Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety Three (93)


πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-76πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨


...―――...


"Tuan Putri, ini bronis kesukaan Anda!"


"Ini teh hijau yang selalu Anda minum, Tuan Putri!"


"Saya membawa banyak buku baru hari ini, Tuan Putri! Anda, 'kan, suka membaca."


Para pelayan mengerumuni putri kecil itu sambil memberikan barang-barang yang mereka bawa.


Meja putih yang ada di taman dalam sekejap diubah menjadi ruang belajar. Tumpukan buku sihir dan kertas serta pena bertinta hitam ditaruh oleh Suzy di sana. Bonnie membawa bronis cokelat berkacang sedangkan Luca menyajikan teh hijau untuk Stella. Mereka bekerja dalam waktu singkat.


Stella kagum dalam hati kala melihat mereka bekerja tanpa mengganggunya dan sangat rapi. Ia memang bertekad mencurigai semua orang yang berhubungan dengannya, namun entah kenapa ketiga pelayan itu menghadirkan perasaan senang dan hangat di hatinya.


'Mereka mungkin tidak tahu apa-apa tentang kenapa ingatanku bisa hilang.'


Selepas kepergian ketiga pelayannya, Stella menyetujui ucapannya sendiri. Dia berpikir bahwa bisa saja pelayan-pelayan terdekatnya diberitahu oleh raja atau pangeran bahwa ia hilang ingatan, namun pasti tidak dijelaskan kenapa ingatannya bisa hilang.


'Karena mereka hanya pelayan.'


Alasan itu sudah cukup untuk membuat mereka tidak diberitahu apa-apa.


'Dan pasti Ayah menyuruh mereka bersikap alami sambil merawatku.'


"Ya sudahlah. Mereka tidak perlu aku selidiki," ucap Stella seraya mengambil kertas dan pena, lalu menulis daftar orang-orang yang harus dia selidiki.


Ia baru membuatnya sekarang karena disibukkan oleh masa pemulihan. Kemudian Stella berhenti menulis ketika melihat hasil tulisannya.


"Tunggu, tulisan apa ini?"


Ada huruf-huruf aneh yang terlihat simpel di kertas itu. Saat itu kening Stella berkerut. Selama masa pemulihan, ia banyak berdiam di kamar dan menghilangkan kebosanannya dengan membaca buku. Dan huruf-huruf rumit yang biasanya ia lihat di buku berbeda dengan huruf-huruf simpel yang baru saja ia buat.


"Tapi kok bisa aku baca?"


Stella memiringkan kepalanya sambil berpikir. Ia tidak mungkin salah kalau batin hatinya bisa membaca huruf-huruf itu dan pikirannya mengerti apa arti huruf-huruf tersebut. Bahkan tangannya sendiri yang menulis dengan huruf seperti itu, seolah terbiasa.


"Apa tulisan ini semacam kode yang aku buat dulu?" Tebakannya mulai melenceng, tapi anak perempuan itu mengangguk serius seolah menganggap bahwa itu benar. "Iya. Bisa jadi. Sepertinya cuma aku yang bisa baca."


'Bukankah ini bagus?'


Senyum lebar mulai mengembang di wajah manisnya.


'Aku yang dulu sangat brilian!'


Stella pun menulis semua kecurigaan dan dugaannya dengan semangat membara. Tangannya bergerak lincah di atas kertas. Terkadang ia sendiri berdecak kagum dengan kehebatan menulisnya. Semuanya berjalan lancar, sampai seseorang datang.


"Tuan Putri."


Gerakan tangan Stella berhenti. Kertas berisi tulisannya segera ia sembunyikan di bawah kertas lain dengan alami. Lalu ia menaruh pena dan tersenyum.


"Halo!"


"Senang bertemu dengan Anda juga. Saya memberi hormat pada Tuan Putri Stella. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."Β 


Orang yang memberi salam adalah pria berambut biru muda yang memakai seragam kesatria. Stella sudah mengenalnya kemarin. Dan dia termasuk ke dalam daftar orang-orang mencurigakan miliknya.


"Yang Mulia Raja memanggil Anda. Saya akan mengantar Anda ke sana," ucap Creed dengan senyum lembut.


"Sekarang?"


