Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fifty One (51)


Di dalam sebuah kereta sederhana, ada Rielle dan Stella di sana. Rielle sedang berbincang dengan kusir kereta, yang merupakan salah satu anggota Eternal Flame. Sedangkan Stella, yang telah mengubah warna rambut dan matanya, sedang berpikir tentang aura Dewi Kematian yang dimilikinya.


Ada rumor yang beredar dan sangat dipercaya mengenai kekuatan yang dimiliki pemilik dari aura Dewi Kematian, salah satunya adalah dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati.


Stella tidak tahu apakah rumor itu benar atau tidak, karena dia tidak pernah mencobanya.


Aku ingin mencobanya. Tapi ... apakah ada risikonya?


Bagaimana jika risiko dari menghidupkan orang yang telah mati adalah pengurangan dua, tiga, atau empat tahun dari masa hidup Stella? Jika benar begitu, maka Stella tidak akan pernah menggunakan kemampuan itu.


Karena itulah, aku butuh buku tentang aura. Tapi, haahh, aku sangat lelah hari ini.


Stella menghela napas, kemudian merasakan ada yang berbeda dengan suhu napasnya.


Kenapa terasa panas?


Stella terdiam, kemudian mengembuskan napasnya, dan benar saja, napasnya terasa panas.


Apa aku demam?


Stella bertanya di dalam hatinya seraya menyentuh keningnya. Telapak tangannya segera merasakan rasa hangat menjalar di sana, menandakan kalau dia terkena demam.


Benar, aku demam.


Kalau dipikirkan kembali, beberapa saat yang lalu, Stella telah menggunakan hampir seluruh tenaganya untuk bertarung dengan anggota-anggota Eternal Flame dan para bandit hutan, jadi tidak heran jika Stella terkena demam karena kelelahan.


Tepat setelah itu, hidung Stella terasa gatal, dan bersin pun tak terelakkan.


"Ha―hatchiii!"


Ukh....


Stella mengusap-usap hidungnya hingga memerah. Alisnya mengerut sangat dalam. Penyakit yang tidak disukai Stella adalah flu dan demam. Itu karena dia tidak akan bisa tertidur dengan lelap karena hidungnya yang tersumbat dan harus bernapas melalui mulut.


"Aku ingin cepat pulaaang!"


Tanpa sadar, Stella mengucapkan isi hatinya, membuat Rielle terkaget dan segera menenangkannya.


"Iya, iya. Kita akan sampai sebentar lagi, jadi tolong bersabar...."


"Hnngg!"


***


Sekitar lima belas menit kemudian, kereta yang ditumpangi Stella sampai di depan gerbang Kerajaan Evergard. Stella segera turun dalam keadaan mata yang terasa panas. Kakinya terasa tidak kuat untuk melangkah, tetapi dipaksa melangkah oleh Stella. Tubuh Stella pun merasakan dingin yang teramat, membuatnya ingin sesegera mungkin tiba di kamarnya dan tidur dengan berbalut selimut.


Melihat Stella yang berjalan dengan terhuyung-huyung, Rielle merasakan keanehan. Dia pun menghampiri putri raja itu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas.


"Hn," Stella menjawab dengan suara yang tidak jelas, lantas meninggalkan Rielle yang kebingungan. "Pergilah," katanya sesaat kemudian.


"Tapi...."


"Aku tidak apa-apa."


"Baiklah...."


Mau tidak mau, Rielle menganggukkan kepalanya dan menaiki kereta seraya menatap Stella dengan tatapan khawatir.


"Aku akan memberitahukan hal ini pada Ketua."


Setelah itu, kereta yang ditumpangi Rielle menjauh dari Stella.


Sementara itu, Stella berjalan menuju Istana Everstell dengan langkah goyah. Beberapa pelayan yang bertugas mengurus taman-taman istana tidak sengaja melihat seorang anak kecil perempuan dengan rambut hitam melintas di sana. Segera, mereka menyadari siapa anak kecil itu.


"Tuan Putri!!"


Dan teriakan menggelegar itu pun sampai ke Istana Everstell.


