
Raja Shavir tidak pernah mengerti jalan pikiran Stella. Anak perempuan itu menutup dirinya rapat-rapat, tidak menyisakan celah sekecil apa pun. Perilakunya tidak bisa ditebak. Dia juga jarang menunjukkan berbagai macam ekspresi, jadi Raja Shavir tidak tahu apakah dia senang, apakah dia marah, apakah dia sedih, dan ekspresi lainnya.
Bahkan Suzy, yang merawat anak itu dari bayi dan hidup bersamanya, juga tidak tahu apa yang anak itu pikirkan. Wanita itu mengatakan bahwa perilaku anak itu sangat dewasa, seperti tidak sesuai dengan umurnya.
Ketika anak itu menyembunyikan sesuatu dan berkata "Aku baik-baik saja", dia tahu bahwa anak itu tidak baik-baik saja. Namun anak itu hanya akan diam untuk sementara waktu, tapi tidak pernah menghilang dari pandangannya seperti saat ini.
Dia menghilang, seolah-olah menyampaikan pesan selamat tinggal padanya.
Raja Shavir tidak bisa membiarkan anggota keluarganya hilang lagi, cukup Alexa yang menghilang dan tidak kembali sampai sekarang, tapi jangan Stella. Karena dia masih belum mengatakan permintaan maaf pada anak itu. Tidak, mungkin jika dia meminta maaf ribuan kali, dia tetap tidak bisa menghapus kesalahan fatal yang sudah dia perbuat.
"Aku tidak punya seorang anak perempuan. Di sini tidak ada seorang putri. Apakah kau melihat seorang anak perempuan yang mirip denganku? Kau sudah tertipu, Xylia. Dia palsu."
Sial. Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Dasar bodoh!
Raja Shavir mengutuk dirinya sendiri. Dia tidak tahu mengapa kata-kata itu keluar dari mulutnya dan mengapa dia bisa bersikap dingin seperti itu ketika menyangkut tentang Stella. Dia seperti dikendalikan. Setelah dia tersadar, kata-kata itu adalah sesuatu yang muncul di pikirannya dan tidak pernah hilang. Dia marah, sangat marah, karena tidak tahu siapa yang mengendalikannya.
Hal pertama yang ingin dilakukan pria itu adalah meminta maaf pada Stella, tapi sepertinya Tuhan tidak menginginkan hal itu. Dia segera menerima kabar buruk dari Suzy bahwa Stella menghilang dan tidak ada di mana pun.
―――
"Oh, astaga. Rupanya pangeran terbuang yang terkenal itu ada di sini. Hihihi."
Seorang gadis remaja menutupi mulutnya dengan kipas sambil tertawa, jelas mengejek anak kecil laki-laki yang berdiri di depannya.
"Kau tidak boleh begitu. Seharusnya kita senang karena adik kecil kita masih hidup."
Seorang laki-laki membalas dengan senyum manis di wajahnya, tapi kilat jijik melintas di matanya, lalu dia tertawa.
"Kakak memang selalu baik kepada semua orang. Laurabelle sangat bangga padamu, Kak! Berbeda dengan seseorang."
Remaja perempuan itu, Laurabelle, tertawa gembira sambil membandingkan anak kecil laki-laki di depannya dengan kakaknya.
Kakaknya, pangeran mahkota dari Kerajaan Risteard, Harold, merasa bangga, kemudian mengejek dengan halus.
"Kau harus meniru perbuatan baik kakakmu ini, Laura. Terlebih pada anak malang yang dibuang oleh Ayah dan ditinggal selamanya oleh ibunya. Kita harus menunjukkan belas kasihan kepadanya, 'kan?"
"Wow! Kakak benar!"
Kakak-beradik itu kemudian tertawa riang.
Aku ingin pergi dari sini.
Ester memandang mereka tanpa ekspresi. Dia sudah biasa mendapat perlakuan tidak pantas seperti ini di tempat tinggalnya dulu, tapi sekarang rasanya seperti dia kembali ke neraka dunia nyata itu. Karena dia cukup terbiasa dengan sikap hormat yang ditunjukkan orang-orang padanya di sini, tanpa sadar dia jadi lupa bagaimana diperlakukan seperti budak.
Ini seperti aku mengulang kembali kenangan buruk hidupku di sana jika aku masih bersama mereka.
Pada mulanya, Ester datang ke istana karena mendapat surat dari sang raja bahwa Putri Stella menghilang. Dia tidak tahu detail kejadiannya, jadi dia berniat menemui Raja Shavir secara langsung. Namun, tidak disangka bahwa dia bertemu dengan kakak-kakak tirinya di tengah perjalanan.
"Ah, Pangeran Keli―oh, salah! Kau bukan pangeran lagi, 'kan? Hehe."
Laurabelle tersenyum, tapi matanya menunjukkan kilat dingin yang berisi ejekan.
"Iya," jawab Ester singkat.