'Padahal dia, 'kan, bisa ke sini.'


Stella mengeluh di dalam hati. Ia juga tidak tahu kenapa ia merasa enggan bertemu dengan ayahnya sendiri.


"Benar, Tuan Putri. Sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan."


"Kalau begitu aku mau ketemu Ayah sekarang!"


'Untuk sekarang senyum dulu saja, deh.'


Stella merapikan kertas-kertas di atas meja lalu melompat turun dari kursinya. Ia berjalan lebih dulu diikuti Creed menuju kantor sang raja.


...―――...


Tok, tok.


Suara ketukan terdengar dari arah pintu.


"Yang Mulia, Tuan Putri sudah datang."


"Masuklah."


Pintu kantor terbuka, memperlihatkan desain ruangan yang tertata rapi dan memberi kesan nyaman daripada mewah. Di tengah ruangan yang menghadap pintu, seorang pria duduk, dikelilingi tumpukan kertas-kertas di kedua sisinya.


"Ayah!"


Sepasang kaki kecil Stella berlari menuju Raja Shavir. Wajahnya tersenyum riang seperti biasanya. Gaunnya yang bertema bunga alamanda membuatnya tampak seperti anak ayam yang berlari ke arah induknya.


"Kemarilah, Stella."


Stella mendekat, lalu Raja Shavir mengangkat anak perempuan itu dan menempatkannya di pangkuannya.


"Ayah, Ayah. Kenapa Ayah mencariku?" Stella bertanya dengan polos dan mengedipkan mata merahnya, kemudian berpura-pura tertarik pada kertas-kertas yang ada di meja. "Ini pekerjaan Ayah? Uwah, banyak."


"Iya. Ini pekerjaanku. Dan ada yang harus aku berikan."


Salah satu tangan Raja Shavir menjangkau rak yang ada di mejanya lalu membukanya. Suara rak yang ditarik terdengar dan di dalamnya terlihat sebuah buku merah muda.


Raja Shavir mengambil buku itu dan memberikannya pada Stella.


"Ini."


Stella menerimanya, menatap buku itu lalu beralih ke ayahnya. "Buku dongeng?"


Stella menatapnya bingung, namun tidak berani bertanya karena tidak tahu harus mengatakan apa. Buku bersampul merah muda di tangannya memang terlihat familier, tapi ia tetap tidak tahu buku apa ini.


Raja Shavir, yang memperhatikan gerak-gerik Stella yang terus-menerus menatap buku merah muda itu tanpa berkata apa-apa, lantas berucap, "Ibumu bilang ini "Buku Takdir"."


'Buku Takdir?'


Sebutan aneh itu melekat di kepala Stella. Baru kali ini ia mendengar nama buku yang sangat aneh. Bukan buku dongeng, novel, buku harian, ataupun buku catatan, tetapi Buku Takdir?


Saat itu, kepalanya terasa berdenyut karena rasa sakit yang tiba-tiba muncul.


"Ugh!"


Stella mengerang sambil memegang kepalanya.


"Stella? Stella!"


Suara panggilan dari seseorang yang sepertinya adalah Raja Shavir sama sekali tidak masuk dalam panca indranya. Semuanya terhalang oleh sebuah suara lembut yang menguasai pikirannya.


"Cucuku."


Rasa sakit yang lebih menyakitkan mengguncang kepalanya. Rasanya seolah-olah benda tumpul menghantam kepalanya. Wajah samar-samar dari seorang pria berjanggut seketika terbayang di pikirannya.


"Hari ini, buku ini adalah milikmu, jagalah baik-baik."


Lalu terdengar suara retakan kecil di dalam ingatannya.


'Sakit!!'


Ingatan di mana seorang pria berambut hitam berteriak memanggil namanya dengan panik adalah kesadaran terakhir Stella sebelum dia jatuh dalam kegelapan.


...―――...


"Nak."


Terdengar suara manis dan hangat seseorang dari sampingnya. Belaian lembut di kepalanya membangunkan Stella dari pingsannya. Matanya yang belum sepenuhnya terbuka mengamati sekeliling.


"Cepatlah sembuh. Supaya kita bisa segera bertemu."


