
"Kakak!"
Seorang gadis kecil dengan gaun merah muda berkeliling di sebuah istana sambil berteriak, memanggil kakaknya yang katanya ada di Istana Everiel. Rambut pirang gadis itu yang diikat dua bergoyang setiap kali dia melangkah.
"Tuan Putri!"
Seorang pria paruh baya berseragam pelayan datang menghampiri gadis kecil itu, lalu ia memberi salam, setelah itu sedikit membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu. "Apa Tuan Putri mencari Pangeran Mahkota?" tanyanya sopan sambil tersenyum lembut.
"Iya! Kau tahu di mana Kakak, Ron?" tanya sang putri lalu celingukan. "Aku tidak melihatnya dari tadi. Kakak juga tidak ada di kamarnya."
Ronald, kepala pelayan yang mengelola Istana Everiel, mengangguk dan menjawab, "Yang Mulia Pangeran ada di aula pelatihan bersama para kesatria."
"Aula pelatihan?" Putri kecil itu merenung sejenak. "Tapi jadwal Kakak, 'kan, sekarang kosong."
"Memang benar. Tapi Pangeran tetap ke aula pelatihan. Beliau mungkin sedang sparring sekarang."
Ronald mengatakan dengan tenang seolah itu adalah hal yang biasa, namun akal sehat Stella tidak bisa menerimanya.
"Sparring? Kakak yang umurnya 10 tahun?!" tanyanya kaget sekaligus tidak percaya.
Ia tentu mengakui kehebatan kakaknya dalam berpedang, namun tidak mungkin melakukan sparring di umur yang begitu muda dengan seorang kesatria berpengalaman. Dan tidak mungkin kesatria yang sparring dengan pangeran mahkota adalah kesatria veteran, tapi pasti komandan kesatria langsung, yaitu jenderal!
"Bagaimana kalau Kakak terluka? Dia, 'kan, tidak bisa sihir!"
'Anu, bukan tidak bisa tapi lemah, Tuan Putri,' ralat sang kepala pelayan di dalam hatinya, ingin mengutarakan langsung tapi tidak bisa.
Ronald pun berdehem pelan. "Kalau begitu, saya akan mengantar Tuan Putri ke aula pelatihan."
"Oke."
'Kata baru apa lagi itu?'
Ronald bertanya-tanya di dalam hati, merasa bingung dengan sang putri yang terkadang mengucapkan kata-kata asing.
'Hmm. Sepertinya termasuk bahasa kuno, ya?'
Pria paruh baya itu mengangguk mengiyakan pikirannya sendiri kemudian memasang senyum sopan lagi.
"Silakan ikuti saya, Tuan Putri."
Stella mengikuti kepala pelayan itu sambil melihat-lihat sekeliling. Meskipun dia sering datang ke istana ini dan bermain-main di sini, rasanya tetap aneh. Tapi berkat itu, ia jadi tahu gambaran kasar dari masa lalunya sebelum hilang ingatan. Bahwa hubungannya dengan keluarganya tidak baik di masa lalu.
"Aah! Itu Tuan Putri!"
"Tuan Putri! Lihat kami!"
"Kyaa! Dia melihatku!"
"Bodoh! Dia melihatku!"
"Omong kosong! Tentu saja Tuan Putri melihatku!"
"Apa katamu?!"
"Mau ribut? Ayo sini!"
Ronald menghela napas lelah ketika melewati beberapa pelayan yang bertengkar hanya karena hal sepele. Padahal Putri Stella sering mengunjungi Istana Everiel, tapi sepertinya semuanya masih belum puas hanya dengan melihat sang putri. Mereka semakin berlomba-lomba menarik perhatian putri kecil itu.
'Walau tentu saja Tuan Putri acuh tak acuh,' pikir Ronald mengasihani para pelayan.
"Tolong maafkan ketidaksopanan mereka, Tuan Putri," ujar pria itu dengan ekspresi bersalah.
"Tidak masalah. Aku sudah biasa."
'Memang keturunan Yang Mulia.'
Memang sepertinya keluarga kerajaan dilahirkan dengan kekuatan mental yang kuat. Menyadari isi pikirannya, Ronald diam-diam tertawa kecil.
...―――...
'Di mana Kakak?'
Stella, yang sudah bertumbuh selama tiga tahun ini, memiliki rambut pirang panjang yang mencapai pinggang, sepasang mata merah cerah, kulit yang halus dan terawat, dan pipi merah muda yang berkilat. Fitur wajahnya yang dulunya bulat dan diisi dengan lemak bayi sudah menjadi kurus, membuatnya tampak seperti anak perempuan yang akan segera beranjak remaja. Ia juga menjadi lebih tinggi daripada saat berumur 5 tahun.
