
"Ekhm, ekhm!"
Stella berdehem, menarik perhatian beberapa orang, termasuk Xylia dan Zhio yang mulanya asyik bermain-main, kemudian Stella berkata dengan percaya diri.
"Lihatlah!"
Dhemiel mengangguk ringan sebagai balasan, sedangkan bibirnya tersenyum miring, menantikan pertunjukan langka yang sebentar lagi akan terjadi.
Setelah itu, kedua alis Stella melengkung ke atas, matanya berair dengan lucu, bibirnya diperkecil, dan akhirnya Stella berucap dengan nada manis, "Aku ingin makan itu lagi, Kakak. Kumohon belikan aku lagi, ya~?"
Deg!
Dhemiel mematung. Hatinya berdebar-debar dengan tidak karuan. Seketika dia merasa ada sebuah panah cinta yang melewati jantungnya.
Sementara itu, Xylia langsung mimisan di tempatnya, sedangkan Zhio yang ada di sampingnya menatapnya dengan aneh, tidak mengerti mengapa gadis kecil itu tiba-tiba mimisan.
Tidak memedulikan keadaan di sekitarnya, Xylia seketika menjerit dengan gembira, "Aahh! Aku cinta Stella!!" jeritnya sambil menatap ke arah Stella dengan mata berbinar penuh cinta.
Di sisi lain, Dhemiel, yang masih mematung, segera menatap pedagang tusuk daging yang ada di belakang Stella.
"Berikan adikku sepuluh tusuk lagi," katanya dengan mantap sambil melemparkan sekeping koin emas ke arah pedagang itu.
Pria paruh baya itu, yang mendapat sekeping koin emas dari Dhemiel, segera menatap Dhemiel dengan tatapan bergetar karena kegembiraan, kemudian dia membalas dengan cepat, "Baik, Tuan Muda!"
Setelah itu, Stella menerima sepuluh tusuk daging itu dengan gembira.
Dia memakannya di samping Dhemiel sambil berucap dengan mulut penuh makanan, "Telima kacih," ucapnya dengan pelafalan yang berantakan. (Terima kasih)
Tingkah laku Stella yang tampak menggemaskan itu membuat Dhemiel dan orang-orang di sekitarnya mendadak menjadi jatuh cinta padanya.
Sementara itu, Stella memuji dirinya sendiri di dalam hatinya, bangga terhadap aktingnya.
'Haha, tak sia-sia aku mengikuti akting lucu Kak Jevon di kehidupanku sebelumnya. Nyam ... tidak buruk juga menjadi anak kecil,' batin Stella sambil meneruskan memakan makanannya, lupa bahwa dia memang anak kecil sungguhan.
...―――...
Raja Shavir dan Creed baru saja selesai mengintrogasi para bangsawan. Interogasi itu berkaitan dengan kejadian lima tahun yang lalu. Melalui interogasi mendadak hari ini, Raja Shavir mendapatkan tiga orang tersangka yang menjadi dalang di balik kejadian tragis itu, salah satu tersangkanya adalah Levon Fictin.
Dia tidak pernah menduga jika Levon berkaitan dengan peristiwa tragis itu. Memikirkan kembali sikap pria berambut cokelat itu, yang selalu menempelkan putrinya dengannya, membuat Raja Shavir merasa yakin jika tindakan itu dilakukannya agar Xylia bisa menjadi putri kerajaan dan Levon bisa mengambil alih takhta kerajaan.
Ketika memikirkan hal itu, ekspresi Raja Shavir menjadi gelap. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah memberikan takhta kerajaan pada orang yang seperti itu! Takhta kerajaan hanya akan diserahkan pada Dhemiel setelah anak kecil itu bertunangan, itulah janjinya pada anak itu, dan dia bukanlah orang yang mengingkari janjinya.
Sepanjang perjalanan menuju istananya, Raja Shavir tidak melihat Dhemiel. Biasanya, anak itu akan berada di sekitar istananya bersama Xylia atau pelayan pribadinya. Namun, sekarang dia tidak melihat anak itu. Seketika perasaan khawatir menyerbu hatinya, kemudian Raja Shavir menghentikan langkahnya.
"Creed," panggilnya dengan nada rendah.
"Ya, Yang Mulia," balas Creed dengan tegas.
"Di mana Dhemiel?"
"Saya tidak tahu di mana Pangeran Mahkota, karena saya selalu bersama dengan Yang Mulia," jawab Creed dengan jujur, membuat Raja Shavir menatapnya dengan tajam.
"Jawabanmu tidak membantu sama sekali," Raja Shavir menyindirnya dengan telak.
"Hehe."
Creed hanya terkekeh dengan pelan sebagai balasan.
"Cari keberadaan Dhemiel sekarang. Ini perintah."
"Baik, Yang Mulia."
Setelah itu, Creed menjalankan perintah Raja Shavir, kemudian Raja Shavir melanjutkan langkahnya menuju istananya.
Beberapa saat kemudian, ketika Raja Shavir berada di ruangan kerjanya, Creed mengetuk pintu ruang kerja itu. Raja Shavir memberinya izin masuk, lalu Creed berjalan ke arahnya.
"Saya sudah mengetahui keberadaan Pangeran Mahkota, Yang Mulia," kata Creed, memberitahukan bahwa dia mengetahui di mana keberadaan Dhemiel.
Raja Shavir tidak menatapnya, dia sibuk menandatangani dokumen-dokumen yang baru saja tiba di istananya.
Pria itu kemudian bertanya dengan singkat, "Di mana?"
"...."
Raja Shavir, yang tidak mendapat jawaban dari Creed, langsung mengeluarkan aura berbahayanya, menekan mental Creed hingga ke titik terendah. Dia pun membuka suaranya.
