Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety Five (95)


Isi kepala Stella mendadak kosong. Jantungnya berdebar gila-gilaan bersamaan dengan hawa panas yang menyebar di wajahnya. Mata merahnya yang menatap Ester bergetar, seolah-olah meminta penjelasan atas apa yang baru saja dilakukan laki-laki itu.


"K-kau...!"


Jari telunjuk Stella menunjuk-nunjuk Ester berulang kali, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia justru tergagap dan yang lebih memalukannya lagi, wajahnya merah padam tapi matanya jelas-jelas melotot marah, sedangkan si pelaku malah berekspresi senang.


"Jadi...." Ester menaikkan sudut bibirnya dan kembali mendekatkan wajahnya. "Biarkan aku menginap sebentar, ya."


Suara napasnya yang hangat menggelitik pipi Stella. Wajah tuan putri itu semakin merah dan jantungnya berdetak tak terkendali, sampai-sampai Stella bisa mendengar debaran jantungnya sendiri.


'Aaakkk!! Aku kenapa, sih!'


Bibir Stella komat-kamit ingin berteriak, tapi rasa malu lebih dulu menggerogotinya dan harga dirinya yang tinggi menjerit tidak ingin turun pangkat.


'Sial! Gara-gara dia...!'


Stella menatap Ester yang berjalan ke tempat tidurnya dengan galak.


Pedang! Dia butuh pedang sekarang!


Andai saja dia membawa pedang, laki-laki itu pasti sudah tergores saat ini. Seketika Stella menyesal sudah berpura-pura tidak ingin bermain pedang sehingga tidak ada pedang yang menganggur di kamarnya.


...―――...


'Ester.'


Stella yang sedikit cemberut menatap laki-laki yang berbaring di sampingnya.


Tiga tahun lalu setelah masa pemulihannya berakhir, ayahnya memperkenalkan seseorang padanya, yang katanya adalah tunangannya. Stella masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah tunangannya saat itu, di hari mereka bertemu.


'Dia suka padaku.'


Tidak salah lagi bahwa wajah merona yang dilihat Stella tiga tahun lalu adalah ekspresi seseorang yang menyukai lawan jenisnya. Dan perasaan suka itu benar-benar tulus.


'Ester bilang aku yang menyelamatkannya dulu. Tapi aku masih belum bisa mengingat apa-apa.'


Stella masih ingat bagaimana tunangannya yang dulunya polos mengatakan ucapan terima kasih padanya.


"Saya senang karena Nona Ellia adalah Tuan Putri. Saya sangat senang. Terima kasih banyak!"


Dan sejak pertemuan mereka, Ester menjadi satu-satunya orang kepercayaannya.


Ada hari-hari di mana laki-laki itu menjelaskan bagaimana sikapnya dulu sebelum hilang ingatan, cerita yang bahkan tidak didengar Stella dari keluarganya maupun para pelayan. Sejak saat itu, dia terus mengumpulkan informasi tentang dirinya sebelum hilang ingatan dari Ester.


Dulunya dia adalah tuan putri yang tidak memiliki ekspresi di wajahnya dan sulit didekati.


Dulunya dia adalah gadis kecil yang kuat dan mengagumkan saat menyelamatkan Ester dan kesatrianya di hutan, lalu menggunakan nama 'Ellia' sebagai samaran.


Dulunya dia memiliki teman dekat bernama 'Xylia' dan sering bertemu di Istana Everstell.


Setelah itu dia menghilang, melewatkan ulang tahunnya yang ke-6, kemudian kembali ke istana dan berakhir dengan hilang ingatan.


Itu adalah sebagian besar informasi penting yang didapat Stella dari Ester. Dan beberapa bulan kemudian, Ester memberitahunya bahwa dia adalah seorang komandan Guild Tentara Bayaran 'Eternal Flame', yang dikelola oleh seorang pria bernama 'Rielle'.


Koneksi Ester sebagai pewaris keluarga Duke Ronnight memberikan keuntungan yang besar bagi Stella. Berbagai macam informasi tentang dirinya yang diblokir oleh ayahnya sendiri jatuh ke tangannya dengan mudah.


Stella jadi tahu seperti apa dirinya dulu, apa yang keluarganya coba tutupi darinya, dan gambaran kasar dari tindakannya yang akan dia lakukan di masa depan jika ia tidak kehilangan ingatannya.


