Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety Eight (98)


"Ini bukan masalah besar. Sangat mudah untuk menangkap pecundang ini," ujar Zayden sambil tersenyum bangga, sementara Leonard yang ada di sebelahnya memasang ekspresi menghina.


"Mudah katamu? Siapa yang waktu itu memimpin pencarian tapi ternyata salah jalan? Gara-gara orang itu, butuh waktu lama untuk menemukan orang ini," kritik pria berambut putih itu pedas, tak lupa sambil memutar matanya dan tersenyum mengejek.


"Hei...!"


Mendengar kalimat pedas itu, Zayden berseru tak terima lalu menggertakkan giginya, jujur saja ia merasa malu. Ia memang salah karena begitu percaya diri saat memimpin pencarian kala itu, namun mengapa kejadian memalukan itu harus diungkit-ungkit, sih?


"Huh. Yang penting dia tertangkap, 'kan?" balasnya sesaat kemudian, ekspresinya kembali bermartabat seperti saat ia datang. "Ehem, ehem. Aku pun sangat berterima kasih padamu karena sudah ikut membantu."


"Hmm. Yah, itu karena pria ini melukai cucuku juga. Mau tak mau aku harus memberinya pelajaran."


"Nah, kerja bagus untuk kita."


Sementara kedua orang itu bercakap-cakap, Stella hanya diam merenung, tak mengerti arah pembicaraan mereka.


...―――...


Sejauh ini yang Stella ketahui, dua pria tua yang baru saja datang adalah kakeknya dari pihak ibu dan ayah. Mungkin kata "tua" tidak cocok untuk mereka, sebab keduanya memiliki aura karismatik tersendiri meskipun sudah berumur. Alasan kedatangan mereka yang mendadak adalah karena orang itu, pria berambut merah gelap yang dikabarkan kabur dari Penjara Sihir beberapa menit lalu. Tak disangka bahwa dia ditangkap oleh kedua kakeknya.


[Setahuku dari ingatanmu yang tersegel, kau cukup menyayangi kakek dari pihak ayahmu. Aku kurang tahu mengapa.]


Thev memberitahu melalui pikiran. Kini naga hitam itu dan sang putri tengah bertelepati.


'Mungkin benar begitu.'


Stella, yang duduk agak jauh dari ayahnya dan yang lainnya, menatap lekat-lekat ke arah Zayden. Hanya dengan melihatnya, ia merasakan perasaan gembira dan rindu yang membuncah di hatinya.


'Sepertinya aku tahu kenapa.'


[Kenapa?]


'Dia sangat mirip dengan keluargaku.'


Stella tanpa sadar tersenyum.


[Keluargamu? Sebentar. Keluargamu yang mana?]


'Keluargaku di dunia lain.'


Untuk sejenak, Thev kehilangan kata-kata. Lalu ia muncul tepat di wajah Stella, yang tentu saja hanya bisa dilihat olehnya. Naga hitam kecil itu tampak kebingungan.


[Ingatanmu... apakah sudah kembali? Sampai-sampai kau ingat keluargamu di dunia lain.]


Stella hanya tersenyum tipis sebagai balasan, tak berniat menjawab. Ingatannya memang masih belum kembali seutuhnya, namun sepertinya kembali secara perlahan-lahan. Hanya dengan duduk diam saja, ia bisa mengingat samar-samar hal-hal yang telah dilupakannya.


"Ayah."


Panggilan dari seseorang menyentak Stella dari pikirannya. Ia melihat ke arah pintu, menemukan Dhemiel yang baru saja datang.


"Ada apa Ayah memanggilku?" Dhemiel melihat sekelilingnya dan menemukan seseorang yang dikenalnya. Senyumnya seketika merekah. "Kakek!" panggilnya gembira.


Orang yang dipanggil kakek ikut tersenyum dan membuka tangannya. "Kemarilah, Dhemiel."


Tanpa basa-basi, Dhemiel jatuh ke pelukan Zayden, memeluk kakeknya erat seraya tersenyum cerah. "Aku senang bertemu dengan Kakek lagi!"


"Ya. Kakek juga senang bertemu denganmu."


'Hmm. Kak, apa kau tidak tahu kalau kita punya dua kakek?' batin Stella merasa simpati pada Leonard, yang hanya duduk diam-diam melihat pemandangan haru itu. 'Tapi kelihatannya kakek putih itu tidak merasa cemburu?'


Cukup lama melepas rindu, Zayden akhirnya melepas pelukannya dan mendudukkan Dhemiel di sebelahnya.


