
"Kakak."
Seorang balita perempuan memanggil anak perempuan yang duduk di sebelahnya. Ruangan dengan dinding cokelat yang diukir dengan indah namun elegan menjadi tempat keberadaan mereka saat ini.
[Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.]
Suara Barbiel berdering di pikiran Stella. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada kakinya. Memeluk kedua kakinya, Stella membenamkan wajahnya di antara tangannya. Napas kasar berembus dari mulutnya.
"Sebelum itu, aku mau tanya. Apa yang kau tahu tentang diriku?"
Meskipun Stella mengetahui bahwa Barbiel memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang, ia tetap bertanya, ingin tahu bagaimana sudut pandang Barbiel tentangnya.
Duduk di samping Stella, Barbiel memiringkan kepalanya, kedua kakinya berayun.
[Hmm. Mungkin bisa dibilang, kau adalah orang beruntung yang datang ke dunia ini untuk mengubah takdir seseorang yang menyedihkan?]
"Heh."
Stella tersenyum pahit. Matanya menunjukkan kilat mengejek yang sangat dalam. Dia segera mencibir.
"Beruntung apanya, ini namanya kesialan."
"...."
Barbiel tidak membalas. Dia tahu bahwa Stella akan melanjutkan ucapannya, jadi dia diam.
Stella mengangkat sedikit kepalanya, meletakkan dagunya bertumpu di tangannya. Mata ungunya menatap ke depan dengan datar. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Apa aku akan mati di umur 15 tahun, sama seperti Putri Stella yang ada di buku dongeng itu, padahal Xylia sudah berubah menjadi baik?"
[Jadi, apa kau meminta bantuanku?]
"Kalau kau bisa membantuku pulang, maka cepat lakukanlah," jawab Stella sarkastik.
Suasana hatinya sedang buruk saat ini. Siapa pun bisa menjadi incaran amarahnya untuk pelampiasan, tak terkecuali orang-orang baik yang ada di pihaknya. Bahkan Barbiel, yang akhir-akhir ini sering membantunya, menjadi korban pelampiasan yang pertama.
Tapi Barbiel, yang memahami kondisi Stella saat ini, tidak marah saat Stella berbicara padanya dengan sarkas.
[Lalu kau ingin aku melakukan apa?]
"Tidak tahu."
"Huuuu...."
Barbiel menghela napas panjang, memutar matanya. Biarpun kesabarannya masih ada, tapi tetap saja rasanya menyebalkan.
[Cepat ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.]
Kali ini Stella tidak menjawab. Dia ingin melupakan kejadian hari ini, yang membuatnya hatinya berdenyut perih, tapi tidak bisa. Semua kata-kata itu melekat di kepalanya seperti lem, seakan-akan tidak mau pergi dari sana.
Namun, Stella tidak bisa diam saja setelah disakiti oleh mereka. Dia harus mencari tahu penyebab mereka seperti itu. Pertama-tama, ia harus menceritakan masalahnya pada orang lain agar menemukan solusi dengan cepat. Dan orang yang layak untuk membantunya mencari solusi untuk masalahnya adalah Barbiel.
"Aku ditinggalkan."
[Apa maksudmu?]
Barbiel segera mendekati Stella dengan wajah penasaran.
[Siapa yang meninggalkanmu?]
"Keluargaku."
[Kenapa?]
"Karena Xylia."
"Apah...." (Apa....)
Barbiel tercengang. Dia segera memborbardir pikiran Stella dengan pertanyaan.
[Dia lagi? Bukankah kau sudah mematahkan sihir pengendali di tubuhnya? Jadi bagaimana bisa?]
"Aku juga tidak tahu. Padahal kata Zhio, sihir jahat di tubuhnya sudah hilang. Aku juga sudah mematahkan sihir pengendali itu. Tapi tiba-tiba...."
[Ya? Tiba-tiba apa?]
Stella tidak melanjutkan. Barbiel yang penasaran langsung mengguncang lengan Stella sambil merengek.
