
❤️Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan❤️
...―――...
'Hei, Putri.'
Thev, naga hitam yang dikontrak oleh seorang anak perempuan, sepenuhnya terperangkap di dalam gelang yang dibuat sendiri olehnya.
Di saat semua kontraktor dan hewan yang dikontrak bisa saling berinteraksi, dia tidak bisa melakukan itu.
Thev bahkan tidak bisa mengirim telepati atau berbicara lewat pikiran, seolah-olah ada yang memblokir tindakannya.
'Di sini membosankan.'
Thev menggerutu.
Dia pikir setelah berkontrak dengan seorang manusia, dia akan hidup enak. Dia bisa hidup dalam wujud kecil yang mirip boneka, jadi tidak akan ada yang mencurigainya jika Stella membawanya ke mana pun.
Namun, jangankan hidup enak, dia bahkan tidak bisa berbicara dengan kontraktornya. Apalagi dia harus bertahan hidup dalam bentuk "gelang". Untuk mempertahankan wujud itu, dia harus menguras banyak kekuatannya.
'Tuan Putri!!'
Thev berteriak lagi melalui telepati, tapi tidak ada jawaban yang datang. Naga hitam itu menggerutu lagi dengan kesal.
Dia tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada tuannya. Kontrak sihir antara manusia dan hewan tidak bisa diputuskan begitu saja karena risikonya besar.
Ada dua kasus di mana hewan yang dikontrak tidak bisa menghubungi kontraktornya. Itu terjadi ketika si kontraktor mati. Thev tidak mempercayai opsi ini karena dia masih bisa merasakan energi kehidupan Stella.
Dan kasus yang kedua adalah ketika si kontraktor menerima ingatan lain yang membuatnya melupakan segala sesuatu tentang isi kontrak mereka. Hal ini bisa membuat kontrak sihir yang terjalin di antara mereka putus tanpa disadari. Meskipun enggan, Thev menduga bahwa Stella mengalami kasus kedua.
'Tapi aku masih punya sisa waktu.'
Masih ada empat tahun lagi untuk membuat kontrak mereka terputus. Selama Thev bisa mengembalikan ingatan Stella sebelum empat tahun berlalu, kontrak yang terjalin di antara mereka tidak akan terputus.
Swuuush!
Thev keluar dari gelang dengan wujud roh, mengamati keadaan di sekitarnya. Mata birunya bersinar, memindai orang-orang yang ada di dekat tuannya.
'Aku harus membuat Tuan Putri melihatku supaya aku bisa mematahkan sihir ingatan palsu itu.'
...―――...
"Coba tebak siapa aku, Stella!"
"Kakak."
"Waahh, kau benar! Ternyata ingatanmu sudah kembali, ya!"
"Iya. Hehe."
Stella tertawa manis.
Sudah dua hari berlalu sejak "ingatannya" kembali. Dia mulai beradaptasi di tempat ini, yang katanya adalah rumahnya.
Stella menatap anak laki-laki yang duduk di sampingnya, yang selalu bersemangat. Dhemiel terus mengoceh sejak tadi pagi.
Kadang-kadang dia juga bertanya "Coba tebak siapa aku" berulang kali sampai membuat Stella bosan, tapi Stella sama sekali tidak menunjukkan kebosanannya dan membalas ucapan anak itu dengan senyuman manis, yang membuat Dhemiel semakin menempel padanya.
Ini adalah caranya bertahan hidup di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa dia percaya.
"Nanti setelah kau pulih, kita main bersama ya!" seru Dhemiel dengan wajah penuh harap yang berseri-seri.
Stella mengangguk sebagai balasan, dan hal itu membuat anak laki-laki itu berteriak kegirangan. Dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sangat bahagia, padahal hanya bermain bersama.
'Memangnya kita tidak pernah main bersama?'
Stella berpikir, menduga bahwa hal itu cukup mencurigakan. Padahal katanya mereka adalah keluarga dan di dalam ingatannya mereka sangat-sangat akrab, tapi masa tidak pernah bermain bersama? Ini cukup aneh.
'Hmm. Bertambah lagi hal-hal yang harus kuselidiki.'
"Stella?"
"Oh? Iya!" balas Stella setengah kaget.
Mata merahnya menatap Dhemiel yang menatapnya dengan lembut, tapi entah kenapa tatapan itu membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa, Kak?"
"Ternyata benar, ya. Mata aslimu berwarna merah," ucap anak itu tiba-tiba. "Dulu aku pernah lihat sekilas, kupikir aku salah lihat. Tapi ternyata benar."