"Nah, Dhemiel, kau juga harus menyapa kakek dari pihak ibu," ucap sang mantan raja itu seraya memperkenalkan Leonard. "Dia adalah Leonard, ayah dari ibumu, yang artinya adalah kakekmu juga."


"Ayah... dari ibuku?" Dhemiel memandang Leonard lekat-lekat. "Tapi, kakek itu tidak mirip sama sekali dengan Ibu," ujarnya polos, membuat Leonard tertohok.


"Jelas saja tidak mirip, Nak. Putriku mirip dengan ibunya, nenekmu," jelas Leonard berusaha sabar. "Kalau mirip denganku, tentu saja cucu perempuanku, Stella."


Dhemiel pun mengalihkan pandangannya ke arah Stella, lalu melihat Leonard lagi. "Benar juga. Mata Stella dan Kakek sama-sama merah...." Ia terhenti sesaat, lalu menatap Stella lagi. "Tapi rambutnya seperti Ibu. Stella mirip Ibu dan Kakek, ya."


"Dhemiel, jadi maksudmu Stella tidak ada mirip-miripnya denganku?" tukas sang ayah dari dua anak itu, merasa tersinggung.


"Aku 'kan mirip Ayah, sedangkan Stella mirip Ibu. Jadi impas, dong," balas pangeran mahkota cilik itu dengan enteng, lantas bergumam kecil, "Tapi mungkin kekejaman Ayah menurun pada Stella...."


'Hei. Kalau mau bergosip, lebih baik nanti saja.'


Stella memutar matanya malas. Ia justru mendengar obrolan tidak berguna di sini, padahal niatnya ingin mencari informasi lebih lanjut tentang pria yang kabur dari Penjara Sihir itu.


'Apa aku pergi saja?'


Saat ia berpikir begitu, suara tajam ayahnya menginterupsi suasana.


"Kita tunda diskusinya. Aku ingin berbicara dengan b*j*ngan ini dulu."


Sriingg!


Pria yang kabur dari Penjara Sihir itu diseret ke hadapan sang raja Evergard. Seluruh tubuhnya diikat rantai sihir, tangannya pun diborgol ke belakang dengan alat yang sama, begitu juga dengan mulutnya yang dibekap oleh rantai mematikan itu.


"Jadi, kau yang disebut-sebut penyihir agung oleh Guild Penyihir itu, ya?" Raja Shavir menyeringai. "Kenapa orang sepertimu melukai anak-anakku?"


"Identitasnya bukan hanya itu saja," sambung Leonard. Ia mengerutkan keningnya. "Dia adalah bangsawan penyihir dari suku Merah, ras yang sama denganku dan Alexa."


"Bangsawan penyihir...?!"


"Tidak heran dia bisa kabur dari Penjara Sihir. Pasti sihir Raja Evergard ke-1 tidak berarti apa-apa baginya," ucap pria bermata ungu itu tenang. Tak lama kemudian ia tersenyum mengejek. "Tapi dengan mudahnya kau ditangkap oleh ayahku. Benar-benar bodoh."


'Memang bodoh.'


Tanpa disadari, Stella dan Dhemiel setuju dengan ucapan sang ayah.


"Jadi, bagaimana kalian bisa menangkap b*jing*n ini?"


"Sebenarnya kami tidak berniat menangkapnya," ucap Zayden memulai kisah perjalanannya dengan Leonard. "Sejujurnya aku ingin memusnahkan Guild Penyihir."


Cerita diawali pada saat ulang tahun Dhemiel yang ke-8 berlangsung.


*(note: chapter 66)


Kala itu, Zayden melihat adanya energi gelap bercampur merah pekat dari arah balkon Istana Everora, tempat di mana ia merasakan keberadaan cucu perempuannya di sana. Karena tahu ada energi berbahaya, Zayden berniat memusnahkannya, namun Stella lebih dulu bergerak. Pada saat itulah, ia bertemu dengan Leonard untuk pertama kalinya.


Kerja sama untuk memusnahkan Guild Penyihir pun terjalin saat itu.


Ternyata, "Guild Penyihir" tidak hanya bermarkas di Kerajaan Evergard. Markas mereka tersebar ke penjuru kerajaan-kerajaan lain, bahkan sampai ke Kekaisaran Lagra.


Nyatanya untuk memusnahkan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama.


Saat itu, ada informasi penting yang mereka dapatkan, bahwa ada seseorang yang memimpin Guild Penyihir dan menyebarkan "orang-orangan palsu" sebagai anggotanya.


