
Stella tidak bisa membuktikan apakah ingatan itu adalah ingatannya yang sempat dilupakan atau hanya khayalannya saja. Ingatan itu terasa nyata, tetapi di saat yang bersamaan juga terasa mustahil. Terlebih lagi, seberapa keras Stella berusaha mengingat, dia sangat yakin bahwa dia tidak pernah memasuki sebuah penjaran sekalipun.
Jadi, mengapa ingatan itu tiba-tiba muncul di kepalanya?
"Akhh...! Memikirkannya saja sudah membuatku pusing!"
Stella berguling-guling di tempat tidurnya sambil mengacak-acak rambutnya, setelah itu dia memandang langit-langit kamar yang ditempatinya.
"Saking penasarannya, aku sampai tidak bisa tidur." Stella lalu bangkit dari posisi tidurnya. "Aku akan pergi berjalan-jalan!" Kemudian dia turun dari tempat tidur dan mengeluari ruangan itu.
Stella, yang berjalan di lorong Istana Evercius dengan piyama tidur dan sandal berbulu berwarna putih yang berbentuk kucing, berbelok ke samping. Dia hanya makan bubur sejak siang tadi, jadi sekarang Stella merasa lapar. Untungnya, pintu dapur di Istana Evercius sama dengan pintu dapur di istananya, jadi Stella tahu bahwa ruangan itu adalah dapur.
Namun sayangnya, pintu dapurnya terkunci!
"Ish! Kenapa harus terkunci di saat-saat seperti ini, sih?!" Stella menggerutu, kemudian berbalik, lalu mata ungunya menangkap bayangan seseorang yang kini berdiri di hadapannya. "Gyaaa!"
Dengan spontan, Stella menjerit karena terkejut. Dia sempat mengira bahwa ada orang asing bertubuh tinggi dan tidak dikenal ingin menyerangnya, tetapi tak disangka bahwa orang itu adalah...!
"Kenapa kau ada di sini, Stella?"
Dia adalah Raja Shavir!
Jantung Stella terasa ingin melompat dari tempatnya. Dia masih merasa malu ketika mengingat kembali tindakannya yang kekanak-kanakan pada Raja Shavir siang tadi hingga meminta pria itu menemaninya. Sejujurnya, Stella ingin menghindari tatapan pria itu, tetapi matanya tidak bisa beralih ke arah lain, seolah-olah terkunci oleh mata ungu pria itu.
"Aku ... aku hanya ingin makan," jawab Stella akhirnya, kemudian menyentuh perutnya. "Aku lapar...."
Raja Shavir menatap Stella dalam diam, lalu menghela napas. "Kalau kau ingin makan, seharusnya kau datang padaku dan mengatakannya. Di istana raja tidak pernah aman, pasti ada saja satu atau dua orang yang menyusup," katanya sambil meraih tangan Stella, menggenggamnya, kemudian mulai berjalan menuju ruang makan. "Kau tidak perlu sungkan. Mengerti?"
"Baik."
Hanya kata itu yang bisa diucapkan Stella. Dia mendongak ke samping, menatap orang yang sedang menggandeng tangannya.
Aku sudah putus harapan untuk pulang. Jadi ... bisakah aku memulai hidup baru di sini?
Stella tidak terlalu yakin dengan pemikirannya, tetapi dia akan berusaha meruntuhkan dinding-dinding tidak terlihat yang berdiri kokoh antara dirinya dengan orang-orang di dunia ini. Setidaknya, di dunia buku dongeng ini, dia tidak sendirian, karena ada banyak orang di sisinya.
Mungkin aku bisa mengubah kehidupan kelam Putri Stella. Lagi pula, ancaman terbesarku, Xylia, sudah berubah menjadi orang yang berbeda.
Lantas Stella menarik tatapannya dari Raja Shavir.
"Aku mungkin bisa mencobanya," gumam Stella tanpa sadar.