Hubungan rekan yang saling mempercayai satu sama lain pun terbentuk di antara Stella dan Ester, selain hubungan pertunangan politik. Seiring berjalannya waktu, Ester yang dididik untuk menjadi pewaris keluarga Duke Ronnight pun mulai mengubah sikapnya secara perlahan, menjadi seseorang yang sama sekali tidak dikenal Stella.


'... Hmm.'


Untuk beberapa alasan, sepertinya Stella mulai merindukan kenangan-kenangan tiga tahun lalu. Mata merahnya lantas menyipit ke arah Ester, yang kini sedang memainkan rambut pirangnya.


'Entah apa yang dilakukan Duke Ronnight sehingga dia berubah. Dari anak kelinci yang polos menjadi serigala liar.'


"Apa?" Ester, yang sepertinya menyadari pandangan intens dari atas kepalanya, mendongak. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Memangnya aku menatapmu seperti apa?"


"Tatapanmu penuh cinta," jawab Ester sambil tersenyum cerah.


Buk!


"Argh!"


"Jangan membuat omong kosong seperti itu," ucap Stella dengan nada mengancam setelah meninju perut laki-laki itu.


Ester yang mengaduh kesakitan memandang tunangannya dengan mata berair, mengharapkan simpati. Namun Stella tak terpengaruh sama sekali dan malah mengacuhkan laki-laki itu.


"Hentikan tatapanmu."


"Kejamnya," gumam Ester dengan wajah sok sedih, yang membuat Stella memutar matanya malas.


"Ah, benar." Stella menjentikkan jarinya. Ia tiba-tiba mengingat sesuatu. "Apa aku dapat surat dari Eternal Flame?"


Biasanya, ketika Ester masuk ke kamarnya diam-diam sambil membawa laporan yang diinginkan Stella, surat dari Eternal Flame pun selalu didapatnya, yang dititip melalui laki-laki itu.


"Sepertinya aku lupa memberikannya." Ester segera mengambil sebuah surat yang ia sembunyikan di dalam bajunya. "Ini."


Stella mengambil surat itu. Lambang burung phoenix yang dikelilingi api menjadi stempel yang ada di tengah-tengah surat, menandakan bahwa itu dari Eternal Flame.


Srak....


Stella membuka surat itu dan membacanya. Ini bukan surat yang biasanya diterimanya, melainkan sebuah permohonan dari semua anggota Eternal Flame agar dia bersedia mengikuti sebuah pertandingan.


"Turnamen Guild Internasional?"


Ester terkejut di sampingnya dan langsung memastikan. "Benarkah? Pertandingan yang hanya diadakan tiap lima tahun sekali itu?"


"Hmm. Sepertinya begitu," balas Stella setelah membaca keseluruhan isi surat yang dia terima.


'Aku pernah mendengar tentang pertandingan ini dari Guru Azalea.'


Turnamen Guild Internasional adalah pertandingan antarguild yang ada di Area Selatan. Pertandingan ini diadakan sebagai perayaan atas kemenangan para pejuang dalam peperangan melawan iblis ratusan tahun yang lalu. Sejarah mengungkapkan bahwa Turnamen Guild Internasional sudah ada sejak lima ratus tahun yang lalu.


Evergard, Eleanor, Sora, Risteard, dan Eclate, lima kerajaan besar di Area Selatan, ikut berpartisipasi dalam pertandingan ini secara rutin. Kelima kerajaan itu mengirimkan guild terbaik mereka untuk saling bersaing pada hari pertandingan.


Dan yang lain....


"Kekaisaran Lagra. Apa kali ini mereka juga tidak ikut?" tanya Stella pada Ester, si informan berjalan.


"Ya. Kali ini juga sama."


Lalu pandangan Stella beralih pada surat yang ada di tangannya, menatap lekat-lekat isi surat itu.


Kekaisaran Lagra sudah tidak mengikuti turnamen ini tiga kali berturut-turut. Alasan yang pertama karena konflik internal, alasan yang kedua karena sibuk meningkatkan kemampuan para penyihirnya, dan sekarang apa lagi?


Tapi karena lawan yang kuat memutuskan untuk mundur, Evergard ada kemungkinan untuk menang.


"Juara lima tahun lalu siapa?"


"Eleanor. Mereka sudah menang sebanyak dua puluh tiga kali."


"Mereka memang lawan yang tangguh."


Stella mengangguk setuju. Lawan tangguh untuk turnamen kali ini adalah Kerajaan Eleanor dan lawan yang kedua adalah Kekaisaran Lagra, sedangkan Evergard berada pada posisi ketiga, disusul Eclate, Sora, dan yang terakhir Risteard.


