
"Ibu masih hidup?"
"Apa maksudnya, Stella?"
Di ambang pintu, Stella melihat Raja Shavir dan Dhemiel berdiri termenung, di belakang keduanya ada Rielle yang tampak gelisah.
'Kenapa mereka bisa ada di sini?!'
Stella menatap Rielle tajam, sedangkan objek yang ditatap hanya mampu memohon maaf dengan panik.
Leonard yang menyaksikan situasi tak terduga itu segera memberi perintah, "Kau bisa keluar, Rielle."
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu."
Rielle mengundurkan diri, diikuti pintu yang tertutup. Sekarang hanya ada kesunyian yang menguasai ruangan. Semuanya saling menatap ke satu arah. Ke tempat Stella berada.
"Stella." Orang pertama yang memecah keheningan adalah Raja Shavir. Dia mendekat ke putrinya, kemudian berlutut di hadapan anak itu. "... Apa yang sebenarnya terjadi?"
Stella bungkam, ia memilih menghindari tatapan ayahnya.
"Stella," panggil Raja Shavir dengan nada membujuk. Ia diam sejenak, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Terakhir, dia bertanya dengan suara gemetar, "Apakah... ibumu masih hidup? Apakah itu benar?"
"...."
Stella balik menatap ayahnya. Iris merah itu berkilat tajam, memancarkan permusuhan.
Dia tahu perasaan kesal ini tidak akan mudah hilang. Rasanya dirinya seperti direndahkan karena mereka bersekongkol membohonginya. Bukan berbohong sehari dua hari, tapi nyaris tiga tahun!
Namun, dari sudut pandang mereka, itu adalah keputusan yang tepat.
'... Ya. Karena mereka tidak tahu kabar tentang Ibu. Kalau mereka tahu, Ayah tidak mungkin memberiku ingatan palsu.'
Stella mengatur emosinya. Berusaha bersikap tenang sebagaimana dirinya yang dulu.
'Mereka juga berhak tahu, 'kan....'
Stella memantapkan hatinya. Sesaat ia merasakan kepahitan yang sangat dalam menembus jantungnya.
'Lagi pula harusnya aku... harusnya aku memberi tahu mereka dulu. Bagaimanapun, aku adalah orang asing di dunia ini.'
Faktanya memang dia adalah orang asing di dunia ini. Namun, Stella ingin egois dan mengatakan kalau dia terikat dengan dunia ini. Itu karena dia hidup di sini. Jika memang ia tidak bisa kembali ke dunianya, bukankah artinya dia harus hidup di dunia ini dan menerima mereka sebagai keluarganya?
Alexa adalah ibunya. Shavir adalah ayahnya. Dan Dhemiel adalah kakaknya. Stella harus bisa menerima kenyataan ini.
Sebagai suami dari ibunya, Raja Shavir pun berhak tahu keadaan istrinya. Begitu juga Dhemiel yang adalah anak pertama.
Bagaimanapun situasinya, cepat atau lambat berita ini akan terungkap. Dan mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk memberi tahu mereka.
"Ya. Benar...." Stella membuka mulut kecilnya dan menyampaikan kebenaran yang selama ini dipendamnya dengan suara parau. "Ibu memang masih hidup."
Pada saat itulah gelombang kejutan mengelilingi ketiga orang itu.
...――― ...
Waktu berlalu dengan cepat.
Pesta ulang tahun Stella yang ke-9 akhirnya dimulai. Meskipun tidak dirayakan besar-besaran seperti pesta ulang tahun pangeran mahkota, tetapi semua pekerja sibuk mengerjakan bagian masing-masing. Terutama para pelayan Istana Everstell yang sejak berhari-hari lalu mondar-mandir di sekitar istana.
Rencananya, pesta tersebut akan diadakan di ballroom Istana Evercius, satu-satunya tempat pesta yang sangat istimewa karena dipakai hanya untuk pesta pendirian negara dan ulang tahun raja saja.
Oleh karena itu, gosip kalau Raja Shavir mengizinkan ballroom Istana Evercius untuk tempat pesta ulang tahun Putri Stella sudah menyebar dengan cepat dan menjadi buah bibir orang-orang.
Banyak wanita bangsawan yang berbicara kalau Raja Shavir yang seperti manusia es itu sudah luluh terhadap putrinya.
Diam-diam mereka pun menyetujui rumor yang beredar itu dan saling bertaruh satu sama lain tentang siapakah yang lebih disayang sang raja, antara putri kandungnya ataukah keponakannya.
"Begitulah isi dari rumor-rumor yang beredar di ibukota, Tuan Putri." Bonnie, salah satu pelayan terdekat Stella, melaporkan apa yang dia amati baru-baru ini.
"Hm." Stella mengetuk-ngetuk meja, menopang dagunya. "Ya sudah. Pergilah."