Di sampingnya, Raja Shavir meliriknya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
***
Bunyi dentingan peralatan makan dan piring terdengar. Suasana hening menyelimuti ruang makan yang hanya diisi oleh dua orang. Stella maupun Raja Shavir tidak berbicara. Mereka masih merasa canggung untuk memulai pembicaraan setelah kejadian di kamar siang tadi. Hingga beberapa menit kemudian, ketika Stella selesai menghabiskan makanannya, Raja Shavir terbatuk dan berdehem pelan.
"Stella," panggilnya.
"Ya?"
"Apakah kau ingin tahu kelanjutan dari cerita tadi?"
"Tidak. Lain kali saja."
"Begitu." Raja Shavir mengangguk pelan. "Baiklah."
Stella masih belum siap jika dia harus mendengar keseluruhan kisah yang diceritakan Raja Shavir, karena bisa saja ada ingatan asing seperti tadi yang tiba-tiba muncul dan membuatnya semakin penasaran tentang bagaimana ingatan itu bisa muncul di kepalanya dan berasal dari mana.
"Kalau begitu, bisakah kau tetap memanggilku seperti tadi?"
Kali ini, tatapan Raja Shavir mengandung harapan yang tidak pasti.
Stella yang mendengarnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sejujurnya, dia juga ingin memanggil pria itu dengan sebutan "ayah", karena Stella akan berusaha hidup di dunia ini tanpa harus terbebani dengan isi cerita dari buku dongeng "The Poor Princess". Tetapi tetap saja dunia ini adalah dunia Putri Stella, bukan dunianya.
"Apa boleh?"
Bisakah aku memanggilmu seperti itu, meskipun aku bukanlah putrimu?
Mendengar pertanyaan Stella, Raja Shavir segera menjawab dengan wajah cerah, "Tentu saja boleh!"
Aku tahu kalau dia akan langsung setuju, jadi aku akan memancing perasaannya sebentar.
Lalu Stella bertanya, "Apa aku boleh memanggilmu ayah, meskipun aku bukanlah putrimu?" Dia berusaha dengan keras agar raut wajahnya terlihat serius dan tidak main-main.
"Apa maksudmu, Stella...?" Seketika Raja Shavir terguncang. Pikiran-pikiran negatif mulai muncul di pikirannya. Raut wajahnya terlihat pucat. Kepanikan melintas di matanya. "Tidak mungkin Alexa mengkhianatiku. Dia tidak akan berselingkuh sampai punya anak. Jelas-jelas kau mirip denganku, jadi kau adalah putriku. Ya, putriku, bukan putri orang lain."
Eh, malah mikir ke situ....
Stella tertawa canggung, kemudian berdehem, dan bersuara, menangkis kata-kata pria yang duduk di depannya.
"Bukan itu yang kumaksud. Misalnya, anggap saja aku orang lain yang menempati tubuh putrimu, lalu apa aku boleh memanggilmu ayah?"
Setelah itu, Stella menunggu jawaban Raja Shavir dalam diam, tetapi sebenarnya di dalam hatinya dia merasa cemas.
Drrk.
Suara kursi yang digeser terdengar. Stella menatap Raja Shavir yang berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri dirinya. Ekspresi pria itu tidak terbaca, membuat Stella semakin merasa cemas. Sesaat setelahnya, tangan Raja Shavir menuju ke arahnya.
Apa dia akan menamparku atau memukulku?
Namun, berbanding terbalik dengan dugaan Stella, tangan pria itu mendarat di keningnya.
"Kau tidak panas," kata Raja Shavir secara tiba-tiba.
"Hah?"
Stella berkedip. Tatapannya kosong. Isi kepalanya sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Aku heran kenapa kau menanyakan hal seperti itu, kukira kau sakit."
"Hah?"
"Hah?"
"Kalau begitu, kau harus beristirahat. Ayo."
Kemudian, tangan pria itu meraih lengan tangan Stella, menarik Stella dari kursinya. Ketika Raja Shavir akan melangkah, Stella segera menahannya.
"Eh―tunggu sebentar!"
Secara otomatis, Raja Shavir memberhentikan langkahnya dan menatap Stella.
"Pertanyaanku yang tadi ... tolong dijawab."
"Tapi, kau...."