Di saat yang sama, kemampuan sihirnya juga mengalami peningkatan.
Misalnya saja seperti saat ini.
[Kau mencari kakakmu? Ckckck, lihatlah seberapa banyak perubahan dalam dirimu, Tuan Putri.]
'Berisik kau, makhluk tak terlihat.'
Stella mengerutkan kening, merasa kesal dengan sebuah suara menjengkelkan yang tiba-tiba berbicara dengannya lewat telepati. Suara yang ia sebut 'makhluk tak terlihat' ini sudah terdengar sejak dua tahun lalu.
[Aku juga ingin kau melihatku, tahu. Tapi ingatanmu harus balik dulu!]
'Hmm. Aku sudah dengar kalimat itu 100 kali.'
[Memang kau niat menghitungnya?!]
"Diam. Berisik."
Kata-kata yang cukup kasar untuk diucapkan oleh seorang putri kerajaan berusia delapan tahun benar-benar mengagetkan Ronald yang berjalan di samping Stella. Pria paruh baya itu menganga tak percaya.
"Tu-tuan Putri...?"
"Ah, aku ngomong sendiri. Kata-kataku tadi bukan untukmu, kok," ucap Stella merasa tak enak. Ia pun mempercepat langkahnya menuju aula pelatihan. "Aku duluan, ya!"
"Oh, oh. Baiklah...."
Kepala pelayan yang masih linglung di tempatnya dengan cepat ditinggalkan oleh sang putri.
Sementara itu, Stella sudah tiba di depan gerbang aula pelatihan, yang didominasi warna hitam. Dua orang kesatria yang berjaga di kedua sisi gerbang segera memberi salam lalu membuka gerbang.
"Tuan Putri Stella datang berkunjung!"
Kriettt....
Gerbang dibuka, menampakkan pemandangan dua orang pria yang memiliki perbedaan tinggi yang mencolok sedang adu kekuatan di tengah-tengah aula, disaksikan oleh semua kesatria terbaik kerajaan.
[Oho. Itu dia kakakmu.]
Suara yang membuat emosi Stella naik itu kembali terdengar.
"Aku tahu, jadi diamlah."
[Ya, Tuanku.]
Suara itu lantas menghilang setelah membalas dengan nada malas. Stella menggerutu di dalam hati, kemudian melangkah menuju dua orang yang masih sparring.
Klang! Klang!
Dua ayunan pedang yang saling berbenturan guna menunjukkan siapa pemenang sparring kali ini terdengar begitu bersemangat.
Para kesatria dibagi menjadi dua kubu, yang pertama adalah kubu yang mendukung pangeran mahkota, sedangkan yang lainnya adalah kubu yang mendukung jenderal kerajaan.
"Semangat, Yang Mulia Pangeran!"
"Anda pasti bisa! Ayo kalahkan Jenderal William!"
"Jenderal! Anda jangan sampai kalah!"
"Benar, benar! Anda harus menang supaya tetap bisa menjadi guru berpedang Yang Mulia Pangeran dan kami semua!"
"Uuwoooo!!"
'Mereka berisik.'
Mau tak mau, Stella ikut-ikutan menjadi penonton karena tidak mau menghancurkan suasana gemuruh dan bersemangat di antara mereka hanya karena mereka berisik.
'Aku juga bisa jadi wasit. Nanti kalau Kakak dalam bahaya, aku bakal langsung pakai sihir penghalang,' batinnya seraya menganggukkan kepalanya.
Mata merahnya segera terpusat pada kegiatan sparring antara kakaknya dan jenderal kerajaan.
Syuk! Tak!
Dhemiel menghindar dari ayunan pedang Jenderal William, lalu menyerang balik hingga pedang keduanya bertabrakan dan menyebabkan bunyi dentingan terdengar.
Sorakan terdengar di antara para kesatria.
Stella mengamati adegan itu dengan serius.
Di tengah aula pelatihan, Dhemiel yang sudah berkeringat banyak tampak tersenyum puas.
Sedangkan Jenderal William juga ikut tersenyum disertai ekspresi bangga di wajahnya.
"Kemampuan dan teknik berpedang Yang Mulia Pangeran sudah meningkat. Jika terus seperti ini, Anda pasti bisa mengalahkan saya beberapa tahun lagi dan menjadi ahli pedang," ujar Jenderal William sambil mengubah posisinya, sementara tangannya menepuk pundak Dhemiel sebagai pujian.
"Terima kasih, Jenderal."