"Oh, begitukah...?"
Keringat tipis mengalir di wajah Stella. Dia memiringkan kepalanya, bingung.
"Memangnya dulu warna mataku berbeda?"
"Iya."
"Terus dulu warna apa?"
"Ungu," jawab Dhemiel, lalu membelai pipi anak perempuan itu. "Tapi menurutku warna matamu yang sekarang lebih cantik daripada yang dulu."
Stella diam dengan wajah merona tipis yang berusaha dia sembunyikan. Ketegangan terasa di tubuhnya, merasa sedikit tidak nyaman dengan kontak fisik yang tiba-tiba. Dia tertawa kaku dan menganggukkan kepalanya.
"... Aku juga berpikir begitu!"
Lalu mereka berdua tertawa bersama, terlihat harmonis.
'Sebenarnya aku tidak tahu.'
Stella menyembunyikan isi hatinya dengan topeng ceria yang baru-baru ini dia buat.
'Tidak ada aku dengan warna mata ungu di dalam ingatanku.'
Meskipun tidak ada, Stella tetap berbicara seakan-akan dia sudah tahu hal itu agar semua orang percaya bahwa ingatannya sudah kembali.
'Sebenarnya ingatan apa ini yang ada di dalam kepalaku....'
Ingatan yang datang dua hari yang lalu ke kepalanya memperlihatkan siapa saja keluarganya, orang-orang yang dekat dengannya, dan bagaimana sikapnya terhadap mereka. Dan tidak lebih dari itu. Tidak ada detail tentang bagaimana warna rambut dan matanya berubah, juga tidak dijelaskan kenapa dia bisa kehilangan ingatannya.
Stella hanya diberitahu bahwa dia pingsan saat sedang berlatih sihir dengan guru sihirnya, dan mereka bilang bahwa mereka tidak tahu kalau ingatannya akan menghilang saat itu.
'Untuk saat ini, aku akan percaya ucapan mereka.'
Stella harus pulih dulu agar bisa menyelidiki semua hal mencurigakan yang sudah dia catat di kepalanya.
"Tuan Putri."
"Sudah saatnya makan siang," ucap wanita berambut hitam itu dengan lembut dan penuh senyuman.
Dhemiel berseru pendek seperti baru saja mengingat sesuatu yang penting. Dia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Stella.
"Ayo kita makan siang bersama!" ucapnya dengan nada semangat.
Stella membalas uluran tangan itu dan turun dari tempat tidurnya.
"Iya, Kak!"
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju ruang makan ditemani Suzy.
Lantai marmer putih yang bersih dan terlihat berkilau menjadi tempat kaki mereka berpijak. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi dengan lampu gantung berbahan kaca. Karpet merah menyambut kedatangan mereka ketika pintu ruang makan terbuka. Padahal itu hanya ruang makan, namun detail desainnya sangat mewah sampai membuat kata "wow" keluar dari mulut saat melihatnya.
"Kita dulu sering makan bersama di sini," kata Dhemiel tiba-tiba, mengulang ucapannya yang kemarin. "Kau duduk di depanku dan Ayah duduk di antara kita."
"Iya! Aku ingat!" balas Stella dengan wajah cerah, senyuman terlihat di wajahnya yang seperti boneka. "Terus kita sering ngobrol bersama, 'kan!"
"Ternyata Stella masih ingat kenangan bersama kakak tampan ini!"
"Iya. Hehe!"
'Kenangan apa, sih. Aku saja tidak ingat.'
Stella mencibir di dalam hati. Padahal baru dua hari dia memulai sandiwaranya, tetapi dia sudah merasa muak. Apalagi selama berbulan-bulan. Dan itu harus dia lakukan sampai ingatannya kembali. Bahkan bibirnya sampai pegal karena terlalu banyak tertawa.
Stella tidak bisa membayangkan apakah dia bisa bertahan dengan sandiwara ini selama lebih dari seminggu.
Untungnya, Dhemiel tidak lagi mengajaknya berbicara. Stella menghela napas lega di dalam hati.
"Oh, itu Ayah!"
Mata merah Stella dengan cepat mengarah ke tempat di mana Dhemiel menunjuk. Dia bisa melihat seorang pria berambut hitam duduk di meja makan, yang tampak seperti menunggu kedatangan mereka.
'Ayah, ya....'
Stella merenungkan panggilan itu.
'Dia adalah ayahku ... tapi kenapa aku berdebar lagi, ya? Rasanya seperti baru pertama kali menghabiskan waktu bersama.'