"Kalau tidak mau dijawab, seumur hidup pun aku tidak mau memanggilmu ayah."
Lalu Stella mendengkus dan memalingkan wajahnya ke arah lain, berpura-pura marah. Di sisi lain, Raja Shavir dibuat membatu.
Memang cara yang paling baik adalah mengancam! pikir Stella sambil diam-diam tersenyum puas.
"... Baiklah. Akan kujawab."
Dari tadi, dong!
Segera, Stella menoleh dan menatap Raja Shavir. Jawaban yang dia tunggu-tunggu akhirnya akan segera terdengar.
"Sebenarnya, aku tidak tahu kenapa kau menanyakan hal yang sudah pasti." Bersamaan dengan perkataannya, tangan Raja Shavir bergerak dan berhenti di pipi mochi Stella. "Tapi kalau ada dugaan seperti itu, tentu saja kau boleh memanggilku ayah."
Deg! Deg! Deg!
Jantung Stella berdegup dengan kencang, menantikan kalimat selanjutnya. Jika Raja Shavir berkata demikian, maka Stella ingin tahu alasannya.
"Karena kau terlahir sebagai putriku, maka aku adalah ayahmu. Karena kau terlahir sebagai putriku, maka kau boleh memanggilku ayah. Dan karena kau terlahir sebagai putriku, maka kita adalah keluarga."
Terlahir....
Stella terfokus pada kata itu. Ketika pertama kali terbangun di dunia buku dongeng ini, dia sudah menjadi bayi.
Bisakah itu disebut terlahir? Tapi kalau bisa, berarti aku ... dilahirkan ke dunia ini.
"Apa kau mengerti sekarang, Stella?"
Lamunan Stella buyar. Dia dengan cepat mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Sepertinya ada yang kurang," kata Raja Shavir seraya berpura-pura berpikir.
Melihat tindakan pria itu, Stella menghela napas dan mengulangi jawabannya.
"Iya, Ayah."
"Bagus."
Iyain aja.
***
Di pagi hari yang cerah....
"Tuan Putri~ Akhirnya aku bisa bertemu dengan Tuan Putri~ Selama tiga hari ini, Yang Mulia Raja melarangku bertemu dengan Tuan Putri! Dan akhirnya, aku bisa bertemu dengan Tuan Putri sekarang!"
... Stella kedatangan tamu tidak terduga. Orang itu tiba-tiba membuka pintu kamar tanpa diketuk dan menerobos masuk ke kamarnya. Siapa lagi yang melakukan hal itu selain Xylia.
"Begitu...."
Tidak peduli dengan balasan datar dari Stella, Xylia berlari dengan cepat, menghampiri orang yang sangat dia rindukan.
"Kyaaa! Tuan Putri!"
Dengan gerakan cepat, gadis kecil bermata hijau itu memeluk Stella dengan riang dan memberi kecupan ringan di pipinya.
Hari-harimu yang berisik sudah dimulai, Stella.
Stella menertawai dirinya sendiri dalam diam, tetapi dia tidak mendorong Xylia dari pelukannya. Karena mulai hari, Stella sudah bertekad untuk memulai hidup barunya di dunia ini dan tidak akan menghindari orang-orang yang tinggal di sisinya.
――――――――――――――
Maaf, ya, klo ada yg kecewa karena alur ceritanya lambat banget. soalnya aku gk kepikiran buat cepetin alurnya ke alur cerita pas Stella remaja. bukan gk kepikiran, sih, tpi itu gk dimasukin ke rencana awal pas bikin novel ini.
Jdi buat yg baca novel ini, moga betah ya sm alur ceritanya yg lambat, hehe
(๑•̀ㅂ•́)و✧
Jngn lupa tinggalkan like, komen, dan vote juga~ (๑•̀ㅁ•́๑)✧
Btw, SELAMAT TAHUN BARU!🎉
Next chapter~
Bab 55. Fifty Five (55).
"Uhm, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan. Padahal aku sudah menceritakan rahasia terbesarku, tapi sepertinya Tuan Putri tidak merasa terlalu terkejut. Kenapa bisa begitu?"
TBC!