebih banyak daripada musuh keluarga kerajaan. Bayangan kematian juga pasti akan selalu mengintainya. Selain itu, dengan tubuh anak kecil seperti ini....
Stella menunduk, menatap tubuhnya yang belum berkembang dengan ekspresi tidak puas.
... Dia akan sulit bertarung dengan orang-orang dewasa yang mengincarnya.
Stella mengepalkan tangannya dan bertekad.
'Aku harus tumbuh dulu, baru setelah itu mengembalikan penampilan asliku.'
"Tuan Putri?"
Stella tersentak, menyadari bahwa dia melupakan keberadaan Lilith sepenuhnya.
"Ya? Ada apa?"
Lilith memejamkan matanya, tampak berpikir. Setelah itu dia membuka matanya dan tersenyum cerah seraya berseru "Aha!" seolah-olah sebuah ide brilian muncul di pikirannya.
"Bagaimana jika Tuan Putri ikut denganku?"
"Ke mana?"
"Tentu saja ke tempat tinggalku di Sora! Bermalamlah di sana, lalu esok paginya ayahku akan mengantar Tuan Putri pulang―"
"Tidak!"
Stella langsung menghentikan ucapan Lilith dengan teriakan. Dia sudah bersusah payah sampai di sini, tidak mungkin jika dia kembali lagi dengan perasaan sedih dan kesal bercampur aduk.
"Ah? Ya?"
"Aku tidak ingin pulang," kata Stella dengan tegas.
"Tapi, kenapa?"
Lilith menatapnya dengan mata berair, disertai dengan wajah khawatir yang membuat Stella terganggu.
"Apakah Tuan Putri sedang ada masalah? Ah! Atau jangan-jangan ... Tuan Putri kabur dari ... istana?!"
"... Kira-kira begitu."
"Tap―"
"Jangan tanya kenapa."
"Baik...."
Lilith tampak ragu-ragu ketika mengucapkan kalimat itu. Ekspresinya terlihat sangat jelas bahwa dia ingin bertanya alasan mengapa Stella pergi dari istana, tapi dia menahan diri untuk tidak bertanya dengan cukup baik.
"Kita bertemu lagi, Lili."
Stella sengaja mengalihkan topik pembicaraan, Lilith yang mendengarnya langsung menatapnya dengan gembira. Rona merah terlihat di wajahnya.
"Iya, Tuan Putri!" balasnya dengan riang.
'Aman. Situasi terkendali,' pikir Stella dengan wajah puas.
―――
"Ini adalah rumahku di Sora."
Setelah menuruni pegunungan bersalju selama berjam-jam, lalu menaiki kereta kuda, Stella akhirnya sampai di kediaman Count Nidlock yang juga ada di Kerajaan Sora. Bangunan mewah di depannya terlihat sangat tinggi seperti menara-menara kaca yang disejejerkan. Ornamen-ornamen bersalju menghiasi dinding-dinding bangunan kaca dengan warna-warna cerah yang beraneka bentuk. Boneka-boneka salju setinggi Stella ditata dengan rapi di kedua sisinya, membentang seperti Laut Merah.
Stella tidak bisa tidak menunjukkan kekagumannya. Dibandingkan dengan istananya yang dihiasi bunga-bunga hias beraneka ragam dengan warna-warna cerah, rumah di depannya tampak seperti istana ratu salju.
"Ayo masuk, Tuan Putri."
"Ya."
Lilith menuntun Stella memasuki tempat itu. Para kesatria yang berdiri di kedua sisi pintu masuk menyapa mereka sambil membungkuk hormat, sesaat kemudian mereka terkejut ketika menatap Stella yang ada di samping Lilith, setelah itu mereka berlutut dengan satu kaki.
'Ini berlebihan.'
Tidak peduli setinggi apa pun statusnya di istana, dia hanya seorang putri, bukan seorang raja. Menerima perlakuan para kesatria yang berlutut dengan hormat padanya seperti itu ... rasanya seolah-olah dia adalah penguasa Evergard.
'Mengeluh pun tidak ada gunanya. Kesetiaan tulus para kesatria adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikan.'
'Tidak apa-apa. Rasanya juga memuaskan.'
"Silakan duduk dulu, Tuan Putri."
Memasuki rumah Lilith, Stella dipersilakan duduk dan disuguhkan berbagai camilan indah yang ditata rapi.