***


Seorang anak kecil perempuan sedang berbaring di atas tempat tidur dengan napas yang tidak teratur. Handuk kecil berwarna putih menempel di keningnya, berusaha menghilangkan demamnya.


"Bagaimana keadaannya?"


Seseorang bertanya dengan nada tidak sabar.


"Tuan Putri terkena flu dan demam, itu mungkin karena beliau bepergian keluar di saat cuaca dingin seperti ini," jawab seseorang dengan pakaian berwarna putih. Dia adalah seorang dokter kerajaan, berperawakan tua, dan telah merawat anggota-anggota keluarga kerajaan yang sakit sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. "Saya sudah memberikan obat penurun demam pada Tuan Putri, jadi Yang Mulia bisa tenang."


"Fiuh...."


Helaan napas terdengar dari beberapa arah. Mereka adalah Raja Shavir, Dhemiel, Zayden, dan Suzy yang berdiri di sana.


"Baik. Pergilah," kata Raja Shavir pada dokter kerajaan itu.


"Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati," ucap dokter itu seraya memberi penghormatan, sebelum akhirnya melangkah pergi.


Setelah dokter kerajaan itu pergi, Suzy ikut pamit pergi.


"Saya akan menyiapkan sup hangat untuk Tuan Putri."


"Pergilah."


"Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."


Setelah melakukan penghormatan, Suzy beranjak dari tempat itu, yang merupakan kamar Raja Shavir di Istana Evercius. Kini hanya tersisa tiga orang di sana.


Raja Shavir melirik Dhemiel, yang tidak memiliki ekspresi sama sekali.


"Kau juga pergilah, Dhemiel. Beristirahatlah," kata Raja Shavir dengan lembut. "Lebih baik hanya ada satu yang sakit daripada dua."


"Tapi, Ayah...."


Dhemiel membuka mulutnya, tetapi tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya memandang ke arah tempat tidur dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Aku tahu kalau kau ingin mencari tahu penyebab Stella keluar dari istana hingga sakit. Aku juga begitu."


Bola mata Dhemiel membelalak karena terkejut. "Ayah juga?" tanyanya dengan pandangan tidak percaya.


"Iya." Raja Shavir menganggukkan kepalanya. Dia tidak berniat berbohong di depan Dhemiel, jadi dia akan mengatakannya dengan terus terang. "Tapi, kita juga harus beristirahat. Kau juga belum makan siang, 'kan? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk makan."


Ya! Teruskan! Dengan begini, hubungan kalian akan baik-baik saja!


Zayden, yang memerhatikan adegan antara Raja Shavir dan Dhemiel, seketika menjadi bersemangat dan mendukung putranya seraya tertawa lebar.


"Ma ... makan siang?" Mendengar perkataan ayahnya, Dhemiel menjadi gugup. Rona kemerahan segera menjalar di pipinya yang halus. "Bersama...?"


"Iya."


Raut wajah Dhemiel langsung menjadi cerah. "Aku mau!" katanya dengan riang.


Biasanya, Dhemiel tidak pernah makan siang bersama dengan Raja Shavir, mereka hanya akan makan bersama saat malam hari. Mereka sering berpisah, jadi tidak terlalu akrab. Terkadang, ketika Xylia datang berkunjung, maka mereka akan menghabiskan waktu bersama, yaitu bertiga. Namun sekarang, mereka akan makan siang bersama karena kemauan sang raja, tanpa ada seorang pun yang meminta, jadi tentu saja Dhemiel merasa gembira.


"Kalau begitu, ayo kita pergi."


"Iya!"


Klik.


Pintu tertutup. Ruangan itu pun menjadi sunyi, hanya ada helaan napas pelan yang terdengar. Setelah itu, Zayden menghilang di udara, saat ini dia sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Stella beberapa saat yang lalu.


***


-Stella PoV-


[Tempatmu bukan di sini. Kembalilah]


Ada suara asing yang berdering di pikiranku. Siapa itu? Di mana ini?


