Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty Six (46)


"Apa? Tu-tuan Putri?"


Haahh...!


Stella segera tersadar dan bertatapan dengan Marko. Mata merahnya bertemu pandang dengan mata hitam orang itu.


Padahal aku baru beberapa saat lalu pergi dari istana, tapi sudah ketahuan?


Mengetahui tidak ada yang menjawab, suasana mendadak menjadi hening. Aksi saling tatap-menatap antara Stella, Rielle, dan Marko pun berlanjut.


Di sisi lain, Marko memerhatikan gadis kecil yang sedang bersama wakil ketuanya. Rambut pirang gadis kecil itu terpantul sinar matahari, terlihat seperti emas, sedangkan mata merahnya menunjukkan keterkejutan.


T-tunggu dulu....


Marko menyipitkan matanya, memerhatikan penampilan gadis kecil itu dengan teliti.


Sepertinya aku akrab dengan penampilan anak itu.


Marko pun berpikir, menggali ingatannya. Namun, tak ada satu pun di dalam memorinya yang menunjukkan bahwa dia pernah melihat Stella. Sesaat setelahnya, mata hitamnya membelalak kaget, seakan baru saja menyadari sesuatu.


"Rambut pirang dan mata merah! Ciri-ciri orang yang sangat langka!"


Suaranya bergetar.


Marko pernah mendengar rumor tentang seseorang yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit dan mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati, tetapi katanya hanya orang yang memiliki rambut pirang dan mata merah yang bisa melakukan hal-hal mustahil seperti itu―yang tidak bisa dilakukan dengan sihir ataupun pengobatan tradisional.


Sekarang, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa orang seperti itu benar-benar ada.


Terlebih lagi, orang sehebat dia ada di markas utama Eternal Flame! Apakah akhirnya Eternal Flame akan menjadi abadi dan mengalahkan Eternal Snow?


Seketika mata hitam Marko berbinar. Dia segera bangkit dan menghampiri Stella.


"Ini benar-benar nyata! Ini nyata!!" kata Marko dengan girang sambil menjabat tangan Stella berulang kali. "Woah, ternyata Anda masih mengalami pertumbuhan! Pantas saja tidak ada yang tahu keberadaan Anda!"


Hanya tubuhku yang mengalami pertumbuhan, tapi jiwaku mengalami penuaan, batin Stella, tersinggung karena orang itu menyangkut masalah pertumbuhannya. Dan kenapa kau tidak melepaskan tanganmu dariku?


Seolah mengerti dengan arti tatapan Stella, Marko segera melepaskan tangannya seraya tersenyum lebar.


"Saya minta maaf karena berperilaku tidak sopan!"


Kau memang tidak sopan. Stella menimpali di dalam hatinya.


"Itu karena saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda! Luar biasa!"


Reaksi orang ini dan anggota-anggota Eternal Flame yang tadi juga sama. Mereka sangat jujur.


"... Panggil saja Ellia," balas Stella kemudian.


"Baik, Nona Ellia!" jawab Marko sambil memberi penghormatan ala prajurit, setelah itu dia tertawa kegirangan. "Aku mengetahui nama orang hebat ini! Sangat tidak disangka!"


Sementara itu, Rielle yang sedari tadi memerhatikan setiap adegan di depannya hanya bisa tersenyum canggung, merasa dikucilkan. Setelah itu, dia berdehem.


"Ekhm!" Suara dehemannya menjadi pusat perhatian. Rielle pun menatap Marko. "Kau pasti tahu, 'kan, Marko, kalau Nona Ellia sangat istimewa."


"Oh, oh! Aku tahu!"


"Jadi, kau jangan salah paham saat aku memanggilnya "Tuan Putri". Mengerti?"


Kata-kata penuh kebohongan dari Rielle terdengar jujur dan meyakinkan, membuat Marko menganggukkan kepalanya seperti orang bodoh yang mudah ditipu.


"Baik, aku mengerti!"


"Kalau begitu, bisa kau ceritakan apa yang sedang terjadi?"


"Aku akan menceritakannya, Wakil Ketua."


***


"Semua anggota Eternal Flame, segera berkumpul!!"


Pengumuman mendesak dari sang wakil ketua segera menarik perhatian semua anggota Eternal Flame yang sedang beristirahat. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa menuju aula, tempat di mana biasanya para anggota Eternal Flame dikumpulkan.


Tidak biasanya sang wakil ketua memberikan pengumuman mendesak, ini berarti bahwa ada hal penting yang harus segera disampaikan.


Sekitar sepuluh menit kemudian, para anggota Eternal Flame yang sedang tidak bertugas berkumpul di aula. Di hadapan mereka, ada sebuah panggung dengan ketinggian sedang, tempat di mana dua petinggi Eternal Flame berdiri.


Biasanya, hanya Rielle yang berdiri di sana, tetapi sekarang sang ketua juga ikut hadir. Penampakan langka itu membuat beberapa anggota Eternal Flame saling berbisik, menerka-nerka pengumuman apa yang hendak disampaikan.


Sementara itu, di atas panggung, Leonard berdiri. Kharismanya sebagai seorang pemimpin segera menyebar, membuatnya tampak agung.


"Ada dua hal penting yang ingin kusampaikan."


Suaranya yang tegas dengan cepat menyebar, menyebabkan keriuhan di antara kerumunan anggota Eternal Flame.


"Pertama, Yang Mulia Raja meminta Eternal Flame membantunya mencari keberadaan sang putri yang dikabarkan menghilang. Jika kita tidak menyanggupi permintaannya, maka Eternal Flame akan dinyatakan bukan bagian dari Kerajaan Evergard."


"Apa?"


"Eternal Flame kita akan dikeluarkan dari Kerajaan Evergard?"


