Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Sixty Six (66)


Sebelumnya, Stella mengetahui hal itu dari Barbiel, yang memiliki kemampuan sihir lebih tinggi daripada dirinya. Stella tidak tahu persis kehidupan seperti apa yang dijalani Barbiel dulu sebelum terlahir kembali, tetapi dia tahu bahwa Barbiel sangat ahli dalam sihir.


Setelah melihat kondisi Xylia dari jarak yang cukup jauh, Barbiel mengatakan bahwa ada sihir pengendali yang tertanam di tubuh Xylia, mengambil alih jiwa dan tubuhnya, kemudian mengendalikannya sesuai dengan keinginan orang yang menggunakan sihir itu.


Orang-orang di dunia ini menyebut bahwa itu adalah sihir tingkat tinggi, yang bisa mengendalikan seseorang secara permanen, atau selamanya. Namun bagi Barbiel, itu adalah sihir dasar bagi seorang penyihir yang berprofesi sebagai summoner. Sihir itu bisa dibatalkan dengan menyalurkan mana seseorang yang memiliki kekuatan sihir setara dengan orang itu.


Satu-satunya orang yang bisa membatalkan sihir itu adalah Stella, yang saat ini memiliki kekuatan sihir yang setara dengan Xylia.


Tapi meskipun sihir itu dibatalkan, ada kemungkinan bahwa orang yang menggunakan sihir pengendali itu bisa mengendalikan Xylia lagi di lain waktu, selama dia masih memiliki darah Xylia yang diambil.


Itu artinya, Xylia yang sudah berubah dan tidak menjadi ancaman lagi bagi kehidupan Stella, bisa dengan mudah berubah dan menjadi Xylia yang sama dengan yang ditulis di buku dongeng "The Poor Princess".


"Berhentilah menangis. Tidak apa-apa."


Pertama-tama, yang harus dilakukan Stella sekarang adalah menenangkan Xylia, yang masih menangis di pelukannya.


"Ta-tapi aku ... aku ... aku sudah...!"


"Itu tidak akan terjadi lagi."


Selama ada aku, kau tidak akan menderita.


Stella tidak akan membiarkan Xylia dikendalikan lagi seperti tadi, dia akan melindunginya.


Saat itu, pikirannya tertuju pada satu nama. Satu-satunya orang yang bisa mengambil darah Xylia dengan begitu mudah dan tanpa dicurigai oleh siapa pun.


Ayah Xylia, pamanku di dunia ini.


Tidak salah lagi.


Baik di buku dongeng maupun di masa sekarang, dia tetaplah dalang dari semua ambisi Xylia dan kemalangan Putri Stella.


―――


Zayden berjalan dengan langkah pelan menuju pintu utama Istana Everora yang menghubungkan halaman depan dengan aula tempat pesta ulang tahun cucu pertamanya berada. Di belakangnya ada segerombolan pelayan pria yang bertugas membawa kotak-kotak berwarna-warni yang diisi dengan berbagai macam hadiah.


Tentu saja hadiah-hadiah itu akan dia berikan pada Dhemiel.


Namun belum sampai mencapai pintu, langkah kaki Zayden terhenti ketika mata ungu cerahnya menangkap energi gelap bercampur merah pekat yang mengelilingi balkon Istana Everora. Dahinya mengerut tidak senang karena merasakan adanya bahaya tersembunyi yang dibawa oleh energi misterius itu.


"Mereka masih berani juga mengincar cucuku."


Pria tua itu bergumam dengan nada marah. Tidak diragukan lagi, para penyihir dari Guild Penyihir-lah yang selalu mengedarkan energi berbahaya seperti itu di sekitar cucunya.


Dia pikir karena dia sudah menghancurkan markas utama mereka, maka mereka akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan memilih diam untuk sementara waktu. Namun, siapa sangka bahwa mereka akan benar-benar menyakiti cucunya di tempat ramai seperti ini yang dihadiri oleh semua bangsawan serta utusan dari kerajaan-kerajaan lain.


"Aku akan menebas kepala mereka semua. Tunggu saja."


Zayden menggeram dan mengeluarkan aura ungu pekat miliknya yang hampir selama setengah abad tidak pernah dia keluarkan, membuat orang-orang di belakangnya gemetaran dan hampir terjatuh.


Swooosh!


"Apa?"


Tapi tak lama kemudian, Zayden melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa energi misterius itu menghilang dalam sekejap mata, lalu didominasi oleh aura hitam mematikan yang berputar-putar di sekitar Istana Everora, seolah-olah sedang melindungi tempat itu dari segala macam bahaya.


"Ini ... bukankah ini aura Stella?"


Zayden tahu bahwa cucu perempuannya, Stella, memiliki aura legendaris yang sama dengan cucu keponakannya, Xylia. Tapi dia tidak menyangka bahwa cucu perempuannya yang terlihat kecil dan lembut itu bisa mengendalikan aura hitam itu di usia yang begitu muda.


Dia segera menghilangkan auranya dan bergegas menuju pintu, kemudian langkah kakinya kembali terhenti ketika tak sengaja berpapasan dengan seseorang.