Selama dua hari ini juga, Stella memulai kebiasaan baru dengan makan bersama ayahnya dan kakaknya, bermain bersama, dan tidur bersama mereka. Meskipun dia sudah berusaha membiasakan diri, tapi tetap saja rasanya sangat asing.
'Bodo amat, deh. Nanti juga aku tahu kenapa.'
Stella menghapus pikiran membebankan itu dari kepalanya. Bibir kecilnya melengkung membentuk senyuman indah.
'Pokoknya aku sapa dulu.'
Stella dan Dhemiel berjalan bersama menghampiri ayah mereka dan menyapa secara bersamaan.
"Ayah!!"
Perhatian Raja Shavir yang mulanya tertuju pada makanan di depannya beralih dengan cepat ketika mendengar suara cerah dari anak-anaknya memanggilnya.
"Selamat siang!"
"Iya. Selamat siang juga," balasnya sambil tersenyum. "Kemarilah."
Kedua anak itu mendekat seperti anak ayam. Raja Shavir berdiri dari duduknya dan mengangkat mereka berdua sebelum akhirnya mendudukkan mereka di kursi masing-masing.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Stella?" tanyanya perhatian. "Sudah lebih baik?"
"Iya!" jawab Stella cepat sambil mengangguk. "Aku sudah lebih baik karena Ayah dan Kakak bersamaku!"
"Begitu, ya."
Raja Shavir membalas seraya tersenyum. Lalu mata ungunya beralih ke putranya.
"Bagaimana denganmu, Dhemiel?"
"Pelatihku bilang kemampuan berpedangku sudah meningkat. Aku senang sekali mendengarnya!" jawab anak laki-laki itu dengan menggebu-gebu, penuh semangat dan matanya berbinar-binar. "Kalau begitu, aku bisa melindungi Stella, 'kan? Iya, 'kan?!"
"Iya. Tapi kemampuan seperti itu tidak cukup. Kau harus belajar lagi."
"Oke, Ayah! Aku akan belajar berpedang dengan giat supaya tidak menyesal lagi!"
"Bagus. Anak pintar," puji Raja Shavir sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Hehe."
Dhemiel tertawa senang.
Setelah hari di mana dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan bagaimana adik perempuannya dibuat menderita oleh baj*ngan berambut merah itu, Dhemiel bertekad untuk menjadi lebih kuat.
Kemudian dia rajin berlatih berpedang. Jika dia tidak pandai dalam sihir, setidaknya dia bisa melindungi Stella dengan kemampuan berpedangnya.
Dhemiel tidak akan pernah menyesal lagi.
Begitulah kehidupan baru Putri Stella yang tidak disangka-sangka baru saja dimulai. Kemalangan yang membawa penderitaan ternyata juga membawa kebahagiaan bagi keluarga kecil itu.
―――――――――――――――
Bonus - Nasib Berambut Merah
Zhio: "Si Dhemiel ngomongin orang yang dipenjara itu tapi kok aku merasa tersinggung ya? ಠ_ʖಠ."
Author: "Sabar, sabarrr~~ udah nasib ituuu~"
Felix: "Saya juga merasa tersinggung ༎ຶ‿༎ຶ." (tiba-tiba si Felix muncul pake teleportasi)
Karsein: "Memang anda saja? saya jugaaa ʘ‿ʘ." (mengsedih. udah jadi sadboi dinistain pula)
Author: "Lah lah, ni kenapa pada dateng semua karakter rambut merah. pulang sonoo!" (teriak-teriak sambil tunjuk pintu dimensi)
duo rambut merah dari manhwa terkenal itu pun berjalan pulang dengan lesu――(oke skip)
---
akhirnya ada waktu juga buat nulis. baru selesai mpls, capek banget selama tiga hari ini bangun pagi, tulis materi lewat yutub sambil online sampai siang, udah gitu hospot aku nyala lagi, langsung deh drop baterai hp (. ❛ ᴗ ❛.) terus charger dipake bareng" sm adek yg juga baterai hpnya drop. (yak sesi curhat selesai!)
gimana kesan kalian sm chapter ROTPP akhir-akhir ini?
btw, maklumin ya klo ada kesalahan ciri" karakter. paling banyak menurutku itu si suzy. di awal" aku tulis 'rambut hitam mata hijau' tapi kok oleng ke 'rambut hitam mata biru'🤣 (habisnya setiap nulis suzy mikirin lilian mulu😟) tapi udah aku ganti kok. nanti klo kalian lihat ada kesalahan lagi, komen ya!! biar langsung aku ganti😉
TBC!