Percakapan di antara mereka yang bisa didengar Stella terus mengalir, memperlihatkan seberapa dekat dan akrabnya mereka. Keseriusan tampak di wajah sang putri yang mengamati mereka.
'Ini aneh,' batinnya sambil berpikir.
[Apanya yang aneh?]
Suara dari makhluk tak terlihat tiba-tiba ikut menimbrung di dalam pikiran Stella.
'Serius. Ini aneh.'
[Makanya apa yang aneh?]
'Kalau Kakak akrab dengan orang lain, Ayah tidak marah atau melarang.'
[Terus?]
'Tapi kenapa kalau aku yang akrab dengan orang lain, Kakak dan Ayah malah melarang dan mengawasiku?'
[....]
'Ini aneh, 'kan?'
[... Benar. Ini sangat aneh. Kepedulian mereka yang terlalu ditunjukkan pasti membuatmu merasa tidak nyaman. Bertahanlah sebentar lagi.]
Nada suaranya tiba-tiba menjadi bijak di akhir kalimat. Stella tanpa sadar memasang tampang jijik dan merinding ketika mendengarnya.
[Ya, Tuanku.]
Nada malas yang sama seperti tadi menjadi suara terakhir yang didengar Stella.
"Stella! Kau di sini?"
Suara ceria seseorang terdengar. Stella menoleh dan melihat Dhemiel melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Tidak ada lagi bocah laki-laki yang selalu jahil padanya di setiap kesempatan.
Kini Dhemiel yang sudah beranjak remaja menjadi sedikit dewasa dan memainkan perannya sebagai pangeran mahkota dengan sungguh-sungguh.
"Kakak."
Dhemiel tampak senang ketika mendengar Stella memanggilnya. Ia berjalan mendekat dengan wajah berseri-seri.
"Bagaimana tadi? Aku hebat, 'kan?"
"Ya. Kakak hebat."
"Oho~ Tentu saj―"
"Tapi tadi ayunan pedang Kakak kurang berenergi dan terlihat lemah."
Jleb.
"Posisi kaki Kakak salah saat menyerang."
Jleb.
"Dan Kakak terlalu terobsesi untuk menang. Jadi kalau di medan perang Kakak seperti itu, tidak heran kalau Kakak tidak sadar ada musuh lain yang menyerang dari belakang."
Jleb.
'Ohok, ohok.'
Dhemiel seperti ditusuk oleh tiga panah berturut-turut ketika mendengar ucapan adiknya. Wajahnya langsung suram. Semangatnya untuk menjadi lebih kuat seketika padam. Itu pun akibat orang yang ingin dia lindungi.
"Kalau begitu jangan memujiku, dong!" protes sang pangeran setelah bangkit dari keterpurukannya. Ia menggerutu. "Kenapa kau selalu menerbangkan aku lalu menjatuhkan aku, sih."
"Aku juga tidak tahu."
"...."
Perempatan kecil muncul di wajah Dhemiel. Stella tertawa mengejek ketika melihatnya.
... Sepertinya tidak ada yang menjadi sedikit dewasa di antara mereka.
"Haaah...." Kemudian Dhemiel menghela napas dan tersenyum pada gadis kecil di depannya. Nada suaranya menjadi kalem dan lembut. "Ya sudahlah. Ayo kita pergi jalan-jalan."
Tapi Stella malah menyulut emosi sang kakak yang sudah padam.
"Bersihkan diri dulu sana. Kakak bau."
"Apa katamu?!"
"Aku bilang bau. Kenapa? Tidak terima, ya? Wleee!!"
"Ish. Jangan lari kau, Stella!"
"Ayo tangkap aku~~"
Aksi kejar-kejaran di antara mereka pun dimulai dari Istana Everiel sampai Istana Everstell yang sudah pindah tempat.
...―――...
"Haah... astaga. Badanku jadi pegal semua."
Ia mengeluh sambil beranjak naik ke tempat tidurnya. Sinar bulan memantul melalui jendela kamarnya dan menerangi kegelapan yang ada di sekitarnya. Malam hari sudah tiba dan bintang-bintang bermunculan di langit satu per satu.
"...."
Keheningan yang berat mulai menyelimuti ruangan itu.
Di atas tempat tidurnya, Stella memandang langit-langit kamarnya.
Banyak yang sudah terjadi selama tiga tahun ini.
Dan ia pun masih bersandiwara sampai sekarang. Tapi tentu saja, dia lebih banyak bersikap dari lubuk hatinya daripada bersandiwara dan tersenyum palsu.
"Hasil penyelidikan terakhir bakal datang sekarang, 'kan?" gumam Stella, kemudian menggerakkan matanya ke balkon kamarnya yang belum ditutup. "Kapan dia datang ya?"