"Ah, baik." Bonnie tampak bingung, akhirnya setelah jeda panjang dia membungkuk hormat dan mengundurkan diri. "Saya menunggu perintah Anda selanjutnya, Tuan Putri. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Setelah Bonnie pergi, Stella larut dalam keheningan yang sunyi. Dia berpikir kalau rumor yang beredar itu salah. Karena nyatanya, semenjak pertemuan tak sengaja antara dirinya dan Raja Shavir di Markas Utama Eternal Flame, pria itu seolah menghindarinya. Dhemiel pun sama. Ayah dan anak itu seakan menghindari Stella, bahkan bila berpapasan pun tidak akan saling menyapa, hanya melirik sekilas lalu pergi. Kebiasaan makan bersama juga entah sejak kapan tidak dilakukan lagi.
Stella tentu senang sebab tidak perlu berhadap-hadapan dengan mereka, namun di satu sisi dia merasakan sudut hatinya kosong. Perasaan mengganjal ini membuatnya gelisah.
'Pasti karena kebiasaan.' Stella membatin sambil terus mengetuk meja. 'Nanti juga aku terbiasa sendirian, seperti dulu. Ya, pasti.'
Kelopak mata Stella memejam. "Huh. Rasanya sepi," gumamnya samar.
'Memikirkan akan bertemu mereka di pesta ulang tahunku sore nanti membuatku lelah. Aku harus bilang apa, ya? Maaf? Terima kasih untuk hadiahnya? Hm....'
Stella berpikir keras, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Buat apa minta maaf dan mengucapkan terima kasih? Sudah seharusnya aku tidak peduli dengan mereka."
Saat dia memikirkan hal itu, Nigreous muncul dengan asap hitam bercampur biru dan ungu mengelilinginya.
"Nona."
Suara berat dan rendah terdengar. Stella melebarkan pupil matanya, terkejut. Nigreous bisa berbicara!
"Niggy, kau...."
"Racun."
Stella mengerutkan alisnya. "Apa?"
Nigreous berbicara lagi dengan patah-patah, "Racun. Minuman. Pesta."
"Apa maksudmu... ada racun di minuman yang akan dihidangkan di pestaku?" ujar Stella berspekulasi.
Nigreous mengangguk. "Ya. Racun. Mati."
Deg!
Stella langsung berdiri dari duduknya. Tanpa pikir panjang ia segera berteleportasi menuju ballroom Istana Evercius. "Suzy!" teriaknya emosional. Napasnya terengah-engah. "Suzy!"
"Astaga, Tuan Putri!" Suzy berlari menghampiri Stella yang muncul tiba-tiba. Ia nampak terkejut sekaligus bingung. "Ada apa, Tuan Putri? Mengapa Anda ada di sini?"
"Minuman!" seru Stella. Napasnya tersendat. "Di mana minuman yang akan dihidangkan untuk keluargaku?!"
Prangg!
Gelas kaca berisi minuman itu seketika pecah tatkala Stella melemparnya menggunakan sihirnya. Semua yang menyaksikan kejadian itu menarik napas, tercengang. Hening sesaat. Sampai akhirnya ucapan nyaring Stella menyadarkan semua orang.
"Panggil dokter kerajaan! Periksa apakah benar minuman ini beracun! Suruh mereka periksa semuanya! Cepat!" perintah Stella mutlak dengan sorot mata tajam. Iris merahnya berkilat. Amarah berkobar di sana. "Lalu, kumpulkan semua pekerja yang bertugas untuk mengurus bagian hidangan. Sekarang!" tambahnya.
"B-baik, Tuan Putri!"
Sebelum pesta ulang tahun Stella yang ke-9, kekacauan besar terjadi.
Ditemukan adanya racun pelumpuh di minuman yang akan disediakan untuk para anggota keluarga kerajaan. Bukan sekadar racun pelumpuh biasa, namun ini adalah racun mematikan yang membuat saraf-saraf di dalam tubuh berhenti dan tidak bisa bekerja dengan baik.
Thev, selaku monster bersayap yang berkontrak dengan Stella, mendeteksi adanya kejanggalan.
Racun pelumpuh itu... adalah racun Lakshire. Racun yang sama dengan racun yang menggerogoti tubuh Alexa.
Ini adalah kedua kalinya Thev melihat racun Lakshire digunakan oleh manusia untuk berbuat jahat.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan para iblis? Serapuh itukah penjagaan di wilayah mereka sehingga "racun kuno dunia iblis" itu bisa dicapai oleh manusia biasa?
...――― ...
"Eh? Apa yang terjadi?"
Gadis kecil itu mengusap ujung rambutnya, memperhatikan warna pirang pada yang rambutnya perlahan-lahan memudar. Kini ujung rambutnya sudah sepenuhnya berwarna cokelat gelap.
Aneh.
Xylia mengernyit. "Kenapa rambutku berubah warna?" gumamnya bingung. "Seingatku dulu tidak ada perubahan seperti ini."
...――― ...
"Bagaimana keadaanmu?"
Atensi Stella beralih pada suara berat itu. Ia mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Raja Shavir tidak menanggapi. Ia hanya menghela napas lega. Tanpa sadar tangannya terulur ke kepala Stella, mengusap pelan rambut putrinya. "Istirahatlah," ujarnya lembut, kemudian berbalik pergi. Mata ungu pria itu menyorot tajam pada para kesatria istana. "Perketat keamanan di setiap sudut istana. Cari dalang yang meracuni minuman untuk pesta Tuan Putri. Kalau perlu bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup-hidup!"
