
Di sebuah ruangan dengan dekorasi sederhana, Xylia sedang menatap pergelangan tangannya yang penuh dengan goresan belati dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
"Apa kau yakin ingin mengunjungi orang itu sekarang?"
Suara seorang anak kecil laki-laki yang dikenal Xylia membuatnya tersentak. Xylia segera menyembunyikan tangannya yang dipenuhi goresan belati, namun anak kecil itu telah terlebih dahulu melihatnya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku? Perlihatkan padaku," lanjutnya.
Nadanya terdengar tidak bersahabat.
Xylia segera menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu, Zhio."
Anak kecil laki-laki itu, Zhio, mendecakkan lidahnya, sedikit kesal. Rambutnya yang berwarna merah menyala sedikit bergoyang ketika sepasang kakinya melangkah, menghampiri Xylia, sedangkan matanya yang berwarna biru seperti laut menatap Xylia dengan intens.
"Kau berbohong lagi," ucapnya, lalu meraih pergelangan tangan Xylia yang terkena goresan belati, kemudian mulai menyembuhkannya menggunakan sihirnya. "Mereka mengejarmu lagi, ya."
Tanpa perlu menanyakan detailnya pada Xylia pun, Zhio sudah tahu siapa yang melukai gadis kecil itu. Ini sudah menjadi rutinitas Xylia. Setelah dia bepergian dengan sang raja, maka dia akan pulang dalam keadaan terluka, dan Zhio bertugas menyembuhkan lukanya.
"Ya," balas Xylia sambil menatap pergelangan tangannya yang sudah pulih, tanpa ada goresan sedikit pun. "Aku bertemu mereka di ibukota tadi."
Alis Zhio terangkat ketika mendengar perkataan Xylia. Dia menatap gadis yang berumur satu tahun di bawahnya dengan bingung.
"Kenapa kau pergi ke ibukota?" tanyanya.
"Cuma kebetulan," jawab Xylia singkat, lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yang Mulia menurunkanku di tengah perjalanan, jadi aku berjalan-jalan sebentar dan akhirnya sampai di ibukota, lalu mereka menemukanku dan mengejarku, akhirnya aku ... yah, begitu, terluka," jelas Xylia.
Mendengar itu, Zhio menyipitkan matanya, menatap Xylia dengan curiga.
"Kau jadi seperti ini karena orang itu, 'kan?"
Xylia tersentak.
Zhio pura-pura tidak melihat reaksi Xylia, dia kembali melanjutkan, "Sudah kubilang, jangan melakukan hal-hal yang membuatmu menderita. Meskipun kau terluka, orang itu tidak menanyakan kondisimu, 'kan? Dia juga tidak menjengukmu, 'kan?"
Perkataan Zhio yang mengandung jejak kebenaran membuat Xylia menundukkan wajahnya, ekspresinya tampak murung dan sedih.
"Bukan begitu," sela Xylia dengan lirih. "Itu karena Tuan Putri tidak tahu apa pun...."
"Jangan membelanya," tukas Zhio dengan tegas.
Ekspresinya menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam. Sorot matanya berubah menjadi tajam.
"Melihat bagaimana kau terluka setiap kali raja itu membawamu pergi, orang itu pasti berbahaya. Jika dia tidak berbahaya, mana mungkin orang-orang itu melukaimu hanya karena kau "pelindung" anggota keluarga kerajaan, pasti ada alasan lain."
"Tuan Putri tidak berbahaya sama sekali!"
Xylia membalas dengan lantang, mengabaikan fakta bahwa Zhio―sang penyihir kuat yang tidak diketahui asalnya―bisa membunuhnya kapan saja. Kali ini, Xylia mengangkat wajahnya, menatap Zhio dengan sorot mata ketegasan yang sangat murni.
"Ini adalah kemauanku sendiri, aku ingin melindungi Tuan Putri. Kalaupun aku terluka, kau bisa menyembuhkanku dengan sangat cepat, 'kan? Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu. Tapi, satu hal yang selalu kukatakan padamu dan kau perlu tahu: Tuan Putri tidak berbahaya sama sekali, jadi kau jangan coba-coba menjelekkan namanya di depanku," sambung Xylia.
Zhio menatapnya sesaat, kemudian berdecak dan menyahut, "Terserah."
Kemudian, dia melangkah menuju pintu kamar Xylia, lantas meninggalkan Xylia seorang diri di sana.