'Kalau aku ikut, aku bisa melihat guild seperti apa itu Eternal Snow, yang katanya musuh bebuyutan Eternal Flame.'


Melalui surat yang ditulis bersama-sama oleh sebagian anggota Eternal Flame, mereka sering mencurahkan keluh kesah tentang bagaimana Eternal Snow mengalahkan Eternal Flame, sebagaimana menyebalkannya sikap pemimpin guild itu, dan kejadian apa saja yang pernah diributkan oleh mereka.


Hanya dengan membacanya saja sudah membuat Stella tahu bahwa Flame dan Snow tidak pernah akur.


'Tapi... semua orang bakal tahu kalau aku seorang putri. Lebih baik aku ikut atau tidak, ya....'


Stella berpikir serius, lalu menoleh ke samping. "Ester," panggilnya mendadak.


"Ya? Kau butuh sesuatu?"


"Kalau kau jadi aku, kau bakal ikut pertandingan ini atau tidak?"


"Tentu saja aku ikut."


"Bukankah sudah jelas kalau tujuanmu menjadi komandan Eternal Flame adalah untuk mengikuti pertandingan ini?"


'???'


Stella memandang Ester aneh, merasa sangat yakin bahwa tujuannya bergabung dalam Eternal Flame bukanlah untuk mengikuti Turnamen Guild Internasional.


"Ah, apa aku salah?" Ester mengusap tengkuknya karena mengerti maksud dari pandangan yang mengarah padanya. "Yah, lagi pula pertandingannya masih lama. Jadi kau bisa memikirkannya baik-baik."


"Kau benar."


Stella kembali memandang surat di tangannya.


Turnamen Guild Internasional yang ke-100 akan diadakan pada musim semi di bulan April nanti, yang bertepatan dengan pertengahan musim sosial para bangsawan.


'Oh, ya.'


Stella melirik Ester yang masih setia duduk di sampingnya, baru sekarang ia menyadari bahwa laki-laki itu belum beranjak pergi dari kamarnya.


"Hei. Kau tidak pergi?"


"Buat apa aku pergi?"


"Ini sudah malam."


"Aku, 'kan, lagi menginap," sambung Ester sambil tersenyum tanpa dosa, yang membuat Stella emosi lagi.


"Siapa yang mengizinkanmu menginap? Pulang sekarang. Aku mau tidur!"


"Aku tidak―"


"P.U.L.A.N.G."


Melihat mata merah Stella yang melotot tajam membuat nyali Ester menciut. Ia turun dari tempat tidur dengan wajah lesu dan murung.


"... Ester."


Tepat ketika namanya dipanggil, laki-laki itu segera berbalik dengan wajah cerah, namun kata-kata berikutnya yang datang menghancurkan harapannya.


"Berhentilah... bersikap seperti tadi."


"Apa?"


Terdengar helaan napas dari arah tempat tidur.


"Aku tahu kita bertunangan, tapi...."


Mata merah Stella bertemu pandang dengan mata biru Ester yang tidak menunjukkan binar-binar cerah seperti sebelumnya.


"... Kau tidak perlu memainkan peranmu dengan sangat baik."


Ester yang tadinya tersenyum seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja yang bisa diandalkan. Tidak lebih dari itu. Kau tahu maksudku, 'kan?"


"... Ya."


Kegelapan di sekelilingnya membuat Stella sulit menebak ekspresi laki-laki itu saat ini, tapi ia tahu bahwa ucapannya tadi menyakitkan bagi Ester, orang yang menyukainya.


Lalu Stella mengangkat tangannya dan melambai. Bibirnya berusaha tersenyum.


"Kalau begitu, selamat malam."


"Selamat malam juga... Stella."


Setelah itu Stella menutupi dirinya dengan selimut dan terlelap di alam mimpi.


Keheningan yang berat menyapu seisi kamarnya.


Di ujung balkon, Ester menatap sosok tunangannya yang tertidur.


Cahaya bulan yang bersinar di belakangnya membuatnya tampak seperti memiliki ekspresi gelap di wajahnya. Angin malam berembus dari belakang laki-laki itu, meniup tirai putih transparan yang berada di kedua sisi balkon.


"Walaupun kau bilang begitu... aku akan tetap berperan menjadi tunanganmu, Nona Ellia."


