
Ester Aubrey Risteard.
Dia tidak pernah berharap memiliki nama marga keluarga ayahnya. Dia tidak pernah berharap dihormati oleh semua orang. Dia juga tidak pernah berharap mengikuti pertarungan atas takhta kerajaan yang sedang diperebutkan oleh saudara-saudaranya.
Ester hanya berharap keberadaannya diakui oleh ayahnya dan bisa hidup bersama orang tuanya dengan bahagia, layaknya sebuah keluarga yang ada di buku dongeng.
Namun, harapan itu hancur ketika Ester mengetahui bahwa ibunya meninggal karena keracunan. Dan yang lebih membuatnya tersakiti ialah ketika dia meminta ayahnya untuk memberi keadilan pada ibunya, tetapi ditolak dan dia diusir dari istana dengan dingin, bahkan sampai gelar pangerannya dicabut dan tidak diperbolehkan kembali lagi ke wilayah Risteard.
Setelah kejadian malang yang menimpanya, Ester tidak percaya lagi dengan yang disebut "harapan" dan "berharap". Namun kini, ketika dia melihat bahwa pengawal pribadinya, Nicole, sedang dalam keadaan terluka dan hampir sekarat, Ester berharap agar Tuhan tidak mengambil Nicole darinya.
Siapa pun, tolong kami....
Kata-kata yang berisi keputusasaan itu diucapkan Ester berulang-ulang di dalam hatinya.
Seolah-olah Tuhan mendengarkan harapannya, seseorang muncul. Dia adalah seorang anak kecil perempuan yang memiliki wajah rupawan dengan rambut pirang keemasan dan mata merah.
Meskipun ada yang datang, Ester merasa kecewa karena yang datang adalah orang yang kira-kira berusia beberapa tahun di bawahnya.
Namun....
"Berani-beraninya, orang sepertimu memanggilku bocah."
... Anak perempuan itu memiliki temperamen yang berbeda dengan rupa wajahnya. Berbeda dengan paras wajahnya yang cantik dan memesona, sifatnya sangat dingin seperti es.
"Silakan dipilih. Kalian ingin mati karena terbakar, ditusuk pedang, atau di tangan ayahku?"
Wow....
Ester merasa takjub ketika melihat anak perempuan itu memancarkan aura berbahaya yang terkesan mengintimidasi.
Aku ingin jadi seperti itu.
Sekali lagi, Ester berharap bahwa dia bisa sekuat anak perempuan itu.
***
Kenapa setiap kali aku ingin menyelesaikan pertarungan ini, selalu saja ada yang menghalangi? Ini benar-benar menguras tenaga.
Stella mengeluh di dalam hatinya, lalu berpura-pura berlagak polos di depan sekumpulan orang-orang itu.
"Kenapa ribut sekali? Apakah dalam pertarungan ini juga terdapat pembantaian?"
Namun, salah satu di antara mereka memanggilnya dengan panggilan yang amat tabu bagi Stella.
"Apa? Kenapa ada anak kecil di sini?" Seseorang bertanya dengan tatapan tidak suka. "Oi, bocah. Tidak usah ikut campur. Pergi sana."
Ya, dia memanggil Stella dengan panggilan "bocah"!
Orang ini memanggilku bocah!!
Stella menggertakkan giginya ketika mendengar panggilan itu untuk yang ke sekian kalinya. Wajahnya, yang tidak ditutupi oleh topeng, menjadi suram. Mata merahnya menyala. Aura Dewi Kematian, yang tadinya telah memudar, kini kembali menguar.
"Berani-beraninya, orang sepertimu memanggilku bocah."
Aku sangat muak mendengar panggilan itu. Tidak, aku sangat muak!
"Silakan dipilih. Kalian ingin mati karena terbakar, ditusuk pedang, atau di tangan ayahku?"
Kalau si Shavir itu tahu ada yang menggangguku, dia pasti akan meledak, jadi ayo manfaatkan dia!