Suara itu terdengar lagi. Akhirnya Stella mengerjapkan matanya dan buru-buru bangun. Mata merahnya terbuka seutuhnya ketika berhadapan dengan seorang wanita yang duduk di sampingnya. Mata biru bagai permata wanita itu membentuk bulan sabit ketika ia tersenyum.


"Ibu senang bertemu denganmu walau hanya di mimpi, putriku tercinta."


'Ibu...? Ibu...! Ibuku?!'


Napas Stella tidak beraturan. Degup jantungnya tiba-tiba menggila. Ia memandang wanita di sampingnya intens. Semua perasaan terungkap di mata merahnya yang perlahan berkaca-kaca.


"I-ibu!"


"Iya, Nak. Ini Ibu." Wanita itu lantas memeluk Stella erat. Senyuman tulus terbentuk di wajahnya, sementara matanya menitikkan air mata. "Maaf baru bisa mengunjungimu sekarang. Ibu senang putri Ibu tumbuh besar."


"Ibu! Huuwaahh! Ibu!"


Entah karena alasan apa, air mata Stella tumpah dan mengalir deras. Kerinduan yang tidak bisa dijelaskan merayap masuk ke hatinya dan membuatnya emosional.


"Teruslah tumbuh sehat dan cepatlah sembuh. Dan tolong jaga Dhemiel untuk Ibu, ya? Lalu, jangan terlalu tertutup pada ayahmu. Coba buka pintu hatimu untuknya yang berusaha berubah. Bisa, 'kan?"


Itu adalah kata-kata dari seorang ibu yang hanya bisa bertemu dengan putrinya di dalam mimpi. Dalam sekejap, padang bunga yang sejuk berganti menjadi ruang kamar.


"Haah!"


Mata semerah delima milik Stella terbuka diiringi dengan napasnya yang tidak beraturan. Wajahnya terasa basah dan lembab karena air mata yang tumpah terlalu banyak dari kelopak matanya.


"Stella!"


Dua orang yang berbeda memanggil namanya dengan cemas. Sosok pria tinggi dan seorang anak laki-laki mendekatinya. Ekspresi khawatir di wajah mereka membuat Stella membisu.


"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?" Raja Shavir bertanya selagi tangannya menyentuh dahi dan leher putrinya, kemudian memanggil dokter. "Bawa para dokter! Cepat!"


"Ya, Yang Mulia!"


Seruan patuh seseorang terdengar dari luar ruangan sebagai balasan.


"Apa kepalamu sakit? Katakanlah sesuatu, Stella. Aku jadi cemas." Dhemiel panik sendiri dan mengguncang salah satu tangan adiknya, yang tentu saja tidak berefek bagi Stella karena guncangannya tidak terasa. "Kau dari tadi menangis tapi tidak bangun-bangun. Aku jadi panik dan Ayah sudah seperti orang gila."


"Kapan aku begitu?"


"Tadi. Ayah tidak ingat? Pembohong sekali."


"Kau tadi malah memaki-maki para dokter. Harusnya pangeran mahkota tidak bersikap seperti itu."


"Apa, sih. Aku lebih baik. Ayah malah mengancam penggal kepala mereka, 'kan?"


"...."


"Heheh. Aku menang."


Melihat interaksi santai di antara mereka, pikiran Stella menjadi kosong. Ucapan terakhir dari seseorang yang mengaku sebagai ibunya muncul di pikirannya. Perasaan gundah dan ragu mengisi hati nuraninya.


'Apa yang harus aku pilih....'


Tangan kecil Stella mengepal.


'Terus berpura-pura sayang pada mereka sambil diam-diam mencurigai atau... membuka hatiku untuk mereka dan benar-benar menyayangi mereka?'


Pilihan sulit itu menjadi bagian pertama dari kehidupan baru Putri Stella.


Musim semi ke-6 Stella datang dan berganti menjadi musim gugur yang ke-8. Waktu berjalan dengan cepat. Tiga tahun berlalu dengan singkat. Hari ini adalah lima belas hari sebelum ulang tahun Putri Pertama Kerajaan Evergard yang ke-9.


―――――――――――――――


maaf ga update untuk waktu yang lama. ternyata jadi anak SMA itu menyibukkan😭


TBC!