"Tuan Putri tidak berbahaya sama sekali. Sama sekali tidak berbahaya," gumamnya, bersamaan dengan langkah kakinya yang menuju lemari pakaiannya. "Karena itulah, di masa lalu aku selalu menyakitinya. Akulah yang berbahaya, bukan Tuan Putri."
Setelah itu, helaan napas panjang keluar dari bibirnya.
"Haahh .... Aku merasa menyesal melakukan itu di masa lalu."
...―――...
Setelah Zhio mengeluari kamar Xylia, dia berjalan-jalan di sekitar kediaman duke. Beberapa orang menyapanya dengan ramah, tetapi dia tidak memedulikan sapaan dari orang-orang yang dilewatinya. Pikirannya hanya terpaku pada seseorang, orang yang sangat diagung-agungkan oleh Xylia, yaitu Putri Pertama Kerajaan Evergard dengan nama Stella Al-Teona Evergard.
"Huh. Orang seperti apa dia?" gumam Zhio, merasa penasaran dengan orang yang dilindungi Xylia sampai-sampai gadis kecil itu rela mengorbankan nyawanya hanya demi orang itu.
Setelah itu, Zhio menghilang dari kediaman duke, dan akhirnya muncul di sebuah taman bunga milik seseorang.
...―――...
Tak terasa, jam makan siang akhirnya tiba. Mata Stella yang berwarna merah perlahan-lahan berubah menjadi warna ungu. Stella yang menyaksikan perubahan warna pada matanya di depan cermin seketika merasa takjub. Dunia ini memang penuh dengan keajaiban. Setelah itu, Stella mulai merapikan rambutnya. Setelah dirasa tatanan rambutnya tampak rapi, Stella bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menuju pintu kamarnya, lantas mengeluari ruang kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Stella tiba di ruang tamu, dan mendapati seorang wanita duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Tak perlu ditanya lagi, wanita itulah penyihir yang dikirim Raja Shavir untuk menjadi guru sihirnya.
Wanita itu yang melihat kedatangan Stella segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian memberikan penghormatan.
"Memberi hormat pada Putri Stella. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati," ucapnya dengan nada lembut.
Mendengar nada bicara wanita itu yang sangat lembut, Stella nyaris tidak bisa percaya bahwa wanita itu adalah seorang penyihir, jika wanita itu adalah seorang ibu maka dia akan percaya.
"Nama saya Azalea Orma."
"...!"
Azalea Orma.
Stella sedikit mengerutkan alisnya ketika mendengar nama wanita itu. Dia merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat, namun Stella tidak tahu kapan dan di mana ia mendengar nama itu.
Setelah tenggelam dalam pikirannya selama beberapa menit, Stella akhirnya mengetahui mengapa ia merasa familier dengan nama wanita itu, nama itu pernah disebutkan sekali di buku dongeng yang dibacanya. Dituliskan di dalam buku, Azalea Orma adalah satu-satunya teman Alexa, ibu Stella di dunia ini.
Sebelum menikah dengan Shavir, Alexa dulunya adalah seorang penyihir wanita yang sangat berbakat dan terkenal di dalam maupun di luar Kerajaan Evergard. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Kerajaan Evergard mengadakan perjamuan atas keberhasilan Shavir―yang pada saat itu merupakan Pangeran Mahkota―dalam peperangan dengan kerajaan bagian utara yang memonopoli perdagangan Kerajaan Evergard.
Setelah melewati berbagai rintangan karena hubungan keduanya yang tidak direstui, Shavir dan Alexa akhirnya bertunangan, kemudian menikah ketika Shavir mewarisi takhta kerajaan.
Sayangnya, setelah melahirkan anak keduanya, Alexa dikabarkan meninggal. Yang lebih misterius, beberapa pelayan dan dokter kerajaan wanita, yang menemani sang ratu ketika ia melahirkan anak keduanya, menghilang seolah ditelan bumi.
Tragedi mengenaskan yang menimpa Putri Stella yang asli pun dimulai ketika sang ratu dikabarkan meninggal.
'Satu-satunya teman ibuku di dunia ini sekarang ada di hadapanku, dan itu dikirim langsung oleh si Shavir itu,' batin Stella sambil mengamati Azalea. 'Kenapa orang itu mengirim Azalea sebagai guru sihirku?'
――――――――――――――
Xylia benar-benar sesuatu ʕ•̀ω•́ʔ✧
TBC!