"Sang putri menghilang lagi?"


"Kenapa kita harus terkena imbas dari hilangnya Tuan Putri, sih?!"


"Aghh! Padahal aku baru saja beristirahat!"


"Kira-kira siapa di antara kita yang akan diberikan misi itu?"


Bisik-bisik dari para anggota segera memenuhi aula. Ketidaksetujuan langsung dilontarkan. Beberapa di antara mereka ada yang kesal, ada yang tidak peduli, dan ada juga yang tidak bereaksi tetapi diam-diam mengumpat di dalam hati.


"Tolong tenanglah!"


Aula segera menjadi hening setelah Leonard membuka suaranya.


Aula kembali menjadi riuh. Semuanya tampak bersemangat ketika sang ketua memberitahukan nominal hadiahnya.


"Woah! Bayarannya sangat mahal!"


"Uang! Uang! Aku mau uang!"


"Aku pasti yang pertama mendapat petunjuk!"


"Bermimpilah! Tentu saja aku!"


"Tidak, sudah pasti aku!"


"...."


Saat mendengar nominal uang mereka langsung bersemangat.


Leonard tidak habis pikir dengan sifat para bawahannya yang sangat mencintai uang. Setelah itu, Leonard tersenyum licik di dalam hatinya.


Ya, itu pun jika kalian berhasil menemukan petunjuk, fufufu. Sayang sekali, orang yang sedang dicari justru ada di sini. Ah, uangku, kalian tidak pergi ke mana-mana.


Lalu Leonard memberitahukan pengumuman yang kedua.


"Anggota-anggota yang akan diberi misi ini akan diurus oleh Rielle. Oh, dan satu hal lagi, aku ada berita bagus untuk kalian."


Segera, ekspresi penasaran muncul di wajah semuanya.


Tak berapa lama kemudian, suara langkah kaki terdengar, dan dengan cepat menjadi pusat perhatian.


Seorang gadis kecil dengan pakaian berwarna hitam muncul dari balik panggung. Semua orang menatapnya tanpa berkedip. Rambut pirangnya yang diikat ke belakang bergoyang bersamaan dengan langkah kakinya, sedangkan sepasang mata merahnya yang seperti buah delima menatap ke depan tanpa berkedip.


"I-itu...!"


Para anggota Eternal Flame dibuat tercengang dengan kemunculan gadis kecil itu.


Berdiri di samping Leonard, Stella menatap mereka sambil tersenyum.


Hari ini aku adalah Ellia, bukan Stella. Harus senyum. Harus senyum. Iya, senyum~ Tapi kenapa susah sekali?!


Bibir Stella berkedut karena terlalu lama tersenyum, tetapi dia mencoba membuat senyumannya terlihat alami, setidaknya di mata orang-orang.


"Halo."


Suara manis seorang anak kecil pun terdengar. Para anggota Eternal Flame seketika dibuat merona. Di mata mereka, anak kecil itu terlihat menyilaukan. Selanjutnya, suara Leonard kembali terdengar.


"Kabar baiknya, seseorang dengan mata merah dan rambut pirang akhirnya lahir, dan dia adalah komandan baru kalian, Ellia."


"...!"


Seketika para anggota Eternal Flame terasa disambar petir. Meskipun "Ellia" adalah orang yang sangat langka di kerajaan dan dirumorkan memiliki bakat yang luar biasa, tetapi tetap saja, fakta kalau dia adalah seorang anak kecil tidak bisa dibantah.


Apa Ketua mau kita bermain suit dengan anak kecil itu? Benarkah begitu?!


Melihat reaksi mereka, Leonard sudah memperkirakannya, jadi dia segera melanjutkan, "Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menyaksikan sendiri kemampuan Ellia?"


Kata-kata Leonard menarik perhatian banyak orang.


"Apa maksud Anda, Ketua?"


"Misalnya, bertarung dengan Ellia."


Kerumunan kembali menjadi riuh. Namun, kata "bertarung" saja tidak cukup, mereka merasa tidak tertantang.


Seseorang yang akan menjadi komandan kami adalah orang yang paling kuat di antara kami! batin mereka serentak. Tapi, kenapa Ketua memilih anak itu?


Mengetahui suasana aula yang dipenuhi keraguan, Leonard menjatuhkan kata-katanya dengan tenang sesaat setelahnya.


"Di hutan."


"Ya?"


"Bertarunglah di hutan," ulang Leonard sambil mengangkat sudut bibirnya. "Bagaimana?"


***


Sementara itu, Stella yang mendengar perkataan Leonard seketika mengumpat di dalam hatinya, tetapi di mata orang-orang dia tetap tersenyum.


Kalau aku kalah, aku akan menghancurkan tempat ini!


Stella bertekad. Dia kesal karena berita sepenting itu dibicarakan secara mendadak, apalagi sampai dijadikan pengumuman.


Tentu saja dengan bantuan ayahku! Eh, bukan, maksudnya dengan bantuan si Shavir! Kalau tidak bisa, aku akan meminta bantuan dari Kakek Zayden!


Lalu Stella tersenyum menyeramkan di hatinya.


Heh, ternyata pak tua yang satu ini ingin menguji kemampuanku. Apa kau serius, dengan aku yang masih berumur 5 TAHUN?


Setelah itu, Stella menatap Leonard sambil tersenyum.


Akan aku tunjukkan bagaimana kemampuan anak kecil yang sesungguhnya!


――――――――――――――


Next chapter~


Bab 47. Fourty Seven (47).


"Tidak ada pemakaman untuk ibumu di sini, jadi pergilah! Gelar pangeranmu juga kucabut dan aku mengembalikanmu beserta mayat ibumu ke Kerajaan Evergard!"


TBC!