"Ayo ceitaaaa!" (Ayo ceritaaa!)
Aksi Barbiel yang mengganggu itu segera dihentikan Stella. Dia melanjutkan ucapannya.
"... Aku melihatnya berkumpul bersama Ay―tidak."
Stella menutup mulutnya. Sepertinya dia harus mengubah nama panggilan mereka sekarang.
"Aku melihatnya berkumpul bersama si Shavir itu dan Dhemiel. Mereka terlihat sangat bahagia. Biasanya, mereka akan mengundangku, mengingat perlakuan hangat mereka padaku akhir-akhir ini. Tapi ternyata tidak."
[Seolah-olah mereka melupakanmu?]
"Salah."
Stella menyangkal tebakan Barbiel, lalu mengoreksi dengan nada dingin.
"Seolah-olah aku tidak ada. Mereka bukan lupa, tapi menganggap bahwa aku tidak ada di dunia ini."
Pikirannya tiba-tiba tertuju pada ucapan seorang pria yang pernah dia panggil "Ayah" dulu.
"Aku tidak punya seorang anak perempuan."
"Di sini tidak ada seorang putri. Apakah kau melihat seorang anak perempuan yang mirip denganku? Kau sudah tertipu, Xylia. Dia palsu."
Kemudian ucapan pria itu tumpang tindih dengan ucapannya hari itu, yang memiliki tujuan sama bahwa dia tidak menganggap Stella ada di dunia ini.
"Itu bagus jika kau mengetahui posisimu. Aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai putriku."
Kata-kata itu berputar-putar di pikiran Stella seperti sebuah cuplikan film, melekat di kepalanya dan tidak pernah hilang, bahkan sampai sekarang.
Dia menggigit bibirnya, berusaha keras agar matanya yang sudah basah tidak menumpahkan cairan bening lagi seperti tadi.
[Menangislah.]
Barbiel, yang menyadari bahwa Stella berusaha menyembunyikan kesedihannya, mengangkat tangannya dan dengan lembut menepuk punggung Stella.
[Hanya ada aku di sini, jadi menangislah. Tidak apa-apa.]
"Heuk ... hik, hik...."
Stella tidak ingin menangis, jadi dia cegukan karena berusaha menghilangkan air matanya yang sudah berkumpul di kelopak matanya.
Tepukan Barbiel di punggung Stella berhenti. Dia mengalihkan pandangannya.
Tidak, mereka juga keluargamu. Putri Stella adalah kau, dan kau adalah Putri Stella.
*(kata kunci: judul novel ini)
Barbiel ingin mengatakan kalimat itu, yang sudah ada di ujung lidahnya, tapi dia tidak bisa melakukannya. Ia tidak ingin menambah beban Stella. Ia ingin Stella mengetahui fakta itu dengan kerja kerasnya sendiri.
Jika dia tidak bisa menerima keluarganya, maka bagaimana dia bisa menerima jati dirinya?
Barbiel tidak ingin Stella terluka lebih dalam lagi. Masa lalunya sangat menyakitkan, mungkin lebih menyakitkan dari apa yang sedang dia rasakan saat ini. Yang bisa dilakukan Barbiel sekarang adalah membantu Stella menyelesaikan masalahnya agar tidak menjadi rumit.
Namun, tidak seperti pemikiran Barbiel, Stella mengusap matanya, kemudian menoleh, memandang Barbiel.
"Barbiel, bantu aku."
Barbiel mengalihkan pandangannya ke arah Stella, tersenyum cerah.
[Katakan saja! Aku akan membantumu!]
"Bawa aku pergi dari sini."
[Apa?]
Kata-kata Stella membuat wajah cerah Barbiel luntur.
[Aku sudah bilang, aku tidak bisa membawamu pulang.]
Dia mengulangi dengan tegas, tapi bukan itu yang dimaksud Stella.
"Kirim aku ke suatu tempat."