Laurabelle mengerutkan alisnya, tidak senang setelah mendengar jawaban singkat dari Ester.
Trak!
Dia menutup kipasnya dengan marah.
"Hei, apa-apaan dengan jawaban itu!"
"...."
"Seharusnya kau menambahkan embel-embel "Tuan Putri", tahu? Apa kau tidak tahu sopan santun, hah?"
Laurabelle berteriak.
Dia adalah seorang wanita yang mementingkan kehormatan daripada harga diri. Jika tidak ada yang memanggilnya "tuan putri" padahal dia adalah orang berpengaruh keempat setelah kakaknya, maka dia akan sangat marah.
"Aku adalah seorang putri dan seharusnya kau tahu tata krama memanggil seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi daripada dirimu! Apa kau mengerti sekarang, hah?"
Laurabelle menyeringai di balik wajah marahnya. Ini adalah gertakan yang paling berpengaruh pada Ester. Karena setiap dia mendengar kalimat seperti itu, maka dia akan menyadari statusnya yang bahkan lebih rendah dari seorang pelayan meskipun dia adalah seorang pangeran. Lalu ingatan buruk anak itu tentang ibunya yang selalu menjadi budak para selir akan menghantuinya.
Dia pasti akan gemetar dengan wajah menangis!
"Kau akan jadi penerusku yang disegani semua orang, jadi jangan permalukan nama keluarga, terlebih ibumu! Dia akan sangat kecewa jika kau mudah digertak dan sangat lemah seperti tikus!"
Sekarang kalimat itu yang menghantuinya.
Aku tidak boleh lemah di depan mereka. Aku harus kuat, seperti penyelamatku!
"Maafkan saya. Hanya Putri Stella yang pantas dipanggil "tuan putri". Anda hanya seorang tamu, jadi jangan bertindak sembarangan."
"K-kau...!"
Laurabelle tersentak ketika mata biru jernih tanpa emosi itu memandangnya, seolah-olah ada sesuatu yang mengerikan di sana. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur. Harold, yang menyaksikan situasi di depannya, berinisiatif melindungi adiknya di belakangnya, lalu berdiri tepat di depan Ester.
"Hei, anak kecil. Jangan bersikap kurang ajar."
Harold berbicara dengan penuh penekanan, menatap Ester dengan tajam.
Tapi Ester, yang berusaha lari dari situasi saat ini, pura-pura tidak mendengarkan dan mengambil langkah maju.
"Saya permisi."
"Hei!"
Harold mencengkeram tangan Ester, lalu berteriak marah ke arahnya.
"Di mana sopan santunmu? Aku sedang berbicara padamu!"
Anak laki-laki dengan rambut merah muda lembut itu melirik ke arah belakang Harold, kemudian tidak menjawab.
B*j*ng*n kecil ini!!
Melihat bahwa Ester tidak mempedulikannya, Harold menjadi marah.
"Dasar tidak tahu diri! Padahal kau baru saja menjadi pewaris duke, tapi kau sudah sangat sombong!"
"...."
Aku ingin tertawa.
Ester berusaha menahan tawanya, sehingga tubuhnya gemetar, namun Harold salah mengartikan hal itu. Dia berpikir bahwa anak kecil tidak tahu malu itu takut padanya. Harold menyeringai lebar.
"Berani sekali kau bersikap acuh tak acuh padaku seperti ini. Rasakan ini, bocah tengik!"
Harold mengangkat tangannya dengan mata melotot dan senyum lebar, hendak menampar Ester.
"Berani sekali kau membuat keributan di istanaku."
Tapi gerakannya terhenti ketika suara dingin seseorang terdengar di belakangnya.
"Apa kau sudah bosan hidup?"
Glek.
Harold dan Laurabelle menelan saliva secara bersamaan. Tanpa berbalik pun mereka sudah tahu siapa yang berbicara dengan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Kenapa orang itu ada di sini?!
Harold berteriak dengan putus asa di dalam hatinya. Ia menurunkan tangannya dengan kaku, kemudian berbalik dan memasang senyum tanpa dosa, begitu juga dengan Laurabelle.
"Maafkan ketidaksopan kami, Yang Mulia. Saya―"
"Diam. Aku sudah tahu siapa kau."
Harold tersenyum dan membalas, "Begitu, ya."
Tapi di dalam hatinya dia menggertakkan gigi. Dia harus tetap terlihat baik dan sopan kepada orang itu, meskipun rasanya memuakkan.
Karena jika dia menunjukkan perilaku aslinya di depan pria itu, maka takhta Kerajaan Risteard tidak akan bisa jatuh ke tangannya.
Semua orang tahu bahwa ayahnya adalah raja dari Kerajaan Risteard, dan dia adalah pewaris takhta. Tapi itu semua palsu. Orang paling berkuasa di Risteard adalah raja dari Kerajaan Evergard, yaitu Raja Shavir Al-Tacius Evergard, pria di depannya.
――――――――――――――
TBC!