Itu berarti jumlah asli mereka tidak banyak, dan kebanyakan anggotanya adalah hasil ciptaan dari sang pemimpin.


Tentu saja strategi membunuh sang pemimpin lebih efektif ketimbang membasmi antek-anteknya.


Saat itu keduanya berpikir; kalau bisa menebas akarnya, mengapa harus menebang dahan-dahan pohonnya?


Pencarian untuk menemukan pemimpin Guild Penyihir pun berlanjut. Zayden memimpin namun kebanyakan jalan yang diambilnya salah, sehingga butuh waktu lama untuk mencari.


Tak berselang lama, kira-kira seminggu setelah pencarian berlangsung, Leonard menerima informasi dari Rielle bahwa ada penyerangan yang menargetkan Raja Evergard dan anggota keluarganya.


Terguncang oleh kenyataan itu, Leonard menyuruh Zayden menghentikan pencarian untuk sementara waktu dan kembali ke Evergard.


Tak cukup dengan kabar buruk sebelumnya, Leonard kembali mendengar bahwa cucu perempuannya, Stella, kehilangan ingatannya.


Artinya pertemuan pertama mereka sebagai kakek dan cucu perempuan juga ikut menghilang.


Setelah itu, Leonard dan Zayden tergesa-gesa menggunakan sihir dan gulungan teleportasi. Namun, jarak mereka yang sangat jauh dari Evergard membuat keduanya cukup kesulitan.


Terkadang mereka bertemu dengan musibah yang menyebalkan, seperti salah koordinat dan berakhir di tempat yang anti-sihir, atau terseret ke dalam arus peperangan saat berteleportasi. Akhirnya butuh waktu hampir tiga tahun untuk kembali ke Evergard.


"Mengingat masa-masa sulit itu saja sudah sangat menjengkelkan," ucap Leonard di sela-sela Zayden bercerita.


"Lalu? Apa yang terjadi setelah kalian sampai di sini?" tanya Raja Shavir meminta cerita dilanjutkan.


"Di sekitar Duchy Fictin, kami menemukannya. Lebih tepatnya, Leonard-lah yang menemukan dan menangkapnya. Katanya dia merasakan aura Stella samar-samar di tubuh pria itu."


"Duchy Fictin, ya...," gumam Raja Shavir, sebelah alisnya yang tebal terangkat. "Sangat aneh kalian menemukannya di sana."


"Ya. Lalu kami membawanya ke sini setelah mendengar informasi bahwa pria ini adalah tahanan yang kabur dari Penjara Sihir."


Raja Shavir tersenyum tipis. "Aku sangat berterima kasih atas bantuan dari Ayah dan Ayah Mertua."


"Hmph. Aku belum mengakuimu sebagai menantu, jadi jangan sembarangan memanggilku ayah mertua," sarkas Leonard sambil melipat tangannya. "Tapi aku mengakui Dhemiel dan Stella sebagai cucuku."


"Sama saja, Bodoh," ejek Zayden di sebelahnya, yang kembali memulai keributan antara dua kakek itu.


"Ngomong-ngomong, Ayah." Perhatian Raja Shavir beralih ke putra sulungnya. "Sepertinya orang itu ingin berbicara dari tadi."


"Begitukah?" Sekilas senyuman miring terbit di wajah raja tampan itu. Ia pun menjentikkan jarinya. Seketika rantai sihir yang membekap pria itu hilang. "Sekarang adalah saatnya interogasi."


...―――...


"Ada apa, Zhio?"


Xylia, yang saat ini tengah menikmati waktu santai bersama Zhio, bertanya dengan khawatir saat melihat sahabatnya itu yang tampak gelisah.


"Apakah terjadi sesuatu dengan Tuan Putri...?" asumsinya ragu-ragu.


Anak laki-laki berambut merah itu menggeleng pelan. "Tidak. Dia baik-baik saja," jawabnya.


"Jadi kenapa kau gelisah?"


"Aku merasakan seseorang yang kukenal ada di sini...," jawab Zhio nyaris terdengar seperti bisikan. "Tapi tidak mungkin dia ada di sini. Harusnya... dia sudah meninggal...."


"Orang yang kau kenal? Siapa itu?"


"Aku merasakan keberadaan ayahku di sini." Zhio lantas mengepalkan tangannya. "Tak salah lagi, aku benar-benar merasakannya. Ayahku ada di sini."


―――――――――――――――


udah mulai puasa aja, nih! ( ´∀`)


selamat menjalankan ibadah puasa~! jangan lupa jaga kesehatan, ya!


TBC!