Kemudian Ester berbalik, berjalan pergi dan menutup pintu balkon.


'Karena aku sama sekali tidak ada niat untuk membatalkan pertunangan kita.'


Anak kelinci polos yang diselamatkan sang putri di hutan sudah berevolusi menjadi serigala liar yang hanya jinak di depan majikannya.


...―――...


Di malam yang sunyi, Ester memandang langit-langit kamarnya. Rasanya seperti mimpi, pikir lelaki itu. Ia tidak menyangka akan bisa sedekat itu dengan orang yang disukainya. Padahal rasanya baru kemarin dia bertemu dengan gadis kecil bermata merah yang menyelamatkannya dan Nicole. Ternyata waktu memang berlalu dengan begitu cepat.


'Aku masih tidak menyangka bahwa Nona Ellia dan Tuan Putri adalah orang yang sama.'


Di hari istana diserang, Ester mengetahui kebenarannya.


Pemandangan di mana anggota keluarga kerajaan disandera oleh seorang pria tak dikenal dan cahaya emas yang menyebar di tempat itu masih membekas di dalam ingatannya. Itu adalah kenangan buruk sekaligus indah yang tidak akan pernah terlupakan.


'Kalau ada yang tanya "Apa pendapatmu tentang Tuan Putri?". Aku akan menjawab "Tuan Putri... suka melarikan diri dan bersembunyi.".'


Itulah yang dipikirkan Ester tentang sang putri.


Meskipun dia tidak tahu apa yang dialami Putri Stella, tapi ia merasa bahwa Putri Stella lebih memilih melarikan diri dan bersembunyi dari masalah tertentu.


'Contohnya saja saat kami pertama kali bertemu.' 


Putri Stella mengungkap identitasnya dengan nama 'Ellia' daripada mengatakan bahwa dirinya adalah seorang putri. Dan saat insiden Putri Stella yang menghilang dari istana pun, Ellia berkeliaran di Pegunungan Aros untuk waktu yang lama, seakan-akan bertekad untuk tidak pernah kembali.


'Sebenarnya apa yang sudah terjadi?'


Ester berpikir bahwa Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota sangat menyayangi Putri Stella, jadi kenapa di menghilang saat itu? Apakah ada masalah di antara mereka?


Pada akhirnya, Putri Stella kembali lagi ke istana, meskipun berakhir dalam keadaan hilang ingatan. Sekarang dia menjalani kehidupan yang damai dan berwarna.


Tetapi....


'Kalau seandainya Tuan Putri menghilang lagi dan bahkan tidak bisa ditemukan di mana pun....'


Ester memejamkan matanya yang terasa berat. Pikiran tidak masuk akal menerjangnya seperti ombak. Ini karena ia masih memikirkan ucapan Putri Stella yang tadi.


Dia tahu bahwa Putri Stella tidak menginginkan pertunangan ini, tapi haruskah ia mendorongnya menjauh seperti tadi?


Meskipun hanya dianggap sebagai rekan kerja, meskipun perasaan sukanya tidak diterima, dan meskipun nantinya pertunangan ini batal, Ester ingin berusaha sebisa mungkin agar bisa menjadi lebih dekat dengan sang putri dan menjadi orang yang spesial dalam hidupnya, sehingga nantinya Putri Stella pun tidak ingin membatalkan pertunangan ini.


Tapi sebelum Ester berusaha, dia sudah diperintahkan menjauh.


'Kita tidak akan tahu siapa pasangan kita di masa depan dan bagaimana hidup kita nantinya, tapi....'


Wajah Putri Stella yang mengatakan agar dia tidak perlu memainkan peran tunangan dengan baik muncul di kepalanya.


'Tuan Putri bersikap seolah dia tidak akan hidup di dunia ini. Rasanya seperti dia membuat dinding agar tidak terlalu terikat dengan orang-orang di sekitarnya.'


Ester tidak tahu mengapa pikiran itu muncul tiba-tiba, tapi begitulah perasaannya saat ini. Ia merasa takut bahwa sang putri akan menghilang dan tidak pernah kembali lagi.


'Kalau itu terjadi, aku tidak tahu harus menemukannya di mana....'


Laki-laki itu menggertakkan giginya dan meletakkan tangannya di atas matanya yang terpejam.


"Sepertinya aku akan bermimpi buruk lagi malam ini," gumamnya. 


―――――――――――――――


Next chapter~


Bab 96. Ninety Six (96).


"Ibu. Aku datang."


TBC!