Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Eighty Eight (88)


-Beberapa saat sebelumnya-


"Yang Mulia! Yang Mulia! Ada informasi penting yang datang!"


Seorang penyihir berlari ke arah Raja Shavir dengan tergesa-gesa. Alat sihir di tangannya berdengung, terdengar suara kebisingan dari sana.


"Ada apa?"


"Saya mendapat kabar bahwa Istana Everstell diserang!"


Saat berita bahwa istana Stella diserang oleh sekelompok orang tak dikenal disampaikan kepadanya, sesaat Raja Shavir merasa ingin meledak.


Tidak apa-apa jika mereka ingin menyerangnya demi memperebutkan takhta, tapi dia tidak akan memberi toleransi pada orang-orang yang ingin melukai para pekerja di Istana Everstell.


Karena dia tahu bahwa Stella menyayangi mereka.


Untuk melindungi orang-orang yang disayangi Stella, Raja Shavir bersiap kembali ke istana dan memberi perintah pada Creed untuk melindungi Dhemiel, serta menghentikan pencarian Stella yang saat itu masih berlangsung.


Namun, setibanya di Istana Everstell, dia melihat pemandangan yang tidak terduga.


Para pelayan yang terluka berusaha menyelamatkan diri mereka, sementara orang-orang yang terjebak di dalam istana yang terbakar berusaha melarikan diri dan meminta bantuan.


Mata ungunya yang tajam segera menangkap dalang di balik penyerangan yang terjadi saat itu. Dan matanya secara tidak sengaja bertatapan dengan mata merah orang itu, yang terlihat seperti monster menakutkan, seolah-olah siap menelannya hidup-hidup.


Tanpa sadar Raja Shavir menyentuh pedangnya sambil bersiap menyerang. Aura ungu gelap memancar dari tubuhnya.


"Kau siapa?" tanyanya dengan nada rendah, ada jejak mengintimidasi dan menekan di dalam nada suaranya. "Beraninya kau berbuat onar di istanaku."


Tapi pria itu sama sekali tidak terprovokasi dengan ucapan sang raja. Dia malah tersenyum sambil mengusap tangannya yang berlumuran darah, yang tentu saja adalah darah orang lain. Gerakannya yang mengusap tangannya dengan lambat sambil tersenyum tanpa beban membuatnya terlihat seperti psikopat gila yang butuh perawatan medis.


Kelakuan tidak waras dari pria itu membuat Raja Shavir berdecak di dalam hatinya, merasakan bahwa akan sangat merepotkan jika berurusan dengan orang seperti itu.


'Mata merah. Itu berarti dia kuat.'


Pemilik mata merah hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Dan ada rumor yang mengatakan bahwa seseorang yang memiliki mata merah memiliki kekuatan yang luar biasa.


'Tapi tidak pernah ada dua pemilik mata merah.'


Raja Shavir sudah melihat satu orang lagi yang memiliki mata merah, yaitu kakek dari anak-anaknya, Leonard. Jadi jika ada dua orang yang memiliki mata merah, maka sudah pasti bahwa mereka bukanlah keturunan dari bangsawan penyihir, melainkan bangsawan penyihir itu sendiri. Jika dugaannya benar, maka masih ada bangsawan penyihir yang tersisa dan berbaur bersama orang-orang tanpa diketahui identitasnya.


Mata ungu Raja Shavir semakin menajam.


'Tapi kenapa dia menyerang istana?'


Keluarga kerajaan tidak memiliki permusuhan dengan bangsawan penyihir, entah itu dari raja-raja sebelumnya ataupun pendiri Kerajaan Evergard. Karena sejak Evergard didirikan, keluarga bangsawan penyihir sudah musnah.


Jika orang dari bangsawan penyihir datang menyerang istana, maka pasti ada sebuah kesalahpahaman yang terjadi dan dia tidak tahu hal itu.


"Apa kau bisu?"


"Tidak," jawab pria itu akhirnya, masih tersenyum. "Tapi, Yang Mulia. Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah katanya kau mencari putrimu yang hilang?"


"Itu tidak ada urusannya denganmu."


"Ah, benarkah?"


Pria itu memiringkan kepalanya dan membuat pose berpikir, tampak sangat menyebalkan di mata Raja Shavir. Apalagi wajah polosnya yang terkesan dibuat-buat membuat pria bermata ungu itu merasa mual saat melihatnya.


"Sepertinya Yang Mulia tidak tahu bahwa Tuan Putri akan datang ke sini."


"Apa?"


"Ternyata Yang Mulia memang tidak tahu, ya."


Nada ejekan yang terangan-terangan disertai dengan seringai lebar di wajah pria itu membuat Raja Shavir merasakan firasat buruk. Aneh rasanya saat pria itu membicarakan tentang putrinya yang menghilang alih-alih menyerangnya.


Rasanya seperti pria itu menargetkan putrinya sejak awal. Atau apakah dia salah? Untuk apa seseorang seperti itu yang tidak memiliki kewarasan membicarakan putrinya yang bahkan tidak pernah ditemui....


"Seharusnya kau merasa berterima kasih kepadaku karena putrimu yang menghilang akan segera datang ke sini. Jadi kalian bisa berkumpul lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi ke akhirat."