Di sekitarku hanya ada kegelapan, kegelapan, dan kegelapan. Tidak ada cahaya sama sekali. Bahkan aku tidak bisa melihat pergelangan tanganku. Tempat ini sangat gelap.


Di mana ini?


[Pergilah. Kembalilah ke tempat asalmu]


[Jangan mengubah apa yang seharusnya tidak boleh diubah]


[Tempatmu bukan di sini]


Sementara aku sibuk berpikir mengenai di mana tempatku berada sekarang, suara-suara aneh terus mengusikku.


Apa? Apa yang baru saja kudengar?


[Lihatlah orang-orang yang sedang menunggumu]


Pats―


Secara tiba-tiba, sesuatu yang mirip seperti layar video muncul di hadapanku.


Deg! Deg! Deg!


Jantungku berdetak semakin kencang ketika layar video itu berputar, memperlihatkan gambaran orang-orang yang sangat kukenal.


I-itu ... aku!!!


Di dalam video itu, aku melihat diriku terbaring di atas tempat tidur dengan tangan terlipat. Di sekeliling tempatku berbaring, ada sosok orang-orang yang sangat kurindukan.


Orang yang terbaring di tempat tidur itu adalah aku, Stella Elliathania Elliot Evergard!


Di sana ada Ayah, Ibu, Kakek, dan kelima saudara-saudariku yang sangat kurindukan.


Tapi ... tidak mungkin.


Kenapa tubuhku ada di sana, sedangkan aku menjalani hidup di dunia buku dongeng ini?!


[Lihatlah orang-orang yang menyayangimu]


Aku tahu! Kau tidak usah mengingatkanku tentang itu!


[Mereka menunggumu. Apa kau tidak ingin kembali?]


Tentu saja aku ingin kembali, tapi aku tidak tahu caranya!


[Kau harus kembali secepatnya]


Diam! Berhenti berbicara!


Aku menutup telinga, berharap suara-suara aneh itu tidak terdengar olehku.


[Cepat kembalilah]


Diam! Kubilang diam!


[Tempatmu bukan di sini]


[Pergi dari sini]


[Dunia ini tidak menerimamu]


[Tidak ada yang menerimamu di sini]


"KUBILANG DIAM! BERHENTILAH BERBICARA!"


Aku berteriak seperti orang gila. Kedua tanganku sudah kugunakan untuk menutup telingaku.


Berhentilah ... berbicara.


Diam saja ... tidak usah berbicara.


Jangan berbicara apa pun....


Karena aku muak mendengarnya!!


Suara-suara aneh itu tidak bisa menghilang dari pikiranku. Aku merasa muak. Tidak, aku sangat muak.


Kenapa ... hal ini bisa terjadi?


Kau menyuruhku kembali, 'kan? Aku ingin! Tapi tidak bisa! Dan kalau kau menyuruhku kembali, kenapa kau mendatangkan aku ke dunia ini?! Kenapa?! Kenapa aku dibawa ke sini?!


Aku bergelut dengan pikiranku. Amarah, kekesalan, putus asa, semuanya bercampur menjadi satu.


Perlahan-lahan, kegelapan di sekitarku memudar. Aku bisa melihat ada seberkas cahaya di depanku. Tidak, mungkin jauh di depanku.


Sepasang kakiku perlahan melangkah.


Tapi....


Jika aku berjalan ke arah cahaya itu, apakah aku akan pulang ke tempat asalku? Apakah aku bisa bertemu dengan keluargaku?


Namun....


Bagaimana jika saat aku membuka mata, semuanya berbeda dan tidak sesuai dengan harapanku?


Bagaimana jika aku kembali menjadi "Putri Stella" di dunia buku dongeng itu?


Aku berhenti melangkah.


Tidak. Aku tidak bisa ke sana. Aku tidak ingin kembali ke tempat asing itu lagi. Aku ingin pulang.


Keraguan yang amat besar timbul di hatiku.


Apa ... yang harus kulakukan sekarang?


-Stella PoV, selesai-


――――――――――――――


*PoV/Point of View: sudut pandang seseorang yang digunakan dalam sebuah cerita.


TBC!