Sambil mengatakan kalimat itu di dalam hatinya, Stella menyunggingkan senyum. Secara tidak terduga, suara tawa yang menggelegar terdengar, diikuti dengan sindiran keras dari pemimpin bandit hutan itu―yang tentu saja ditujukan untuk Stella.
"Bwahahaha! Lelucon macam apa itu! Hahaha! Air mataku keluar, hahaha! Aku takut, hahaha!"
Pemimpin bandit hutan pengguna kapak itu tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya, mengabaikan ekspresi Stella yang sudah dipastikan menjadi gelap. Masih dengan tawa yang menggelegar, pria itu menunjuk Stella.
"Hei, Nak! Apakah orang tuamu tidak mengajarkanmu untuk tidak bersikap sombong dan harus menghormati orang yang lebih dewasa? Dan bocah sepertimu tidak baik mengatakan kalimat tidak masuk akal seperti itu. Bwahahaha!"
Mendengar perkataan orang itu, Stella dibuat emosi.
Ya, dia memang pernah diajari hal seperti itu oleh orang tuanya. Mereka mengatakan, "Karena kita adalah anggota keluarga kerajaan, kita tidak boleh sombong" atau "Kita harus menghormati orang yang lebih dewasa".
Tapi, itu dulu!
Iya, dulu! Saat Stella menjadi "Stella Elliathania Elliot Evergard"!
Namun sekarang, di dunia ini, dia tidak pernah diajarkan hal seperti itu!
Itu karena keberadaanku dianggap seperti debu dan ibuku telah dikabarkan meninggal lima tahun yang lalu, jadi aku tidak pernah diajari bersikap seperti itu.
Bahkan Suzy, orang yang merawat Stella dari bayi, tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu. Dia hanya mengatakan, "Anda adalah tuan putri negeri ini, jadi tidak ada yang akan mencela perilaku Anda, apakah itu sopan atau tidak", begitu katanya.
Jadi Stella, yang tumbuh di lingkungan seperti itu, tidak pernah menghormati orang dewasa yang pertama kali ditemuinya, apalagi jika orang itu sampai melukai hati dan fisiknya, seperti situasi saat ini.
Lebih baik aku bakar saja mereka.
Stella memutuskan hal itu di dalam hatinya, kemudian mengambil pedangnya, lantas diarahkan ke arah para bandit hutan itu.
"Hmm, akan lebih menarik kalau pedang ini...." Menggantungkan kalimatnya, Stella diam-diam menyeringai. "... Dibuat menjadi pedang api. Bagaimana?"
Pemimpin bandit hutan itu menatap pedang Stella dengan tatapan berbinar penuh keserakahan. Dia belum pernah melihat pedang seindah itu seumur hidupnya. Rencana-rencana licik untuk merebut pedang itu segera muncul di kepalanya.
"Heh...." Pria itu tersenyum lebar, mengangkat kapaknya dan diletakkan di bahunya, kemudian menghampiri Stella dengan langkah ringan. "Aku tidak takut sama sekali denganmu, bocah."
Pats―
"Argh―!"
Buk!
Kapak besar milik pria itu terlepas dari genggaman tangannya.
Di depannya, Stella menatapnya dengan dingin. Tangan besar berwarna hitam itu berasal dari Stella, lebih tepatnya berasal dari aura Dewi Kematian yang terbentuk karena emosinya.
Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, tapi aku akan memanfaatkannya!
"Sudah kubilang sebelumnya kalau kau tidak boleh memanggilku bocah. Inilah akibatnya."
Kuk―
"Le-lepaskan ak―ukh!"
Tangan besar yang mencekik leher pemimpin bandit hutan itu semakin mengerat, membuatnya tidak bisa berbicara, bahkan bernapas.
"Apa? Melepaskanmu? Tidak mungkin."