"Siap laksanakan!" balas mereka serentak sambil memberi hormat.
Setelah itu Raja Shavir pergi, diselingi dengan pintu kamar yang tertutup. Terdengar bising sepatu dari luar, menandakan bahwa beberapa kesatria ditempatkan di depan pintu untuk menjaga keamanan sang putri.
Stella bergeming di tempatnya, masih menatap ke arah pintu. Perlahan tangannya terangkat, menyentuh bagian kepalanya yang diusap tadi.
"Apa ini...," gumamnya samar. Perasaan aneh menjalar di hatinya. "Kenapa dia jadi peduli lagi?"
Untuk sementara ini, Stella dipindahkan ke kamar pribadi sang raja. Ya, saat ini dia berada di Istana Evercius, tepatnya di dalam kamar Raja Shavir.
...――― ...
"Stella, kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka, 'kan?"
Stella menoleh sekilas, lantas mengangguk singkat. Ia kembali memejamkan matanya, acuh tak acuh terhadap keberadaan Dhemiel di sampingnya. Lima menit sudah berlalu sejak Dhemiel mengunjunginya. Ekspresi cemas terpancar di mata anak laki-laki itu. Stella tahu bahwa Dhemiel mengkhawatirkannya, namun dia kembali bersikap dingin, selayaknya yang dilakukannya dulu.
"Ada urusan apa kau ke sini?" tanya Stella tanpa membuka matanya.
"Aku khawatir," jawab Dhemiel jujur. "Maaf kalau sebelumnya aku tidak peduli. Aku hanya... butuh waktu sendiri untuk bisa menerima kenyataan kalau Ibu masih hidup. Rasanya seperti mimpi."
"Hm. Wajar saja."
Dhemiel terkekeh. Ia memandang hangat ke arah Stella. "Aku senang. Harapan kalau suatu saat nanti keluarga kita bisa berkumpul... aku tak menyangka jika harapan itu masih bisa terkabul."
"Ya."
"Terima kasih sudah memberitahukan kebenarannya," ungkap Dhemiel tulus. Ia menggenggam erat tangan Stella. "Pasti berat bagimu... untuk menyembunyikannya dari aku dan Ayah."
"... Tidak seberat itu."
Stella membuka kelopak matanya. Bohong kalau dia bilang menyembunyikan kebenaran tentang ibunya tidaklah berat. Nyatanya ini sangat memberatkan. Seolah-olah ada beban besar di pundaknya. Namun, usai menyatakan kebenaran itu, entah kenapa rasanya melegakan.
Mata merah Stella melirik Dhemiel, kemudian ia menegang.
Dhemiel tersenyum manis hingga matanya menyipit. Pipinya kemerahan. "Tak kusangka adik yang sangat kecil waktu kupeluk hari itu, ternyata sudah besar dan sangat pemberani." Setitik cairan bening mengalir dari sudut matanya.
"Mungkin, waktu itu adalah keputusan terbaik Ibu untuk menyelamatkan kita dengan mengorbankan nyawanya."
Stella membeku kala mendengar kalimat itu.
Mungkin, waktu itu adalah keputusan terbaik Ibu untuk menyelamatkan kita dengan mengorbankan nyawanya.
Ini adalah petunjuk bahwa Dhemiel menyaksikan kejadian tragis itu sewaktu masih sangat belia.
"Tapi, aku senang karena ternyata Ibu masih hidup. Kuharap kita bisa segera bertemu Ibu. Hehe."
Mata Stella memanas begitu mendengarnya. Hatinya sakit seolah-olah ada benda tajam menancap di sana. Jika saja ia tahu bahwa Dhemiel menyaksikan secara langsung bagaimana sang ibu menghilang, Stella pasti akan memberitahu kenyataan tentang Alexa lebih cepat. Dengan begitu, mereka bisa menemukan penawar racun Lakshire lebih awal. Namun, itu hanyalah angan-angan semata. Penyesalan selalu datang terlambat.
"... Aku akan ikut Turnamen Guild Internasional." Stella mengungkapkan rencananya. Dhemiel diam menyimak. "Sebagai Komandan Eternal Flame dan Tuan Putri Evergard. Jadi, tolong dukung aku ya, Kak."
Dhemiel merasakan jantungnya berdebar. Panggilan itu. Akhirnya ia mendengarnya lagi. Senyum hangat segera terbit di wajahnya. "Iya. Pasti."
――――――――――――――――
maaf lama tidak update, sekalinya update cuma ada 1 chapter, maaf banget☹️ terima kasih untuk yg setia menunggu, dan maaf yg sebesar-besarnya untuk readers yg kecewa. semoga ke depannya masih bisa lanjut😤
yuk mampir ke karya-karya aku yg lain di lapak oranye:
- My Possessive Al (teenfiction)
- My Dangerous Boy (teenfiction)
- I Will Change My Life! (fanfict WMMAP/SIBAP)
- Hello, Prince! (fanfict I Wanna Be U)
(akun: @PicachuRD)
―――
Tbc.