Mata ungu Zayden bertemu pandang dengan mata merah orang itu.


Mata merah!


Baik Zayden maupun para pelayan yang ada di belakangnya seketika terkesiap. Kemunculan mendadak orang itu dan ciri-cirinya yang langka membuat mereka tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.


"Kau siapa?"


Yang bertanya adalah Zayden. Dia tidak yakin bahwa orang yang memiliki mata merah itu adalah tamu undangan di acara pesta hari ini.


Bisakah putranya menemukan seseorang yang memiliki mata merah yang sangat langka dan mengundangnya ke acara pesta ulang tahun cucunya? Itu tidak mungkin. Biarpun Shavir adalah seorang raja, dia tetap tidak bisa menemukan orang yang memiliki mata merah, apalagi orang itu datang ke acara pesta hari ini.


Kecuali dia beruntung. Tapi putraku memiliki keberuntungan yang sangat tipis.


"Aku datang ke sini untuk menghadiri acara ulang tahun cucu pertamaku."


"Hah? Cucu pertamamu? Yang benar saja. Dhemiel adalah cucuku!"


Zayden memelototi orang itu, tidak terima ada orang yang berani mengklaim bahwa Dhemiel adalah cucu pria bermata merah itu.


"Ohh! Jadi kau ayahnya si b*r*ngs*k Shavir itu, ya?"


Lalu Zayden yang tidak terima ada orang yang berani menjelekkan putranya segera berteriak pada Leonard. 


"Beraninya kau mengatai putraku!"


"Dan beraninya kau menikahi putriku dengan putramu tanpa persetujuanku!"


"... Apa?"


Kedua pria tua itu berhenti saling melotot.


Zayden memandang Leonard, yang juga memandangnya.


"Pemilik mata merah yang langka sepertimu adalah besanku? Apakah ini mimpi? Ya Tuhan, ini bukan mimpi!"


Dia tersenyum lebar.


Apa yang dia pikirkan?


Leonard tidak mengerti jalan pikiran orang di hadapannya. Apakah dia sebegitu senangnya saat tahu bahwa dia memiliki pemilik mata merah sebagai besannya? Lalu bagaimana reaksinya nanti saat tahu bahwa cucu perempuannya juga memiliki mata merah yang sama sepertinya?


Semoga saja dia tidak terkena serangan jantung.


Leonard mendoakan Zayden di dalam hatinya secara diam-diam. Setelah itu, senyum lebar Zayden menjadi seringai, dia mendekati Leonard.


"Hei, bisakah kau membantuku?"


―――


"Bagaimana? Sudah lebih baik, 'kan?"


Stella bertanya pada Xylia, yang sedang menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.


"Iya ... aku merasa agak lebih baik," jawab Xylia seraya mengangguk.


"Syukurlah kalau begitu."


Xylia mengangkat kepalanya, memandang Stella tanpa berkedip.


"Tuan Putri ... sangat baik, ya."


Dia tanpa sengaja mengucapkan isi hatinya, kemudian Xylia menunduk karena malu.


"Ah, maaf. Aku...."


"Kenapa kau berpikir begitu?"


Stella tidak tahu mengapa Xylia berpikir bahwa dia adalah orang yang baik. Sudah sewajarnya dia mematahkan sihir pengendali itu dan membuat Xylia kembali seperti semula. Jadi, apa yang membuat Xylia berpikir bahwa di adalah orang yang baik?


Kemudian Xylia, yang mengangkat kepalanya dengan wajah malu-malu, menjawab, "Itu ... karena Tuan Putri sudah membantuku."


"Bukankah itu wajar?"


"Bagiku, itu tidak wajar. Coba Tuan Putri pikirkan, apakah ada orang yang ingin membantu orang yang sudah menghinanya, merebut kasih sayang keluarganya, dan menjerumuskannya pada kematian? Tuan Putri mungkin tidak tahu seberapa jahatnya aku dulu sampai membuat Tuan Putri mati di bawah kebencian semua orang. Tapi tetap saja, aku kagum karena Tuan Putri masih ingin membantuku."


Tidak ada orang yang seperti aku.


Stella juga tidak begitu mengerti dengan perasaannya. Dia hanya merasa kasihan pada Xylia, yang berniat mengubah sikap buruknya, tapi akhirnya malah diperalat lagi oleh ayahnya. Jadi mungkin itu yang membuat rasa simpati timbul di hatinya dan ada keinginan membantu Xylia untuk mengubah takdir keduanya bersama-sama.


"... Kalau kau kembali lagi menjadi Xylia yang jahat, usahamu selama ini akan sia-sia. Aku juga tidak ingin menderita karena kau."


Hanya itu yang bisa diucapkan Stella.


Mendengar jawabannya, Xylia tertawa.


"Baik. Aku akan berusaha agar tidak diperalat lagi seperti dulu."


"Aku pegang ucapanmu."


"Kalau begitu, Tuan Putri...."


"Apa?"


Xylia tampak ragu menyuarakan isi hatinya. Matanya menatap sekeliling, kemudian berbisik di telinga Stella.


"Bisakah aku menjadi ... sahabat Tuan Putri?"


――――――――――――――


TBC!