"Ini adalah kue kesukaanku, Tuan Putri. Tuan Putri juga harus mencoba ini."
Lilith duduk di sampingnya dan memberitahukan apa saja makanan kesukaannya dengan semangat.
"Aku tidak tahu Tuan Putri menyukai makanan seperti apa, jadi semoga makanan yang kusiapkan sesuai dengan selera Tuan Putri."
Melihat Lilith yang dengan polos memberikannya banyak makanan manis, Stella tersenyum pahit di dalam hatinya.
'Sayangnya ... aku tidak suka makanan manis. Tapi....'
"Baik. Akan kucoba."
"Selamat dinikmati, Tuan Putri!"
Lilith tersenyum senang sambil terus menatap Stella, yang sedang memasukkan kue bolu cokelat ke mulutnya.
"Bagaimana rasanya, Tuan Putri?" tanya Lilith dengan penuh harap.
"Tidak terduga."
Lilith bertanya dengan gugup, terbata-bata, "A-apakah tidak enak? Su-sungguh tidak enak?"
"Ini enak. Aku menyukainya."
"Sungguh?! Wahhh! Aku sangat senang!"
Lilith tersenyum gembira sambil bersorak ria.
"Aku pikir Tuan Putri tidak akan suka."
"Aku juga berpikir begitu."
Karena Lilith menawarinya makan makanan manis dengan tulus, Stella tidak bisa menolaknya. Sungguh tidak terduga bahwa makanan manis yang disuguhkan Lilith sesuai dengan seleranya. Rasa manis dari gula dalam bolu cokelat itu sangat rendah, rasa cokelatnya sangat mendominasi sehingga tidak terlalu manis, juga dicampur susu vanila kental yang menjadi selai bolu itu.
"Di mana kau membeli ini?"
"Ini dibuat langsung oleh ibuku. Rasanya benar-benar enak, 'kan?"
"Aku setuju denganmu."
Stella kembali memasukkan bolu itu ke mulutnya dengan ekspresi gembira. Lilith juga ikut makan di sampingnya sambil mengobrol dengannya. Mereka saling bercakap-cakap santai hingga suara seorang pria paruh baya menghentikan percakapan mereka.
"Lilith. Kau sudah pulang, Nak?"
"Iya, Ayah. Aku juga datang bersama Tuan Putri."
"Tuan ... Putri? Astaga, Tuan Putri!"
Seorang pria tinggi dengan rambut cokelat muda bergelombang terlihat di mata Stella.
'Dia pasti ayah Lilith.'
Count Nidlock, yang memastikan bahwa anak perempuan yang dibawa putrinya adalah sang putri, segera menyapa Stella dengan hormat.
"Selamat datang di rumah kami, Tuan Putri."
"Iya."
"Tapi, kenapa Tuan Putri bisa ada di sini?"
Lilith segera menjawab pertanyaan ayahnya, "Ceritanya panjang, Ayah. Tapi bisakah Tuan Putri menginap di sini?"
"Tentu saja."
Ekspresi Lilith menjadi semakin cerah dalam sekejap.
"Terima kasih, Ayah!"
"Ini bukan masalah besar. Ah, ya. Sekarang sudah saatnya jam makan siang. Bagaimana jika Tuan Putri ikut makan bersama kami?"
"Ayah yang terbaik!"
"Hoho. Tentu saja, Lili."
Melihat mereka yang tertawa bahagia, Stella merasa bahwa dia berada bermil-mil jauhnya dari Lilith, seolah-olah dia dan Lilith berada di dunia yang berbeda. Dunia tempat Lilith dilahirkan sangat cerah dan hangat, sedangkan dunianya sangat suram dan dingin. Kehidupan mereka sangat bertolak belakang.
"Tuan Putri?"
"Ah, ya?"
"Ayo ikut denganku."
"Iya."
Lilith menggandeng tangan Stella tanpa ragu, seolah sudah terbiasa. Ia membawanya menuju ruang makan. Seorang wanita paruh baya sudah menunggu kedatangan mereka dengan senyum ramah.
'Kau beruntung, Lili.'
Tanpa sadar Stella menatap Lilith dengan iri.
'Jika nanti jalan cerita buku dongeng itu berjalan sesuai alurnya padahal aku sudah mengubah alurnya begitu banyak, maka tidak ada yang bisa kulakukan.'
Kemungkinan rencananya mencari jiwa Putri Stella yang asli akan terhambat.
――――――――――――――
TBC!