'....'
'... Ehh?!'
Menyadari isi pikirannya, wajah Stella menjadi merah.
"Kenapa aku jadi memikirkan dia, sih! Jauh-jauh sana dari pikiranku!" ucapnya salah tingkah sambil mengibaskan tangannya di atas kepalanya.
"Kau memikirkan aku?"
Suara laki-laki yang datang dari arah balkon membuyarkan Stella dari pikirannya. Terkejut, kaget, dan syok bercampur menjadi satu dalam ekspresi wajahnya. Stella langsung kaku di tempatnya, menyadari bahwa orang yang baru saja dia pikirkan mendengar isi pikirannya.
'Aaakkkk!'
Ia berteriak histeris di dalam hati.
Tatapan matanya yang bergetar seolah mengatakan 'Kenapa dia harus muncul sekarang!' dengan jelas.
Laki-laki yang berdiri di balkon kamar sang putri lantas terkekeh. Ia pun berjalan pelan menuju tempat tidur Stella, yang saat ini masih mencari cara untuk bersikap alami.
"Ini laporan hari ini."
Stella menerima beberapa lembaran kertas dari laki-laki itu. "Iya. Bagus," ucapnya seperti biasanya, namun sekarang nada suaranya terdengar agak gugup disertai rona kemerahan yang masih setia menetap di pipinya.
"Dan aku senang karena orang yang aku suka memikirkan aku."
Blushh....
Ucapan mendadak dari laki-laki itu segera membuat wajah Stella seperti tomat saking merahnya.
Sedangkan si pelaku malah menikmati reaksi sang putri dan melanjutkan, "Aku juga selalu memikirkanmu dan merin―"
"Apa, sih! Pergi sana! Pulang sana!"
Stella memotong dengan cepat dan meletakkan kertas-kertas berisi laporan di bawah bantalnya, lalu mendorong laki-laki itu menuju balkon kamarnya.
"Ini sudah malam. Tugasmu juga sudah selesai. Lebih baik kau pulang."
"Kenapa? Aku ingin lama-lama di sini," bantah laki-laki itu dengan tampang memelas seperti anak anjing yang dibuang oleh pemiliknya. "Biarkan aku menginap sebentar."
"Mana bisa begitu! Kau mau ditebas ayahku?!"
Akhirnya Stella memakai ayahnya sebagai tameng dan mengancam laki-laki itu. Mata merahnya melotot seolah-olah sedang meniru sosok ayahnya yang pernah memelototi kesatria-kesatria yang pernah mendekatinya.
"Kenapa?"
Tapi laki-laki bermata biru itu tidak gentar. Ia balik bertanya dengan ekspresi santai.
"A-apa?"
"Yang Mulia tidak mungkin akan menebasku atau melakukan hal yang berbahaya padaku."
Stella mundur beberapa langkah ketika laki-laki itu mendekatinya. Dua pasang mata merah dan biru saling berpandangan di bawah cahaya bulan.
"Kenapa bisa begitu? Tentu saja karena kita bertunangan. Benar, 'kan, Tuan Putri?"
Ester tersenyum lembut dan mendekatkan wajahnya. Lalu kepalanya miring ke samping.
Cup.
"Ini kecupan selamat malam," ucap laki-laki itu senang setelah mencium pipi tunangannya, sementara Stella sudah menjadi patung berwarna merah di tempatnya. "Biarkan aku menginap sebentar ya, Stella."
―――――――――――――――
**Bonus - Mari Kita Sulut Api Kemarahan Dua orang
-WhatsApp Mode**-
Ester
Hari ini 22.00:
"Bertemu Putri + berdua + di kamar \= 💏❤️❤️"
Dilihat oleh 3
Yang Mulia Camer (baru saja)
Pangeran Dhemiel (baru saja)
Kesatria Nicole (baru saja)
---Sesaat setelahnya---
Shavir: "APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU, SIALAN?!" (💢💢💢)
Dhemiel: "Heh kau apain adikku yang polos?! Masih di bawah umur woi!!" (💢)
Nicole: "Tuan! Apakah Anda akan menjadi seorang ayah?!" (syok)
Ester: "Ya^^" (senyum-senyum sendiri)
Stella: "Anjir jangan ngadi-ngadi!!!" (melotot tajam)
Zayden & Leonard: "Tolonglah kalian kalau mau bercanda jangan kek gini🤦🤦. Haaah." (geleng-geleng kepala + tepuk jidat + hela napas)
Author: "Wkwkwkwk. Akhirnya ada drama hiburan😂😂😂"
---
Akhirnya update😭
TBC!