Nada penuh sindiran dari Stella terdengar, membuat pria yang sedang dicekik itu mengumpat penuh amarah.
"Dasar kep*rat ka―pwah! Uhuk, uhuk! Uhuk, uhuk! Haahhh...."
Darah segar muncrat dari mulut pria itu. Dia terbatuk hebat. Cipratan darahnya menempel di tanah, tetapi Stella tidak melepaskan tangan hitam yang mencekik pria itu. Beberapa saat kemudian, pria itu terkulai lemas dalam genggaman tangan hitam itu, menandakan bahwa dia telah mati.
Sementara itu, para bandit hutan beserta Ester dan Nicole yang menyaksikan pemandangan itu, seketika gemetar. Mata mereka terpaku pada pemandangan mengerikan itu, seolah-olah tidak bisa tertutup.
"Nah, sekarang...." Stella mengarahkan pandangannya pada para bandit hutan yang masih ada di sekitarnya. "... Saatnya untuk membereskan kalian." Lalu dia tersenyum lebar.
***
"Terima kasih atas bantuannya, Nona. Kami sangat berterima kasih!"
Nicole tersenyum cerah seraya menjabat tangan Stella.
"Tidak apa-apa," kata Stella sambil berusaha tersenyum. "Bukankah sekarang lebih baik jika Tuan Nicole mengobati bahu Anda yang ... sepertinya akan lepas dari tempatnya?"
Perkataan Stella benar. Dia melirik bahu Nicole yang nyaris terpotong oleh pemimpin bandit hutan tadi.
Mendengar ucapan Stella, Nicole segera mengingat bahunya yang terluka dan mengangguk. "Ah, iya. Kalau begitu, apakah kami boleh mengantar Nona pulang?"
"Tidak perlu." Stella menolak. Dia menunjuk ke arah Rielle dan beberapa anggota Eternal Flame di belakangnya yang sedang mengurus mayat-mayat bandit hutan. "Pamanku ada di sana, jadi tidak perlu."
"Ah, begitu .... Baiklah."
Nicole mengangguk, tetapi ekspresinya terlihat kecewa.
Ketika Stella akan pergi, dia merasakan tatapan yang sangat intens diarahkan padanya. Stella pun menatap si pelaku.
"Ada apa?"
Ester tersentak ketika bertatapan dengan orang yang telah menyelamatkannya, lantas dia menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru.
"Tidak, tidak ada apa-apa."
"Benarkah?"
"Iya!"
"Hmm...." Stella memerhatikan anak laki-laki itu yang tampaknya seumuran dengan Dhemiel. Matanya menatap rambut anak laki-laki itu yang terlihat mencolok. "Warnanya mirip seperti bunga sakura," gumam Stella secara tidak sadar.
"Ya?"
"Oh, tidak ada," tukas Stella dengan cepat. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Oh ... iya." Melihat penyelamatnya yang berbalik, Ester buru-buru melambaikan tangannya seraya bertanya, "Bisakah kita bertemu lagi?"
"Kalau kau beruntung."
"Begitu .... Ah, hati-hati. Sampai jumpa lagi."
Stella tidak membalas, dia hanya melirik ke arah anak laki-laki itu sebelum akhirnya berjalan, menghampiri Rielle.
Kata Tuan Nicole, dia adalah seorang pangeran dari Risteard yang datang ke Evergard untuk memakamkan ibunya.
Tatapan Stella bergeser ke arah tangannya. Mata merahnya menatap telapak tangannya dengan lekat-lekat.
Apakah aku ... bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati?
――――――――――――――
Haahhh... godaan pengen buat cerita baru emang gk bisa dihindari🤤😧 tpi dari semua cerita yg aku buat, satu pun blm ada yg tamat /plak. Huhhh... meresahkan😩
Next chapter~
Bab 51. Fifty One (51).
"Lebih baik hanya ada satu yang sakit daripada dua."
TBC!