"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku," katanya dengan dingin.
Segera, Creed menjawab dengan bibir gemetar, "Itu .... Pangeran Mahkota sedang ada di pasar ibukota bersama Nona Xylia, Tuan Zhio, dan―"
"Oh, kupikir anak itu dalam bahaya," Raja Shavir memotong jawaban Creed, tidak berniat mengetahui Dhemiel bersama siapa dan alasan mengapa dia ke pasar yang ada di ibukota.
Namun, tidak peduli tentang sikap tuannya yang tak acuh, Creed tetap melanjutkan jawabannya, meyakinkan dirinya bahwa dia harus memberitahu tuannya.
"Pangeran Mahkota juga bersama dengan Tuan Putri."
Ctak!
Alat tulis yang digunakan Raja Shavir seketika menjadi patah, terbelah menjadi dua bagian. Pria itu tidak mampu merespons untuk sementara waktu. Pikirannya melayang, berimajinasi bahwa putranya, Dhemiel, saat ini sedang bersenang-senang dengan putrinya, Stella.
Membayangkan bagaimana rupa wajah Stella yang berseri-seri dan senyumannya yang langka, diberikan pada Dhemiel hanya karena anak itu mengajak Stella ke pasar, membuat darah di tubuh Raja Shavir mendidih. Mata ungunya bersinar dengan cahaya yang aneh, ada kilat ketidaksukaan melintas di mata itu.
"Mereka pergi ... tanpaku?"
Pertanyaan itu seketika keluar dari bibirnya.
Mendengar pertanyaan tuannya, Creed segera menjawab dengan jujur, "Ya, Yang Mulia," katanya, lalu sekelebat kilat kelicikan melintas di mata biru pria itu, kemudian Creed menambahkan dengan nada provokasi, "Yang Mulia benar. Pangeran Mahkota pergi bersenang-senang dengan Tuan Putri tanpa Anda. Sekarang, aku penasaran bagaimana ekspresi Tuan Putri saat ini, beliau pasti sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kakaknya, tidak seperti Anda yang tidak pernah memenuhi tugas Anda sebagai seorang ayah."
Saat itu juga, Raja Shavir langsung beranjak dari tempatnya disertai wajah gelapnya yang tampak menyeramkan, meninggalkan Creed yang sedang terkikik.
'Sungguh menyenangkan menyindir Yang Mulia di hadapannya sendiri. Aku ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi. Hahahahah!' batin Creed sambil tertawa puas di ruangan yang sunyi itu.
...―――...
Setelah puas memakan makanan yang diinginkannya, Stella berjalan-jalan di sekitar pasar itu, hingga tak terasa dia melangkah menuju sudut terpencil dari tempat itu. Sementara itu, Dhemiel berjalan di sampingnya, dia mengatakan kalau dia harus menjaganya karena Stella adalah adiknya, sedangkan Xylia dan Zhio sedang menyaksikan sebuah pertunjukan.
"Woah! Apa itu, Kak?"
Stella bertanya dengan nada penasaran pada sebuah bangunan berwarna biru gelap yang ada di sebelah kirinya.
"Itu terlihat seperti toko buku, 'kan?"
Mengikuti arah pandang Stella, Dhemiel melihat sebuah bangunan yang tampak unik dengan warna biru gelap di sekitarnya. Biarpun toko itu terlihat unik, tetapi warna bangunan itu terlihat tidak sesuai dengan bentuk bangunannya, sehingga Dhemiel merasa curiga dengan tempat itu.
Lalu, pandangannya mengarah pada Stella yang menatap toko itu dengan penuh minat.
"Apa kau mau ke sana?" tanya Dhemiel, yang langsung mendapat anggukan cepat dari Stella.
Dhemiel pun terkekeh. Dia merasa bangga dengan dirinya sendiri yang bisa mengubah sikap adiknya dalam waktu singkat, tidak menyadari bahwa tindakan itu palsu.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana."
Keduanya pun memasuki toko itu. Ketika mereka membuka pintu bangunan itu, sebuah bel yang dipasang di atas pintu itu berbunyi, menarik perhatian pemilik toko.
"Silakan dilihat-lihat, Nak."
Pemilik toko itu mempersilakan kedua anak kecil itu menjelajahi tokonya. Dia adalah seorang pria tua dengan rambut dan janggut panjang yang berwarna putih.
"Di sebelah sana ada buku dongeng, sangat cocok untuk kalian," lanjutnya sambil menunjuk sebuah rak kayu berisi buku-buku dongeng.
Berpura-pura menjadi anak kecil, Stella berjalan ke arah rak itu, sedangkan Dhemiel duduk di salah satu kursi, menunggunya.
Ada berbagai macam buku-buku dongeng yang tertata rapi di rak kayu itu. Stella melihat-lihat sampul buku-buku dongeng itu, sambil sesekali membaca deskripsi beberapa buku dongeng yang belum pernah dilihatnya. Setelah itu, tatapan Stella terjatuh pada sebuah buku yang tampak familier.
Sampul buku itu berwarna merah muda, tampak mencolok, sangat berbeda dengan buku-buku dongeng lainnya yang dominan berwarna cokelat.
Ketika melihat judul buku dongeng itu, mata ungu Stella bergetar.
'Ba-bagaimana bisa?'
Stella membatin dengan terbata-bata. Dia kemudian mengambil buku itu. Mata ungunya kembali memerhatikan judul buku itu, di situ tertulis kalimat "The Poor Princess" dengan warna emas. Tanpa sadar, mata ungunya berubah warna menjadi merah. Sekelebat kilatan berwarna hitam menguar dari tubuhnya.
――――――――――――――
TBC!