[Apa?]
"Aku ingin menghilang ... untuk sementara waktu."
Lebih baik dia menjernihkan kepalanya untuk sementara waktu dengan pergi dari istana tanpa diketahui oleh siapa pun.
Itu lebih baik daripada melihat kebersamaan Xylia dengan Raja Shavir dan Dhemiel setiap detik.
―――
"Hati-hati di jalan, Xylia."
"Y-ya, Pangeran."
Dhemiel mengantar Xylia ke kereta bersama ayahnya. Dia mengerutkan kening setelah mendengar panggilan yang disematkan Xylia padanya.
"Kenapa kau berubah? Biasanya kau memanggilku "kakak"."
Mata hijau Xylia bergetar. Bagaimana mungkin dia melakukan itu? Dia segera membuat alasan sambil tersenyum.
"Ba-baru-baru ini ibuku mengajarkan aku tata krama. Aku diminta untuk menunjukkan sopan santun kepada kaum bangsawan, khususnya keluarga kerajaan. Jadi begitu...."
"Itu bagus. Aku kagum padamu!"
Dhemiel tertawa lebar, sedangkan Xylia tersenyum canggung. Ia segera memasuki kereta dengan cepat. Kereta yang ditumpanginya segera berjalan.
Berdiri di samping ayahnya, Dhemiel berkata sambil memandang kereta dari kediaman Duke Fictin yang perlahan menjauh, "Xylia menjadi aneh."
"Iya," balas Raja Shavir dengan kerutan di dahinya, namun ia tidak terlalu memikirkannya. "Ayo masuk."
"Baik."
Ketika mereka akan memasuki halaman Istana Evercius, sesuatu yang tergeletak di dekat gerbang mengambil alih perhatian Raja Shavir.
"Apa itu?"
"Ya?"
Dhemiel, yang mendengar ayahnya bergumam, menjadi bingung. Pandangan matanya mengikuti arah pandang pria di sampingnya.
"Mantel?" gumam anak kecil laki-laki itu.
"Apakah itu punyamu?"
"Tidak. Aku tidak punya mantel yang seperti itu."
"Bukankah itu terlihat seperti mantel seorang wanita?"
"Ayah benar."
"Sepertinya ada yang meninggalkan itu di sini."
Raja Shavir melangkah menuju mantel itu, diikuti Dhemiel. Mantel berbulu dengan warna putih susu memasuki pandangan keduanya. Mana sihir Stella yang tertinggal di sana membuat ayah dan anak itu tersentak. Energi hitam keabu-abuan yang menempel di tubuh mereka menghilang.
Mata ungu pria itu segera melebar, seolah-olah baru saja mengingat sesuatu.
"Ini mantel Stella!!"
"Ayah benar! Ini mantel Stella!"
Raja Shavir bergegas mengambil mantel itu.
"Yang Mulia! Yang Mulia!"
Seseorang memanggil pria itu dari belakang. Raja Shavir berbalik, menatap seorang wanita dengan rambut hitam dan bermata hijau yang menghampirinya dengan terengah-engah.
Suzy segera bertanya dengan cemas, "Apakah Tuan Putri sudah menemui Anda, Yang Mulia?"
"Apa?"
"Tadi Tuan Putri bilang akan meminta izin keluar istana pada Anda."
Sementara Raja Shavir tidak mengerti dengan ucapan pelayan wanita itu, Dhemiel menjawab dengan polos, "Tapi Stella tidak menemui kami."
"Apa?"
Suzy tertegun. Mata hijaunya bergetar, sedangkan tangannya menutup mulutnya. Wajahnya terlihat pucat, seolah-olah tidak ada energi kehidupan di sana.
"Ya Tuhan! Lalu di mana Tuan Putri sekarang?"
Firasat buruk segera merayap masuk, mengelilingi hati Raja Shavir ketika mendengar anak perempuannya tidak ada di mana pun.
――――――――――――――
TBC!