Ada suara cekikikan di akhir kalimat pria itu, yang membicarakan tentang kematian dengan suara tenang.


Ketika melihat sikap pria itu, keyakinan muncul di benak Raja Shavir bahwa sesuatu yang dia takutkan seumur hidupnya sebentar lagi akan terjadi. Bayangan tentang dia yang tidak bisa menyelamatkan keluarganya untuk yang kedua kalinya muncul di pikirannya, menghantuinya.


Dan sekarang bayangan itu menjadi kenyataan.


Mata ungunya bergetar dengan perasaan ketakutan dan kekhawatiran, menatap satu-satunya anak perempuannya yang ditahan dengan segel sihir oleh pria gila itu, menusuk hatinya.


"Stella―!"


Criiinggg!


Dan sebelum dia selesai berbicara, cahaya keemasan datang entah dari mana, membentuk pusaran di sekitar Stella seperti badai, menyilaukan mata orang-orang.


"Ugh...!"


Semuanya menutup mata saking silaunya, bahkan pria bermata merah itu juga menutup matanya, tidak memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi.


Dan seperti itulah, pertarungan yang direncanakan dengan matang oleh seseorang berakhir dengan kegagalan.


...―――...


"Yang Mulia, istirahatlah sebentar. Anda belum makan apa-apa selama tiga hari ini," kata Creed dengan nada membujuk, ditujukan kepada tuannya yang selama tiga hari ini tidak pernah meninggalkan sisi sang putri. "Saya tahu bahwa Anda merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Tuan Putri, tapi Anda tidak boleh menyiksa diri sendiri seperti ini. Setidaknya Anda harus hidup agar bisa memperbaiki kesalahan Anda," lanjutnya dengan tegas, menggerakkan hati Raja Shavir ketika mendengar kata-kata "memperbaiki kesalahan".


"Iya. Baiklah," jawabnya, meskipun enggan.


"Akhirnya...."


Creed merasa lega, setelah itu pergi keluar dari kamar bersama sang raja menuju ruang makan. Di sana, mereka menemukan Dhemiel dan seorang pelayan wanita, yang tidak lain adalah Suzy. Wanita itu ingin memberi hormat, tetapi segera dihentikan oleh Raja Shavir.


"Aku hanya akan makan."


"Baik, Yang Mulia," jawab Suzy dengan patuh, kemudian mulai menyajikan makanan. "Saya senang karena Yang Mulia akhirnya mau beristirahat. Anda harus tetap makan meskipun sedikit. Anda juga harus tetap sehat sampai Tuan Putri bangun."


Raja Shavir diam, tapi mendengarkan ucapan pelayan wanita itu. Mata ungunya beralih ke Dhemiel, yang duduk di seberangnya dengan wajah lesu.


"Wajahmu tidak baik-baik saja, Dhemiel," katanya dengan tenang, namun tersirat nada khawatir dalam ucapannya.


"Aku baik-baik saja, Ayah," jawab Dhemiel tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.


Dia mengangkat garpunya, tetapi kemudian berhenti. Bibirnya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Tidak seperti aku yang sehat, Stella ... Stella ... Stella, hik, huwaaaaa!!"


Dia mulai meneteskan air mata lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Suzy dengan cepat mengambil saputangan dan memberikannya pada Dhemiel, sedangkan Creed menatap pangeran kecil itu dengan pahit.


Tak.


Suara alat makan yang bersentuhan dengan piring terdengar. Raja Shavir meletakkan sendok dan garpunya, lalu bangkit dan menghampiri putranya.


"Stella pasti akan bangun, Dhemiel. Dia akan baik-baik saja," ucapnya.


Dhemiel memandang ayahnya dan semakin menangis.


"T-tapi! Tapi Stella...!"


"Dia akan baik-baik saja."


"Huwaaaa! Stellaaa!!"


Pelukan hangat di antara keduanya membuat suasana yang awalnya sedih menjadi semakin sedih. Suzy mengusap matanya yang memerah dan mengangguk-anggukan kepalanya.


'Tuan Putri akan baik-baik saja. Karena beliau adalah orang yang kuat.'


Semuanya berpikir begitu. Sampai hal itu terjadi.


...―――...


Keesokan harinya.


Matahari pagi yang menghangatkan menyinari suasana hati semua orang. Beberapa saat yang lalu, sang putri yang belum sadarkan diri, menggerakkan jari-jari tangannya.


Semua orang menunggu dengan cemas setelah dokter memberitahukan bahwa sang putri akan sadar sebentar lagi.


Saat menit demi menit terlewati dan semuanya mulai menghapus harapan itu, saat itulah kelopak mata anak perempuan itu bergetar.


"Uhh...."


Suara erangan kecil yang keluar dari mulutnya terdengar, mengambil alih perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Stella! Apa kau baik-baik saja?"


"Stella!"


"Tuan Putri!"


Namun, ketika alisnya mengerut, dan pria yang berdiri di sampingnya memanggilnya dengan panik, saat itulah kebingungan terlihat di mata merah itu.


"Siapa ... siapa? Aku tidak mengenal Anda...."


Deg.


Mata semua orang yang ada di ruangan itu melebar.


"Aku ... aku tidak bisa mengingat apa pun...."


Awal untuk kehidupan yang baru dimulai dari sini.


―――――――――――――――


TBC!